
Tatapan nanar mengarah ke arah sebuah buku diary di atas mejaku, entah aku harus senang atau sedih saat ini. Ku buka laci meja belajarku kemudian aku keluarkan buku diary milikku yang sama persis dengan milik Bayu.
Aku meletakkan keduanya sejajar sambil mengusapnya perlahan. Lagi-lagi air mataku luruh begitu saja, rasa sesak kembali menyergap dalam rongga hatiku.
Semua kenangan kembali muncul satu persatu dalam ingatan seolah enggan untuk dilupakan. Siluet bayangan sosok yang dirindukan datang dengan penuh senyuman walau dalam kejauhan.
"Aku rindu bang," gumamku.
Buku diary itu telah menjadi saksi bisu kebersamaan indah yang pernah dilewati berdua. Disaat senang, sedih, tangis dan tawa semua tercurah habis disana.
Dengan gemetar, aku mengusap air mataku lalu meraih buku diary milik Bayu. Aku beranjak menuju ranjang dan merebahkan diriku sembari memeluk erat buku diary itu.
Air mataku kembali menetes walau sudah susah payah menahan. Aku meringkuk diatas ranjang yang terasa dingin, sedingin hatiku yang perlahan mulai mati.
"Kenapa semua orang tega membohongiku bang? Kenapa semua orang menyembunyikan segalanya tentangmu? Dan... Mengapa kau juga memperlakukan diriku seperti orang bodoh selama ini bang? Apa aku juga tidak berhak tahu tentangmu? Apa selama ini semua rasa sayang yang kau beri padaku itu palsu?" Lirihku penuh air mata.
Hampir satu jam aku menangis di atas ranjang, hingga perlahan aku mengubah posisiku menjadi duduk. Ku tarik napas ku dalam-dalam sebelum akhirnya aku memberanikan diri membaca buku diary biru milik Bayu.
Halaman pertama...
'Hay Bee, bingung juga abang mau tulis apa. Namun, yang pasti Abang berterima kasih untuk sayang Abang, cinta Abang, karena sudah hadir dalam hidup Abang serta memberikan buku ini juga untuk Abang. Abang bahagia mengenalmu, dan Abang akan selalu ada di samping mu. I Love You, My Bee.'
Senyum manis tersungging di bibirku kala membacanya, aku tahu Bayu tak pernah main-main dengan perasaannya padaku. Aku kembali membuka halaman kedua, lagi-lagi senyumku terbit begitu saja.
'Abang kesal banget hari ini, tahu nggak Bee kalau Abang tadi kena hukuman. Cuma gara-gara Abang lupa bawa tugas makalah Pak Bas. Tapi Abang senang juga, karena ternyata Bee juga kena hukuman dari Bu Riska. Jadi kita kena hukuman bareng deh.
Tahu nggak sih Bee, nggak ketemu kamu sedetik saja membuat hari dan hati Abang tak karuan rasanya. Tetap berada di samping ku ya Bee... Apapun yang terjadi nanti. I Love You, My Bee.'
Aku terus membaca halaman demi halaman dengan bibir tersenyum walau sesekali aku tertawa membaca curahan hatinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
'Bee ini lembar terakhir dalam buku diary yang Abang tulis sebagai penutup cerita. Seperti kata Bee yang ingin Abang untuk menuliskan segala hal indah yang Abang lalui. Namun maaf, kali ini bagian terakhir bukan kisah indah yang Abang berikan. Secuil kegelisahan Abang yang tak dapat terpendam dalam lubuk hati Abang.
Abang takut, kali ini Abang benar-benar takut...
Abang takut harus kehilangan kamu Bee. Abang takut,
__ADS_1
Entah mengapa Tuhan memberikan rasa sakit ini, Bee. Hingga Abang diambang putus asa karena takut tak bisa memegang tanganmu selamanya.
Bee, berjanjilah takkan pernah meninggalkan Abang. Seperti janji Abang pada Bee saat itu. Katakanlah jika kita akan selalu bersama tanpa terpisah, Bee.'
Pecah sudah tangisku membaca lembaran terakhir diary itu, hatinya remuk kala mengingat apa yang telah menimpa pemuda yang sangat dicintainya itu.
Dengan susah payah aku kembali melanjutkan membaca tulisan Bayu sambil mengusap kasar air mataku.
'Bee ada hal yang ingin Abang ceritakan, kalau Abang merasa kesakitan selama ini. Abang sakit, jauh darimu...
Abang sakit, tak bisa bertemu denganmu...
Abang sakit, karena harus menerima takdir Tuhan jika Abang harus berpisah darimu...
Entah mengapa firasat Abang mengatakan jika kita tak dapat bertemu lagi. Seolah banyak awan yang menutupi pandangan kita berdua.
Bee, abang sangat mencintaimu, kamu juga cinta sama Abang kan?'
Dengan tangis sesenggukan aku menganggukkan kepalaku menjawab pertanyaan Bayu dalam diam.
Bee, Abang boleh minta satu hal? Dan Abang harap Bee mau melakukannya.'
Lagi-lagi aku mengangguk dalam diam, mengusap air mataku yang terus menerus menetes membasahi pipi.
'Berjanjilah jika Bee akan selalu berbahagia, berjanjilah Bee akan selalu tersenyum. Dan berjanjilah Bee tak akan pernah melupakan Abang, berjanjilah Bee.'
Aku semakin sesenggukan, "I promise, I will never forget you." Lirihku.
'Jika suatu hari nanti, Abang pergi...
Abang harap, Bee akan selalu berbahagia walau tanpa Abang di sisi menemani. Biarkan segala rasa Abang yang menjaga Bee, biarkan hangatnya kasih sayang Abang menemani Bee sampai akhirnya menemukan pengganti Abang di hati bee.'
"No, I can't, it's so impossible." Gumamku.
'Berjanjilah untuk hidup lebih baik lagi tanpa Abang, Bee. Berjanjilah...
Abang mencintaimu, semoga Tuhan menyatukan kita nanti...'
__ADS_1
Hiks... Hiks...
Ku peluk erat buku diary Bayu sambil meringkuk diatas ranjang. Aku menangis sesenggukan, pada akhirnya aku merasakan rasa sakitnya juga.
"Kenapa semuanya jadi begini bang? kenapa Abang pada akhirnya ninggalin aku? kenapa Abang nggak tepati janji Abang?" ucapku menangis pilu.
...****************...
Flashback on
"Abang tahu, hal apa yang lebih menyakitkan di banding kehilangan?"
"Karena di khianati?" aku menggelengkan kepalaku.
"Hal paling menyakitkan di banding kehilangan adalah saat kita di tinggalkan pergi jauh tanpa kita bisa melihat bahkan menyentuh lagi. Bukan karena kita masih berada di dunia yang sama namun kita terpisah oleh dunia yang berbeda." Kataku.
"Bagaimana jika itu terjadi pada kita?" Lirih Bayu.
"Tidak ada yang namanya bagaimana jika, bahkan aku nggak pernah bayangin sedikitpun tentang hal itu." Jawabku lalu menggenggam erat tangan Bayu.
"Aku nggak bisa bayangin hidup aku tanpa Abang, bagaimana aku bisa hadapin kedepan nanti?" Lanjut ku.
"Abang akan selalu ada dalam hati Bee, itu janji Abang."
"Aku percaya, dan aku akan menagih hal itu nanti." Ucapku tersenyum membuat Bayu ikut tersenyum.
Flashback off
...****************...
Ku cengkeram erat sprei ranjangku, rasa kesal dan menyesal serta kecewa sekaligus rindu melebur menjadi satu. Mengoyak sisi pertahanan hatiku yang makin lama makin rapuh. Bahkan segala tawa hilang dalam sekejap ditelan oleh luka karena kehilangan.
"Janji itu tak lagi berguna bang, tak ada lagi yang bisa dilakukan sejak Abang pergi ninggalin aku. Sekarang bagaimana aku harus menjalani hariku tanpamu bang? katakan padaku." Gumamku lirih.
'Kelak kau akan menemukan kebahagiaan itu Bee. Tetap melangkah ke depan, aku selalu bersamamu menemani setiap langkah mu. Berjanjilah untuk selalu bahagia Bee, I Love You.'
Suara bisikan itu terdengar lembut, ku bekap mulutku dengan deraian air mata. Aku tahu Bayu akan selalu ada di sisiku, "I Love You Too, Abang." bisikku lirih lalu tersenyum di tengah tangisku.
__ADS_1