
"Tidak.........
Napasku tersengal, lagi-lagi mimpi buruk itu hadir menghantui malamku. Keringat mengucur di seluruh tubuh hingga membuat sprei di ranjangku menjadi basah. Ku usap keringat yang meluncur bebas dari keningku dengan napas memburu serta tenggorokan tercekat tanpa suara. Secepat kilat aku bangkit lalu menuju kamar mandi mencuci wajahnya, lalu mematut diriku didepan cermin.
'Si*l, mimpi itu lagi.' gumamku lirih.
Berulang kali aku mengatur napas, menarik lalu ku buang. Kurasa sudah stabil, aku keluar dari kamar mandi lalu mengganti spreiku yang basah akan keringat.
"Sampai kapan aku harus seperti ini? sungguh sangat menyiksa." ucapku dengan menarik sprei di ranjang lalu melemparnya ke keranjang pakaian kotor samping kamar mandi.
Usai membereskan ranjangku dan memasang sprei baru, Aku yang tak bisa tidur kembali memilih bermain ponsel. Aku melirik jam di dinding, pukul masih menunjukkan dua malam kurang tiga menit. Lagi-lagi aku menghembuskan napas, selalu seperti ini kejadiannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi menjelang, nampak seorang laki-laki paruh baya tengah duduk di meja makan menikmati teh panasnya. Sementara di samping kirinya terlihat seorang gadis muda ikut menemaninya, lalu disamping kanannya seorang gadis kecil berumur delapan tahun tengah memakan rotinya.
Tap... tap...
Dengan mata mengantuk, aku berjalan menuju ke arah meja makan lalu duduk disamping kakak perempuanku.
"Pagi Abah, mbak Mynul, dan si pendek." sapaku pada ayah, kakak, serta adik kecilku dengan nada mengejek.
"Aku nggak pendek!" seru gadis kecil itu yang bernama Dila.
"Ck! lihat saja tubuh gembul mu itu. Ingat! tumbuh itu ke atas bukan ke samping apalagi ke bawah." ledekku semakin menggoda Dila.
"Ini namanya imut kata Umi' tahu" kata Dila tak terima.
"Huek!" jawabku seraya memperagakan gaya ingin muntah saat mendengar kenarsisan Dila.
"Berisik! cepat makan habis itu berangkat ke sekolah. Nanti telat!" lerai mbak Mynul. Tentu saja hal itu mampu membuat hening seketika, bahkan Dila pun tak lagi bersuara. Memang mbakku satu ini terkenal tegas dan galak, serta disiplin. Walau begitu tetap menyayangi adik-adiknya dan tak pernah membandingkan.
Sementara Abah yang mendengar perdebatan putri-putrinya hanya menggelengkan kepalanya saja, lalu tatapan Abah mengarah padaku yang terlihat pucat bahkan terdapat kantung mata di wajahku.
"Kau sakit Tha?" tanya Abah membuat pandangan mbak Mynul serta Dila mengarah padaku.
__ADS_1
"Enggak bah, mungkin kecapean aja. Iya cuma kecapean, tak perlu khawatir bah." jawabku tenang berusaha santai menyembunyikan rasa gugupku.
"Izin aja dulu sekolahnya kalo nggak enak badan," kata mbak Mynul dengan raut wajah khawatirnya, begitupun dengan Dila yang kini mulai berkaca-kaca.
"Aku nggak papa mbak, semalam aku ngerjain tugas hingga larut. Makanya kurang tidur dan kurang fresh aja wajahnya. Kalo nggak percaya nih, aku bisa lari loh dari rumah ke sekolah." kilahku agar yang lainnya berhenti khawatir.
"Ya jelas bisa, orang jarak rumah sama sekolah cuma 15 menit saja." Sahut Umi' yang keluar dari dapur membawa segelas susu untuk Dila.
"Makanya aku bilang, kalo aku bisa dan kuat buat lari Umi'." jawabku membuat Abah dan yang lainnya menggelengkan kepalanya saja.
"Ya sudah, ayok berangkat." ajak mbak Mynul. "Kamu bonceng Dila ya dek, mbak mau nyusulin Dita dulu. Mau nebeng katanya," lanjutnya.
"Oke mbak, Abah, Umi' pamit dulu mau berangkat sekolah." aku mencium tangan Abah serta Umi' lalu bergantian dengan mbak Mynul dan Dila.
"Yok pendek kita cus." aku menggandeng tangan Dila keluar rumah lalu mendudukkan ke boncengan sepeda ontelku.
"Hati-hati bawa sepedanya dek," peringat mbak Mynul.
"Aman mbak, duluan mbak. Assalamualaikum," dengan semangat aku mengayuh sepeda walau mata sedikit mengantuk.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Namaku Khafytha, seorang gadis ceria dan cerdas walau tingkah bisa di katakan nauzubillah, karena terlalu bar-bar dan tomboy. Aku adalah putri dari pasangan Abah Ridwan dan Umi' Imah, memiliki seorang kakak perempuan bernama Khusnul yang biasa dipanggil mbak Mynul dan adik bernama Fadilah biasa dipanggil Dila. Aku sendiri terbiasa dipanggil dengan nama Fytha sejak kecil.
Bisa dikatakan sifat dan sikapku berbeda sendiri di antara kedua saudaraku, jika kakak dan adikku lebih kalem serta feminim justru aku lebih apa adanya bahkan terkesan bodoh amat. Aku masih duduk di kelas 2 SMP, dimana aku dan Dila berada di satu sekolah yang sama.
"Pendek, ntar kalo udah waktu istirahat ke mbak ya." ucapku begitu sampai disekolah dan memarkirkan sepedaku.
"Iya mbak, aku tadi dikasih Umi' uang dua ribu mbak." jawab Dila sembari mengeluarkan uang dua ribu dari sakunya.
"Itu buat infaq di kelas aja ya, nanti jajan sama mbak aja. Ini susu kotak kamu bawa dulu,"
"Yey, oke mbak. Terima kasih." ucap Dila senang, memang dalam keluarga Abah semua putrinya selalu di didik dengan baik dan tegas serta belajar saling berbagi satu sama lain. Bahkan di didik untuk menghargai pemberian orang lain dengan mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama, yuk mbak antar ke kelas dulu." aku menggandeng tangan Dila menuju kelasnya, lalu aku beranjak ke kelasku sendiri setelah memastikan Dila duduk di bangkunya. Dila masih kelas 2 SD, maka dari itu aku sangat overprotektif pada adikku satu itu.
__ADS_1
Senandung kecil keluar dari mulutku saat menyusuri lorong menuju kelasku, suasana kelas di setiap lorong hampir sepi karena waktu bel sekolah tinggal lima menit lagi berbunyi. Dengan santai aku memasuki kelas, lalu bergabung bersama para geng ku yang tak lain para sahabatku sebelum bel berbunyi.
"Udah pada ngerjain pr kimia belom?" tanyaku pada para sahabatku.
"Udah lah, gue nyontek Linda tadi." jawab Amrul dengan bangga.
"Anjir, nyontek bangga." ledekku lalu bertanya pada yang lainnya, "Kalian gimana?"
"Udah," jawab serentak bagai paduan suara saat upacara bendera.
"Jangan bilang nyontek juga," cebikku.
"Iya!" jawab mereka kompak kembali lalu tertawa terbahak-bahak. Sedangkan aku hanya menggelengkan kepalaku saja.
"Emang loe udah ngerjain?" tanya Toni usai menghentikan tawanya. Aku menganggukkan kepalaku saja sebagai jawaban.
"Tumben rajin?" heran Shova.
"Semalam nggak bisa tidur, ya udah ngerjain pr aja. Sekalian ngisi jawaban soal kisi-kisi." bohongku terpaksa agar sahabat-sahabatku tidak khawatir.
"Busyet, yang kepalanya encer." ucap Gandhis.
"Ho'oh, kita aja belom sentuh itu soal." imbuh Bagus sembari membuka keripik ditangannya.
"Ya bagus lah, ntar kita tinggal contek jawaban aja sama Fytha." sahut Vian yang disetujui oleh Linda,
"Betul banget tuh"
"Apa gue kata, punya temen otak encer mah enak. Nggak perlu mikir tugas lagi kan." ucap Amrul menyebalkan, namun di antara lainnya hanya ia yang paling kocak gayanya.
"Betul!" dijawab kompak oleh yang lainnya.
Tet... Tet... Tet...
"Hadeh, dah balik bangku dulu dah bel masuk." Ajak ku lalu menuju tempat duduk ku dan mengeluarkan buku tugas kimia. Pelajaran pun di mulai....
__ADS_1