
POV BAYU
Namaku Bayu Adyaksa Putra, aku seorang anak SMA kelas 2. Aku terlahir dari pasangan Danu Adyaksa dan Mustika Maharani. Menjadi anak tunggal membuat hidupku terasa sepi, kedua orang tuaku sibuk hingga aku terabaikan. Ayahku seorang tentara, sering dinas keluar kota bahkan tak pula sering berpindah tempat tugas. Aku tinggal bersama bunda, pekerjaan bundaku sendiri seorang dosen di sebuah kampus swasta daerah bandung. Aku yang terbiasa melakukan apapun sendiri membuat aku menjadi sosok yang mandiri. Tak pernah sekalipun aku mengeluh ataupun merengek jika menginginkan sesuatu.
Menangis? Tidak pernah ada dalam kamusku, dalam hidupku aku menggembleng diriku sendiri agar tak menjadi anak yang cengeng. Hingga kejadian lima tahun yang lalu menghancurkan benteng kokoh dalam diriku. Saat itu aku mendapati bundaku terkulai tak berdaya diatas lantai dengan darah merembes deras dari hidungnya. Itulah pertama kalinya aku meneteskan air mataku, terpukul dengan keadaan bundaku.
Tanpa kata ataupun berteriak minta tolong, aku memapah bundaku menuju taksi yang sudah ku pesan terlebih dahulu dengan terburu-buru. Aku hanya diam di dalam taksi, hanya sesekali menyuruh supir taksi itu mempercepat lajunya agar cepat sampai di rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, bunda segera di bawa ke ruang UGD untuk mendapat perawatan. Ketika itu aku masih kelas 1 SMP, aku tidak mengerti harus bagaimana. Akhirnya ku putuskan menghubungi ayahku yang tengah tugas di Surabaya dengan meminjam telepon rumah sakit karena pulsaku saat ini habis.
Berulang kali aku menghubungi nomor ayahku namun tak juga terhubung, hingga aku putus asa dan berhenti menghubunginya. Aku berjalan gontai menuju depan UGD kembali, dan menunggu dokter menyelesaikan pemeriksaan pada bundaku.
"Ayah kemana? Harusnya ayah temani Bayu disini. Bayu mulai takut, bunda... Sekarat." gumamku dengan menatap lurus ke arah UGD. Aku sendiri tak mengerti bagaimana bisa berkata begitu, namun firasat ku mengatakan demikian.
Tak berselang lama, nampak kepanikan dan kericuhan diruang UGD. Ku lihat beberapa suster tergopoh keluar ruangan, lalu kembali sambil mendorong sebuah alat. Entah alat apa aku tak mengerti, aku hanya terpaku saja melihat suasana menegangkan yang terjadi di depanku.
Lampu UGD padam, terlihat dokter keluar dari sana sambil menghela napas. Aku melangkah mendekati dokter itu, tanpa ku duga dokter itu tiba-tiba memelukku lalu menguatkan ku untuk bisa ikhlas menerima apa yang terjadi.
"Sabar ya nak, kuatkan hatimu. Ibumu sudah bahagia disana, maaf kami tidak bisa menolong dan mempertahankan nyawanya." Ucap dokter itu lalu menepuk bahuku setelah melepaskan pelukannya.
Duar!!
Ibarat tersambar petir di siang bolong, aku terkejut bukan main. Bundaku pergi meninggalkanku, Apakah ini nyata? Aku bertanya-tanya dalam hatiku.
"Tumor dalam otaknya sudah berada di stadium akhir bahkan sudah menyebar hampir keseluruhan. Apakah selama ini bunda mu tidak pernah memberitahukan jika mengidap penyakit itu?" Tanya dokter itu. Aku hanya menggelengkan kepalaku sebagai jawaban. Ku lihat dokter itu menghela napasnya kembali sebelum kembali menepuk bahuku.
"Tabah dan ikhlaskan, bunda mu sudah tidak kesakitan lagi. Bunda mu sudah bahagia." Ucapnya lalu pergi meninggalkanku dengan sejuta tanya.
Proses pemakaman bundaku berjalan lancar, ayahku menghubungi dan mengatakan jika ia akan terbang lusa ke bandung karena terlalu mendadak dan ia baru menyelesaikan dinasnya disana. Aku tak banyak berkomentar, hanya mengiyakan saja apa kata ayahku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Lima tahun berlalu.....
Sejauh ini aku tinggal dirumah bersama ayahku, hubungan kami pun tak terlalu dekat karena dari awal kami memang tidak dekat. Aku hanya dekat dengan bunda, walau kami jarang berkomunikasi tapi aku terbiasa tinggal dan hidup bersama bunda.
Malam itu ayahku mengajak makan diluar, aku mengikutinya saja tanpa protes. Aku dan ayahku menikmati pecel lele langganan kami yang berada di warung makan pinggir jalan dekat rumah. Di sela makan ayah mengajakku berbicara dan aku menanggapinya singkat saja. Hingga ayah tiba di pucuk pembahasan, ia mengatakan jika akan dinas di daerah Mojokerto. Ayah bermaksud membawaku ke sana karena tak ingin meninggalkanku disini sendiri meskipun aku sudah besar.
"Ayah mau kamu ikut ayah Bay, ayah tidak mau meninggalkan mu sendiri disini. Urusan sekolah kamu bisa lanjut disana sampai lulus nanti." Bujuk ayahku.
"Artinya kita pindah kesana?" Tanyaku datar.
"Yah, kau benar. Kali ini ayah memutuskan akan menetap disana. Bagaimana?"
"Baiklah."
"Ayah akan segera mengurusnya, lusa kita berangkat. Kau tak keberatan?" Tanya ayahku ragu-ragu mengingat hal itu cukup mendadak.
"Tidak." Singkat ku.
Melihat ku tak mempermasalahkannya, ayah terlihat cukup lega. Lalu mengambil ponsel menghubungi orang suruhannya untuk mengurus kepindahan sekolahku. Setelah beres, kami melanjutkan makan dan segera pulang untuk mulai bersiap dan berkemas.
Aku dan ayahku tiba di bandara Djuanda pada siang hari, lalu kami keluar dari bandara menuju mobil yang sudah ayah sewa untuk datang menjemput. Perbedaan cuaca sangat kentara tatkala matahari menyengat jalanan. Jika dibandung suasana masih sejuk sedangkan disini suasana cukup membakar tubuh. Fanas!! 🥵
Sekitar satu jam perjalanan kami baru sampai di sebuah perumahan daerah Canggu, rupanya ayahku membeli rumah disini. Rumah yang dibeli ayahku cukup besar dibanding sekitar, karena ayah membeli rumah berlantai dua. Aku melangkahkan kaki ku memasuki rumah, dekorasinya lumayan nyaman selain itu tempatnya bersih.
Karena terlalu asyik melihat-lihat, aku tak sadar jika di rumah itu ada seorang art paruh baya tengah memotong bahan masakan. Ku hampiri nya segera untuk sekedar berkenalan dan tanya-tanya tentang lingkungan disini.
"Siang bik," sapaku ramah.
"Siang den, mau bibi buatkan sesuatu den?" tanya bibi itu tak kalah ramah padaku.
"Tidak bik, saya hanya berjalan-jalan disekitar. Perkenalkan nama saya...
__ADS_1
"Den Bayu kan?" tebak bibi yang sudah tahu akan diriku.
"Iya bik, kalo bibi?" aku mengangguk lalu tersenyum.
"Panggil bik Ijah saja den". kekehnya.
"Ah iya bik Ijah, semoga betah bekerja disini ya bik."
"Pasti den, insyaallah."
Aku tersenyum saja, lalu kembali berkeliling hingga mataku tak sengaja terarah ke sebuah sepeda ontel di samping pagar. Aku yang penasaran dengan daerah sini, memiliki sebuah ide untuk berkeliling memakai sepeda itu saja.
Dengan penuh semangat ku kayuh sepeda ontel mengikuti jalan, ku rasakan teriknya matahari membakar kulit namun ku abaikan. Sayang, langit tak mendukung kesenanganku untuk menikmati waktuku siang ini. Tiba-tiba saja ban sepedaku bocor, terpaksa aku menuntun mencari tambal ban.
Tak jauh dari tempatku menuntun sepeda aku melihat tukang tambal ban, aku segera menggiring sepedaku. Sambil menunggu tukang tambal melakukan tugasnya, aku berniat membantu mengisi angin ban jika ada pelanggan yang meminta. Hingga seorang gadis SMP berdiri di depanku dengan bibir mengerucut lucu. Begitu sangat menggemaskan hingga aku terpaku, jujur saja aku terpesona. Aku menjadi salah tingkah saat mendengar suaranya,
'Oh tuhan, aku jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama.' gumamku dalam hati.
Karena terlalu gugup, aku begitu kaku saat menanggapi permintaannya. Semoga ia tak ilfil padaku, namun aku sungguh MALU !.
"Isi angin depan belakang ya bang, isi fenuh." pinta gadis SMP itu. Aku tak menjawab hanya menganggukkan kepalaku, suara dalam tenggorokanku seolah tercekat bahkan lidahku terasa keluh.
"Berapa?"
Lagi-lagi aku tak mampu bersuara, aku mengarahkan 1 jariku saja pertanda jika hanya habis seribu rupiah. Ku lihat ia merogoh kantung seragamnya dan memberiku seribu lima ratus.
"Abang kasihan banget sih, ganteng-ganteng kok BISU !" ucapnya sembari memberikan uang padaku. "Ku lebihkan buat beli es ya bang, es lilin." lanjutnya terkekeh. Mendengar ia berkata demikian, aku tak marah sama sekali. Justru dalam hatiku ikut tertawa melihat sikap konyol ku ini.
"Abang nggak bisu kok," ucapku kikuk sambil malu-malu.
"Lah bisa ngomong, kirain cuma bisa ngap-ngap tadi." gadis itu mendelik tajam saat menatap ku, sedangkan aku hanya bisa menggaruk belakang kepala saja. Tanpa bicara lagi gadis itu mengayuh sepedanya pergi.
__ADS_1
Begitu aku melihat ia sudah mengayuh sepedanya menjauh, senyumku terbit. Hatiku begitu berbunga-bunga, astaga aku jatuh cinta. Ku tatap uang yang berada ditangan ku penuh binar. Dalam kantung celana ku raih uang dua ribu untuk ku tukar dengan uang gadis itu. Aku akan menyimpan uang gadis itu sebagai tanda cinta awal untukku.
'Semoga kita bertemu lagi, cinta pertama'