LELAKI_KU

LELAKI_KU
Bikin Kepo aja !!


__ADS_3

Jam istirahat kini berlangsung, aku yang sudah dihampiri Dila segera membawa adikku itu menuju kantin bersama para sahabatku. Semua sahabatku tak pernah keberatan jika ada Dila bersama mereka, bahkan semuanya begitu menyayangi Dila.


"Pendek mau jajan apa?" tanyaku pada Dila, dengan sesekali menawarkan beberapa camilan ringan.


"Aku boleh makan gorengan sosis itu mbak?" tanya Dila kembali dengan ragu, bukan tanpa sebab Dila bersikap demikian. Hanya saja Dila takut, apa makanan itu mengandung micin apa tidak? Karena Dila tak mau jika otak pintarnya itu konslet.


"Tentu saja, kamu mau berapa?"


"10 tusuk boleh mbak?"


"Tentu, tunggulah." tanpa mendengar jawaban dari Dila, aku segera berjalan menuju warung mbak ita di ikuti yang lainnya. Sedangkan Dila tengah menunggu di salah satu meja kantin bersama Shova dan Linda.


"Dil, gimana tadi kelasnya?" tanya Shova.


"Baik mbak, cuma tadi ada guru galak." jawab Dila dengan muka polos.


"Guru galak siapa?" giliran Linda yang bertanya, karena ia cukup penasaran siapa guru galak itu.


"Dila juga nggak kenal mbak." Dila mengangkat bahunya acuh tanda tidak tahu.


Tak lama aku kembali sambil menenteng satu kantung makanan dan sosis goreng pesanan Dila tadi. Aku meletakkan semuanya di atas meja, lalu di susul yang lainnya.


Melihat Amrul membawah satu kresek gorengan, membuat jiwa bala-bala yang lainnya terasa menggelora.


"Mantul nih, borong lo mrul?" tanya Toni sambil mencomot satu gorengan.


"Demi apa, demi apa?" kata Amrul malah bertanya balik.


"Demikian!" seru yang lainnya kompak lalu tergelak bersama.


"Asyem!" sebal Amrul lalu menatap ke arah Dila. "Dil, kenapa cuma makan sosis goreng?"


Ku alihkan pandangan mataku menuju Dila saat mendengar pertanyaan Amrul padanya, dan benar saja jika adikku itu hanya fokus memakan sosisnya.


"Takut micin kak." jawab Dila setelah menelan sosis di dalam mulutnya.

__ADS_1


"Hah? micin apa dah?" kini giliran Bagus menyahut.


"Kata mbak Fytha nggak boleh makan makanan mengandung micin banyak, nanti otaknya geser. Eh bukan, tapi konslet kak."


"Ngaco ini mbak mu ah," gelak Gandhis disusul yang lainnya.


"Masak mbak Ndhis?" tanya Dila polos.


"Udah nggak usah didengerin mereka, yuk mbak antar ke kelas. Bentar lagi bel masuk dek," Aku segera menjauhkan adikku dari sifat resek para sahabatku. Kuraih tangannya lalu menarik menuju kelasnya di halaman depan.


"Dek, nanti pulang dijemput Umi' ya. Mbak udah bilang Umi' tadi sebelum berangkat, adek kan pulang jam 10 dan mbak pulang jam 12 siang nanti." kataku sambil berjalan.


"Okey mbak." Dila menganggukkan kepalanya mengerti.


"Ya udah belajar yang rajin, nggak boleh nakal." nasihatku sambil mengusap puncak kepalanya. Dila mengangguk lalu berlari menuju bangkunya, sedangkan aku memilih kembali ke tempat para sahabatku berkumpul tadi setelah memastikan Dila duduk di bangkunya terlebih dahulu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Panas terik matahari menemaniku saat mengayuh sepeda, maklum saja sekolahku baru bubar pukul setengah satu siang karena kami wajib sholat dhuhur terlebih dahulu sebelum pulang. Jarak sekolah dan rumahku sendiri cukup dekat, itulah mengapa aku tak pernah mengeluh panas atau lain sebagainya. Kupikir itung-itung olahraga kaki saja, apalagi aku paling tidak suka olahraga.


Aku membuka pintu gerbang rumahku, suasana cukup sepi mengingat siang hari aku baru kembali. Di waktu siang begini pasti semua sudah beristirahat di kamar masing-masing, kecuali mbak Mynul yang pulang di sore hari karena persiapan ujian akhir sekolah nanti.


"Assalamualaikum..." Ku ucap salam begitu masuk ke dalam rumah. Ku lihat abahku tengah berada di ruang tamu dengan tasbih berputar di sela jarinya. 'Abahku sedang dzikir rupanya' batinku.


"Waalaikum salam, udah pulang Tha?" tanya Abah setelah mengakhiri bacaan dzikir nya.


"Sudah atuh bah, nih anaknya udah nampak kakinya di dalam rumah beserta wujudnya." jawabku random menjahili Abah ku.


"Edan! sudah sana masuk ke dalam, mandi terus makan siang. Umi' mu lagi ke tempat Bu RT bayar arisan sama adik mu." kata Abah.


"Ku pikir pada bobok siang bah," celetukku.


"Enggak, nanti sore mau ada tamu jadi Umi' mu tak bisa ikut arisan."


"Tamu? siapa bah?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Kepo!" seru Abah ku menyebalkan lalu masuk ke dalam kamarnya meninggalkan aku yang terbengong akan jawabannya. Aku yang tersadar sontak mencebikkan bibirku sebal, sok-sokan main rahasia, euy.


Malas memikirkan hal ribet, aku segera berjalan menuju kamar untuk membersihkan diri lalu mengisi perutku yang keroncongan. Mengayuh sepeda rupanya bisa membuat perut lapar juga.


Usai membersihkan diri dan mengisi amunisi, aku memilih menonton tv akibat kekenyangan. Ku lihat Umi' dan Dila baru pulang dari tempat Bu RT sembari menenteng satu kantung plastik hitam, entah apa itu isinya.


"Assalamualaikum," Umi' dan Dila mengucap salam bersamaan.


"Waalaikum salam" jawabku, "Apa itu Umi'?" tanyaku kepo.


"Mangga dikasih Bu RT tadi. Mau? gadung masih setengah matang." tawar Umi', tentu saja hal itu membuat liurku hampir menetes keluar saat mendengar mangga setengah matang. Hehehe, di rujak enak itu mah 🤭


"Mau dong Umi' ku sayang, ngerujak yuk Umi'." ajakku bersemangat.


"Nanti sore aja ya Tha, Umi' mau nidurin Dila dulu. Ngantuk katanya," ucap Umi'. Aku hanya mengangguk pasrah saja lalu melanjutkan acara menonton televisi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ku lihat banyak makanan tertata di meja makan, aku melihat ke dapur nampak Umi' bersama mbak Mynul tengah memasak bersama. Aku yang penasaran lantas menghampiri ke dapur dan bertanya.


"Umi' sama mbak lagi masak apa? itu di meja makan kenapa banyak masakan mi'? tanyaku sambil mencomot satu bakwan jagung yang sudah diatas piring.


"Ada temannya Abah ntar main kemari Tha, ini bawa ke meja makan jangan makan muluk. Bantuin," dengan mulut mengunyah bakwan aku berjalan menuju meja makan menaruh sepiring perkedel kentang. Ku lihat Dila sedang menonton tv sendirian, lalu dimana Abah? Rupanya Abah ku itu tengah memandikan burung murai di halaman depan.


Dengan santai aku duduk disebelah Dila menemaninya menonton tv film kartun si spons. Dila yang melihatku duduk disampingnya malah merebahkan kepalanya diatas pahaku sambil melihat ke arah tv dan sesekali tertawa saat melihat tingkah konyol makhluk spons itu.


"Malah pw ini bocah," dumelku. Namun ku biarkan saja, justru aku mengelus rambut adikku mungilku itu.


"Pendek, mau min....


Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, ku dengar suara berisik dari luar. Ah, rupanya tamu Abah ku sudah datang ke rumah. Aku lantas mengangkat kepala Dila dan menggantinya dengan bantal sofa. Ku lirik ke depan untuk melihat siapa tamu Abah sebenarnya, namun sayang sekali aku tak dapat melihatnya karena posisi tamu Abah itu tengah membelakangi diriku. Bahkan ku lihat ada remaja disebelahnya, ku tafsir usia sekitar hampir sama seperti mbak Mynul sepertinya.


Baru saja aku akan berbalik pergi, ku lihat remaja itu membalikkan badannya lalu menatap ke arahku yang ada di depan jendela.


DEG.....

__ADS_1


'Dia........


__ADS_2