
Aira segera datang dan melaporkan apa saja yang dia lakukan selama menjalankan misi. Saya dirinya hendak membicarakan soal kamera yang berhasil dipasangnya, seorang anak buah Raymond datang menyela. Dia membisikkan sesuatu dan membuat Raymond mengakhiri pertemuan mereka lebih cepat. Sebelum benar-benar pergi, Aira menanyakan apa yang harus dia lakukan dengan penawaran yang Raka tawarkan.
Pertanyaan dari Aira membuat Raymond tergelak sangat kencang. Pria itu merasa beruntung bisa memiliki dan membesarkan boneka cantik seperti Aira. Gadis itu tak pernah memutuskan sesuatu tanpa bertanya lebih dulu kepadanya.
"Gadisku yang cantik, tentu saja kamu harus mengiyakan hal tersebut!" kata Raymond memberi pujian. "Itu bisa jadi kesempatan besar untuk lebih dan lebih dekat lagi dengan target kita!" tambahnya lagi.
Aira yang dipuji sama sekali tak menunjukkan ekspresi apa pun. Gadis itu hanya memasang tampang datar dan mengangguk paham. "Kalau begitu saya pergi dulu, master!" katanya pamit undur diri.
"Sungguh boneka yang sangat berguna," gumam Raymond sambil terkekeh selepas Aira pergi meninggalkan tempatnya.
Saat Aira melewati lorong, dia tak sengaja mendengar beberapa anak buah Raymond membicarakan dirinya. Hal itu sudah biasa terjadi, Aira pun tak tahu mengapa mereka selalu saja sibuk mengurus dan ingin tahu tentang dirinya.
"Kalian lihat kan siapa yang datang?" kata salah satu dari mereka. Aira sengaja berhenti untuk mendengar apa lagi kali ini yang mereka bicarakan tentang dirinya.
"Tentu saja. Si boneka cantik bos, kan?" kekeh yang lain menjawab.
__ADS_1
"Bos sangat menyayanginya, kalau tidak aku pasti sudah mencoba mencicipinya meski hanya sekali," kata yang lain menunjukkan ekspresi baji*gan di wajahnya.
"Heh, jangan bicara begitu kalau kamu masih sayang nyawa!" bisik yang lain mengingatkan.
"Aku tahu! Aku hanya mengatakan ini di depan kalian!" katanya membalas. "Tapi, siapa sebenarnya boneka bos itu?" tanyanya lagi. "Apa mungkin dia anak di luar nikah bos? Makanya si bos melindungi dia sedemikian rupa?!" tebaknya asal dan tanpa bukti.
"Bukan!" sanggah yang lain cepat. "Setahu aku, dia itu salah satu anak yang selamat dari para keluarga yang sudah dimusnahkan bos dengan tangannya sendiri!" lanjutnya. "Ini aku dengar langsung dari para senior yang lagi mabuk," tambahnya.
Aira terbelalak kaget, apa benar dia seperti itu. Apa memang latar belakangnya begitu. Gadis itu tetap berekspresi dingin meski banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya.
Gadis itu segera pergi dari sana. Dia tak ingin tertangkap dan menimbulkan masalah. Bagaimana pun dia harus mencari tahu kebenaran dari semua yang orang-orang tadi katakan. Dia harus mencari semua berita lama yang bisa dia dapatkan. Baik dari koran mau pun dari ponsel. Terserah dari mana saja, tapi dia harus tahu siapa sebenarnya dirinya dan dari keluarga mana dia berasal.
Aira menyetop taksi dan minta diantarkan ke rumah Raka. Gadis itu merasakan kepalanya kembali berdenyut, rasanya teramat menyakitkan hingga seperti mau pecah. Begitu sampai dan memencet bel rumah Raka, gadis itu pingsan begitu saja tanpa tahu apa yang terjadi setelahnya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
__ADS_1
Hal pertama yang Aira lihat saat dia kembali sadar adalah wajah Raka yang sangat khawatir padanya. "Syukurlah kamu sudah sadar," kata pemuda itu terlihat lega. "Di mana yang sakit?" tanyanya dengan suara lebih pelan. "Harusnya kamu istirahat di rumah saja kalau sakit!" tambahnya sedikit mengomel.
"A ... Ir," ucap Aira dengan suara serak dan lemah.
"Oh, sebentar," kata Raka menimpali. "Ini," lanjut pemuda itu. Dia membantu Aira memegangi gelas dan meminumkan isinya dengan sangat hati-hati pada kawannya itu.
"Kamu sebenarnya sakit apa? Tak ada panas, tidak demam juga, tapi tiba-tiba pingsan begitu saja," kata Raka sambil menyimpan kembali gelas yang ada di tangannya di atas nakas.
"Aku tak ingin membicarakannya sekarang," kata gadis itu memalingkan wajah.
Raka terdiam sesaat, sepertinya dia sudah melewati batas dan terlalu ikut campur. Tapi bukankah itu hal yang wajar dilakukan dengan sesama mereka teman. "Beristirahatlah sebanyak yang kamu butuhkan. Aku tak akan bertanya lagi," kata Raka menghela napas panjang. Jelas pemuda itu mundur dan tak mau terlalu ikut campur kalau memang yang bersangkutan tak menginginkan hal tersebut.
"Terima kasih," kata Aira. "Akan aku ceritakan kalau sakit kepala ku sudah berkurang banyak," tambah gadis itu kemudian kembali menutup matanya. Dia merasa sangat lelah, sepertinya dia butuh tidur yang banyak untuk bisa berpikir dengan tenang.
Raka tersenyum tipis mendengar ucapan Aira sebelum gadis itu terlelap. Rupanya kawannya itu bukannya tak suka kalau dia ikut campur, hanya saja kepalanya terlalu sakit untuk diajak bicara saat ini. Itu membuat perasaan Raka sedikit lebih baik.
__ADS_1
Pemuda itu pun turun ke bawah, meninggalkan Aira beristirahat sendirian di kamar. Raka berdiri diam di depan kompor, di tangannya memegang ponsel. Pemuda itu sedang mencari tutorial cara memasak bubur untuk orang yang sakit. Entah mengapa Raka ingin Aira memakan makanan yang dia masak dengan tangannya sendiri. Meski rasanya tak bisa dijamin, tapi jelas kalau dia membuatnya dengan tulus. Lagian kalau memang tak enak, dia bisa menyalahkan sakitnya Aira yang menyebabkan indera perasa gadis itu sedikit lumpuh karenanya. Yah, tak buruk juga menguji sampai di mana dia memiliki bakat dalam hal memasak. Itu pun kalau memang dirinya memiliki bakat tersebut.