LELAKI_KU

LELAKI_KU
Pengakuan Toni.


__ADS_3

Semalaman Toni tak dapat memejamkan matanya, rasa bersalah seolah membayang dalam benaknya. Hingga Toni berpikir jika Fytha juga berhak tahu tentang kondisi Bayu yang sebenarnya. Walau bisa dikatakan jikalau ia terlambat mengatakannya, setidaknya itu akan mengurangi beban pikirannya dari cemarut benang kusut dalam otaknya.


Kini Toni tengah duduk dengan gelisah di ruang tamu, nampak ia meremas kedua tangannya berulang kali untuk mengurangi kegugupannya.


"Lama bener ini bocah mandinya, kagak tahu gue lagi tremor ya di liatin bokapnya dari tadi." Gerutu Toni dalam hati namun hanya menampakkan senyumnya kala tatapan Abah dengannya bertemu.


Tap... Tap...


Melihatku menuruni anak tangga, Toni menghela napasnya lega. Sedangkan aku yang melihat Toni bersikap demikian hanya mengangkat sebelah alisku saja. Ku lihat di depan Toni nampak Abah ikut duduk menemani.


Hehehe, kini aku tahu kenapa sahabatku itu memasang wajah demikian. Rupanya ada naga hitam yang duduk di atas sofa menemaninya.


"Woy, tumben?" Tanyaku lalu duduk di sofa single samping Abah.


"Ada perlu Tha," jawab Toni menyengir.


"Eh kenapa?" Heran ku.


"Emm, gue..." Ucap Toni ragu sambil melirik ke arah Abah.


Mengerti jika ada pembicaraan serius, Abah memilih masuk ke dalam meninggalkanku dan Toni di ruang tamu.


"Abah masuk dulu, kalian ngobrol aja." Kata Abah lalu beranjak pergi.


Setelah Abah masuk ke dalam, ku lihat Toni menghela napasnya lega. Aku yang melihatnya hanya terkekeh saja.


"Jadi? Ada perlu apa?" Tanyaku lagi.


"Gue... Mau jujur sama loe Tha." Jawab Toni membuatku mengerutkan keningku. Jujur apa? Kenapa? Ada apa sebenarnya?.


"Maksud loe?"


"Bayu."


Satu nama mampu membuatku terdiam seketika, dia bilang tentang Bayu? Ada apa dengan Bayu sebelumnya?.


"Kenapa sama Bayu?" Aku berusaha menahan tangisku agar tidak luruh.


Toni mengambil sebuah kotak disampingnya, lalu diberikannya padaku. Lagi-lagi aku mengerutkan keningku,


"Ini apa?"


"Buka aja Tha," kata Bayu.

__ADS_1


Ku buka kotak itu dengan rasa penasaran yang tinggi, entah mengapa kotak itu membuat jantungku berdetak kencang.


Deg!!


'Diary Bayu' batinku dengan menutup mulutku menggunakan satu tangan.


**Flashback on**


"Aku punya sesuatu buat Abang." Kataku.


"Apa? Jangan buat Abang penasaran bee." Kata Bayu.


"Tada!!, Aku membeli buku diary ini sepasang. Satu buat aku, satu buat Abang." Ku berikan satu buku diary itu kepada Bayu.


Awalnya Bayu mengerutkan keningnya, mungkin Bayu berpikir masih jaman gitu buku diary.


"Gunanya buat apa?"


"Buat Abang nulis lah, aku mau Abang tulis semua hal terindah yang Abang alami ke dalam buku ini. Nanti kalo udah habis halaman terakhir diary ini, kita tukeran bukunya dan kita bisa saling tahu apa yang kita rasakan." Ujarku.


"Tanpa Abang tulis, semua keindahan itu hanya ada saat bersama kamu. Dan tanpa kita harus tukeran, kita akan bisa merasakan perasaan kita satu sama lain." Ucap Bayu lalu memeluk erat tubuhku.


**Flashback off**


"Gue mau ngaku sama loe Tha, harusnya gue kasih tahu elo dari dulu. Tapi Bayu ngelarang gue saat itu dan juga gue udah terlanjur janji buat nyembunyiin dari elo." Ucap Toni menyadarkan ku kembali.


"Apa yang kalian sembunyiin dari gue, dan kenapa buku ini bisa ada di elo." Aku menatap tajam ke arah Toni sambil menghapus kasar air mataku.


"Gue tahu elo pasti bakal marah banget sama gue, dan gue bakal terima itu karena pada dasarnya gue juga ikut andil dalam nyembunyiin semuanya. Tapi... Gue harap elo bakal ngerti dan hal ini nggak bakal ngerusak persahabatan kita, Tha." Ujar Toni namun aku hanya terdiam tanpa mau menanggapi.


Akhirnya Toni menceritakan awal pertemuannya dengan Bayu saat di rumah sakit, dimana Toni berniat mengambil hasil check up neneknya justru dibuat terkejut akan hal yang menimpa Bayu.


Segalanya Toni ceritakan tanpa ada yang ditutupi satupun, hingga aku tak kuasa menahan air mataku. Semuanya seolah menjadi hantaman besar dalam hatiku. Sakit, nyeri namun tak berdarah hanya saja terasa begitu sesak.


"Kalo tentang buku diary itu, Bayu yang nitipin ke gue saat itu. Elo inget kan waktu siang-siang gue ke rumah elo buat anter chat air?" Aku menganggukkan kepalaku.


"Saat itu...


Flashback on


Toni tengah membantu kakaknya membersihkan toko fotocopy. Jika setiap remaja menghabiskan hari minggunya untuk pergi main-main, justru Toni lebih memilih membantu kakaknya menjaga toko.


Saat sedang asyik mengepak bagian cat, terdengar suara ketukan seseorang dari luar. Toni yang mendengar lantas keluar karena Toni mengira jika itu adalah pelanggan. Namun begitu sampai di luar, Toni cukup terkejut saat melihat Bayu di atas kursi roda dibantu Om Danu untuk mendorongnya.

__ADS_1


"Elo Bay, gue kira pelanggan tadi. Yuk masuk, mari Om." Ajak Toni, namun Om Danu menolak karena tak ingin mengganggu pembicaraan putranya itu. Lantas Om Danu kembali ke mobil setelah menyerahkan Bayu ke Toni.


"Elo udah sehat?" Tanya Toni sambil memberikan segelas air putih untuk Bayu.


"Gue sehat," jawab Bayu sedikit serak.


"Wajah loe pucet banget Bay, beneran nggak papa?" Tanya Toni sekali lagi untuk memastikan, namun Bayu hanya menganggukkan kepalanya.


"Gue mau nitip sesuatu ke elo Ton," kata Bayu.


"Nitip apa? Nitip cinta?" Canda Toni membuat Bayu terkekeh seketika.


"Bukan, ini." Bayu memberikan sebuah kotak yang bertuliskan 'To My Love, Fytha'.


"Tolong kasih ke dia nanti ya, ini hadiah kejutan buat dia setelah kita ketemu nanti." Lanjut Bayu.


"Kenapa nggak loe kasih sendiri aja? Kan ntar juga bakal ketemu." Toni menatap heran ke arah Bayu.


Bayu hanya tersenyum lalu menggeleng, "Gue mau kasih itu sebagai kejutan buat dia."


"Ah ribet banget dah, okey deh gue bantuin. Btw kapan loe masuk sekolah?" Tanya Toni kemudian beranjak untuk menyimpan titipan Bayu padanya ke dalam tas.


"Besok gue bakal masuk sekolah."


"Eh, beneran? Fytha pasti bakal seneng banget tuh dengernya." Kata Toni.


"Iya, tapi jangan bilang ke Fytha kalo gue kesini dan cukup kasih tahu kalo gue besok bakal masuk sekolah tapi loe bilang dapat info dari orang lain. Gue mau buat besok menjadi pertemuan terspecial gue dan dia nanti."


"Wokeh aman." Toni mengacungkan jempolnya.


Flashback off


"Gue nggak pernah tahu kalo isinya buku diary, karena gue nggak pernah buka isi dari kotak itu Tha." Kata Toni mengakhiri ceritanya.


"Tapi kenapa Om Danu nggak pernah bilang ke gue kalo selama ini Bayu sakit? Kenapa semua nutupin dari gue? Gue udah kayak orang bodoh yang nggak tahu apapun tentang orang yang gue sayang. Kalian jahat tahu nggak, KALIAN JAHAT SAMA GUE. GUE BENCI KALIAN!!" Teriakku histeris.


Abah dan Umi' berlari tergopoh-gopoh saat mendengar teriakanku dari ruang tamu. Abah dan Umi' takut jika aku kembali histeris dan di luar kendali.


"Tha, saat itu gue udah janji sama Bayu buat nyembunyiin semuanya. Tapi sekarang gue lebih milih buat kasih tahu elo, karena menurut gue loe juga berhak tahu." Toni mencoba memberikan pengertian padaku, namun semua sia-sia karena aku sudah tak perduli lagi. Nyatanya Bayu sudah pergi untuk selamanya.


"KALIAN JAHAT SAMA GUE, KALIAN TEGA NYAKITIN GUE. GUE BENCI KALIAN, GUE BENCI. AAARRGGGHHHH..." aku semakin histeris, lalu meraih vas diatas meja dan membantingnya ke lantai.


Abah dan Umi' yang baru tiba di ruang tamu sontak terkejut melihat pecahan vas di bawah kakiku. Begitupun Toni, yang begitu syok saat melihatku mengamuk dan membanting vas meja di hadapannya.

__ADS_1


Perlahan Abah mendekati ku lalu memelukku erat, menenangkan diriku dalam tangis. Umi' nampak menyeret Toni keluar dan menyuruhnya pulang. Setelah menceritakan keadaanku saat ini, akhirnya Toni memahami dan pamit pulang kepada Umi' setelah meminta maaf atas kejadian ini.


__ADS_2