
Author POV
"Pak tunggu !" Pekik Fytha yang tak jauh dari gerbang sekolah.
Hampir setiap hari Fytha datang ke sekolah hampir terlambat, dan sudah menjadi kebiasaan hakiki baginya. Walau otaknya cerdas, hal itu tak merubah sifat dan sikap tengilnya. Bahkan guru piket di sekolah pun dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah badung anak didiknya satu itu.
Hosh... Hosh...
Napas Fytha ngos-ngosan tepat di depan Pak Iyan, satpam tempatnya sekolah. Fytha menyengir lebar saat di tatap kesal oleh Pak Iyan, bagaimana tidak kesal jika hampir setiap hari dan setiap kali akan menutup gerbang. Ia selalu saja mendengar pekikan siswi tengil itu karena selalu saja datang terlambat.
"Peace Pak, hehehe." Ucap Fytha mengajak damai Pak Iyan.
"Ish, ish, ish, saya teh heran sama neng Pytha. Mbok yo suka banget gitu loh berangkat terlambat." Heran Pak Iyan.
"Ckckck, nama saya teh Fytha Pak, bukan Pytha. Lagian saya teh enggak pernah berangkat terlambat atuh Pak. Cuma berangkat mepet jam aja,"
"Apa bedanya atuh neng, nyampe sini telat juga kan?" Pak Iyan menepuk keningnya sedikit kesal.
"Itu mah, jam di pos Pak Iyan aja kecepatan atuh. Jadinya tiap sampai sekolah teh, gerbang udah mau ditutup." Ucap Fytha menyebalkan.
"Kok malah nyalahin jam punya Pak Iyan sih neng,"
"Kalau saya nyalahin Pak Iyan kan ntar saya yang dapat dosa atuh Pak." Ketus Fytha.
"Kenapa begitu?"
"Pak Iyan kan sudah... BANGKOTAN !" sontak saja Fytha segera kabur setelah berkata demikian. Sebelum satpam satu itu mengomel panjang lebar karena di bilang tua. Fix! Emang nyebelin banget si Fytha ini ya guys 😂
"Woy neng Pytha jangan kabur," pekik Pak Iyan tak terima. Fytha yang mendengar hanya tertawa cekikikan sambil menuntun sepedanya ke tempat parkir.
Baru saja Fytha menaruh sepedanya, telinga kirinya sudah mendapat jeweran.
"Telat lagi ya anak bandel?" Ucapnya sambil sedikit menarik telinga Fytha agar mengikutinya.
"Aduh, aduh, aduh, sakit atuh Bu." Ringis Fytha merasakan telinganya mulai berdenyut panas.
"Kamu ini, sudah berapa kali kamu telat Fytha?" Tanya Bu Fanti kesal sambil melepas jeweran tangannya. Bu Fanti adalah guru piket paling di takuti di sekolah, sikapnya yang tegas serta tak segan-segan menghukum para muridnya yang melanggar peraturan di sekolah.
"Baru juga... Emm, udah berapa kali ya Bu?" Fytha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Huft,
Sontak Bu Fanti menarik napasnya dalam-dalam, memang benar kata guru lainnya. Menghadapi siswi satu ini harus punya stok kesabaran yang banyak.
'Sabar Fanti, sabar... Ingat bonus, ingat bonus.' gumamnya.
"Sudah, kamu masuk ke dalam lalu isi data peringatan. Setelah itu tempel ke mading sekolah seperti biasa. Kasih tahu juga sama siapa tadi namanya, ibu lupa. Suruh juga ikutan tempel," titah Bu Fanti yang di jawab Fytha dengan anggukan kepala.
Sebenarnya Fytha heran, baru kali ini ada yang datang terlambat seperti dirinya. Biasanya hanya ia sendiri, sekarang siapa yang menjadi teman seperjuangannya kali ini?
Fytha melihat seorang siswa tengah duduk membelakangi dirinya sambil mengisi data peringatan. Ia menatap seragam yang digunakan siswa tersebut, rupanya anak SMA. Baru kali ini ada anak SMA sekolah ini yang datang terlambat.
Setelah meraih kertas peringatan, Fytha mendudukkan tubuhnya di sebelah siswa SMA tersebut lalu segera mengisinya tanpa menoleh ke arah siswa SMA tersebut.
"Kalo ini bener kertas ke lima belas yang gue isi, ntar bakal gue kasih stempel sexy terus gue tempel dah ke mading. Hihihi," gumam Fytha sambil cekikikan sendiri.
"Yakin?" Bisik siswa SMA itu tepat di telinga Fytha. Tentu saja hal itu membuat Fytha terkejut, hampir saja ia menghajar siswa tersebut. Beraninya bisik-bisik di telinganya, kan geli jadinya.
"Elo lagi!" Pekik Fytha kesal dengan menatap tajam ke arah Bayu. Yups, siswa SMA yang ikut terlambat itu adalah Bayu. Entah bagaimana ceritanya ia bisa ikutan terlambat datang ke sekolah.
"Ckckck, ratu telat ke sekolah rupanya." Ejeknya dengan muka menyebalkan.
"Gue mah wajar aja, kan gue baru disini." Bela Bayu pada dirinya sendiri.
"Nah karena loe baru, harusnya berangkat di awali. Subuh kalo bisa!" Ketus Fytha lalu beranjak berdiri meninggalkan Bayu menuju mading.
Melihat Fytha pergi, Bayu segera menyusulnya karena ia juga harus ke mading.
"Ngapain ngikutin gue?" Ketus Fytha saat melihat Bayu berjalan di sampingnya.
"Ke mading lah." Jawab Bayu tak kalah ketusnya.
"Cih!" Fytha mempercepat jalannya begitu saja. Sementara Bayu menggelengkan kepalanya menahan gemas melihat tingkah pujaan hatinya itu.
Keduanya sampai di depan mading, Fytha melihat kertas peringatannya yang ke empat belas masih menempel rapi di sana. Sontak hal itu membuat Fytha senang bukan main, di rogohnya tas sampingnya untuk mengeluarkan lipbalm. Kemudian mengaplikasikan ke bibirnya sedikit, tanpa menghiraukan Bayu yang menatapnya dengan alis terangkat sebelah.
"Mau ngapain loe?" Tanya Bayu penasaran dengan apa yang akan di lakukan Fytha.
"Berisik ! Gue mau kasih stempel cinta gue lah. Ini kertas ke lima belas, tahu." Jawab Fytha lalu meraih kertasnya, segera ia tempelkan bibirnya yang sudah ber-lipbalm itu tepat di tengah tanda tangannya.
__ADS_1
'Muach!'
Suara kecupan Fytha begitu nyaring, membuat Bayu yang berdiri di sampingnya menelan ludahnya susah payah.
'Sabar Bay, sabar... Tahan, tahan, jangan nyosor.' gusar Bayu berperang dengan batinnya.
"Si*lan emang ini cewek, bikin ketar ketir gue." Umpat Bayu pelan. Lalu segera menempel kertasnya, ia berusaha mengalihkan tatapnnya dari Fytha.
"Nah beres! Uh, cantek syekali punyaku. Hehehe, pasti pada heboh ini ntar." Ucap Fytha sambil membayangkan hebohnya siswa siswi yang melihat mading nanti.
Bayu yang melihat kelakuan aneh Fytha, segera meraup wajah itu. "Sadar, sadar, sadar, setan durjana pergi jauh-jauh. Huh,"
Sontak Fytha mengumpat kesal ke arah Bayu, beraninya mengusap wajahnya. Awas aja loe ntar,
Dengan menghentakkan kakinya kesal, Fytha pergi meninggalkan Bayu begitu saja menuju kelasnya. Sementara Bayu hanya terkekeh, karena berhasil membuat Fytha pergi terlebih dahulu dari hadapannya.
Digesernya kaca mading tempat Fytha menempelkan kertas peringatannya, lalu meraih kertas itu. Dilihatnya cap bibir Fytha lalu mengusapnya perlahan. "Dibanding di lihat banyak orang, mending gue aja yang simpen ya Tha. Gue nggak mau yang lain lihatin hasil maha karya loe di kertas ini." Ucap Bayu dengan menyelipkan kertas tersebut ke dalam buku catatannya. Lalu berbalik pergi meninggalkan mading.
Tanpa Bayu ketahui ada orang yang tengah mengepalkan kedua tangannya di balik dinding. "Gue nggak bakalan biarin kalian bersama." Desisnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di tempat lain...
Di sebuah rumah makan, Abah beserta Om Danu tengah mengobrol santai. Kedua paruh baya itu usai pergi memancing di daerah lamongan bersama.
"Wah wan, ini pepes enak banget. Beda rasanya," ujar Om Danu sembari menyuap nasi ke dalam mulutnya.
"Iya Dan, tapi lebih enak masakan istriku lah." Ucap Abah sambil menyanjung kelezatan masakan sang istri.
"Kalau itu juga tahu wan," kekeh Om Danu.
"Kau libur berapa hari Dan?"
"Tiga hari, sebenarnya hanya 2 hari aja wan. Tapi aku ambil masa cutiku sehari. Padahal kalau aku mau bisa saja ku ambil cutiku selama satu minggu. Cuma sayang, jadi ku ambil sehari saja lah." Jelas Om Danu.
"Ku kira lama, Bayu gimana sama sekolahnya? Betah nggak itu anak?"
"Sejauh ini kayaknya betah-betah aja. Kagak protes juga itu anak." Abah menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Keduanya larut mengabiskan makanan mereka masing-masing, dengan sesekali mengobrol ringan.