LELAKI_KU

LELAKI_KU
Si Muka Aspal.


__ADS_3

DEG


"Dia.... kan tukang pompa angin tadi siang" ucapku cukup terkejut saat mengetahui siapa tamu Abah. Haduh, bisa berabe kalo itu cowok ngemeng aneh-aneh sama Abah ntar.


Saat mataku bertabrakan dengan matanya, aku melotot tajam. Namun sayang, cowok itu hanya menatap datar ke arahku dan tak ada takut-takutnya sama sekali. Fix! Ngajak gelud itu cowok, bikin tingkat keki naik setinggi gunung.


"Ck!" Aku berdecak kesal lalu masuk ke dalam memberitahu Umi' jika tamu Abah sudah datang. Walau hati dongkol, tetap saja aku harus menjaga kesopanan ku. Apalagi di depan Abah, jika tidak bisa alamat pemotongan uang saku sekaligus ceramah panjang tiada henti nanti.


"Mi' tamu Abah udah datang tuh," kataku lalu menatap mbak Mynul yang sedang membuat minuman.


"Mbak, bikin es jeruk ya?" Tanyaku padanya.


"Iya, kamu mau dek?" Tawar mbak Mynul padaku, namun aku menolak karena aku mau membuat susu panas saja. Sebenarnya aku ingin minum es, hanya saja aku ingat jika minggu harus lomba drama. Tak mungkin saat drama suaraku hilang, apalagi batuk. Karena setiap kali habis mengonsumsi es jeruk, suaraku akan hilang dan batuk cukup parah.


"Enggak deh mbak, aku mau buat susu panas aja." Mbak Mynul hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lalu membawa es jeruk yang dibuatnya tadi ke ruang tamu untuk disuguhkan. Tak lupa Umi' juga menyiapkan camilan beberapa kue yang sudah dipotong-potong tadi.


Saat tengah mengaduk susu, aku terkejut mendengar suara cowok tepat di belakang ku. Sontak aku membalikkan badan menatap tajam pada cowok itu.


"Bisa nggak sih, nggak usah ngagetin. Gue kan kaget !" Sentak ku kesal, namun yang ku lihat cowok itu hanya mengangkat bahunya acuh.


"Toilet?" Ucapnya singkat membuatku kebingungan mendengarnya.


"Kenapa sama toilet?" Tanyaku balik padanya.


"Dimana?"


"Ck! Tanya itu yang bener dong, dasar kang angin. Tuh disitu." Tunjuk ku di pojok dapur dengan raut wajah sebal. Tanpa mengucapkan terima kasih, cowok itu pergi begitu saja dari hadapanku. Bagaimana tidak membuat hatiku dongkol setengah mati, nggak tahu makasih emang.


"Nyebelin, dasar kang angin!" Aku jadi ngedumel sendiri akhirnya sambil mengaduk kembali susu ku.


Tak lama cowok itu kembali keluar dan mengucapkan terima kasih ketika melewati ku tanpa basa basi apalagi tersenyum. "Terima kasih."


WTF!


Fix! Kagak tahu sopan satun itu orang! Dasar MUKA ASPAL !!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Di ruang tamu, ku lirik Abah tengah berbincang dengan temannya itu. Sedangkan di kang angin sibuk main ponselnya tanpa menghiraukan obrolan keduanya. Aku celingukan mencari Umi', mbak serta si pendek, kemana mereka?


Ingin aku menghampiri Abah untuk bertanya, namun aku terlalu malas jika harus bertemu si muka aspal kembali. Apalagi mengingat kejadian saat di dapur malah membuat aku kembali dongkol. Akhirnya ku putuskan masuk ke dalam kamar saja mengerjakan tugas sekolah sambil menunggu waktu makan malam.


"Gue angrem aja lah" gumam ku.


Waktu begitu cepat berjalan, tak terasa sudah pukul tujuh malam. Aku mendengar kamarku diketuk dari luar oleh Dila, untuk menyuruhku ke ruang makan.


Tok... Tok... Tok...


"Mbak, disuruh Abah sama Umi' makan. Udah waktu makan malam," ucap Dila dari luar kamar.


"Iya, nanti mbak nyusul bentar." Sahutku dari dalam kamar sembari membereskan buku tugasku, baru menyusul ke meja makan.


Untuk kedua kalinya aku melototkan mataku, si kang angin sama bapaknya belum pulang. Ku kira sudah minggat dari tadi, malah sekarang ikut makan malam bersama kami.


'Fix! Kesabaran gue udah mulai setipis alis'


Abah menoleh ke arahku, lalu menyuruhku mendekat ke arahnya. Abah mengenalkan ku pada temannya sekaligus si muka aspal.


"Sini Tha, kenalin ini teman Abah. Namanya Om Danu dan itu putranya bernama Bayu." Ucap Abah.


"Ini putriku namanya Fytha, Dan. Masih kelas 2 SMP, satu sekolah juga sama si bungsu, Dila." Lanjut Abah, sedangkan aku hanya tersenyum tipis saja menanggapinya.


"Anakmu sekolah dimana Wan?" Tanya Om Danu.


"Di SMP Kenangan."


"Wah kebetulan kalo gitu, Bayu juga mau masuk sana. Cuma dia masuk SMA nya, kelas 2 SMA. Ya kan Bay?"


"Hm" Di muka aspal hanya berdehem saja sebagai jawaban, membuat bapaknya itu geleng kepala saja melihat betapa kaku dan irit anaknya saat bicara.


'Dasar muka aspal', gumamku lirih. Namun sayang rupanya si muka aspal mendengar gumaman ku dan kini lihat saja, dia tengah menatap tajam ke arahku. Bukan takut, aku malah semakin menantangnya dengan melototkan mataku ke arahnya.


"Anakku Khusnul ada di SMA itu pula, Dan. Cuma sudah kelas 3 SMA mau ujian bulan depan." Kata Abah ku penuh semangat.


"Kebetulan yang ajaib ini, hahaha" Om Danu tergelak bersama Abah. Ku lirik mbak Mynul hanya memasang muka datar saja, terlihat tak tertarik dengan obrolan ini. Sama sih, aku juga eneg sama obrolan ini. Membuat lama saja untuk makan malamnya.

__ADS_1


"Sudah-sudah, ayo kita mulai makannya. Nanti kita sambung lagi ngobrolnya." Ucap Umi' menyudahi obrolan kami, hal itu tentu membuatku cukup lega karena makan malam dimulai. Aku segera menyantap makananku begitupun yang lainnya. Walau kadang Abah dan Om Danu masih mengobrol memuji masakan Umi' yang enak. Memang juara masakan Umi' ku ini, patut di acungi jempol.


Btw, Om Danu teman Abah ini seorang duda guys. Istrinya alias ibunya di muka aspal, sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena mengidap penyakit tumor otak. Dan hal itu sangat terlambat disadari hingga menghembuskan napas terakhir baru terkuak faktanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya, sekolah gempar dengan berita datangnya murid baru. Apalagi murid baru itu seorang cowok, bahkan satu kelasku pun tak luput dari pembicaraan gosip itu. Apalagi sahabatku yang bernama Amrul, rajanya informasi dia.


"Beneran guys, tuh murid pindahan bandung katanya." Ucap Amrul menggebu saat menyampaikan berita yang didapatkannya dari kelas sebelah.


"Jauh amat ya, pindah kesini kenapa?" Tanya Shova penasaran.


"Usut punya usut, katanya ikut bapaknya pindah tugas. Kan bapaknya tentara," jawab Amrul.


"Anjir, cakep nggak tuh cowok?" Kini giliran Toni yang bertanya, sudah dipastikan calon saingan Toni ini mah jika itu murid baru kadar ketampanan mengalahkan dirinya.


"Nah ini dia yang bikin gue ngakak, tuh anak emang ganteng sih. Sayang pake kacamata, bisa dibayangin kan kayak cupu." Amrul tergelak dengan ucapannya.


"Heh, kalo cakep mah diapain aja tetep cakep." Sahut Linda membela si murid baru padahal belum tahu seperti apa orangnya.


"Cie, belain." Ledek Gandhis bersama yang lainnya. Sontak hal itu membuat Linda mencebikkan bibirnya saja.


"Tapi sayang itu cowok masuk SMA dan dia bukan anak SMP." Sahutku yang baru datang dan bergabung gibah bersama para sahabatku.


"Dateng juga ini artisnya, loe kok tahu tuh murid masuk SMA?" Tanya Vian penasaran.


"Tahu lah, karena itu cowok anak dari temannya Abah." Kataku sambil mencomot coklat milik Shova satu.


"Oh.... " Jawab kompak semua.


"Jadi loe kenal dong, Tha?" Lanjut Toni bertanya padaku.


"Siapa? Si muka aspal? Kagak kenal." Acuh ku.


"Muka aspal?" Seru lainnya.


"Ho'oh" lalu aku menceritakan semuanya tanpa terkecuali hingga membuat para sahabatku tergelak seketika ketika mendengar penuturan ku.

__ADS_1


'Fix! Sahabat lucknut, bukan prihatin malah ketawain.' gerutu ku dalam hati.


__ADS_2