LELAKI_KU

LELAKI_KU
Akhir Kisah Kita (Terima kasih).


__ADS_3

Dua tahun berlalu....


"Yey!! Akhirnya kita lulus juga." Sorak senang para sahabatku saat membuka lembaran surat kelulusan dari wali kelas.


"Akhirnya perjuangan begadang tiap malam terbayarkan sudah." Ucap Amrul dengan ekspresi tengah menangis.


"Ho'oh, mata gue ampe sepet tiap pagi. Nih tengok kantung mata gue," sahut Toni.


"Wih macam mummy." Ejek Shova mengundang gelak tawa yang lainnya.


"Btw guys, kalian bakal lanjut kemana?" Tanyaku sambil memasukkan surat kelulusanku ke dalam tas.


"Pokoknya harus satu sekolah lagi kita, nggak mau kalo bubar." Ucap Linda di setujui Gandhis.


"Bener."


"Kalian?" Aku menatap ke arah Toni, Vian, Amrul, dan Bagus.


"Sama." Jawab ke empatnya kompak.


Aku menganggukkan kepala, lalu aku menatap satu persatu wajah sahabatku. Melihat senyum dan tawa mereka membuatku bahagia. Rasanya seolah beban sesak di dada hilang begitu saja.


Selama ini aku sudah berusaha merelakan akan kepergiannya, dan kini aku perlahan bisa menjalani hariku dengan baik hingga saat ini.


"Tha, kita bikin syukuran yok buat kelulusan kita." ajak Toni bersemangat.


Ya, hubungan persahabatanku dan Toni tetap terjalin terlepas semua yang terjadi. Aku sadar, Toni tak bersalah dalam hal ini karena ia hanya menjalankan permintaan Bayu saat itu. Namun aku juga berterima kasih padanya, karena pada akhirnya mau jujur padaku.


Lalu, bagaimana dengan Om Danu?


Aku juga tak pernah menyalahkannya, karena aku tahu sebagai orang tua dia lebih terpukul dan tertekan dari pada diriku. Karena tidak ada di dunia ini, orang tua yang senang akan kehidupan pribadi keluarganya di ketahui orang lain.


Dan untuk kedua orang tuaku, aku juga tak ingin menghakimi mereka. Karena aku memahami sebagai seorang anak aku tahu jika tidak ada orang tua yang mau putrinya terpuruk.


"Boleh, syukuran di rumah siapa?" tanya ku menatap lainnya bergantian.


"Gandhis aja lah," jawab Amrul.


"Bener tuh, rumah Gandhis halamannya besar kan. lumayan bisa buat bakar-bakar juga ntar." ucap Vian menyetujui usul Amrul.


"Okey deh, ke rumah gue ya. Tapi kapan?" kini giliran Gandhis, sang nyonya rumah yang bertanya.


"Minggu aja lah, kan hari libur." Kata Linda di setujui Shova.


"Kita ikut aja lah," sahut Vian lalu diacungi jempol oleh Bagus.


"Wokeh deal ya?" aku memastikan sekali lagi pada para sahabatku.


"Deal!!" jawab semua serentak.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku menatap ke arah SMA Kenangan dari luar gerbang, banyak kenangan yang terjadi di sekolah itu. Dan aku cukup bersyukur bisa merasakan hal itu. Banyak hal manis dan pahit yang telah terjadi di masa-masa saat itu. Yang pasti, hal yang cukup akan ku rindukan seumur hidupku.


"Bang, kenangan bersamamu takkan pernah ku lupakan. Terima kasih telah hadir dalam hidupku yang sepi kala itu. Berkatmu, hari suram ku penuh warna akhirnya. Dan denganmu, aku menjadi lebih bisa tertawa bebas tanpa beban karena kesendirian." Gumamku sambil menatap setiap sudut sekolah.


"Kehangatanmu mampu mencairkan kebekuan hatiku. Lembut sikapmu membuat kedinginan dalam egoku mencair akan cinta tulus mu. Walau kini semua telah berakhir, semua tetap akan tersimpan rapi dalam hatiku. Hadirmu takkan pernah terganti, bang. Terima kasih atas segala hal yang sudah kita lalui, aku mencintaimu bang. I love you, sampai jumpa lagi di lain tempat dimana kita bersatu kelak." Lanjut ku lalu meraih sepedaku.


"Aku pamit, bang." lirihku.


'Pada akhirnya...


Rasa sakit itu, aku tanggung juga


Sejauh apapun aku berusaha untuk lari


Sekencang apapun aku mencoba menghindar

__ADS_1


Luka tetap bisa menemukan keberadaan ku


Terkadang,


Aku sembunyi dalam kegelapan


Lelap dalam malam sepi


Mengurung diri dari keramaian


Berharap hati nggak akan rasain


Dimana hanya rasa sakit yang menghujam


Iya... Ini lukanya...


Aku terlalu takut menghadapi kenyataan


Jika aku bukan orang yang kuat


Untuk bisa bertahan


Aku begitu pengecut untuk mengakui


Jika aku bukan orang yang bisa lalui


Segala lara yang hadir dalam hati'


Senyum menghiasi bibirku, tiada sesal ataupun kesal dalam hatiku. Semua adalah anugerah terindah yang terjadi dalam hidupku. Aku bahagia pernah ada di posisi saat itu, dengan itu aku menjadi lebih dewasa lagi dalam menghadapi segalanya. Kemudian aku membawa sepedaku ke ujung jalan lalu mengayuhnya perlahan. Sudah saatnya aku kembali membawa harapan dan impian menuju puncak.


'Pernah aku berdoa pada Tuhan**


Meminta agar dihadirkan dia kembali


Walau dalam versi yang berbeda


Namun aku sadar,


Karena apa?


Tuhan nggak akan pernah menghadirkan orang yang sama


Dimana orang itu pada akhirnya juga akan pergi


Dengan cara yang sama juga


Selama ini, aku tetap berdiri di tempat


Bukan karena aku tak mampu melangkah


Tapi aku takut,


Saat aku pijak kan satu kakiku ke depan


Di sanalah lubang kesakitan menunggu kehadiran aku


Memang aku begitu naif,


Berpikir semuanya terlalu rumit


Tapi aku tahu


Nggak semua hal yang menyulitkan


Akan memberikan kerisauan


Namun sekali lagi,

__ADS_1


Ketakutan seolah menjadi bayangan


Dalam setiap langkahku'


Pandanganku mengarah ke langit yang cukup terang, lagi-lagi aku tersenyum merasakan kehangatannya menerpa wajahku. Seolah langit ikut menyertai langkah kaki rapuhku untuk menjadi kuat kembali.


'Aku selalu bertanya-tanya


Kenapa tuhan nggak pernah sekalipun


Berikan aku rasa bahagia?


Karena Tuhan tahu,


Rasa bahagia aku udah lama mati


Hati aku udah lama mati


Oleh sebuah kecewa yang datang bertubi-tubi


Mungkin emang nggak ada kebahagiaan buat aku


Tapi aku yakin,


Tuhan nggak akan biarin aku sendiri


Tuhan akan terus memeluk ku


Dalam kesendirian hatiku


Dan aku yakin...


Tuhan udah siapin satu kejutan buat aku


Dimana nanti senyum bahagia terukir dalam bibirku


Tanpa terhapus lagi oleh sebuah duka


Aku percaya itu...'


Perlahan ku alihkan pandangan mataku ke depan menyusuri jalan yang cukup lengang saat ini. Disaat sendiri beginilah yang ku sukai, tenang tanpa suara kebisingan mengerubungi.


Tak pernah sekalipun aku menyalahkan takdir yang terjadi padaku, karena aku tahu setiap manusia memiliki jalan hidup masing-masing. Baik suka maupun duka, sang pencipta sudah menggariskannya.


'Tuhan,


Terima kasih atas segala rasa yang kau hadirkan untukku


Terima kasih atas segala pelajaran yang kau berikan padaku


Dengan begini aku sadar,


Jika semua hal nggak harus sesuai dengan keinginan kita


Nggak semua hal harus berjalan seperti harapan kita


Semua sudah ada porsinya masing-masing


Dan aku harap,


Sedikit terselip rasa untukku di kemudian hari


Aku percaya pada rencana mu, Tuhan...'


...****************...


TAMAT

__ADS_1


Terima kasih othor ucapkan kepada pembaca setia karya othor, terima kasih telah mengikuti setiap cerita.


Sampai bertemu di cerita selanjutnya, salam lope lope muach untuk kalian semua dari othor cuek. 😘😘


__ADS_2