
Sore yang ditunggu akhirnya tiba. Cindy langsung berangkat ke klinik menjemput Diki.
Sesampainya di klinik Diki menyambut Cindy dan membawanya ke rumah belakang klinik.
Sambil menunggu sholat magrib. Diki menyempatkan bertanya kepada Cindy.
“Sebenarnya ada apa sampai orang tuamu memanggilku…” ucap Diki.
“Pama dan Mama sudah tau kejadian semalam dari Lily. Dan beliau ingin bertemu denganmu…:ucap Cindy
“Boleh aku bertanya sesuatu. Siapa sebenarnya lelaki itu…” ucap Diki.
“Namanya Jimmy…dia mantanku dulu…” ucap Cindy sambil menjelaskan semuanya ke Diki.
Tentang masa lalunya bersama Jimmy dan juga perselingkuhan yang dilakukan Jimmy, hingga membuatnya masuk rumah sakit.
Karena melihat Cindy sudah mulai meneteskan air mata, Diki pun langsung memeluknya.
“Sudahlah…yang lalu biarlah berlalu…” ucap Diki.
“Kita berbeda, kamu memiliki segalanya. Sedangkan diriku memiliki banyak kekurangan. Apa kamu masih tetap mencintaiku…” ucap Diki sambil menatap mata Cindy.
“Aku tak meminta banyak darimu…cukup Cinta dan kesetiaanmu yang kumau…” ucap Cindy.
“Kau tak perlu meminta hal itu padaku. Karena hal itu sudah pasti akan kuberikan padamu. Karena aku sangat mencintaimu…” ucap Diki.
Cindy yang mendengar perkataan Diki begitu sangat bahagia. Air mata mengalir di pipinya. Lalu langsung memeluk Diki kembali.
“Aku juga sangat mencintaimu…” ucap Cindy lalu menyandarka kepalanya di dada Diki.
Tiba-tiba alarm waktu sholat terdengar dari Hp Cindy. Diki lalu mengajak Cindy sholat magrib. Setelah selesai sholat, Diki dan Cindy pun berangkat.
Tidak lama kemudian mereka tiba dirumah Cindy. Orang tua langsung menyambut kedatangan mereka. Nyonya Serly sangat terpesona akan ketampanan calon menantunya itu.
Setelah membalas salam dari Diki, mereka pun berjabat tangan. Namun Diki agak kaget setelah bersalaman dengan Wiliam.
“Bukannya bapak ini yang datang beberapa hari yang lalu di klinik…” batin Diki.
Wiliam yang tau kekagetan Diki mencoba tersenyum. Sambil berjabat tangan, Wiliam mencoba menggoda Diki
“Kita bertemu kembali Dok…” ucap Wiliam menggoda.
“Jadi bapak adalah Papanya Cindy…? Ucap Diki.
__ADS_1
“Tidak usah panggil Bapak…panggil Om saja..lebih enak didengar…” ucap Wiliam.
“Dan panggil saya Tante…”ucap Serly sambil berjabat tangan dengan Diki.
“Maaf saya tidak tahu kalo Om adalah ayah Cindy…”ucap Diki sambil menatap Wiliam.
“Sejak kapan Papa bertemu dengan bang Diki…” ucap Cindy kaget karena Diki dan Papanya sudah saling mengenal.
“Beberapa hari yang lalu Papa datang ke Klinik. Semenjak kau berubah, Papa dan Mama jadi penasaran. Jadi Papa memutuskan untuk menyelidiki…”ucap Wiliam.
“Jadi Papa memata-mataiku ya…” ucap Cindy.
“Kami hanya menjaga keselamatanmu nak…Papa dan Mama tidak ingin hal yang dulu terjadi padamu…” ucap Wiliam
“Tapi sepertinya kecemasan kami tidak ada artinya lagi sekarang…” lanjutnya sambil mengedipkan mata ke istri nya.
“Sebab kamu telah menemukan obat mujarab untuk menyelesaian semua masalahmu sendiri…”ucap Wiliam menggoda.
Wiliam dan Serly tertawa terbahak-bahak, membuat Cindy menundukkan kepala merah merona karena sangat malu dengan kelakuan kedua orang tuanya itu.
Diki yang duduk disampingnya, hanya bisa tersenyum melihat perubahan wajah Cindy.
Tidak lama berbincang. Diki meminta izin untuk melaksanakan Sholat. Diki pun diantar ke ruang musholah yang sering digunakan oleh pembantu untuk Sholat.
Setelah selesai menunaikan sholat berjamaah. Kedua orang tua Cindy mengajak makam malam. Setelah makan malam, mereka pun duduk santai diruang keluarga. Mereka juga sedikit berbincang tentang keinginan untuk memperluas ruang musholah, serta keinginan keduam orang tua Cindy untuk kembali memperdalam ajaran agama yang telah lama di mereka tinggalkan, dan terutama, tentang hubungan Diki dan Cindy.
“Bagaimana dengan hubungan kalian berdua…”ucap Wiliam memulai pertanyaan.
“Kami sudah saling mengutarakan perasaan masing-masing Om…”ucap Diki.
“Saya sudah katakan kepada Cindy, bahwa saya tidak akan melangkah ketahap selanjutnya tampa ada restu dari Om dan Tante karena Walau bagaimanapun restu om dan tante adalah hal yang sangat penting bagi saya…”
“Om mungkin sudah tau bahwa saya tidak sederajat dengan Cindy, aku hanya bisa memberi cinta dan kebahagiaan untuk Cindy…”lanjutnya
“Itu sudah cukup bagiku…” ucap Cindy memotong pembicaraan.
“Saya sudah katakan kepadamu bahwa kebahagiaan bukan Cuma milik kita. Tapi juga milik orang disekeliling kita kan, restu orang tua contohnya. Doa kedua oarang tua kita adalah anugerah buat hubungan kita kedepannya…”ucap Diki
Cindy yang mendengar penjelasan itu begitu bangga dengan Diki. Hal yang sama juga terjadi dengan Wiliam dan Serly.
Mereka sudah sangat yakin, bahwa Diki adalah calon menantu yang mereka dambakan selama ini. Mereka yakin Diki bisa membimbing Cindy kejalan yang lebih baik.
Setelah menatap sambil menganggukkan kepala kearah istrinya. Wiliam pun menatap tajam kearah Diki.
__ADS_1
“Baik…Kami sebagai orang tuan Cindy merestui hubungan kalian…” ucap Wiliam Mantap.
“Diki, bahagiakan putriku…”lanjutnya
“DEG”
Diki kaget mendapat restu yang begitu cepat dari orang tua Cindy.
Cindy yang mendengar jawaban Papanya hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya. Sambil menangis dia berlari memeluk kedua orang tuanya.
Diki hanya bisa berterimakasih sambil mencium tangan kedua orang tua Cindy. Mereka hanya mengingatkan jangan terlalu lama pacaran. Kalo bisa mereka meminta pernikahan dilangsungkan secepatnya. Karena mereka sudah sangat merindukan seorang cucu.
Diki dan Cindy hanya bisa menunduk malu mendengar perkataan orang tua nya.
“Baik. Om…secepatnya saya akan membawa orang tua saya kemari untuk melamar Cindy…”ucap Diki
“Bagus…Om tunggu…” ucap Wiliam.
Karena waktu sudah sangat malam. Diki pamit untuk pulang. Wiliam, Serly dan Cindy mengantar kepergian Diki.
Tidak lama Wiliam dan serly masuk kembali kerumah meninggalkan Cindy dan Diki berdua depan pagar. Cindy menemani Diki menunggu taxi online.
“Terima kasih karena bang Diki mau menerima ku…” ucap Cindy
“Saya yang harus berterima kasih atas cintamu karena mau menerima keadaanku…”ucap Diki.
“Setelah menyelesaikan sedikit urusan, saya akan datang melamar kamu…”ucapa Diki
“ Urusan apa…”ucap Cindy heran.
“Suatu saat saya akan menceritakannya kepadamu…tolong beri aku waktu…” ucap Diki.
“Baik…. saya tunggu…” ucap Cindy sambil melihat mobil yang dipesan Diki sudah datang…”
“kalo begitu saya pamit pulang dulu….Assalamualaikum..” ucap Diki sambil membuka pintu mobil.
“Waalaikum Salam….Hati-hati…beritahu kalo sudah sampai rumah bang…” ucap Cindy sambil melambaikan tangan.
“Iya…” Ucap Diki singkat dan langsung meninggalkan rumah Cindy.
**********************
Jangan lupa Like, Coment dan Vote ya Readers
__ADS_1
Thorr tunggu jejak kalian......