
Sejuk malam menambah suasana semakin indah, langit berbintang seolah ikut merayakan kebahagiaan insan yang saling berbalas senyum menawan. Rengkuhan erat jemari di perut menjadikan ketenangan kala kepala itu bersandar di punggung nan lebar.
Dengan hati penuh bunga, kayuhan sepeda itu semakin melambat seolah waktu ikut mendukung kebersamaan keduanya. Satu tangan itu beralih menggenggam satu tangan yang tengah memeluk erat perutnya.
Dingin, itulah yang dirasakan tangannya kala menyentuh lembut jemari nan lentik itu.
"Bee, tangan kamu dingin." Ucap Bayu saat merasakan betapa dinginnya tangan Fytha karena angin malam.
"Hm, udaranya cukup sejuk dan dingin namun hangat." Kata Fytha.
"Kamu tahu nggak, apa yang bisa membuat rasa dingin menjadi hangat?" Tanya Bayu.
"Apa?"
"Genggaman tangan Abang dan pelukan erat dari Abang." Jawab Bayu kemudian menghentikan kayuhan sepedanya di depan tukang tahu tek.
"Makan dulu ya, Bee." Ajak Bayu dengan menggandeng lembut jemari Fytha ke arah tempat lesehan makan pinggir jalan yang sudah disediakan oleh penjualnya.
Setelah mendudukkan Fytha, langkah Bayu beralih untuk memesan makanan mereka berdua.
"Kang, tahu tek 2 ya. Yang satu tahunya setengah matang kang sama jangan terlalu pedes juga keduanya." Pesan Bayu di acungi jempol langsung oleh sang penjual.
Kemudian Bayu beralih ke kedai satunya untuk memesan minuman. Tak lupa Bayu membeli sekotak susu full cream kesukaan Fytha.
"Tunggu bentar ya Bee, habis ini di antar pesanannya." Ucap Bayu begitu mendaratkan pantatnya di sebelah Fytha.
"Iya, Abang beli apa?" Tanya Fytha saat matanya mengarah pada sebuah kresek hitam kecil di depan Bayu.
"Ini susu buat kamu, Bee. Kata Umi', tiap habis makan malam kamu harus minum susu full cream." Fytha menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Umi'nya.
"Bener kata Umi' kok, udah kebiasaan habis makan malam minum itu."
"Bukannya ini hambar ya?" Tanya Bayu heran sambil membolak-balik sekotak susu di tangannya itu.
"Aku nggak suka manis, bang." Cicit Fytha lalu meraih susu tersebut.
"Iya deh jangan suka yang manis-manis kalo ada Abang yang udah tampan dan manis, Bee." Gombal Bayu.
"Gombal banget sih," ucap Fytha dengan wajah merona karena malu.
"Tapi suka kan?" Kata Bayu sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Ap...
Perdebatan keduanya terhenti kala tukang tahu tek mengantarkan pesanan Bayu.
"Permisi mas, mbak... Ini pesanannya, silahkan dinikmati." Ucapnya begitu dua porsi tahu tek di nampan telah berpindah di depan Bayu dan Fytha.
"Terima kasih kang." Ucap Bayu dan Fytha bersamaan.
Keduanya asyik menikmati makanan masing-masing sambil sesekali bercanda sambil melihat lalu lalang kendaraan melintas.
"Enak nggak Bee?" tanya Bayu sambil menyuapkan sendok terakhir ke dalam mulutnya.
"Enak, kok ngerti aku suka tahu setengah matang?"
"Umi' yang bilang." ucap Bayu tak lupa cengirannya. Fytha menggelengkan kepalanya tak percaya, niat sekali mencari tahu tentangnya. "Abang yang tanya pasti?"
"Iya, kalo nggak mana mungkin Umi' akan bilang."
"Kalo Abang sukanya apa?" tanya Fytha mencoba mencari tahu juga kesukaan Bayu.
"Abang... suka... kamu, Bee." jawab Bayu tak lupa dengan kedipan satu matanya. Mendengar jawaban Bayu, Fytha menatap intens kedua mata Bayu. Keduanya larut dalam tatapan mata masing-masing, hingga suara dehem kang tahu tek membuyarkan segalanya.
"Ehem!"
Usai membersihkan sudut bibir Fytha, Bayu tersenyum sambil melihat ke arah Fytha yang melanjutkan kembali makannya.
Merasa diperhatikan, membuat Fytha risih sendiri bahkan untuk menelan makanannya pun terasa sulit. Kemudian Fytha mengarahkan tatapan matanya ke arah Bayu, benar saja pemuda itu tengah memperhatikannya.
"Ada sesuatu di wajahku bang?" Tanya Fytha saat melihat Bayu terus menatapnya.
"Ada..."
"Dimana? Apa?" Tanya Fytha kembali dengan heboh.
"Ada... Pelangi Di Matamu." Jawab Bayu dengan gombalannya.
"Ish," Fytha mendesis lalu melanjutkan makannya kembali tanpa menghiraukan Bayu.
Keduanya kembali menaiki sepeda lalu melanjutkan kembali perjalanan mereka. Fytha yang kekenyangan segera menyenderkan kepalanya di punggung Bayu tak lupa satu tangannya melingkar erat di perut Bayu.
Rasa nyaman menyelimuti hati keduanya, bahkan langit malam berubah teduh memayungi hembusan napas dua insan saling bahagia itu.
__ADS_1
"Bang, kamu tahu nggak? Kenapa setiap orang yang jatuh cinta akan merasakan perasaan bahagia yang membuncah bahkan seolah kita tak bisa menggambarkan apa yang kita rasa?" Tanya Fytha sambil melihat langit yang tengah bertabur banyak bintang.
"Karena dalam mencintai bukan tentang kepada siapa kita akan berlabuh namun tentang kepada siapa hati kita kembali untuk pulang. Dan kamu tahu dimana rumah itu?" Tanya balik Bayu.
"Dimana?"
"Diri kamu, setiap tarikan dan hembusan napas kamu adalah udara untukku hidup. Jantung dalam tubuhmu adalah detak di setiap degub irama merdu yang mengalun indah di telingaku."
"Kamu tahu bang? Kenapa bintang paling bersinar terang itu dekat dengan bulan?"
"Karena di sekelilingnya tidak ada bintang lain." Jawab Bayu sekenanya.
"Salah."
"Lalu?"
"Karena bintang paling bersinar itu adalah cintaku. Dan bulan itu adalah teman sejatiku dalam hidupku nanti." Kata Fytha.
"Apa bulan itu Abang?"
"Menurut Abang?"
"Iya itu Abang." Tukas Bayu lalu mengayun sepedanya sedikit kencang hingga keduanya saling tertawa riang bersama.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bayu memilah beberapa alat sketsa yang akan dibelinya, dari buku gambar dengan isi tipis hingga tebal. Dari ukuran besar hingga yang sedang dan kecil. Bayu sengaja membeli setiap ukuran agar ada yang bisa di bawa di dalam tasnya saat akan pergi kemanapun.
Beberapa pensil sketsa juga sudah Fytha masukkan ke dalam keranjang. Dan beberapa tinta warna untuk membuat sebuah lukisan. Tatapan mata Fytha tak sengaja menatap ke sebuah buku diary berpasangan dengan gembok cinta masing-masing. Fytha meraih buku tersebut, kemudian di masukkan ke dalam keranjang. Ia berniat memberikan satu untuk Bayu nanti.
"Udah ambil pensilnya?" Tanya Bayu dari belakang tubuh Fytha yang asyik melihat jenis kuas.
"Udah, Abang udah milih buku sketsanya?"
Bayu menunjukkan beberapa buku sketsa di tangannya. "Bee udah selesai kan?"
"Udah, yuk bayar habis itu pulang bang." Ajak Fytha.
Diraih keranjang ditangan Fytha lalu memasukkan buku sketsa lantas Bayu membawanya ke arah kasir.
Barang belanjaan keduanya dimasukkan Bayu ke dalam keranjang sepeda yang ada di depan. Kemudian ia mulai mengayuh sepedanya kembali kala Fytha sudah duduk dengan aman di boncengan belakang.
__ADS_1
Keduanya menikmati perjalanan mereka dengan hati berbunga, karena bagi keduanya bahagia itu cukup sederhana.
'Dimana ada cinta disitulah kita tersenyum dan tertawa.'