LELAKI_KU

LELAKI_KU
Kepergian Bayu Untuk Selamanya.


__ADS_3

Aku mengerjapkan kedua mataku perlahan, ku lihat sekeliling hanya sebuah ruangan berwarna putih serta tercium bau obat-obatan yang menyeruak ke dalam Indra penciuman ku.


"Rumah sakit." Gumamku.


Nampak di sofa ruangan Umi' tengah tertidur lelap, lalu tatapan mataku menuju ke arah jendela. Langit sudah gelap rupanya, seingatnya tadi siang ia berada di rumah Bayu. Bagaimana bisa ia berada disini?. Dalam benak aku bertanya-tanya apa yang terjadi padaku setelah aku berada di rumah Bayu.


Ehm!


Ku lihat Umi' menggeliatkan tubuhnya, kemudian membuka matanya dan menatap ke arahku.


"Alhamdulillah nak, kamu sudah sadar akhirnya? Umi' tadi khawatir sekali. Sebentar Umi' panggilkan dokternya dulu." Ucap Umi' lalu keluar kamar untuk memanggil dokter.


Melihat Umi' berbicara hingga keluar ruangan, aku hanya diam saja. Kepalaku sedikit pusing dan juga aku masih mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya sehingga berakhir disini.


Tak berselang lama, masuklah Umi' beserta seorang dokter laki-laki paruh baya. Dokter itu segera memeriksa keadaan ku ditemani oleh seorang suster.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Umi' begitu melihat dokter itu sudah menyelesaikan pemeriksaannya.


"Kondisi pasien cukup baik Bu, tadi pasien hanya syok saja sehingga pingsan. Jika besok tidak ada kendala insyaallah sudah boleh pulang." Jawab dokter itu.


"Alhamdulillah, terima kasih dokter." Ucap Umi' dengan lega.


"Sama-sama Bu. Kami permisi terlebih dahulu, mari." Balas sang dokter dengan senyum ramahnya. Sedangkan Umi' hanya menanggapi dengan anggukan kepala tak lupa senyumnya.


"Bagaimana keadaan kamu nak? Apa ada keluhan?" Tanya Umi' yang kini tengah berdiri di samping ranjang ku.


"Aku baik saja Umi', kenapa aku bisa sampai disini?" Tanya ku balik pada Umi'.


"Kamu pingsan saat ada di rumah Om Danu nak, lebih tepatnya pingsan karena melihat... Jenazah Bayu nak." Jawab Umi'.


"Jenazah Bayu," lirihku hingga tanpa terasa air mataku menetes keluar begitu saja. Kemudian aku histeris memanggil nama Bayu, aku tak terima Bayu pergi meninggalkanku begitu saja tanpa kata.


"Bayu... enggak-enggak, Bayu masih hidup Umi'. Dia masih hidup, dia nggak mungkin ninggalin aku. Nggak mungkin!" Sentak ku.


"Istighfar nak, Bayu sudah tiada. Ikhlaskan," ujar Umi' sambil memeluk tubuhku yang sudah memberontak agar dilepaskan.


"Nggak! Nggak mungkin, BAYU BELOM MATI, DAN BAYU NGGAK MUNGKIN NINGGALIN AKU GITU AJA UMI'. DIA UDAH JANJI ITU," teriakku semakin tak terkendali.


"Ya Allah, sabar nak, sabar. Istighfar nak," tak ingin hal buruk terjadi, Umi' segera berteriak meminta tolong di depan pintu kamar memanggil suster.


Suster yang mendengar teriakan Umi' segera menghampiri lalu berusaha membantu menenangkan ku. Lantaran aku semakin histeris dan tak terkendali, salah satu suster akhirnya menyuntikkan obat penenang hingga perlahan aku mulai lemah dan tertidur pulas.

__ADS_1


Melihatku bersikap demikian Umi' sontak menangis, lalu menghubungi Abah dan menceritakan segalanya.


'Lalu bagaimana keadaannya sekarang?' tanya abahku di ujung sana.


"Sudah tenang mas, tadi terpaksa disuntik obat penenang karena Fytha histeris dan ingin mencabut jarum infusnya mas." Jawab Umi' sesenggukan melihat betapa terpuruk putrinya itu.


'Sabar, besok aku kesana. Aku bawakan air zamzam yang sudah di beri doa oleh pak kyai nanti.' ucap Abah menenangkan kegelisahan Umi'.


"Iya mas,"


'Ya sudah, istirahatlah. Tenangkan pikiran jangan berprasangka buruk apapun.' nasihat Abah.


"Iya mas, assalamualaikum."


'Waalaikum salam.' Panggilan pun terputus. Umi' segera menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa sambil menghela napasnya.


Keesokan harinya, Abah datang membawa sarapan dan juga air zamzam seperti yang telah dikatakannya tadi malam di telepon. Abah masuk ke dalam ruangan, lalu menghampiri Umi'.


"Bagaimana keadaan Fytha?" tanya Abah dengan menyerahkan bawaannya kepada Umi'.


"Baru saja tidur mas, setelah meminum obat. Tadi bangun pagi hanya bengong saja mas sambil melihat keluar jendela. Aku jadi takut mas, aku takut putriku...


"Mas, apa putri kita pada akhirnya bisa menerima segalanya?"


"Bisa, tetap bacakan sholawat untuknya nanti. Dia tengah syok saat ini," ucap Abah. "Aku tak menyangka jika pada akhirnya putri nakal ku itu akan mengenal yang namanya cinta-cintaan di usia kencurnya itu." lanjut Abah dengan sedikit terkekeh.


"Aku juga nggak nyangka mas, kalau anak temanmu itu bisa-bisanya jatuh hati pada gadis bar-bar itu. Namun sayang, Tuhan tak menghendaki keduanya bersatu mas." ujar Umi'.


"Itulah yang namanya takdir, kita tidak pernah tahu bagaimana kedepannya."


"Iya mas." ucap Umi' menyetujui.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tiga hari berlalu...


Suasana duka menyelimuti kediaman Om Danu, perihnya ditinggal putra semata wayangnya membuat tekanan tersendiri dalam diri Om Danu. Raga kuat dan kokohnya seolah hancur dalam sekejap begitu saja.


Ku tatap sekeliling rumah milik Bayu, sudah tiga hari berlalu aku baru memiliki keberanian untuk datang ke rumah Bayu. Butuh cukup kekuatan untuk bisa berdiri tegap disini, di rumah Bayu tak banyak hiasan foto yang terpasang di dinding. Namun, ada satu foto yang menarik perhatianku. Yaitu foto lengkap keluarga Bayu, dimana ada Om Danu dan istrinya lalu Bayu yang diapit ditengah kedua orang tuanya.


Senyum yang terpancar dalam foto itu begitu sangat indah. Tak ada sedikitpun beban dalam senyuman itu, hanya sebuah kebahagiaan yang menghiasi wajahnya.

__ADS_1


Perlahan aku mendekat, menatap lamat-lamat potret laki-laki yang mampu mencuri hatiku itu.


'Untuk pertama kalinya aku merasakan luka karena sebuah kecewa bang, namun aku bahagia. Aku cukup bahagia mengenalmu, aku cukup bahagia pernah ada di sisimu dan aku cukup bahagia telah memiliki kamu dalam hidup aku.


Bahagia ya bang disana, jangan khawatirkan diriku. Aku akan selalu baik-baik saja, dan akan tetap baik-baik saja. Titip salam buat Tante disana ya bang, bilang kalau calon menantu gagalnya ini tengah merajuk padamu. Hehehe...


Bang, terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Dan terima kasih telah mengajarkan aku apa arti cinta, dan arti dari memiliki. Aku akan belajar ikhlas buat lepas Abang, walau jujur perih hati ku rasa setiap saat kala mengingat segala kenangan tentang kita berdua yang telah kita lewati sama-sama.


I love you bang, itu adalah kata yang paling di tunggu dariku bukan. Sekarang aku akan katakan padamu bang, I love you so much and forever.'


Aku menghapus air mataku segera saat kembali menetes, dalam hati aku mencoba ikhlas dan menerima segalanya namun terlalu sulit untuk dirasa. Walau demikian, aku berusaha untuk menjalani segalanya dengan lapang dada. Aku harus bisa mulai menerima segalanya yang telah terjadi.


Tanpa ku sadari, Om Danu tengah memperhatikan diriku. Kemudian menepuk pundakku, "Ikut Om, ada yang mau Om tunjukkan pada kamu." setelah berkata demikian, Om Danu beranjak meninggalkanku menuju lantai dua.


Awalnya aku ragu, namun aku juga penasaran dengan apa yang akan di tunjukkan oleh Om Danu padaku. Setelah menimbang-nimbang akhirnya aku berjalan ke arah lantai dua mengikuti Om Danu, papa Bayu.


Baru saja aku sampai di lantai atas, Om Danu memberi ku kode agar mendekat. Aku menganggukkan kepalaku lalu berjalan ke arah Om Danu berada.


Begitu aku sampai di depan Om Danu, lagi-lagi aku diberi kode untuk membuka pintu yang aku tak tahu pintu apa itu.


"Buka dan masuklah," ucap Om Danu.


Dengan ragu aku membuka perlahan pintu itu,


Ceklek!


Gelap itulah kata pertama yang terbesit dalam pandanganku akan ruangan di depanku kini. Hingga Om Danu masuk dan menyalakan lampunya.


Tap...


Sontak aku menutup mulutku tak percaya hingga mataku berkaca-kaca.


"I... Ini....


...----------------...


Maafkan othor yang telah update ya guys 😞


Othor ada kesibukan di real, jadi slow update yaa 🤭.


Terima kasih atas cinta-cintaku yang masih setia menemani membaca novel receh othor ini 🤗🤗.

__ADS_1


__ADS_2