
POV Fytha
Hari dengan cepat berlalu, malam yang dingin kini berganti menjadi pagi yang cerah. Aku bangun dengan sejuta harapan, berharap kebahagiaan akan terus menemani dalam setiap langkahku. Tiada tangisan ataupun kepedihan, tiada duka ataupun kecewa.
Aku tahu permintaan ku mungkin terkesan lebay, namun aku percaya dalam sebuah hidup akan selalu ada pelangi yang hadir. Dimana keindahan yang hakiki tengah menunggu senyum termanis ku untuk bergerak bebas.
Kali ini biarkan aku melayang pergi mencari nirwana jingga, membuat ukiran atas nama cinta. Penuh tekad tanpa ambisi, hanya ada cinta bukan sebuah obsesi.
Yang ku nanti akhirnya tiba, hari ini tepat satu minggu sudah acara pertukaran siswa siswi SMA Kenangan usai dilakukan. Aku mulai bersemangat kala mengingat akan berjumpa kembali dengan pujaan hatiku, Bayu. Aku tahu, kalau rasa di hatiku sudah berubah. Ku akui kalau aku tidak hanya menyayangi Bayu. Namun aku juga telah mencintainya dengan seiring berjalannya waktu.
Dalam sadar aku mengerti akan cinta, bahwa memiliki apa yang kita inginkan itu adalah yang paling membahagiakan. Aku tak ingin menutupi lagi, akan ku katakan pada dunia jika aku jatuh cinta pada seorang yang bernama Bayu.
Akan ku serukan pada lainnya jika hatiku telah tertambat padanya. Hanya dia yang aku inginkan, tiada yang lainnya. Ku percayakan pada takdir, apapun jalannya itulah yang terbaik.
Tuhan,
Biarkan aku merasakan indahnya cinta dalam hidup, hadirkan rasa paling terindah yang tak akan pernah aku bisa lupakan bersamanya. Tanpa hadir sebuah kecewa pengundang lara, hanya ada bahagia antara aku dengannya.
Tok... Tok...
Pintu kamarku di ketuk, ku dengar suara Umi' memanggil untuk membangunkan ku. "Tha, bangun. Udah pagi ini," panggil Umi' ku.
"Asiap komandan," sahutku dari dalam kamar.
Setelah itu, aku beranjak dari ranjangku keluar kamar menuju kamar mandi. Saat langkah kakiku melewati meja makan, ku lihat Abah tengah berbicara serius dengan Umi'. Baru saja aku akan mendekat, suara Dila memanggil Umi' sambil berlari ke arah meja makan.
"Umi', Umi', kuncirin rambut Dila." Pintanya lalu memberikan sisir rambut tak lupa dua ikat rambutnya. Umi' menerima sisir rambut beserta ikat rambut Dila, kemudian Umi' mulai membagi dua rambut Dila sama rata lalu mengikatnya ke atas.
"Kenapa harus kuncir dua?" tanya Umi'.
"Kata teman-teman, Dila jauh terlihat imut dengan model rambut ini Umi'." jawab Dila.
Aku terkekeh mendengar jawaban Dila, karena tanpa di kuncir pun ia sudah terlihat begitu menggemaskan. Apalagi jika di kuncir dua seperti ini, aku jadi membayangkan kalau ia mirip sekali dengan banteng.
__ADS_1
Mendengar tawa kecilku, tatapan Abah yang semula ke arah Dila, kini beralih menatapku. Bisa ku lihat ada yang berbeda dari tatapan Abah ku kali ini. Aku yang penasaran tak mampu menahan diri untuk tidak bertanya.
"Ada apa bah? Kenapa lihatin sampai begitu?" Tanya ku dengan mengangkat sebelah alisku.
"Nggak apa-apa, gimana sekolahnya Tha?" Tanya Abah balik padaku.
"Sejauh ini lancar bah, tak ada kendala." Jawabku. 'Karena kendalanya ada dalam hatiku bah.' lanjut ku dalam hati.
"Bagus lah, sekolah yang bener. Gapai cita-cita, nggak usah mikir tentang pacar-pacaran dulu. Mengerti!!" Peringat Abah padaku seolah tahu jika diriku kini sedang jatuh cinta.
Deg
"I... Iya bah," jawabku terbata lalu ngacir ke dalam kamar mandi.
Ku usap dadaku dibalik pintu kamar mandi, sungguh ucapan Abah membuatku jantungan saja. Bagaimana kalau nanti Abah tahu tentang perasaan ku pada Bayu? lalu bagaimana juga jika Abah mengetahui cinta Bayu kepadaku?.
Huft,
Usai menyelesaikan ritual mandi, aku keluar dari kamar mandi sambil menjinjing handukku yang sedikit basah. Mataku melirik ke arah meja makan, tak ada satu orangpun disana. Aku celingukan mencari dari ruang tamu hingga ke teras depan. Masih saja nihil, tak ada tanda-tanda kehidupan dari orang rumah.
"Pada kemana ini orang rumah?" Gumamku.
Aku kembali masuk menuju kamar untuk berganti baju. Didepan pintu kamar ku lihat sebuah catatan kecil menempel pada daun pintu. Ku lihat pesan dari Umi' untukku.
'Assalamualaikum Anak Umi'
Tolong jaga rumah ya. Jangan keluar sembarangan, jangan masukin tamu, kunci rumah, kunci pagar dan jaga diri. Abah dan Umi' serta Dila pergi ke desa dulu jenguk pakde Nan yang sakit. Mungkin sore baru kembali, Umi' nggak mungkin ajakin karena nanti kan sekolah. Kalau berangkat sekolah jangan lupa kunci semua rumah dan pagar. Tadi Umi' sudah membawa kunci serep.
Mbak Mynul sedang survei kampus bersama teman-temannya.
Wassalamu'alaikum Anak Umi' yang pinter.'
Lantas aku mendengus usai membaca pesan dari Umi', tapi kalau dipikir iya juga sih. Aku kan harus sekolah, dan lagi nanti harus bertemu pujaan hatiku kan. Ahh, rasanya hatiku sudah tak sabar.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di tempat lain...
Nampak Danu meremas rambutnya frustasi menatap nanar ke arah ruang UGD. Rasa takut menyelimuti dirinya bahkan pikiran yang tidak-tidak berseliweran dalam otaknya.
Bagaimana jika putranya semakin parah? Bagaimana putranya jika tidak selamat? Bagaimana jika...
Aaarrghhhhh, rasanya Danu ingin sekali berteriak kencang namun tidak bisa. Lidahnya seolah keluh tak dapat bersuara.
Pagi tadi ketika sarapan, wajah Bayu sudah nampak pucat sekali. Danu yang melihatnya begitu iba, tak kuat rasa melihat putranya menderita sedemikian rupa. Baru saja Danu akan menyuap satu sendok nasi ke dalam mulutnya, Bayu tengah berlari ke arah kamar mandi dapur lalu muntah-muntah.
Sontak Danu mengikuti arah langkah putranya itu, lalu memijat tengkuk kepalanya. Hati Danu begitu miris melihat putranya begitu kesakitan.
Tak lama usai mengeluarkan isi perutnya, Bayu yang hendak mencuci wajahnya justru kehilangan kesadarannya. Membuat Danu terpekik kaget lalu menggendong Bayu ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit segera.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bagaimana keadaan putraku dok?" Tanya Danu yang kini berada di dalam ruangan dokter Irham. Wajahnya penuh kekhawatiran, sungguh ia sangat takut saat ini.
"Kita harus melakukan operasi pengangkatan tumor segera Pak, tumor di kepala Bayu semakin membesar. Jika kita biarkan bisa-bisa nyawanya menjadi taruhan." Jawab dokter Irham.
"Op.. operasi dok?" Tubuh Danu bergetar begitu mendengarnya.
"Benar Pak. Setelah operasi selesai dilakukan, Bayu masih harus menjalankan prosedur kemoterapi nantinya Pak." Jelas dokter Irham.
"Bapak Danu tenang saja, kami para tim akan mengusahakan yang terbaik untuk Bayu. Dan untuk hasilnya tetap doakan yang terbaik untuk kelancaran proses penyembuhan Bayu nanti Pak." Lanjutnya.
Dengan langkah gontai Danu keluar dari ruangan dokter Irham, pikirannya berkecamuk. Bagaimana ia harus mengatakan pada putranya itu tentang apa yang tengah menimpanya?.
Baru saja sampai di depan ruang ICU, Danu melihat kedatangan teman baiknya. Dengan langkah cepat, Danu menghampiri lalu memeluk erat sembari menangis tersedu-sedu.
"Aku harus bagaimana, Wan?"
__ADS_1