Langit Yang Menghilang

Langit Yang Menghilang
15


__ADS_3

Saat Sinta berpura-pura ketakutan, dia bersembunyi di belakang Raka. Raka pun dituduh hendak jadi pahlawan kesiangan. Raka pun akhirnya memilih pergi dan hanya menonton saja. Terlalu malas ikut campur setelah tahu warna asli yang dimiliki oleh Sinta. Dia Tak mau peduli, mau ini beneran nyata atau hanya sandiwara saja. Itu bukan urusannya sama sekali.


Hingga akhirnya Raka bisa menyimpulkan kalau kali ini juga merupakan akal-akalan buatan Sinta. Terlalu jelas, bahkan mereka semua bisa dikalahkan oleh seseorang yang bahkan tak becus untuk memukul bola voli. Apa lagi saat nama Aira disangkutpautkan, jelas sudah kalau ini merupakan rencana Sinta untuk membuat jelek nama Aira.


Sesuai janji, Sinta melepas mereka semua tanpa memperpanjang masalah. Gadis itu melirik curi-curi ke arah Raka, dia melihat kalau Raka hanya berdiri diam tanpa ekspresi apa pun. Entah apa yang pemuda itu pikirkan, tapi yang jelas rencananya sudah berhasil dijalankan. Raka pun sudah mendengar sendiri kalau Aira yang menjadi dalang dari semua kejadian ini.


"Aku, aku, aku ... gak percaya kalau Aira begitu," kata Sinta menggigit bibirnya, berakting mempercayai teman sekelasnya walau mereka tak terlalu mengenal cukup dekat.


"Jangan terlalu naif, Sin! Mungkin tuh anak iri sama kamu!" kata salah satu teman Sinta.


"Kalau memang benar yang kamu bilang, terus gimana mereka kenal sama si Aira kalau memang bukan dia yang jadi dalangnya?" timpal yang lain.


"Tapi ..., tetap saja," ucap Sinta menunduk berpura-pura sedih.


"Mari tanyakan kalau kamu memang belum yakin!" kata Raka berdiri dari duduknya. "Kalian! Tunggu?!" ucap Raka memanggil anak-anak yang tadi mengganggu mereka. Anak-anak itu memang berpura-pura kesakitan dan berjalan sedikit lebih pelan seolah mereka sangat-sangat kesakitan.


"Raka, gak usah memperpanjang masalah," kata Sinta mencegah Raka mendekati orang-orang tadi. "Aku udah janji untuk ngelepas mereka kalau mereka ngaku tadi," lanjutnya.


"Oh, aku juga mendengar itu. Tapi entah kenapa aku ngerasa kalau ini seperti drama aja," ucap Raka menatap sinis Sinta.


"Raka, kau gak boleh curigaan begitu! Sinta ini temen kita, masa kamu ngomong begitu ke dia?!" salah satu dari mereka membela Sinta.


"Sinta terlalu baik buat kamu, tapi kamu malah gak pernah peka sama perasaan temen kita itu!" timpal yang lain.


Raka mengangkat bahunya acuh. "Kalau begitu biar aku yang membawa mereka ke kantor polisi," kata pemuda itu santai.


"Tapi," tukas Sinta merasa gelisah.


"Kamu sudah menepati janji, tapi aku kan gak pernah janji apa pun pada mereka, jadi aku bisa ngelakuin apa aja yang menurut aku benar!" ucap Raka acuh.


"Eh, iya bener juga. Kan cuma Sinta yang janji. Kita-kita gak, kan?" gumam mereka mulai sadar.

__ADS_1


"Jadi mungkin Raka benar," kata yang lain.


Mendengar hal itu, orang-orang jahat tadi langsung kabur dengan cepat, melupakan sandiwara mereka untuk berpura-pura terlihat kesakitan. Mereka tak mau ditangkap, lebih baik kabur dengan cepat sebelum itu terjadi.


"Lihat? Mereka bahkan tak lagi berpura-pura untuk terlihat kesakitan!" kata Raka tersenyum mengejek.


"Astaga, penjahat jaman sekarang terlalu pandai berakting," dengus teman Raka terheran-heran.


"Bakatnya digunakan untuk hal yang tak benar!" timpal yang lain.


"Tapi, ini tak mematahkan kebenaran yang kita dapatkan, bukan?" tanya salah satu di antara mereka.


"Maksud kamu soal anak baru?" kata yang satunya.


"Siapa lagi kalau bukan dia?!" balasnya cepat.


"Biar aku yang bertanya pada Aira besok," kata Sinta menengahi.


Yang lain mengangguk serempak kecuali Raka, pemuda itu tak mau ambil pusing dengan Sinta yang terus berakting. "Ayo, kita jalan lagi!" ucap salah satu dari mereka.


"Yah, dia malah minggat," decak Anto menatap Raka yang berjalan menjauh dari mereka.


"Mungkin Rama lelah," timpal Sinta tersenyum tipis.


"Ya, ya, ya. Belain aja gebetan lo terus," kikik mereka menggoda Sinta.


"Jangan begitu! Kasihan wajah Sinta udah semerah kepiting rebus," kata yang lain.


"Kalau kalian begini terus, aku bakalan pulang juga!" kata Sinta sok imut.


"Eh, jangan dong. Jarang-jarang loh kita bisa jalan-jalan bareng gini," timpalnya mencegah Sinta pergi.

__ADS_1


"Meski jalan-jalannya sambil ngerjain tugas sekolah, sih," celetuk yang lain menambahkan


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Dan di sinilah Raka yang tadi berpamitan pulang berada. Pemuda itu menatap gedung perpustakaan yang tinggi dan diam di sana cukup lama. Dia tak yakin kalau orang yang dia cari berada di sini. Tapi hanya ini satu-satunya tempat yang dia tahu yang menjadi tempat Aira banyak menghabiskan waktu selain di kelas.


"Kenapa aku gak minta nomornya saja, sih," decak Raka sebal pada dirinya sendiri. "Harusnya aku minta saja dengan menggunakan alasan apa pun!" gumamnya lagi.


Karena banyaknya tatapan yang dia terima, Raka pun memutuskan untuk masuk ke gedung perpustakaan itu. Pemuda itu berkeliling dengan santai sambil membaca judul-judul buku yang menarik perhatiannya. Hingga dia melihat Aira yang duduk menghadap jendela besar tak jauh darinya.


Raka bergegas mengambil buku apa saja tanpa melihat judulnya. Pemuda itu pun langsung mendekati Aira dan duduk di depan gadis itu. "Hai," sapanya dengan suara pelan.


Aira mendongak singkat, sebelum kembali membaca buku di tangannya. "Juga," balasnya singkat.


Tak lama kemudian, Aira kembali mendongakkan wajahnya. "Ada apa? Apa yang kamu mau katakan?" tanya gadis itu merasakan tatapan Raka tak lepas darinya.


Raka berdehem canggung, dia tak mau disalahpahami. "Aku ada perlu bentar! Kamu ada waktu?" tanya pemuda itu menggaruk pipinya canggung.


Aira mengangguk. Gadis itu kemudian berdiri dari duduknya. "Kita bicara di tempat lain saja," katanya berjalan mengembalikan buku yang tadi dia baca ke tempatnya. Raka mengikuti Aira dari belakang, dia juga hendak mengembalikan buku yang dia bawa.


Aira melirik singkat ke buku yang Raka simpan kembali. "Bacaan yang cukup menarik," gumam gadis itu. "Rupanya kamu ingin sukses tanpa banyak usaha, ya?" lanjutnya berkomentar.


Raka melihat buku yang tadi dia simpan. Rupanya dia mengambil buku tentang kiat-kiat untuk cepat menjadi kaya dengan sedikit usaha. Kenapa buku seperti ini bisa ada di sini sih. "Itu, aku hanya asal ambil! Kamu harus percaya padaku?!" kata Raka membela diri.


Aira mengangguk sekali. "Aku percaya!" ucap gadis itu datar. "Gak perlu malu," lanjutnya memilih untuk pergi dari sana.


"Aku benar-benar mengambil buku itu tanpa tahu apa judulnya, Ra!" kata Raka coba menyamakan langkahnya dengan Aira.


"Baiklah, kalau kamu bilang seperti itu!" kata Aira mengangguk lagi.


"Aku gak bohong!" ucap Raka mencoba membuat Aira percaya padanya.

__ADS_1


"Aku tahu," balas Aira singkat.


Sepanjang perjalanan, Raka terus mencoba meyakinkan Aira kalau dia tak tahu buku apa yang dia ambil. Dan Aira malah bersikap seolah dia percaya-percaya saja dengan apa yang Raka katakan tanpa peduli itu benar atau tidak. Itu lah yang membuat Raka semakin frustasi.


__ADS_2