
Para preman yang mengepung Aira sebagian dilumpuhkan dengan cepat oleh gadis mungil kita ini. Bos mereka pun memohon untuk dilepaskan. Aira jelas tak akan melepaskan mereka dengan mudah. Mereka sudah mengganggu Aira dan harus diberi hukuman.
Raka menyuruh para preman itu untuk cepat pergi. Tapi sayangnya, kata-kata dari pemuda itu tak didengarkan. Mereka semua menunggu keputusan dari Aira. Melihat Aira diam, bos preman pun maju dan memohon dengan tulus. Biar dia yang dihukum asal anak buahnya dibebaskan untuk pergi.
Melihat hal itu, Aira berjanji akan melepaskan mereka semua kalau mereka memberi tahu siapa yang mengutus mereka. Mereka pun menyebutkan nama Sinta, di bos bahkan memberikan bukti-bukti pada Aira. Raka menyela, pemuda itu jelas tak percaya kalau kawannya yang tega membuat mereka seperti ini.
Dituduh berbohong, bis preman itu pun berkata kalau dia bisa memberi bukti yang lebih jelas kalau diizinkan untuk menelepon.
"Tidak! Kamu tak boleh mengunakan telepon sama sekali!" kata Raka menentang dengan keras.
"Lakukan," kata Aira tak peduli.
"Ra! Siapa yang tahu kalau mereka akan menghubungi siapa? Bisa saja mereka memanggil bala bantuan!" kata Raka yang dipenuhi dengan kecurigaan. Dia kesal kata-katanya sama sekali tak didengar.
Aira menepuk pelan bahu Raka. "Tak masalah!" katanya. "Kalau datang lebih. banyak, aku hanya harus melayangkan tinju lebih cepat!" lanjutnya tak terlihat khawatir sama sekali.
Raka mendengus, tapi dia tak lagi protes. Pemuda itu hanya menatap tajam ke arah preman-preman yang berdiri dalam barisan rapi di depan mereka.
"Halo," suara ketua terdengar mulai bicara. Tak lupa pria itu membuat panggilan ini bisa didengar oleh semuanya.
"Ada apa menelepon?" kata suara di seberang sana. Raka terdiam, itu jelas suara Sinta. Apa benar gadis itu yang menyuruh untuk menyakiti Aira, tapi kenapa. "Apa pekerjaan kalian sudah beres?" tanya suara itu lagi.
"He-he, begini nona muda. Beberapa anak buah saya harus ke rumah sakit karena ada sedikit masalah saat meringkus si target," kata si bos preman beralasan.
"Huh? Sudah kubilang jangan menelepon kalau tak penting! Hitung saja semuanya dan aku akan membayar lebih saat pekerjaan kalian beres! J*lang itu harus merasakan rasa ketakutan karena telah berani menarik perhatian pangeranku!" oceh Sinta tak tahu kalau Raka dan Aira juga mendengar semua ucapannya. Aira bahkan merekam pembicaraan itu di ponselnya.
__ADS_1
Raka terkejut, sedikit syok dan tak percaya kalau teman sekelasnya merupakan seseorang dengan niat jahat yang begitu besar.
"Tolong lepaskan anak buah saya, nona! Maaf saya sudah mengganggu anda!" kata si bos preman setelah selesai berbicara dengan Sinta di telepon.
"Bos! Kita akan tetap bersama! Kami tidak akan meninggalkan bos!" ucap salah satu anak buah pria itu dengan berani. Yah, walau suaranya terdengar sedikit bergetar karena merasa takut juga.
"Tidak bisakah kamu diam!" hardik si bos menatap tajam. "Kalian hanya mengikuti perintahku! Jadi biar aku sendiri yang bertanggung jawab dan mendapatkan hukuman!" katanya lagi.
Aira menatap malas drama yang sedang dipentaskan di depan matanya kali ini. "Pergilah!" katanya datar. "Jangan ganggu aku lagi! Aku jamin tak akan berakhir semudah ini kalau itu terjadi di masa depan!" lanjut gadis itu membebaskan semuanya.
"Tapi, Ra! Mereka sudah mengganggu kamu! Masa mau dilepaskan begitu saja?" kata Raka tak setuju.
"Lalu?" tanya Aira menatap acuh.
"Setidaknya biarkan mereka ditahan di kantor polisi untuk merenungi kesalahan mereka!" ucap Raka yang sepertinya menganut paham keadilan.
Tapi tetap saja tak benar kalau mereka hanya dilepas begitu saja tanpa diberi hukuman. "Kalau kamu gak mau, biar aku yang lapor!" kata Raka mengambil telepon genggamnya dari sakunya.
Aira menarik tangan Raka cepat. "Pergi sana!" tukas Aira dingin menatap para preman yang ada di depannya.
"Baik! Terima kasih, bos besar!!!" kata si bos preman menobatkan Aira sebagai orang yang patut menjadi pemimpin mereka.
"Aira!" pekik Raka kesal melihat para preman yang mengganggu mereka tadi langsung pergi begitu Aira menyuruh mereka. "Kenapa kamu begini?" tanyanya tak paham.
"Biarkan saja, aku juga gak luka," balas Aira seraya melepaskan tangan Raka saat melihat semua preman tadi sudah pergi.
__ADS_1
"Mereka mungkin ga harus ngebayar perbuatan mereka ke kamu, tapi gimana sama aku?" Raka kembali berdebat lagi dengan Aira.
"Kamu kenapa?" tanya Aira maju satu langkah. "Kamu luka?" tanyanya mengambil satu langkah lagi. "Di mana?" lanjutnya terus mengambil satu langkah untuk setiap pertanyaan yang dia tanyakan pada Raka. "Biar aku lihat!" katanya dengan wajah datar.
Raka yang terdesak karena terus mundur akhirnya menjulurkan tangannya ke depan, membuat Aira berhenti melangkah maju. "Aku gak luka, aku hanya kesal!" katanya mengaku dengan mata tertutup rapat. Aira terlalu dekat dengannya, dia tak suka akan itu, tapi dia juga tak begitu membencinya.
Aira mengangguk paham. Gadis itu pun berbalik dan melambaikan tangannya. "Aku lelah, mari berpisah di sini!" katanya meninggalkan Raka sendirian.
Raka cengo di tempat, dia menatap Aira yang semakin lama semakin jauh darinya. "Oi, mari pergi bersama!" tukas pemuda itu menyusul Aira.
Aira sama sekali tak menghentikan langkahnya, dia terus berjalan dengan kecepatan yang sama. Tak peduli kalau Rakan mengejar dirinya dari belakang agar mereka berjalan bersama. "Mungkin aku harus berterima kasih pada gadis bodoh itu?" gumam gadis itu pada dirinya sendiri. Karena kecemburuan yang besar dan rencana jahat yang disusun dengan asal. Para preman yang harusnya membuat dia kapok malah memberikan dirinya kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan Raka, sang target dari misinya kali ini. "Tak buruk," katanya lagi tetap dengan wajah datar seperti biasanya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Keesokan harinya, Sinta yang sudah yakin kalau Aira tak akan turun, merasa sangat senang sejak dia datang ke sekolah. Wajah penuh senyum yang memikat dan tutur kata yang lembut penuh dengan pesona dia tebarkan setiap dirinya membuka mulut dan bertindak.
"Pagi," sapa Aira yang baru masuk kelas. "Maaf terlambat, guru," kata gadis itu membungkuk kecil.
"Tak apa, pelajaran belum dimulai. Duduk di kursi kamu cepat!" ucap si guru uang sepertinya termasuk guru baik di sekolah ini.
"Baik, guru. Terima kasih!" kata Aira segera duduk di kursinya.
Saat melewati Sinta, Aira mengucapkan salam pagi tanpa suara untuk gadis itu. "Kamu!!!" teriak Sinta kesal dan terpancing emosi.
"Ya?" tanya Aira memasang tampang polos.
__ADS_1
"Ada apa, Sinta?" tanya si guru yang ikut terkejut karena Sinta tiba-tiba berteriak sambil menunjuk ke arah Aira.
Sinta menggigit bibirnya, dia menelan kata-kata yang ingin dia ucapkan. Tak mungkin dia dengan suka rela membiarkan imaje yang dia bangun selama ini hancur begitu saja. Dia bisa mengurus masalah ini nanti bukan.