
Siang ini jalanan nampak lengang, tak banyak kendaraan melintas memenuhi jalanan seperti biasanya. Walau terik menyengat, trotoar jalan mengkilat sekali pun tak merubah jika udara hari ini teramat membakar raga.
Hari ini menjadi hari paling sepi bagi Fytha, karena ia tengah berangkat ke sekolah sendirian tanpa Bayu. Tepat tiga hari pula Bayu masuk SMA Taruna selama satu minggu kedepan. Bisa dibayangkan bukan hari-hari yang sudah Fytha jalani selama tiga hari ini tanpa kehadiran Bayu? Suram.
Fytha memarkirkan sepedanya di tempat biasa, lalu berjalan menuju kelas dengan langkah lemah, letih dan lesuhhh.
Kali ini ia merasakan gundah, tidak adanya Bayu disampingnya membuat ia sadar jika rasa dalam hatinya untuk Bayu telah berubah. Tak dapat dipungkiri kalau ia menyayangi Bayu, tepatnya mungkin sangat mencintainya.
Jauh dari Bayu menyadarkan hatinya bahwa ia tak mampu tanpa Bayu. Bisakah ia menjalani harinya jika Bayu tak ada begini. Semangat dalam diri Fytha entah pergi kemana, yang jelas dirinya kini tengah... terhanyut dalam gelombang hampa.
'Ya Tuhan, pada akhirnya rindu ini membuat hatiku berantakan bahkan pikiranku pun tak karuan dibuatnya.' batin Fytha.
Dari arah berlawanan nampak Toni berjalan sambil membawa beberapa peralatan olahraga. Fytha yang kurang hati-hati saat berjalan tanpa sengaja menabrak Toni hingga beberapa peralatan olahraga terjatuh ke lantai.
(Gimana mau hati-hati, orangnya lagi galon begitu 😂)
"Woy, kalo jalan pakai itu kaki !" Pekik Toni kesal tanpa melihat ke arah lawan.
"Gue emang jalan pakai kaki pe'ak, kalo pakai mata nyungsep gue ntar yang ada." Jawab Fytha sinis.
"Busyet, gue kira siapa tadi. Nggak tahunya elo nyet!" Ucap Toni membuat otak cantik Fytha tersungging seketika. Apa katanya tadi? monyet? apaan ituhhh? tidak bisa enak aja manggil orang pakai sebutan monyet. Huh!!
"Nyat nyet nyat nyet, mata loe monyet. Ngapain sih loh bawa beginian ke sekolah? Mau lelang loe?" cibir Fytha.
"Pikun loe, bentar lagi pelajaran olahraga kalee. Dan ini barang semua, buat kita olahraga ntar." sinis Toni sambil memungut beberapa peralatan yang terjatuh.
Sontak Fytha menepuk keningnya, ia lupa jika jam pertama adalah pelajaran olahraga. Oh my, ia sangat tak suka olahraga.
"Ijin lah gue nggak ikut, bilang gue lagi sakit perut." Ucap Fytha beralasan. Jujur saja, ia paling tidak suka dengan olahraga. Selain membuat tubuh berkeringat, ia jadi mudah haus jika lelah.
"Amin..." Jawab Toni lalu menatap ke arah sahabatnya itu. "Perkataan adalah sebuah doa, jika kau berdoa yang baik maka kebaikan akan hadir untukmu. Jika kau berkata keburukan, percayalah hal apa yang kau doakan akan kembali padamu. Ingat !! Berbohong adalah dosa, apalagi kalau ketahuan. Bisa-bisa.... Kena hukuman." Lanjut Toni bijak lalu meninggalkan Fytha yang menganga tak percaya melihat sahabatnya itu... Ceramah.
'Gue kena rukiyah yah barusan?' gumam Fytha dalam hati.
Tak ingin memikirkan lebih lanjut, Fytha kembali menyusuri lorong menuju kelasnya. Mau tak mau ia ikut olahraga kali ini, walau dengan hati... sepihh.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pritttt!!!
Bunyi nyaring peluit kesayangan milik Pak Bas sudah menggema memanggil para siswa siswinya agar segera menuju lapangan.
Beberapa siswa siswi ada yang berlari ke arah lapangan, ada yang berjalan santai, bahkan berjalan seperti siput pun ada. Siapa lagi jika bukan Fytha si pejalan siput saat mata pelajaran olahraga.
Sengaja Fytha berjalan pelan, sangat pelan sekali hingga membuat semua orang di lapangan merasa gemas melihatnya.
"Fytha, ayo cepat. Keburu jam pelajarannya habis." Pekik Pak Bas dari arah lapangan.
"Siap Pak, karena itu maksud saya berjalan pelan." Jawab Fytha ikut memekik ke arah lapangan. Tak lupa ia menatap para sahabatnya berada lalu melakukan flying kiss untuk mereka.
"Sableng ini anak!!" Gerutu Pak Bas sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya mendengar jawaban murid bar-barnya itu.
"Si Fytha, pinter emang dia." ucap Gandhis.
"Ho'oh pinter, pinter ngeles." sahut Linda.
"Pinter banget kalo ulur waktu," imbuh Shova mengundang gelak tawa ketiganya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terlihat mata dingin Bayu menatap langit-langit kamar, pikirannya jauh berkelana memikirkan segala hal. Bayu yang usai pulang dari sekolahnya berniat masuk ke dalam rumah, namun langkahnya terhenti kala mendengar penuturan Papa kepada bik Ijah.
"Mulai besok perhatikan asupan makan Bayu ya bik, usahakan makan makanan bergizi dan banyak sayur. Jangan sampai kesehatan Bayu menurun dan drop, selain itu pastikan Bayu minum obat dengan teratur bik. Jangan sampai pula Bayu tahu jika...
"Tuan tidak perlu khawatir, saya sudah menganggap den Bayu seperti anak saya sendiri tuan. Saya pastikan makanan den Bayu akan terjamin serta minum obat dengan teratur tuan. Jujur saya kasihan melihat den Bayu tuan, diusia sekarang sudah harus bertaruh nyawa melawan penyakitnya." Ucap bik Ijah.
"Itulah yang membuatku takut bik, aku takut kehilangan Bayu. Jangan sampai Bayu tahu tentang sakitnya ya bik, dan juga jika Bayu bertanya tentang obat-obat itu bilang saja jika itu semua vitamin untuk kekebalan tubuhnya bik" pinta Danu.
"Baik tuan," jawab bik Ijah.
"Ya sudah, lanjutkan perkejaan bik Ijah. Terima kasih ya bik," Ujar Danu.
__ADS_1
"Sama-sama tuan."
Bayu menghembuskan kasar napasnya, pikirannya berkecamuk, segala pertanyaan bersarang dalam pikirannya. Sakit apa dia? Kenapa papanya menyembunyikan hal itu darinya?
'Aku harus mencari tahu,' gumam Bayu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tha, giliran loe yang lempar?" Pekik Shova dari arah lapangan. Sedangkan sang empu tengah duduk selonjoran di pinggir lapangan.
"Bentar, nanggung!" Pekik Fytha balik.
"Apaan?"
"Nanggung lagi pw duduknya" jawab Fytha lalu tergelak membuat hati Pak Bas dongkol seketika saat tanpa sengaja mendengarnya dari belakang tubuh Fytha.
"Gila!!" pekik Shova.
"Biarin wlekkk," balas Fytha tak lupa menjulurkan lidahnya ke arah Shova.
Sambil berkacak pinggang, Pak Bas menjewer telinga Fytha. Sontak sang empu memekik kaget,
"Aduh, aduh, aduh... Sakit woy!! Siapa sih??" Ketus Fytha lalu membalikkan badannya.
'Alamak! Koit dah.' batin Fytha dengan menelan ludahnya susah payah melihat mata Pak Bas sudah melotot tajam.
"Hehehe... Peace Pak." Ucap Fytha mencoba berdamai dengan guru olahraganya itu.
Bukannya melepas jewerannya, justru Pak Bas sedikit mengencangkan jeweran tangannya membuat sang empu semaki meringis kesakitan.
Kapok, bandel banget sih kamu Fytha 😂.
Hosh... hosh... hosh...
Fytha nampak kelelahan karena berlari keliling lapangan, Diusapnya keringat dalam kening lalu melanjutkan satu putaran kembali.
__ADS_1
"Siolin !! dipikir nggak capek apah lari begini??" ucap Fytha menggerutu.
Usai menyelesaikan semua olahraga hari ini, Fytha lebih memilih mendudukkan tubuhnya di atas lantai dibawah pohon jambu. Entah mengapa dengan begini rasanya cukup nyaman.