Langit Yang Menghilang

Langit Yang Menghilang
26


__ADS_3

Salah satu dari mereka diutus mendatangi Aira. Utusan itu harus meyakinkan Aira menerima tugas kali ini tanpa ragu sama sekali kalau tugas ini sebenarnya bukan dari bos mereka.


"Mengapa bukan master yang memanggilku datang seperti biasanya?" tukas Aira dengan tampang datar. Sama sekali tak terbaca emosi apa yang sedang gadis itu rasakan saat ini.


"Bos saat ini sedang kesal dan hanya bisa menyuruhku untuk menyampaikan misi kali ini!" kata orang itu menyerahkan data-data pada Aira.


"Kapan tenggatnya?" tanya gadis itu melirik sekilas amplop yang tadi disodorkan ke arahnya.


"Tak ada tenggat," katanya membalas.


Aira menatap lurus pria di depannya, mereka saat ini duduk di taman yang masih sepi pengunjung. Mungkin karena teriknya matahari, sehingga orang-orang malas bermain di sana. "Jangan buang waktu! Kamu mau bos marah?" tukas pria itu mendesak.


"Sampaikan pada master akan kulakukan saat aku ada waktu!" ucap gadis itu kemudian pergi.


"Huh, dasar angkuh?!" maki pria tadi jelas tak suka pada Aira. Gadis kecil itu terlalu angkuh untuk bocah seusianya. "Kuharap kamu mati setelah menyelesaikan masalah kami!" tukasnya sedikit berharap kalau yang dia ucapkan menjadi kenyataan.


Aira tersenyum tipis dari kejauhan, dia tak sebodoh itu untuk percaya semua yang mereka katakan sekarang, saat sebagian ingatannya sudah kembali. Makanya dia meletakkan chip kecil untuk mendengar apa yang pria itu ucapkan setelah dia pergi. Jelas kalau orang itu bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Raymond sama sekali.


"Akan aku gunakan kartu yang aku dapatkan sebaik mungkin!" katanya terus menyunggingkan senyum tipis. Dia merasa kalau jalannya benar-benar dimudahkan, dia tak perlu repot merencanakan apa pun dan semuanya bisa dia lakukan dengan mudah.


"Terima kasih untuk orang-orang bodoh itu," gumamnya merasa kalau dirinya beruntung kali ini.


Setiap kali Aira melaporkan apa yang dia dapatkan, semuanya sudah disulap dengan kebohongan yang sama sekali tak terlihat. Semakin banyak laporan yang didengar Raymond, semakin pria itu menggeram kesal. Dia merasa dirinya ditantang oleh tiga kelompok lain.


"Padahal aku ingin diam saja dan menaiki puncak dengan ringan. Rupanya mereka memang menantang aku untuk adu kekerasan!" Raymond mencengkeram erat gelas yang dipegangnya. "Siapkan semua! Aku akan menyapu bersih ketiga kelompok para bed*bah itu!" kata pria itu menyerukan titahnya.


"Siap, bos!" ucap yang lain mulai tak sabar untuk membuat masalah.

__ADS_1


"Buat mereka paham dan ingat bagaimana kejamnya cara bermain kita!" ucap Raymond lagi. Sorakan dan pekikan penuh suka cita terdengar, anak buah Raymond segera menyiapkan segalanya. Mulai dari senjata hingga mobil dan motor yang akan mereka gunakan nantinya. Beberapa alat peledak juga tak lupa mereka bawa, untuk menghancurkan musuh dalam sekejap.


"Kamu ikut, bukan?" tukas Raymond menatap Aira.


"Saya sangat ingin, master," kata Aira membuka mulutnya. "Tapi saya memiliki hal lebih penting!" katanya lagi.


"Apa yang lebih penting dari pada menyapu bersih kelompok yang sudah meremehkan kita?" tukas seseorang yang kesal mendengar ucapan Aira yang menurutnya sangat sombong.


"Diam! Jangan ikut campur dan urus saja urusanmu sendiri!" hardik Raymond menatap kesal anak buahnya tadi. "Aku ingin mengetahui hal penting apa itu, gadis kesayanganku?" lanjut Raymond mengalihkan pandangannya menatap Aira.


"Target kita mengajak saya untuk menemui ayahnya setelah beberapa lama kami berteman dan menjadi lebih dekat!" ucap Aira beralasan. "Atau saya harus mengundur janji yang sudah kami buat saja, master?" tanyanya dengan tampang datar.


Raymond tertawa keras. Merasa kalau dia masih memegang kendali besar dalam semua hal yang menyangkut dengan Aira. "Tidak, itu tidak perlu!" kata pria itu terlihat sangat senang. "Lakukan saja semuanya. Biar aku yang mengurus penyerangan kali ini!" katanya lagi.


"Saya yakin keberuntungan pasti akan terjadi, master!" timpal Aira.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Hari penyerangan pun tiba, Aira menonton dari kejauhan. Gadis itu duduk di atas gedung tinggi sambil memegang teropong kecil. Rencananya Raymond akan menyerang satu persatu kelompok yang Aira gunakan sebagai kambing hitam. Siapa yang akan menebak kalau Aira malah mengirimkan surat tantangan pada tiga kelompok di hari yang sama, tentu saja dia melakukannya secara rahasia dan tak akan pernah ada yang tahu meski mereka mencari tahu hingga ke markas musuh.


Raymond terdesak, banyak anggota dipijaknya yang kehilangan nyawa atau terluka. Hingga tersisa tiga di antara mereka yang sama-sama memegang status sebagai orang penting, ketiganya tak memiliki pilihan lain selain melarikan diri dari kekalahan yang memalukan ini.


"Brengs*k! Siapa yang sudah membocorkan rencana kita?" maki Raymond geram. "Bisa-bisanya mereka bertiga bekerja sama untuk melawan kita secara langsung?!" katanya lagi. Ketiganya bersembunyi di gedung yang tak terpakai.


"Mereka hanya meremehkan kita, bos!" ucap salah satu di antara dua orang yang melarikan diri bersama Raymond.


"Kita harus melawan balik saat sudah siap dan mengumpulkan anggota yang tersisa!" ucap yang satunya lagi memberi saran.

__ADS_1


"Ya, selama ada boneka cantikku, kita tak mungkin terkalahkan!" kekeh Raymond masih sempat memikirkan untuk menggunakan Aira dalam membalas semua perbuatan mereka.


"Saya yakin kalau dia bisa mengatasi semuanya, bos!" ucap anak buah Raymond setuju mengunakan Aira untuk menutupi semuanya. Dia hanya ingin melarikan diri dan selamat, tak peduli Aira bisa atau tidak, asal dia memiliki waktu untuk pergi jauh dari negara ini, itu sudah cukup.


"Bagaimana kalau bos coba menghubunginya?" kata yang lain ikut memberi saran. Terlalu lama bersembunyi di sini hanya akan membuat mereka tertangkap. Lebih aman kalau ada seseorang yang bisa menjemput mereka dan membawa mereka ke tempat aman.


"Baiklah, mari lakukan seperti itu saja!" kata Raymond mengambil ponselnya.


Aira yang dihubungi tersenyum tipis menatap nama yang terpampang di layar ponselnya. Dia pun menerima panggilan dari Raymond dengan segera.


"Macan yang terlihat menakutkan rupanya sudah kehilangan cakarnya," gumam gadis itu setelah panggilan terputus.


Satu jam berlalu, Aira berlari ke tempat yang diberitahukan Raymond kepadanya. "Master? Master? Anda di mana?" teriak gadis itu dengan suara pelan.


"Di sini!" kata salah satu anak buah Raymond yang kabur bersama dengannya. "Tak ada yang mengikutimu, bukan?" tanyanya waspada.


"Tidak! Saya menyelinap masuk dengan hati-hati," kata gadis itu.


"Apa kamu membawakan yang aku minta?" tanya Raymond cepat.


"Ini, master," ucap Aira menyerahkan barang yang bosnya minta.


"Akhirnya, aku merasa lebih hidup!" kekeh salah satu anak buah Raymond setelah menenggak air mineral yang dibawakan Aira.


"Mari pergi dari sini, master," kata gadis itu berwajah datar.


"Ya," ucap Raymond mengikuti langkah boneka keberuntungannya. Dia senang Aira tak ikut bersamanya, jadi ada kartu terakhir yang bisa dia gunakan untuk menyelamatkan dirinya seperti saat ini.

__ADS_1


Raymond tak tahu kalau boneka yang dikiranya sangat setia dan tak akan berkhianat itu menyunggingkan senyum penuh misteri. Mata Aira berkilat tajam, akhirnya dia bisa membalaskan semua perlakukan yang dia dapatkan selama ini.


__ADS_2