LELAKI_KU

LELAKI_KU
Salah Ngapel !!


__ADS_3

Semilir angin menerpa dedaunan, membawa alunan lembut menyentuh kulit dikala cuaca membakar. Rindang pohon menjadi peneduh jalan di setiap lintasan. Lajur kehidupan yang berputar menjadi pembelajaran bagi setiap insan yang berjuang dalam titik tumpu suatu tujuan.


Keringat yang menetes jadikan semangat membara kala hati dilanda asmara. Rasa lelah seolah hanya teman singgah tatkala melihat senyuman indah terpatri dari sudut manis bibir nirwana.


'Oh cinta... Biarkan aku memeluk erat tubuh mu dalam kehangatan. Rasakan hadirku dalam setiap tarikan napas mu, miliki aku dalam genggaman jemarimu dan hidupmu.' gumam Bayu saat menyisir jalan setapak menuju rumah Fytha.


Hari ini Bayu berniat bermain ke rumah Fytha sekaligus... NGAPEL. Hehehe, anak muda lah yaa. 😁


Dengan setelan kaos oblong berwarna putih serta celana jeans berwarna hitam, tak lupa jaket kulit berwarna hitam pula semakin menambah tingkat ketampanan Bayu. Walau memakai kacamata,hal itu tak membuat Bayu terlihat cupu. Justru Bayu nampak berkharisma dan juga dewasa.


Langkah tegap nan riang Bayu seolah membawa jutaan kupu-kupu bahagia untuk hinggap pada sang bunga. Senyum yang tak lepas dari bibirnya seolah memberi ketegasan jika ia tengah berbahagia dalam hidupnya.


"Assalamualaikum..." Ucap Bayu memberi salam pada Abah yang tengah duduk di teras.


"Waalaikum salam, masuk Bay." Jawab Abah lalu mempersilahkan Bayu masuk.


Perlahan Bayu membuka pintu pagar, kemudian masuk untuk menghampiri Abah. Bayu mencium punggung tangan Abah, sebagai bentuk rasa hormat pada yang lebih tua.


"Fytha ada bah?" Tanya Bayu yang kini duduk disamping Abah.


"Ada di dalam, sekolah libur?" Tanya balik Abah.


"Libur bah, kebetulan para guru rapat." Jawab Bayu sekenanya.


"Oh begitu." Abah manggut-manggut mengerti. "Ngapain cari Fytha kalo sekolah libur?" Selidik Abah yang kepo dengan kedatangan anak dari temannya ini.


"Mau ngajarin kisi-kisi UTS bah, kan minggu besok UTS anak SMP bah." Jelas Bayu memberitahukan tujuannya, namun untuk masalah apel biar hatinya dan Tuhan saja yang tahu.


Lagi-lagi Abah hanya menganggukkan kepalanya, lalu mengambil segelas teh melati di atas meja untuk di sesap. Usai menaruh kembali gelas tehnya, Abah menatap ke arah Bayu kemudian bertanya.


"Papamu belum libur?"


"Belom bah, katanya minggu depan bakal dinas di Papua selama enam bulan." Jawab Bayu.


"Katanya udah nggak akan dinas keluar lagi. Dasar si Danu," Abah menggelengkan kepalanya saja.

__ADS_1


"Gak tahu juga bah, dulu bilangnya gitu waktu mau pindah ke sini. Tapi namanya tugas negara mana ada yang tahu bah," jelas Bayu.


"Kalo Papa mu dinas, kamu di rumah sendiri Bay?"


"Mau gimana lagi bah, tapi kalo pagi ada bibi yang beres-beres rumah. Terus sore baru pulang, habis itu ya dirumah sendiri bah."


"Kalo pulang sekolah makan disini aja, biar nanti Umi' mu bungkusin buat makan malam di rumah." Kata Abah kepada Bayu.


"Nggak ngerepotin emang bah?" Tanya Bayu tak enak hati.


"Enggak, ngerepotin apa sih Bay." Gelak Abah membuat Bayu ikut tertawa serta tersenyum lega.


Niat awal mau mengajari Fytha kisi-kisi UTS serta ngapel pun terlupa. Malah kini Bayu asyik berbincang dengan Abah di teras dan melupakan Fytha yang kini tengah manyun menunggu kedatangannya.


"Ish, si Bayu mana sih? Katanya mau ngajarin tadi." Gerutu Fytha sebal lantaran Bayu tak kunjung datang. Padahal sang empu sudah datang sedari tadi. Justru lebih memilih asyik ngobrol bersama Abah diteras rumah.


Minggu depan sudah mulai pertukaran murid, dimana mulai saat itu selama seminggu ia akan berangkat dan pulang sekolah tanpa Bayu. Jika mengingat hal demikian membuat hati Fytha loyo seketika.


'Andai bisa berkata jangan pergi, akankah aku egois? Sementara ini adalah keputusan pihak sekolah.' lirih Fytha.


Karena terlalu lama menunggu Bayu yang tak datang-datang, Fytha beranjak dari ruang tamu menuju dapur. Fytha menuang susu full cream ke dalam gelasnya, kemudian duduk di meja makan sambil membaca buku komiknya.


Sedangkan di teras rumah Bayu tengah tergelak mendengar cerita Abah tentang masa kecil Fytha yang konyol. Bahkan tanpa malu-malu Abah menceritakan semua kepada Bayu.


"Bayu baru tahu bah, kalo Fytha itu dulu nakal sekali." Ucap Bayu dengan sesekali menyeka air matanya di sudut yang keluar akibat banyak tertawa.


"Bener Bay, tanya saja Umi' mu kalau tidak percaya ucapan Abah."


"Tapi Fytha tahu cerita itu bah?" Nampak Abah menggelengkan kepalanya jika tidak.


"Tidak! Lagipula saat itu masih kecil Fytha-nya." Jawab Abah. Kini giliran Bayu yang menganggukkan kepalanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Fytha mendelik sebal menatap Bayu yang kini berdiri didepannya. Sudah hampir setengah hari, ia menunggu kedatangannya. Nyatanya yang ditunggu malah asyik ngerumpi bersama Abahnya di teras. Huh, menyebalkan.

__ADS_1


Mendapat tatapan tajam dari Fytha membuat Bayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia lupa dengan janjinya bahkan malah asyik mengobrol dengan Abah hingga lupa waktu.


Bayu menatap gemas saat sang empu memanyunkan bibirnya karena kesal padanya.


'Gemesin deh, jadi pengen cium.' batin Bayu.


"Bee, maaf ya. Abang beneran lupa tadi," ucap Bayu dengan sedikit berbisik takut didengar yang lainnya. Bisa berabe nanti urusannya.


"Tau ah," Fytha memilih mengabaikan Bayu dengan melanjutkan baca komiknya. Bahkan Fytha sengaja tak menggubris perkataan Bayu.


"Bee...


Ehem!


Mbak Mynul berdehem saat melihat Bayu berbisik-bisik kepada Fytha, tak lupa mata tajamnya sudah melotot keluar menatap Bayu.


"Ngapain nungging sambil bisik-bisik segala sama adek gue?" Tanya mbak Mynul tak lupa kedua tangannya sudah bersedekap di dada.


"Anu mbak, cuma...


Dengan susah payah Bayu mencoba menelan ludahnya, jantungnya bergetar melihat ekspresi calon kakak iparnya ini. Eh, calon kakak ipar?


"Ana anu, jawab yang bener." Tukas tajam Mbak Mynul.


"Udah deh mbak, tadi dia minta buat dibikinkan mie rebus mbak. Katanya dia laper," ucap Fytha mencoba menolong Bayu dari cecaran kakaknya.


"Itu tadi ngapain pakai bisik-bisik segala, kalau cuma mau minta mie." Selidik Mbak Mynul yang masih tidak percaya.


"Dia malu mbak, masak minta rebusin 3 bungkus." Ucap Fytha ngasal membuat Bayu membulatkan matanya.


'Astaga, apa katanya? 3 bungkus? 1 bungkus aja gue teler.' dumel Bayu dalam hati.


"Oh!" Lalu Mbak Mynul beranjak mengambil air minum dan kembali ke kamar.


Nampak Bayu bernapas lega seketika. Kemudian menatap ke arah Fytha. "Nggak kira-kira Bee, masak 3 rebus. 1 rebus aja Abang teler loh." Ucap Bayu. Namun Fytha hanya mengangkat bahunya acuh dan lebih memilih fokus pada komiknya.

__ADS_1


'Syokorin!'


__ADS_2