LELAKI_KU

LELAKI_KU
Segalanya Berubah Menjadi Mimpi Buruk.


__ADS_3

Hingga saat ini aku masih belum mengerti akan semua yang terjadi. Setiap detik berubah-ubah tanpa hal yang pasti. Ingin berteriak kencang dalam sebuah jeritan diri namun hati seolah enggan mengeluarkan segala sesak yang terpendam.


Lagi-lagi takdir mempermainkan diriku, menguji kesabaran mentalku. Mengikis segala harap akan rindu, mengubur segala angan untuk bertemu. Tragis...


Saat itu aku berdiri di depan pagar rumah milik Bayu, ku lihat tak ada satupun cahaya hanya kegelapan di dalam rumah itu. Suasana nampak sepi, keadaan halaman yang kotor karena debu serta dedaunan kering berserakan menandakan sang empu punya rumah tak ada, lebih tepatnya tak pernah ada.


Kakiku seolah membeku di tempat, air mataku menetes begitu saja. Kenapa Tuhan? Kenapa kau datangkan sebuah harapan jika pada akhirnya hanya mendapatkan kecewa?


Hampir dua jam lamanya aku menunggu di depan rumah Bayu dan akhirnya aku menyerah. Aku memilih pergi, menghentikan segala harapan tak pasti. Dimana aku sendiri tak pernah tahu kapan harapan itu akan terwujud.


'Tuhan, mungkin aku bukan manusia sempurna. Namun apakah salah? Jika aku jatuh cinta pada akhirnya dalam hidupku. Mengapa Tuhan? Mengapa kau datangkan sebuah rasa cinta kalau pada akhirnya kau torehkan kecewa. Sakit Tuhan, hatiku sakit... Mengapa seperih ini lukanya?'


Tangisku pecah begitu saja, tak perduli banyaknya orang yang tengah memperhatikan diriku. Yang ku tahu, melepaskan segala beban sesak di dada dengan tangisanku.


Sesampai di rumah, aku segera menuju ke dalam kamar melanjutkan aksi tangisku. Sungguh rasanya sangat menyakitkan hingga aku sendiri tak mampu berkata-kata. Namun cukup menusuk dada tajamnya luka itu.


"Gue benci elo Bay, gue benci elo, sangat benci sama loe. Ini terakhir kalinya gue cari elo, ini terakhir kalinya gue bakal suka sama loe. Dan gue berharap ini terakhir kalinya gue inget elo dalam hidup gue." Gumamku di balik bantal.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suara gusruh terdengar jelas di seantero sekolah, semua seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar dari banyak guru tentang Bayu. Murid teladan SMA Kenangan, sekaligus murid kebanggan para guru sekolah.


Semua siswa siswi sibuk membicarakan kabar yang beredar siang itu. Aku yang tak terlalu mengerti dan ingin tahu, membiarkan begitu saja tanpa bertanya apapun.


Di setiap lorong menuju kelas, aku mendengar hampir semua siswa siswi sibuk bergosip.


Sesampai di dalam kelas, para sahabatku lantas mendekat lalu memelukku erat bergantian. Aku cukup terheran, hingga akhirnya Shova mengatakan segalanya. Dimana saat itu juga duniaku hancur dalam sekejap. Segalanya berubah menjadi sebuah mimpi buruk dalam semalam.


"Sabar ya Tha, kita baru denger berita tadi dari para guru. Kita nggak nyangka kalo Bayu kecelakaan waktu berangkat ke sekolah. Dan, dan... Dia... Meninggal di tempat Tha." Shova menangis terisak.


Pandangan mataku kosong seketika, seolah waktu terasa berhenti berputar. Air mataku mengalir begitu saja membasahi pipi. Tiada kata yang terucap dalam mulutku, hanya suara isakan perlahan yang terdengar.


Shova, Linda, Gandhis, masih menangis sambil memelukku. Sementara Toni, Vian, Amrul dan Bagus saling tatap bergantian, mereka juga bingung harus bagaimana.

__ADS_1


"Hiks, hiks, hiks..." Aku tak mampu menahan tangisku dalam diam lagi. Kini pecah sudah pertahanan dalam tubuhku, kakiku bahkan tak mampu menopang hingga aku merosot jatuh ke lantai kelasku.


Sontak hal tersebut membuat para sahabatku terkejut tak lupa beberapa siswa siswi lainnya yang beberapa berada di dalam kelas.


"Tha," ucap mereka semua serempak,


Namun telingaku seolah tuli tak ingin mendengar lagi. Ingatanku kembali pada semalam, dimana aku berkata di dalam keputusasaan serta kekecewaanku pada Bayu.


'Gue benci elo Bay, gue benci elo, sangat benci sama loe. Ini terakhir kalinya gue cari elo, ini terakhir kalinya gue bakal suka sama loe. Dan gue berharap ini terakhir kalinya gue inget elo dalam hidup gue.'


Tangisku pecah mengingat apa yang ku katakan semalam, ingin rasanya aku menarik seluruh kalimat itu.


Aku bangkit lalu berlari meninggalkan sekolah tanpa mengatakan apapun. Tentu saja para sahabatku terkejut kemudian ikut mengejar ku.


Bagai orang kehilangan kendalinya, aku berlari ke arah rumah Bayu. Tak perduli lelah kakiku, tak perduli rasa sakit pada telapak kakiku. Yang ku inginkan saat ini adalah melihat Bayu, walau untuk yang terakhir kalinya.


"Tha, tunggu jangan lari." Pekik Gandhis dari arah belakangku.


"Tha," lirih Shova dengan suara seraknya namun tetap ikut berlari mengejar ku.


"Kenceng banget sih nie anak larinya." kesal Linda.


"Tahu tuh," ucap Gandhis yang mulai ngos-ngosan karena berlari dengan tubuh sedikit berisinya.


Sedangkan Toni, Vian, Amrul dan Bagus mengurus surat ijin kami yang tak mengikuti pelajaran ke guru BK. Kemudian baru ikut menyusul ke tempat Bayu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kakiku gemetar saat menatap ke arah rumah Bayu yang sudah terpampang bendera kuning di halaman rumahnya. Dari jauh ku lihat Abah, Umi' serta Dila berada di sana membantu menyambut para pelayat.


Tatapan mataku beralih ke arah Om Danu, ia tengah menangis di sebelah jenazah Bayu. Dengan perlahan langkah kaki ku mendekat, masih tanpa suara hanya ada tetesan air mata yang terus mengalir tanpa mau berhenti sedikitpun.


'Bayu....

__ADS_1


Perlahan kakiku menaiki tangga teras rumah Bayu, nampak Abah dan Umi' terkejut melihat kedatanganku. "Fytha." ucap keduanya bersamaan.


Abah mendekati ku, lalu ku peluk erat tubuhnya sambil menuangkan segala perih di hatiku dalam bentuk tangisan. Abah terus mengusap bahuku dalam pelukannya. Mencoba menenangkan dan menabahkan hatiku.


"Sabar ya nak," gumam Abah di telingaku, semakin menambah isakan tangisku.


"Bayu bah," lirihku.


"Dia sudah tenang, ikhlaskan...


"Masuklah, temui Om Danu. Lalu lihatlah Bayu untuk terakhir kalinya, ingat nak jika kau harus bisa ikhlas melepasnya agar dipermudah jalannya nanti." nasihat abah padaku.


Tanpa menjawab pertanyaan Abah, aku melepaskan pelukan ku lalu berjalan ke arah Om Danu. Sementara para sahabatku sudah duduk manis bersama para pelayat lainnya yang duduk di teras rumah.


"Om," lirihku kepada Om Danu dari jarak dekat, sontak Om Danu mendongakkan kepalanya menatap ku.


"Tha..." Aku menabrak tubuh Om Danu, menangis sesenggukan di dalam pelukan Papanya Bayu itu.


"Bayu Om..." gumamku.


"Om tahu, sudah ya. Ikhlaskan nak, Bayu sekarang pasti senang karena telah berkumpul dengan Mamanya." ujar Om Danu membelai punggungku.


"Bagaimana ini bisa terjadi Om?" tanyaku setelah melepas pelukan ku.


"Ceritanya panjang, nanti Om akan ceritakan. Sebentar lagi, Bayu akan segera dimakamkan nak."


Aku mengangguk mengerti, lalu beralih mendekati Bayu. Ku cium keningnya, ku usap pipinya yang telah dingin kaku. ku dekati telinganya, kemudian membisikkan kata yang selalu ingin ia dengar dari dulu.


"I love you, Abang. Pada akhirnya aku kalah, aku jatuh cinta padamu. I love you Bayu ku. Aku mengikhlaskan dirimu, bahagia lah sayang."


Sekali lagi ku kecup kening Bayu, lalu...


Brukkk!!!

__ADS_1


__ADS_2