
"Cepat kamu Katakan yang sejujurnya, Jika kamu tidak mau mengaku maka aku akan langsung menebas lehermu." kaisar Zen Hui yang terus mengancam Yura.
"Kamu ini Tuan pornografi, dikit-dikit mengancam.. dikit-dikit mengancam, kamu kira aku ini tidak tertekan apa terus-menerus diancam. nyawaku ini masih berharga, Aku ini wanita cantik.. mungil pandai.. seksi dan Aku ini wanita berharga. Masak kamu itu ingin membunuhku, Kamu kira aku ini wanita tidak berguna apa." jawab kesal Yura.
Beberapa prajurit, kasim dan dayang yang mendengar perkataan Yura terlihat mereka menahan senyumnya. secara wajah memang Yura cantik, tapi kata-katanya begitu menyimpang bahkan terlalu konyol untuk wanita cantik seperti dia.
"Memang wajahmu cantik, tapi mulutmu itu tidak menampakkan kecantikan di wajahmu." sindir Kaisar.
"Memangnya mulutku ini kenapa? mulutku ini satu.. satu pasang, mulutku ini bisa berbicara. Memangnya ada yang salah dengan mulutku?" tanya Yura.
Kaisar Zen Hui kemudian menatap Yura,
"Tentu saja benar-benar salah, sekarang aku tanya sekali lagi. daripada pedangku ini menebas lehernya.. lebih baik kamu mengaku, kamu disuruh oleh kerajaan mana untuk masuk ke dalam kerajaanku?" Kaisar Zen Hui berusaha untuk menenangkan hatinya.
"Sudah aku bilang kalau aku ini bukan utusan dari kerajaan manapun, aku ini cuma kesasar.. aku nyasar, Aku tidak tahu jalan. saat itu aku didorong oleh kekasihku kemudian masuk lautan, dia membunuhku.. dia berusaha untuk mengambil seluruh kekayaanku." jawab Yura.
BRAKK!!
Yura memukul meja.
Kaisar Zen Hui sedikit terkejut ketika Yura tiba-tiba memukul meja yang ada di depannya itu.
"Kamu ini wanita yang benar-benar ingin mati di tanganku ya." ucap Kaisar.
"Buat apa aku mati di tanganmu, Seharusnya aku yang tanya sama kamu. Kamu ini ngapain sih terus menerus berkata seperti itu, Aku kan sudah bilang kalau aku ini tidak tahu apa-apa. kalau kamu bicara seperti itu lebih baik kamu itu mengaca. aku sudah bicara jujur tapi tidak percaya." salah satu jari Yura menunjuk dada Kaisar Zen Hui.
Seketika sang Kaisar Zen Hui langsung mengarahkan pedangnya di atas jari Yura yang menunjuk ke dadanya.
"Hehehe..., maaf-maaf." Yura langsung melipat jari jemarinya agar selamat dari pedang sang Kaisar.
"Lalu, bagaimana kamu sampai di tempat ini?" tanya Kaisar Zen Hui.
"Aku itu dari masa modern, dari masa depan. aku itu sudah dibunuh oleh kekasihku, dia melemparku ke lautan setelah itu aku tenggelam. tiba-tiba petir menyambar, yah.. setelah itu aku sampai di sini, aku masuk ke dalam lautan setelah itu muncul di kolam renang." jawab Yura sambil memperagakan apa yang terjadi kepadanya.
"Maksudmu kamu dari masa depan?" tanya sang Kaisar.
"Ya Tuhan.. kalian ini telinganya pada tidak dipakai ya, sebelum kalian keluar kalian itu seharusnya memasang telinga dulu. salah satu tubuh kalian itu tidak ada yang boleh tertinggal biar kalau diajak berbicara atau berkomunikasi kalian itu pada siap. aku sudah bilang Kan kalau aku ini dilempar kekasihku kelautan, setelah itu aku tenggelam disambar petir bangun-bangun sudah ada di kolam. ya.. aku enggak tahu kalau aku mengalami kejadian seperti ini." Yura menjawab dengan begitu santai.. sedikit kesal tapi ekspresinya begitu lucu.
"Bagaimana mungkin kamu dari masa depan bisa kemari. aku yakin kamu berbohong, kamu pasti diutus oleh salah satu kerajaan atau para siluman itu." Kaisar Zen Hui masih tetap tidak percaya.
__ADS_1
"Wallah.. walahhh.., sudah dikasih tahu enggak percaya. Coba kalian lihat pakaian yang aku pakai waktu itu, sama enggak seperti kalian? lagi pula aku ini bukan tipe pembohong, kalau aku berbohong sudah dari awal aku berbohong." Yura menatap Kaisar Zen Hui dengan tatapan mata yang begitu tajam. begitu menusuk hingga membuat sang Kaisar sedikit mengalami kecanggungan.
"Jika sampai kamu berbohong akan kupastikan lehermu itu putus." ancam sang kaisar.
"Yang mulia." Panggil Kasim.
"Ada apa Kasim." jawab kaisar.
"Yang mulia, yang mulia pernah mendengar mengenai ramalan yang dikatakan oleh para siluman juga Raja naga beberapa ratus tahun yang lalu?" ucap kasim.
"Maksudmu?" tanya Kaisar.
"Waktu itu Kaisar naga mengatakan kalau suatu saat nanti akan ada makhluk aneh yang datang dari tempat yang begitu jauh. dia ke sini akan membawa perubahan yang begitu besar." jawab kasim.
"Memang waktu itu Raja naga menceritakan mengenai ramalannya kepada nenek moyang kita, tapi masa makhluk seperti ini adalah perwujudan dari ramalan itu?" sang Kaisar menunjuk dahi Yura sembari menunjukkan ekspresi yang tidak percaya.
PLAKK..
"Dasar pria pornografi, singkirkan tanganmu berani banget nunjuk keningku seperti keningku ini papan tulis." cibir Yura.
Setelah hari itu rumor mengenai gadis dari alam para dewa mulai tersebar, Kaisar Zen Hui sedikit percaya dengan cerita Yura. pria itu memutuskan untuk memberikan tempat bagi Yura di kerajaannya, apalagi Yura adalah wanita yang begitu cepat beradaptasi dengan para penghuni kerajaan Byakgo.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN
Gadis itu menunjuk ke arah salah satu wanita yang terlihat memukul beberapa pelayan dan dayang muda.
"Dia adalah wanita kesayangan dari yang mulia Kaisar." jawab dayang Rang.
"Wanita kesayangan, Kaisar? maksudmu?" tanya Yura.
"Dia adalah wanita yang selalu bersama yang mulia kaisar, yang mulia Kaisar tidak mempunyai permasuri tapi yang mulia Kaisar mempunyai beberapa istri." jawab dayang Rang.
"Apa?! beberapa istri? Memangnya beberapa istri itu ada berapa?" Yura sedikit terkejut namun dia terus menanyakan pertanyaan itu.
"Yang mulia Kaisar memiliki 4 atau 5 selir." jawab dayang Rang.
Seketika Yura membuka mulutnya dengan sangat lebar, Gadis itu menatap dayang Rang dengan tatapan mata yang begitu tidak percaya.
"Lima? Dia mempunyai istri 5?" tanya Yura.
__ADS_1
dayang Rang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kalau begitu dia adalah pria paling perkasa, satu minggu ada tujuh hari.. dia mempunyai 5 istri berarti dua hari itu dia libur, Kalau tidak dua hari itu pasti dia keliling ke rumah para istri-istrinya..," Yura mulai membayangkan angan-angan konyolnya mengenai pimpinan tertinggi dari kerajaan Byakgo.
"Khemm..,"
Dayang Rang berusaha untuk memberi peringatan kepada Yura.
"Kamu tersedak apa, dayang? apa kamu tersedak penutup guci ya? atau kamu tersedak sendok besar itu?" Yura menatap wajah dayang Rang.
Hanya senyum yang ditunjukkan oleh beberapa pengawal juga pelayan yang datang bersama dayang Rang.
"Hamba tidak tersedak apapun, Nona." jawab dayang Rang.
"Tapi kenapa suaramu seperti itu? kelihatannya di lehermu itu ada sesuatu yang tidak bisa turun. Apa kamu mau aku bantu? biar aku pukul punggungmu." Yura menawarkan bantuan.
Tentu saja dayang Rang langsung melangkah mundur untuk menyelamatkan tubuhnya.
"Tidak terima kasih, nona. saya baik-baik saja, saya tidak tersedak jadi nona tidak usah khawatir." jawab dayang Rang dengan penuh senyum.
** Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Gairah terlarang
- Isteri bayaran tuan Presdir
- aku mencintai isteri yang ku benci
- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)
- The royal palace
- Crazy love
__ADS_1
- Legend of the dragon kingdom
- Terlempar ke dimensi kerajaan