
Sinta yang kesal karena tertolak tak bisa mengendalikan emosinya. Dia berteriak marah, menghancurkan apa saja yang ada dis depannya. Tapi sama sekali tak ada yang peduli dengan apa yang dia lakukan. Tempat itu kosong, hanya si bos preman yang ada di sana tadi untuk mengambil semua barang mereka. Saat dia tahu Sinta datang, dia hanya ingin bersembunyi dan tak mau bertemu dengan gadis itu. Tapi sesaat kemudian, pria itu berpikir hubungan buruk yang dia ciptakan harus segera diakhiri saat itu juga. Dia tak mau menanggung resiko dan berakhir hancur di tangan gadis menakutkan yang kemarin menghajar habis para anggotanya.
Terjadi sedikit pertengkaran, tapi tak masalah karena dia bisa membereskan semuanya. Dia juga mengatakan kalau dirinya menganggap tak pernah mendengar dan menerima permintaan dari Sinta. Jelas Sinta tak terima diperlakukan seperti itu, dia memiliki uang dan bisa membayar berapa pun yang dibutuhkan. Bahkan lebih banyak dari itu pun dia tak masalah asal Aira benar-benar lenyap dari pandangannya.
"Arghh, bisa-bisanya preman bodoh itu tak melakukan tugasnya dengan benar?!" teriak Sinta murka. "Memang seberapa parah anak buahnya sampai mereka tak mau lagi berurusan dengan perempuan si*lan itu?" lanjutnya emosi.
Hari itu, Sinta seharian berkeliaran di luar. Gadis itu malas pulang dan terus bermain agar suasana hatinya membaik.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Keesokan harinya, Sinta bersikap seperti biasa. Dia terus menempel pada Raka dan mencoba menarik perhatian pemuda itu dengan berbagai cara. Namun, Sinta dibuat bingung. Kali ini Raka terlihat lebih dingin padanya. Memang biasanya pemuda itu bersikap dingin, tapi untuk kali ini dia bersikap lebih keras dan terlihat menghindari Sinta.
"Cie, cie, yang lagi masa pendekatan," olok teman-teman mereka berdua.
"Apaan, sih. Gak gitu tahu," kata Sinta memasang tampang malu-malu.
"Ehem, ehem, kalau lu gak mau, Raka nya buat gue aja, ya?" celetuk yang lain jelas bercanda.
"Ih, gak usah ngolokin gitu, deh. Ntar Raka kesal dengernya," kata Sinta sok pengertian.
"Aku balik!" ucap Raka saat melihat Aira hendak meninggalkan kelas.
"Yaelah, Raka. Baru juga lu turun, gabung bentar napa?!" timpal salah satu dari mereka ingin menahan Raka agar Sinta mendapat kesempatan untuk lebih dekat dengan pemuda itu.
"Gak, makasih! Kalian penuh omong kosong semuanya!" kata pemuda itu sebelum benar-benar pergi.
__ADS_1
"Ya! Apa maksudnya itu?" teriak salah satu dari mereka yang merasa tersinggung. "Kamu aja yang terlalu menuntut sempurna!" lanjutnya kesal.
"Kurang apa Sinta? Yang begini aja masih bisa ditolak?" timpal yang lain ikutan kesal.
"Mungkin Raka ada keperluan mendesak, teman-teman," kata Sinta menjadi penengah.
"Ah, lu itu terlalu baik buat biang masalah di kelas kita, Sin!" timpal salah satunya memuji Sinta.
"Lupain dia, coba cari cowok lain yang bisa lebih ngehargain lo!" saran yang lainnya.
Sinta memasang ekspresi getir, dia tersenyum pahit. "Andai hati bisa dengan mudahnya diubah. Aku juga gak mau begini," katanya lemah.
"Kita-kita ngedukung karena lu suka sama dia. Tapi dia nya malah keterlaluan!" tukas teman Sinta sambil menepuk pundak gadis itu.
"Maaf, kami malah ikut campur seenaknya. Padahal ini perasaan lo, tapi kami malah berbicara omong kosong hanya karena kesal," kata yang lain.
"Benar, benar! Kami semua menyayangi kamu! Teman kami yang paling cantik dan baik hati!" timpal salah satu dari mereka dengan cepat.
Mereka tertawa bersama, terlihat sangat kompak dan harmonis. Tak ada yang tahu kalau Sinta mengepalkan tangannya, dia menatap benci pemandangan yang tertangkap dari tempat dia duduk. Di sana, di bawah sana, terlihat Raka yang sedang mengejar langkah Aira. "Dasar Ja*ang si*lan!" desis gadis itu lupa kalau dia sedang bersama dengan teman-temannya.
"Kamu bilang apa, Sin?" tanya temannya yang duduk di sebelah Sinta.
"Oh, tak ada. Bukan apa-apa," ucap Sinta langsung mengatur ekspresi wajahnya.
"Tapi kayaknya tadi kamu ada ngomong sesuatu deh," timpal yang lain.
__ADS_1
"Hari ini cukup panas, bagaimana kalau aku traktir es krim?" kata Sinta cepat. "Aku tadi mau nanya gitu ke kalian," lanjutnya lagi.
"Kalau gue sih oke aja," kata salah satu dari mereka.
"Aku sih selalu yes kalau yang namanya gratisan!" kata yang lain menimpali.
"Ayo, berangkat!" ucap satunya penuh semangat.
"Eh, bukannya itu Raka, ya?" tunjuk salah satu dari mereka yang tak sengaja melihat Raka.
"Mana? Mana?" tanggap yang lain mengikuti arah pandangan temannya. "Eh, iya bener," katanya kemudian. "Tapi ... sejak kapan Raka deket sama anak baru itu?" tukasnya mengernyitkan kening heran, tak lupa tatapan matanya mengarah ke Sinta.
"Jangan mikir yang aneh-aneh! Mungkin Raka cuma lagi ngingetin tuh cewek supaya gak gangguin dia lagi," kata yang lain mencoba berfikir positif.
"Emm, gue gak yakin kalau gue bisa ngomong gini apa gak. Menurut gue mereka berdua emang cukup deket kok," tukas salah satu dari mereka mengemukakan apa yang dia lihat dengan jujur.
"Iya, juga sih," bisik yang lain takut kalau kata-kata mereka menyinggung perasaan Sinta.
"Guys, aku lupa kalau ada janji sama mama. Jadi aku duluan, ya. Ini, anggap aja traktiran dari aku. Nanti kita makan bareng lain kali," ucap Sinta yang tak tahan mendengar ocehan kawan-kawannya. Lebih baik dia pergi dan memberikan beberapa lembar uang, dari pada terus di sini dan mendengar soal kedekatan Raka dan perempuan bodoh itu. Sungguh, tak ada yang lebih menjengkelkan selain hal tersebut.
Wajah tersenyum Sinta langsung berubah jelek, dia mengepalkan tangannya dengan erat. Ini semua karena perempuan yang entah datang dari mana dan tiba-tiba muncul. Tanpa si bodoh itu saja, dia harus berusaha keras agar bisa bertegur sapa dan sesekali berbicara dengan Raka.Tapi sekarang, semua tak ada gunanya. Raka menghindari dirinya entah karena apa.
"Jika tak bisa menggunakan tangan orang lain, biar aku sendiri yang menghancurkan dirinya!" kata Sinta. Matanya berkilat licik, merencanakan berbagai trik agar Aira dibenci oleh semua orang, termasuk oleh Raka sendiri.
Hari berganti, Sinta mulai bertingkah. Sayangnya, Aira tak menggubris sama sekali. Gadis itu tak peduli, asal tak mengganggu misinya. Tak masalah dengan apa pun yang dia lewati selama dia di kelas.
__ADS_1
Sinta yang kesal akhirnya menggunakan cara terakhir yang sebenarnya tak ingin dia gunakan. Gadis itu menyewa beberapa anak nakal dari sekolah lain. Senyum terbit di wajahnya saat kesepakatan di antara mereka terjalin. Gadis itu jelas tak sabar tak sabar melihat wajah bingung Aira yang terfitnah tanpa bisa menjelaskan pada siapa pun.