
Saat berbelanja dengan Raka. Aira mendapatkan panggilan telepon, gadis itu terlihat semakin datar ekspresinya semakin lama waktu berlalu dan panggilan tersebut terus berjalan. Raka yang khawatir pun bertanya, menyatakan akan membantu kalau Aira membutuhkan bantuan. Aira menolak, tak ingin Raka tahu apa sebenarnya yang dia lakukan dan kerjakan. Dia bukan siswa biasa, dia merupakan boneka pembunuh dan juga mata-mata.
Tengah malam, Aira pun menyelinap keluar menggunakan pakaian serba hitam. Beberapa waktu kemudian, sampailah dia si gudang terbengkalai yang berada di pinggiran kota. Beberapa pria berbadan besar sudah menunggu kedatangan gadis itu, mereka terlihat senang karena dengan mudahnya Aira datang ke tempat yang mereka tetapkan.
Perasaan senang itu hanya berlangsung sesaat saja. Selebihnya, Aira malah membuat kesal mereka karena terlalu meremehkan jumlah mereka. Saking kesalnya, mereka lupa akan rencana yang mereka buat sendiri dan malah menyerang sembarangan. Itu memudahkan Aira dalam melawan.
"Jangan melawan lagi, lebih baik kita nikmati malam yang panjang ini," kata orang tadi mengubah cara bicaranya menjadi lebih bersahabat.
__ADS_1
Aira tersenyum tipis. "Mari kita bersenang-senang," katanya dengan nada main-main disertai wajah kaku seperti biasanya walau dia tersenyum saat ini.
"Ha-ha-ha, jika kutahu semudah ini, dari dulu pasti sudah aku cicipi dan aku penuhi semua imajinasi karena dirimu," kata pria itu menjilat bibirnya.
"Jangan lupakan kami, kawan! Kami juga ingin bermain meski hanya sekali dengannya," kekeh yang lain berpikir kalau mereka bisa menikmati malam ini bersama dengan Aira. Bisa jadi malam-malam setelah ini akan tetap sama kalau kali ini gadis itu menurut pada mereka.
"Tentu, aku akan mempercayai kalau orang mati tak akan pernah bisa membuka mulutnya!" ucap gadis itu lirih. Setelahnya, asap cukup tebal menguar di udara. Aira menahan napasnya, oh itu terlalu mudah untuk dia yang dilatih berjam-jam menahan napas di dalam air selama berhari-hari.
__ADS_1
Satu demi satu, semua pria yang tadi berdiri dengan tampang congkak jatuh berlutut sambil memegang leher mereka. "A, a, apa ... yang kamu lakukan, j*lang!" teriaknya susah payah.
Aira tetap diam, menatap tanpa berkedip ke arah mereka yang mulai kesulitan bernapas. "Bos besar tak akan tinggal diam dengan hal ini!" katanya melempar ancaman kosong.
Aira masih diam, tak peduli dengan teriakan kesakitan yang terdengar seperti nyanyian di telinganya. Saat semuanya sudah terkapar tak bernyawa, Aira pun berkata dengan dingin. "Tebus dosa kalian di neraka! Aku akan menyusul kalau semua sudah selesai?!" ucapnya sebelum pergi dan membakar gudang tadi. Bosnya tak akan pernah tahu kalau dirinya lah yang melakukan hal itu. Dia bisa menggunakan musuh-musuh bosnya sebagai kambing hitam, jadi ini sama sekali tak ada hubungannya dengan dirinya.
Aira kembali menyelinap ke kamarnya. Begitu sampai, dia dikejutkan dengan lampu yang menyala tiba-tiba. Suara seorang pemuda yang sangat dikenalnya pun terdengar, membuat Aira berdiri menegakkan punggungnya. Dia berbalik, menatap ke arah Raka yang balik menatap lurus ke arahnya. Untuk pertama kalinya, Aira butuh waktu yang lama untuk berpikir dan memberikan alasan pada seseorang.
__ADS_1