LELAKI_KU

LELAKI_KU
Kamu Dimana?


__ADS_3

Aku tak pernah tahu apa itu rasa sakit, jika hanya sakit fisik mungkin tubuhku sudah sering merasakannya dari aku kecil. Namun kali ini, untuk pertama kalinya aku merasakan sakit walau tak berdarah. Untuk pertama kalinya rasa kecewa menampar pertahanan tubuh tepat di hatiku.


Banyaknya harapan yang ku minta sejak dulu, tak ada satupun dari Tuhan yang terkabul. Terkadang aku diam, apa aku orang yang nggak pantas mendapat bahagia? Apa aku terlalu buruk untuk sebuah bahagia?.


Entah aku harus senang atau sedih, orang yang ku tunggu kehadirannya selama seminggu berlalu tak datang juga. Orang yang mampu membuatku rindu tak lagi nampak di mata. Dan orang yang berhasil membuatku jatuh cinta kini menghilang bagai ditelan bumi.


Ini hari ke empat aku menanti hadirnya didepan gerbang sekolah. Aku tak pernah tahu jika pada akhirnya rasaku hanya sia-sia. Aku tak pernah menyadari jika dibalik semua telah bersarang luka di dalam hatiku.


"Tha, yuk masuk bentar lagi bel." Pekik Shova dari dalam gerbang yang tak jauh jaraknya dariku.


"Bentar lagi." Jawabku ikut memekik juga.


"Nggak usah ngeyel ! Jam pertama pelajaran ekonomi, Bu Nur ntar marah kalo loe telat masuk kelas." Kata Shova memperingati ku.


'Benar juga, bisa-bisa kena hukum gue ntar.' batinku.


"Okey."


Langkah kakiku seolah tak berarah, nampak ringan bagai tak berpijak. Hatiku sepi, hari-hari ku terasa hampa bahkan dalam keramaian aku merasa sendirian. Begini kah efek dari galau kata orang?.


Ku dekati Shova lalu mengajaknya berjalan menuju kelas. Shova banyak bercerita namun sayang, semua itu ibarat angin lalu di telinga ku. Aku tak bisa fokus mendengar apapun yang dikatakan sahabatku itu.


"Tha? Loe dengerin gue ngomong nggak sih?" Ucap Shova kesal lantaran aku tak menggubrisnya sama sekali.


"Sorry va, gue lagi nggak fokus. Loe tadi cerita apa?" Tanyaku tak enak hati karena mengabaikannya.


"Dah lupain aja, btw loe masih belom tahu kemana si Bayu?"


Aku menggelengkan kepalaku, jika saja aku tahu mungkin aku sudah menghampirinya dari kemarin-kemarin.


"Kemana ya itu anak? Apa pindah?" Tebak Shova.

__ADS_1


Lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku saja lalu mengangkat bahuku tanda tidak tahu.


"Gue nggak tahu dia kemana? Rumahnya sepi va, jujur gue kangen sama dia. Gue takut ada apa-apa sama dia, karena sampai sekarang masih belom ada kabar dari dia." Ucapku dengan mata berkaca-kaca.


Shova mengusap bahuku untuk menenangkan kegundahan hati ku. "Sabar aja, mungkin Bayu ikut bokap-nya ke luar kota dan dia nggak sempat buat kabarin loe."


"Gue harap begitu, cuma hati gue gelisah dari kemarin-kemarin. Gue takut terjadi sesuatu sama dia, gue...


"Udah, loe harus positif thinking. Dia pasti baik-baik aja, banyak berdoa. Dah yuk masuk," Shova menyela ucapanku lalu mengajak masuk ke dalam kelas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seminggu berlalu...


Masih saja tak ada kabar apapun tentang Bayu, membuatku frustasi sendiri memikirkannya. Mungkin, didepan orang tua aku bisa memasang wajah biasa saja. Tanpa mereka tahu bagaimana saat aku mengunci diriku di dalam kamar. Segalanya berantakan, tak ada lagi gairah dalam hidupku yang ku rasa. Semuanya sepi, sunyi, dan senyap. Tiada canda tawa dan hanya datar yang menemani.


Aku berusaha menjalani hariku seperti biasa, namun tetap tidak bisa. Setiap malam, aku selalu memimpikan Bayu. Setiap pagi aku akan memikirkan kemana perginya, dan siang hari selalu saja aku akan mengingat bagaimana saat aku bersamanya berangkat bersama.


Siang itu rumahku nampak sepi, Abah pergi dari pagi karena harus ke pondok. Umi' ke rumah Bu RT untuk membantu menyiapkan acara pengajian nanti malam dan tentu saja Dila ikut. Sedangkan Mbak Mynul mulai melakukan pendaftaran ke kampus incarannya.


Aku sendiri tak ingin kemanapun, hanya ingin di rumah menonton televisi saja. Tak lama terdengar suara ketukan di pintu pagar rumah, aku yang penasaran lantas mengintip dari jendela ruang tamu. Ku lihat Toni tengah berdiri di depan pagar rumah sambil membawa sebuah kardus. Entah apa isinya aku juga tak tahu.


Ku buka pintu rumahku lalu berjalan ke arah pintu pagar, "Ngapain woy?" Tanyaku sambil membuka sedikit pintu pagarku.


"Suruh masuk dulu kek, kasih minum yang seger-seger gitu. Panas banget cuy," jawab Toni sambil mengibaskan kaosnya karena kegerahan.


"Nggak ada orang dirumah, duduk di teras aja. Gue ambil minum dulu," ucapku lalu menyuruh Toni duduk di teras.


"Gitu kek." Lalu Toni masuk sambil mengangkat kardusnya.


Ku taruh dua gelas es sirup ke meja, yang langsung disambar Toni segelas dan di tegaknya hingga sisa setengah.

__ADS_1


"Segernya," ucap Toni.


"Dah minumnya? Ngapain loe kesini?" Tanyaku to the point.


"Galak bener, sabar ngapa Tha. Nih gue bawa perlengkapan buat tugas kesenian." Lalu Toni membuka kardus yang dibawanya tadi dan mengeluarkan beberapa isinya.


"Loe tinggal beli kanvas aja ntar, cat air beserta kawan-kawannya dari gue." Lanjutnya.


"Yang lain? Dapat juga?" Aku mengambil salah satu car air yang nampak masih baru karena isinya masih penuh.


"Dapat lah, lagian satu kelompok kan 4 orang. Jadi pas lah, satu buat kelompok gue, satu buat kelompok loe." Ucap Toni.


"Ini kayak masih baru, loe beli?"


"Iyalah baru, jadi ini sisa barang dari toko kakak gue. Tadi gue ikut bersih-bersih, nah kata kakak gue bagian rak cat suruh ambil aja soalnya mau di ganti cat kaleng." Jelas Toni


"Enak bener, tapi lumayan lah gue nggak perlu beli kalo gitu." Celetukku.


"Ho'oh, ya udah gue balik dulu." Toni bangkit dari duduknya usai membereskan kardusnya.


"Thanks" ucapku saat didepan pintu pagar.


"Sama-sama, btw... Besok Bayu bakal masuk sekolah lagi. Gue dapat kabar dari Om Haris tadi pagi waktu mampir ke toko kakak gue." Ucap Toni pelan.


"Really??" Aku cukup terkejut mendengar kabar itu. Toni menganggukkan kepalanya tanda membenarkan ucapannya.


"Gue mau ke rumahnya dulu kalau gitu. Dah balik sono, thanks infonya sekali lagi. Loe emang sahabat baik gue," ucap gue tulus.


"Hm, gue balik dulu" Toni menghidupkan motor Vespanya lalu melaju meninggalkan rumahku.


'Gue harap setelah ini loe bahagia, Tha. Sorry gue nggak bisa jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi sama loe.' batin Toni.

__ADS_1


Hayo ada rahasia apa sebenarnya yang disembunyikan Toni?🤔


__ADS_2