
Aku menatap Om Danu tidak percaya, hampir seluruh dinding terpampang potret ku walau dalam bentuk sketsa. Ku akui Bayu cukup luwes dalam menggambar bahkan sangat indah tanpa celah.
"I...ini semua Bayu yang gambar Om?" Tanyaku masih tidak percaya.
"Iya Tha, ruangan ini khusus Bayu buat menjadi sebuah galeri untuk semua hasil gambarnya." Jawab Om Danu ikut melihat semua hasil gambar putranya itu.
"Sangat indah," lirihku.
Tanpa terasa air mataku menetes kembali, semua gambar yang Bayu buat saat kita sedang bersama. Saat jalan-jalan ke alun-alun dan aku yang tengah memegang bunga. Saat kita naik sepeda bersama, saat kita ke toko buku. Hampir semua gambar tentang aku dan Bayu.
Langkah kakiku menyusuri satu persatu setiap gambar, menatap satu persatu tiap momen dalam gambar itu. Hingga mataku memicing menatap sudut setiap gambar, disana terdapat inisial namanya F dan B.
Sontak aku menutup mulutku dengan satu tangan menahan tangis ku yang kembali luruh. Aku tahu itu inisial namaku dan Bayu, aku tahu itu. Sedalam itukah cintanya padaku? sementara aku belum sempat mengatakan semua isi hatiku padanya.
Dengan gemetar tanganku menyentuh inisial nama itu, hatiku menghangat kala jemariku menyentuhnya. Seolah semua rasa sesak melebur begitu saja, berganti rasa bahagia dan juga haru secara bersamaan.
'Terima kasih bang, aku suka. Sangat suka,' batinku.
Kembali aku berkeliling mengitari setiap sisi ruangan melihat kembali banyaknya gambar yang sudah Bayu ciptakan. Sangat indah dan mengesankan, seolah daya ingatanku kembali pada masa itu.
Di sudut ruang ku lihat ada sebuah meja, jika tebakanku tak salah, itu adalah meja tempat Bayu membuat sketsa gambarnya. Banyaknya tumpukan buku sketsa bahkan berbagai jenis pensil tersedia di sana.
Aku mendekat, namun sebelum itu aku menatap ke arah pintu di mana Om Danu sudah pergi meninggalkanku sendiri di ruangan itu. Mungkin Om Danu tahu jika aku butuh waktu sendiri untuk mengenang semua tentang Bayu.
Ku tarik kursi di meja itu, lalu mendudukinya. Dapat aku rasakan hangat kursi itu, masih bisa ku rasakan hangatnya kehadiran Bayu di sisiku walau aku tak mampu melihatnya.
"Aku datang bang," lirihku.
Aku terpaku kala merasakan puncak kepalaku terasa dingin namun hatiku menghangat, seolah aku tahu jika Bayu tengah membelai puncak kepalaku.
"I miss you bang, and I love you so much." Bisik ku lirih.
Lagi-lagi ku rasakan dingin pada pipiku, sepertinya jemari Bayu beralih membelai pipiku. Hanya hembusan dingin di telinga yang kurasakan, namun aku tahu jika ia tengah membisikkan kata cinta juga padaku.
Ku pejamkan mataku kala rasa dingin itu membungkus tubuhku. Dalam bibir aku tersenyum, aku tahu Bayu tengah memelukku.
Walau tak kasat mata, namun aku bisa rasakan hadirnya di sisiku. Aku bisa merasakan itu,
Secara perlahan rasa dingin itu menguar dan menghilang. Ku buka kedua mataku saat tak lagi ku rasakan kesejukan di tubuhku.
__ADS_1
Aku beranjak mengelilingi ruangan itu, mencoba mencari kesejukan yang tak lagi ku rasakan hadirnya. Dalam benak aku berpikir apakah itu hanya halusinasi ku saja?
Dalam gumaman aku menyebut nama Bayu tanpa suara, hanya bibirku saja yang bergerak memanggil namanya. Namun aku tak menemukan keberadaannya,
"Abang sudah pergi?" Lirihku lalu terduduk di lantai.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di sisi lain...
Toni tengah meremas rambutnya frustasi, ia bingung entah darimana akan mulai bercerita. Namun ia harus menyampaikan pesan terakhir Bayu pada Fytha sahabatnya itu. Hanya saja, ia takut jika nanti Fytha marah padanya karena selama ini menyembunyikan kebenaran tentang keadaan Bayu.
Ya, Toni mengetahui tentang penyakit yang di derita Bayu. Saat itu Toni tengah mengambil hasil check up dari neneknya ke rumah sakit tempat Bayu di rawat juga.
Flashback on
Saat melewati sebuah lorong kamar, ia mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Bahkan suara tersebut terasa akrab untuknya.
"Kayak suara pangeran kodok sih." Gumam Toni.
Lantaran tak ingin menebak-nebak, Toni mendekat ke arah kamar di samping kanannya lalu mengintip dari jendela pintu kamar tersebut.
Deg!!
"Tuh anak habis nabrak apaan? Tembok? Ampe di buntel perban begitu kepalanya." Ucap Toni pelan lalu membuka pintu ruangan Bayu tanpa mengetuk pintunya.
Ceklek!!
Bayu yang tengah bersitegang dengan Papanya lantas menoleh ke arah pintu dan mendapati sahabat dari orang yang tengah dirindukannya saat ini.
"Toni?" Ucap Bayu.
"Hehehe, peace ya bro. Lupa nggak ngetuk pintu dulu." Ucap Toni dengan cengirannya.
"Kamu teman Bayu, anak saya?" Tanya Papa Bayu.
"Iya Om, kita best plendd." Jawab Toni.
"Saya Danu, Papa Bayu. Nak Toni bisa Om titip Bayu sebentar? Om mau menemui dokter." Pinta Danu pada Toni.
__ADS_1
"Bisa Om,"
"Papa ke ruangan dokter dulu, kamu sama teman kamu dulu ya." Ucap Danu ke arah Bayu.
"Terima kasih ya nak Toni." Kata Bayu saat akan melewati Toni.
"Sama-sama Om."
Kemudian Toni mendekat ke arah Bayu, setelah memastikan Om Danu sudah keluar dari pintu. Toni mendudukkan tubuhnya di kursi samping ranjang Bayu.
"Loe kenapa bro? Kepala udah kayak mummy aja." Tanya Toni.
"Gue...
"Jangan bilang kalo loe kecelakaan? Kayaknya kagak mungkin deh." Sela Toni.
Nampak Bayu menghela napasnya, laku menatap ke arah Toni. "Loe bisa jaga rahasia kan?" Tanya Bayu. "Terutama dari Fytha?" Lanjutnya.
Toni memicingkan matanya curiga, dalam hatinya bertanya-tanya ada masalah apa sebenarnya. "Kenapa gue harus sembunyikan dari Fytha? Loe selingkuh? Terus tahunya tuh cewek ada cowok juga? Terus ketahuan di gebukin sama pacar tuh cewek gitu." Tuduh Toni yang di jawab gelengan kepala oleh Bayu.
"Terus?"
"Gue sakit, Ton. Gue... Kena tumor otak."
"Hah?" Toni membuka mulutnya lebar lantaran tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
"Kok bisa?" Beo Toni karena masih syok.
"Gue juga baru tahu tadi, semalam gue baru kelar operasi pengangkatan tumor." Ucap Bayu menjelaskan.
"Terus operasinya lancar nggak? Kalo si Fytha tahu pasti bakal syok berat dia."
"Please loe jangan kasih tahu Fytha, gue nggak mau nanti dia jadi kepikiran. Dan alhamdulillah operasi gue lancar, tinggal pemulihan aja sih Ton sama harus rutin check up takutnya ada tumor lain yang tumbuh." ujar Bayu.
"Syukurlah, moga aja loe udah beneran sembuh dan nggak ada tumor lain yang tumbuh. Okey gue bakal tepati janji gue buat nggak bilang ke si Fytha tentang loe. Lagian gue juga kasihan liyat itu anak, galon muluk gara-gara loe nya nggak ada kabar gitu." Ujar Toni.
"Thanks Ton, tapi apa iya Fytha galau karena gue nggak ada kabar? artinya dia juga suka dong sama gue." Kata Bayu penuh senyum bahagia.
"It's okay, santai." Jawab Toni. "Ya iyalah dia suka ama loe, kalo nggak ya bakal di cuekin loe dari awal sama itu anak." lanjut Toni sewot. Udah tahu masih aja nanyak!, pikir Toni.
__ADS_1
Akhirnya keduanya larut dalam obrolan membahas kegalauan Fytha serta beberapa kegiatan di sekolah yang tengah berlangsung.
Flashback off