LELAKI_KU

LELAKI_KU
Kenyataan Pahit.


__ADS_3

Siang itu suasana dalam kelas cukup ramai, lantaran jam kosong karena para guru tengah melanjutkan rapat mereka yang kemarin. Walau bagaimanapun, tugas tetap di berikan agar para murid tetap belajar meski tak ada guru yang mengawasi untuk sementara.


Para sahabat Fytha membuat duduk melingkar di atas lantai dengan menggeser beberapa meja dan kursi ke belakang. Sehingga membuat kedelapan orang itu leluasa untuk belajar bersama dan mengerjakan tugas dengan kompak. Kompak nyontek yang pasti 😁


"Berapa struktur fungsi yang di miliki amoeba?" Ucap Amrul ketika membaca salah satu soal dalam buku paket biologi.


"Kayaknya ada lebih dari sepuluh deh, kalo nggak salah." Jawab Toni.


"Nggak ada 10 lah." Timpal Linda.


"Seingat gue delapan sih, mulai dari Nucleus, Nukleous, Ribosom, Retikulum endoplasma, Mitokondria, Vakuola, Membran sel.... Terus apa ya satunya?" Ujar Fytha seraya kembali berpikir.


"Dinding sel." Sahut Shova.


"Nah ya itu, dinding sel. Tiap struktur fungsi amoeba memiliki peranan masing-masing, misal Mitokondria sebagai penghasil energi dan pembangkit tenaga." Jelas Fytha.


"Terus kalo Ribosom sendiri seingat gue, tempat sintesis protein dari asam amino." Imbuh Gandhis.


"Terus fungsi buat dinding sel apa?" Tanya Bagus.


"Ada yang tahu?" Tanya Fytha balik yang justru di jawab gelengan kepala oleh yang lainnya.


"Untuk melindungi berbagai komponen dalam sel sekaligus memberi bentuk sel." Seru Bayu dari arah pintu mengejutkan yang lainnya.


Senyum tersungging di bibir Fytha kala Bayu mendekat padanya kemudian duduk disampingnya. Siapa saja yang melihat pasti tahu jika kedua insan itu tengah di landa asmara.


"Abang di sini?" Tanya Fytha.


"Hm, Abang kangen sama Bee." Jawab Bayu sambil menyelipkan rambut kebelakang telinga Fytha.


"Bukankah semalam kita baru aja ketemu?" Heran Fytha.


"Abang tak bisa jauh sedetikpun dari Bee." Ucap Bayu disambut ekspresi mual yang lainnya.


'Huwekk' sahut kompak yang lainnya.


Melihat tingkat kebucinan Bayu, fix!! Cintanya udah mentok buat si gadis bar-bar ini.


"Apaan sih kalian." Ucap Fytha membulatkan matanya menatap para sahabatnya itu.


"Udah nggak papa, jangan marah-marah. Biar mereka aja yang cepat tua nanti." Ledek Bayu jahil ke arah yang lainnya.


"Asyem lue bay," sungut Amrul.


Bayu tergelak saja, lalu meraih tangan Fytha duduk di atas kursi sambil berhadapan namun masih terhalang meja diantara keduanya. Tangan Bayu meraih jemari Fytha, seolah ada rasa takut tak dapat menggenggam erat tangan itu lagi.


"Malah pindah tempat pacarannya," gerutu Amrul kembali saat melihat tingkah keduanya membuat yang lainnya terkekeh saja kemudian melanjutkan diskusi mereka.


"Abang kenapa? Pucat gitu wajahnya?" Tanya Fytha dengan membelai wajah Bayu perlahan.


"Enggak, Abang sehat. Lagian Abang rajin olahraga, nggak kayak kamu, Bee." Jawab Bayu sambil menyindir Fytha yang paling tak suka dengan olahraga.

__ADS_1


"Ck! aku kan nggak suka aktivitas fisik berlebihan bang." Ucap Fytha cemberut.


"Jangan cemberut gitu ah, jelek." Goda Bayu semakin membuat bibir Fytha manyun ke depan.


"Bee..." Panggil Bayu pelan sembari memainkan jemari Fytha.


"Hm..."


"Lusa udah pertukaran siswa, entah kenapa rasanya Abang berat buat ninggalin Bee disini biar kata cuma seminggu.


Jujur, Abang nggak bisa jauh dari Bee. Seolah kita akan berpisah jauh jika tak saling bertemu sebentar saja." Ujar Bayu.


"Hay, ngomong apa sih? Kita gak akan pernah berpisah dan tak akan di pisahkan oleh apapun." Ucap Fytha menepis ucapan Bayu.


"Bee, mengenalmu merupakan hal terindah dan terbaik dalam hidup Abang. Hidup Abang yang dari awal tak pernah ada sedikitpun warna kini menjadi pelangi indah karena penuh berbagai macam warna. Abang sayang banget sama kamu, Abang takut kehilangan kamu, Bee."


Lantas Fytha tersenyum mendengar penuturan Bayu. Mungkin benar seperti yang Bayu katakan bahwa hidup mereka berdua jauh lebih berwarna setelah keduanya saling mengenal bahkan bersama.


"Abang tahu, hal apa yang lebih menyakitkan di banding kehilangan?"


"Karena di khianati?" Fytha menggelengkan kepalanya.


"Hal paling menyakitkan di banding kehilangan adalah saat kita di tinggalkan pergi jauh tanpa kita bisa melihat bahkan menyentuh lagi. Bukan karena kita masih berada di dunia yang sama namun kita terpisah oleh dunia yang berbeda." Kata Fytha.


"Bagaimana jika itu terjadi pada kita?" Lirih Bayu.


"Tidak ada yang namanya bagaimana jika, bahkan aku nggak pernah bayangin sedikitpun tentang hal itu." Jawab Fytha lalu menggenggam erat tangan Bayu.


"Abang akan selalu ada dalam hati Bee, itu janji Abang."


"Aku percaya, dan aku akan menagih hal itu nanti." Ucap Fytha tersenyum membuat Bayu ikut tersenyum.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di tempat lain...


Abah tengah terlibat pembicaraan serius dengan Danu, terlihat wajah Danu nampak frustasi. Entah bagaimana akhir kisah dari hidupnya jika harus kehilangan orang paling disayanginya kembali.


"Aku harus apa wan?" Tanya Danu sambil meremas rambutnya.


"Sabar Dan, kamu harus tenang. Semua pasti baik-baik saja, jika kamu seperti ini. Kamu sendiri juga akan sakit." Jawab Abah.


"Aku takut wan, sudah cukup aku kehilangan mommy-nya. Jangan sampai...


Danu tak mampu melanjutkan ucapannya, hatinya sungguh syok saat mengetahui kenyataan tentang putranya itu semalam.


Flashback on


Bayu memasuki rumahnya dengan hati senang, senyum tergambar jelas di bibirnya. Dunianya seperti taman penuh bunga, bermacam-macam warna meletup indah di hatinya. Senandung lagu cinta mengalun lembut membuat siapa saja yang mendengar tahu jika ia tengah kasmaran.


Di sofa Danu nampak memperhatikan raut wajah anaknya itu, ia ikut bahagia melihat senyum Bayu.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang Bay?" Tanya Danu.


"Hm, Papa tumben di rumah?" Tanya Bayu kembali.


"Papa pulang cepat tadi, kata bibi kamu ke rumah Fytha. Ngapain?"


"Apel dong pah."


"Kamu naksir dia?" Bayu menganggukkan kepalanya mantap. Danu terkekeh seketika, dasar ABG masih kecil udah main pacar-pacaran.


"Pah, aku ke kamar dulu ya. Kepalaku agak pusing." Pamit Bayu yang merasakan kepalanya mulai sakit.


"Tidurlah, istirahat. Karena rindu juga butuh tenaga." Goda Danu kepada anaknya itu.


Sementara Bayu hanya terkekeh saja, lalu beranjak dari sofa. Baru beberapa langkah sakit di kepala Bayu makin menjadi. Tubuhnya limbung seketika karena tak mampu lagi menahan rasa sakit yang mencengkeram kepalanya.


Brukk !!


Danu sontak terkejut melihat Bayu pingsan, dengan sigap ia mengangkat Bayu dan membawanya ke rumah sakit ketika melihat sedikit darah merembes dari hidung.


Panik, itulah yang nampak di wajah pria paruh baya itu saat menunggu di depan UGD. Rasa takut menggeluti hatinya, bayangan istrinya yang sudah tiada kembali menyelimuti pikirannya.


Tak lama dokter yang menangani Bayu keluar, lalu mengajak Danu menuju ruangannya. Hati Danu bergetar hebat kala mengikuti langkah sang dokter.


"Apa yang terjadi pada anak saya dokter?" Tanya Danu begitu mendudukkan tubuhnya di depan dokter yang bernama Irham itu.


"Sejauh saya periksa tadi, kemungkinan diagnosa yang dapat saya simpulkan sementara dari keadaan pasien adalah pasien mengidap tumor otak." Jawab dokter Irham.


Duar !!!


Dunia Danu seolah runtuh seketika kala mendengar penjelasan sang dokter tentang keadaan bayu, putra satu-satunya.


"Tu.. tu.. tumor otak dok?"


"Hanya dugaan sementara pak, malam ini kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada pasien. Hasilnya besok pagi bisa bapak terima." Jelas dokter Irham.


"Apa yang harus saya lakukan jika hal itu benar dok?"


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien pak." Jawab dokter Irham dengan tenang.


"Baik terima kasih dokter. Tolong lakukan yang terbaik bagi anak saya, berapapun biayanya asal anak saya sembuh." Ucap Danu di angguki oleh dokter Irham.


Langkah Danu begitu gontai saat memasuki ruangan Bayu, terlihat Bayu sudah sadar dan menatap ke arahnya. Dalam sorot matanya seolah bertanya sakit apa aku.


Melihat sorot mata Bayu membuat Danu tersayat dalam hatinya, mana tega ia mengatakan kenyataan pahit itu. Bahkan ia pun gak sanggup untuk menerima semuanya.


"Kamu kecapekan Bay, kata dokter disuruh istirahat." Ucap Danu berbohong.


"Kalau gitu bawa aku pulang pah, aku nggak mau di sini. Berada di sini membuatku mengingat Mama kembali." Ujar Bayu dengan tatapan memohonnya.


Tak tega melihat wajah sayu putranya, Danu menganggukkan kepalanya lalu kembali menemui dokter Irham untuk membawa Bayu pulang usai pemeriksaan.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2