
Saat sore menjelang aku baru kembali ke rumah, di teras rumah ku lihat ayahku tengah menikmati secangkir teh. Aneh, tumben ayahku sudah ada dirumah. Aku memarkirkan sepeda ontel yang kupakai ke tempat semula lalu beranjak menghampiri ayahku.
"Assalamualaikum," aku mencium punggung tangan ayahku. "Tumben?" Tanyaku heran.
"Apanya yang tumben?" Ayahku mengangkat sebelah alisnya heran menatapku.
"Udah dirumah."
"Tanya yang jelas lah Bay. Iya ayah udah pulang, kamu mandi gih. Habis itu kita ke rumah teman ayah, lama ayah tak jumpa teman ayah itu."
"Sekarang?"
"Iya, cepat ayah sudah mandi." Desaknya lalu mendorongku masuk ke dalam rumah.
Sekitar setengah jam, aku sudah siap begitupun ayahku. Dengan mengendarai motornya, tak lupa aku yang duduk di kursi boncengan. Ayah keluar dari daerah perumahan menuju jalan raya. Aku tak terlalu ambil pusing, bahkan aku tak pernah protes apapun yang dilakukan oleh ayahku.
Beberapa menit perjalanan akhirnya sampai juga dirumah teman ayahku. Aku menatap sekeliling rumah, sementara ayah tengah salam jumpa dengan temannya.
Insting ku sangat tajam, aku merasa ada yang melihat ke arahku. Sengaja aku berbalik kebelakang, aku penasaran dengan orang yang tengah memperhatikan ku.
Deg !
Gadis itu....
Jantungku berdegup kencang kembali, kegugupan melandaku saat ini. Ya tuhan, bagaimana ini? Aku memasang wajah datar ketika melihatnya. Andai dia tahu aku yang tengah gugup, pasti akan menertawakan ku.
Oh tidak, ku lihat dia menatap tajam ke arahku. Namun hal itu tak membuatku takut, justru aku semakin gemas saja melihatnya. Ah, dia begitu menggemaskan dimataku. Setelah menatap tajam serta sinis padaku, dia masuk ke dalam rumahnya. Ah, aku mendesah kecewa karena tak bisa lama menatap wajah menggemaskan itu.
Tatapanku ke arah teman ayah sesaat, kini aku tahu jika gadis pencuri hatiku adalah putrinya. Dunia cukup sempit sekali bukan, aku tak perlu berjuang keras menemukannya. Malah dia kini berada di depan mataku, dekat dengan jangkauanku.
Kebosanan melandaku, ayah sibuk mengobrol dengan temannya. Aku yang cukup kesal di abaikan akhirnya berdehem keras.
Ehem!
Sontak hal itu membuat obrolan ayahku dan temannya berhenti lalu menoleh ke arahku. Aku hanya menatap datar ke arah ayahku.
__ADS_1
Aku tahu ayah mengerti arti tatapan mataku, hingga ia menjadi terkekeh sendiri. "Sampai lupa mengenalkan anakku, Wan." Gelak ayahku.
"Dia putramu, Dan? Tanya teman ayah.
"Iya Wan, dia Bayu. Anak satu-satunya tiada yang lain." Canda ayahku walau sejujurnya memang benar aku ini seorang anak tunggal sih.
"Halo Bayu, kenalin nama saya Ridwan. Panggil Abah saja biar sama seperti yang lainnya." Ucap Abah ramah menyambutku.
"Senang mengenal Abah." Balasku tak kalah ramah, hingga ayahku melongo tak percaya. Seorang Bayu bisa bicara ramah begitu sama orang lain? Amazing. 😂
Kemudian ayahku berbincang kembali bersama Abah dan mengabaikan keberadaan ku.
Tak berselang lama, ku lihat seorang gadis menyuguhkan minuman untukku dan ayah, tak lupa untuk Abah pula. Aku tak mengenalnya, jika dilihat dari parasnya yang sedikit dewasa kurasa itu kakak dari gadis menggemaskan itu. Begitu gelas minuman orange itu berpindah ke meja, gadis itu segera pamit masuk kembali ke dalam.
Sesekali aku melirik ke dalam rumah, berharap gadis menggemaskan itu muncul. Namun sayang, tuhan tak mengabulkan harapanku untuk melihat gadis menggemaskan yang sudah mengunci hatiku dari awal jumpa.
Ku minum segelas orange itu hingga tersisa setengah, lalu meminta izin Abah untuk menumpang ke toilet.
"Bah, boleh ikut menumpang ke toilet. Saya hendak buang air kecil," ucapku tenang walau sebenarnya asli kejer karena gugup.
"Masuk saja, dekat dapur ya Bay. Lurus belok kiri nanti." Abah menunjukkan arahnya kepadaku, lalu aku mengangguk dan masuk ke dalam mencari toilet.
Lantaran berusaha menutupi kegugupan ku, sikapku malah dingin saat menghadapinya. Aku terkekeh dalam hati ketika ku lihat dia terkejut saat aku tiba-tiba datang dan bertanya padanya. Sengaja ku buat ia kesal dengan ucapanku, melihat bibir mengerucutnya membuatku gemas sendiri.
Setelah menunjukkan letak toilet, aku meninggalkannya begitu saja. Tentu saja aku mendengar segala sumpah serapah yang ia tujukan padaku. Sampai menjuluki diriku dengan sebutan MUKA ASPAL. Ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak, namun aku harus menahannya.
Saat aku keluar dari kamar mandi, sengaja ku ucapkan terima kasih tanpa melihatnya ataupun berhenti. Bisa ku pastikan bagaimana kesalnya dia padaku.
Di atas sofa aku duduk sambil bermain ponselku, tanpa sengaja di saat aku melirik ke dalam lewat ekor mata tajamku. Ia tengah celingukan melihat ke arah kami, entah apa yang tengah di carinya. Tak lama ia memilih pergi menaiki tangga dan tak terlihat lagi.
Waktu makan malam tiba, aku dan ayah masih berada di rumah Abah karena beliau mengajak kami untuk ikut makan malam bersama. Tentu hal tersebut membuatku bersorak senang dalam hati, aku bisa melihat gadisku. Eh,
Begitu semua berkumpul di meja makan, Abah mengenalkannya padaku. Dalam hati kurasakan berbagai bunga tengah mekar indah, dan apa kata Abah tadi? Namanya Fytha? Indahnya nama itu.
Dengan mempertahankan muka datarku, tanganku terulur menjabat tangannya. Oh tidak, gadis ini mengujiku rupanya. Beraninya dia meremas jemariku, dalam hati aku terkekeh. Lihat saja nanti,
__ADS_1
Tak ku kira, ternyata dia masih bocil kelas 2 SMP. Dan baru ku tahu jika ia sekolah di tempat yang sama denganku nanti. Ah, sungguh hatiku tak sabar berada satu sekolah dengannya. Tidak-tidak, tapi tak sabar menunggu esok datang.
Kami semua menikmati makan malam dengan khidmat, walau sesekali ku dengar ayah dan Abah tengah ngobrol menilai rasa masakan buatan istrinya Abah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya, aku sudah masuk sekolah. Aku sengaja berangkat terlambat agar tak terjadi kehebohan akan kedatangan ku. Lorong tiap kelas lumayan sepi, itu menjadi hal menguntungkan untukku.
Tiba di pertigaan lorong, tanpa sengaja aku melihat bidadari hatiku tengah berlari terburu-buru. Lagi-lagi aku membeku di tempat, wajahnya membuatku candu untuk berlama-lama menatapnya. Aku ingin mengobrol dengannya, aku ingin bertengkar dengannya. Namun bagaimana caranya? Aku memikirkan sebuah cara. Hingga aku menemukan sebuah ide cukup cemerlang, sengaja aku menabrakkan diri ke arahnya. Benar saja, ia terjatuh lalu mengomel tak jelas dan itu cukup menggemaskan untukku.
Sudah ku tebak jika ia akan terkejut melihatku kini berdiri tepat didepannya. Untuk mengurangi rasa gugupku, akhirnya aku memasukkan tangan ku ke dalam saku celana. Ku pasang tampang datar ku untuknya.
Entah apa yang tengah dipikirkan olehnya, hingga aku gemas dan mencoba menyentaknya. Benar saja, bibir sexy nya itu langsung mengomel. Ini yang ku suka , ini yang ku mau yaitu mendengar suara indahnya. Ku dengar ia mengejekku, semakin gemas saja diriku melihatnya. Hingga tanpa sadar aku mengangkat tanganku menyentil keningnya.
Nampak ia melotot tajam ke arahku dan memakiku, ini yang ku suka. Tunggu! Dia bilang apa itu tadi? Mau apa tadi? Astaga, dia ingin mencium ku. Ingin rasanya aku guling-guling ke lantai saat itu juga. Namun kewarasan ku masih menguasai diri, sehingga aku memasang tampang cool ku. Lalu meledeknya mesum untuk menutupi segala letupan bunga dalam hatiku.
Uh, aku tak tahan lagi menghadapinya hingga aku berlalu begitu saja meninggalkannya. Aku mendengar setiap teriakannya, hanya saja aku memilih mengabaikan walau sebenarnya senyum indah nampak menghias di bibirku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di jam istirahat, aku ingin pergi ke perpustakaan sekalian berkeliling di sekitar. Baru saja aku hendak menuju lorong arah perpustakaan, ku lihat dari jauh pujaan hatiku nampak tertawa bersama para temannya. Ku lihat di antaranya ada empat laki-laki dan empat perempuan termasuk dia. Uh, mereka seperti berpasang-pasangan membuat hatiku panas saja saat melihat.
Tidak bisa! Ini tak bisa dibiarkan, tak akan aku biarkan hama mengganggu bungaku. Enak saja, aku saja belum pernah tertawa demikian rupa bersama pujaan hatiku. Dengan langkah cepat aku menuju tempatnya bercanda tawa ria bersama teman-temannya. Tanpa sungkan ataupun ijin, aku mendaratkan pantatku tepat disebelahnya. Aku tahu dia cukup terkejut dengan kehadiranku. Bahkan aku menyerobot minuman dalam gelasnya lalu ku teguk habis.
Aku tak perduli dengan tatapan horor dari temannya, tak ku gubris pula teguran yang dilayangkan padaku. Hingga tangan lentik itu mencubit lenganku,
'Harusnya jangan cubit lenganku, cinta. Namun cubit hatiku akan cintamu.' teriakku dalam hati.
Rasa cubitannya mantap, nyelekit tapi bikin nagih. Aku berpura-pura kesakitan agar ia simpatik padaku. Namun sayang justru ia protes meminta ganti minumannya. Uh, untung aku sayang, eh...
Ku pesankan ulang minuman untuk pujaan hatiku, karena rasa sayangku aku rela melakukan hal itu. Tapi...
Lagi-lagi aku di buat dongkol, beraninya dia meninggalkan ku tanpa pamit. Aku mengumpat dalam hati, bisanya dia membuatku semakin gemas hingga ingin mencungkil jantungnya. Bagaimana nasib minuman dingin ditangan ku ini? Huft,
Pada akhirnya terpaksa masuk ke dalam kerongkongan ku sendiri.
__ADS_1
'APES!'
POV END