Lelaki Pilihanku

Lelaki Pilihanku
Chapter 3


__ADS_3

Kebingungan Cindy dan mang ujang sirna karena Dadang tiba-tiba muncul disamping mereka.


“Tidak usah khawatir…Diki pasti bisa merawatnya” ucap Dadang karena tau kekawatiran mereka berdua dan tak lupa memperkenalkan diri.


“Memangnya nak Diki bisa menyembuhkan orang dengan kunci-kunci ?” ucap mang Ujang polos


“hahahahha…..mana mungkin orang bisa disembuhkan dengan kunci-kunci pak” ucap Dadang yang masih


tertawa karena pertanyaan mang ujang.


“Tapi tadi dia pergi sambil membawa alat-alatnya ?” ucap mang ujang yang masih penasaran.


Sama halnya dengan Cindy yang masih berdiri disamping mang ujang dengan pikiran kebingungan.


“Alat-alat yang dibawa Diki tadi itu bukan peralatan bengkel pak” ucap Dadang


“Lantas alat apa dong ?” ucap Cindy memberanikan bertanya


“Itu alat-alat kedokteran milik bang Diki non” ucap Dadang


“Apa…”ucap Cindy dan mang ujang bersamaan membuat Dadang kaget


“Sebenarnya bang Diki itu seorang Dokter” Ucap Dadang sambil menatap Cindy dan mang ujang bergantian.


“Apaaaaa…..”ucap Cindy dan mang ujang bersamaan lagi dengan suara yang tinggi, membuat Dadang tambah kaget lagi untuk yang kedua kalinya.


Sambil mengelus dadanya karena kaget, Dadang menyuruh keduanya untuk duduk dulu sambil berlalu untuk mengambil air minum untuk menghilangkan rasa kagetnya, sambil menyiapkan minuman untuk kedua tamunya itu.


Setelah mengantarkan minuman, Dadang permisi untuk melanjutkan perbaikan mobil sampai selesai.


karena Rasa penasaran yang begitu tinggi membuat Cindy lupa untuk kembali kekantor dan tetap menunggu sampai mobilnya selesai diperbaiki


Tak lama perbaikan pun selesai, lalu Dadang istirahat dan ikut duduk bersama Cindy dan Mang Ujang.


Sambil duduk Dadang menatap Cindy dan mang Ujang yang sepertinya masih penasaran menunggu penjelasannya.


“Sebenarnya bang Diki itu seorang Dokter yang membuka klinik disamping bengkel ini. Tadi bos Ilham minta bantuan dengan dokter Diki untuk mengecek mobil non karena bos lagi berhalangan dan teman-teman lagi keluar, tinggal kami berdua dibengkel. Karena bengkel tidak bisa ditinggal kosong maka bos minta bantuan Dokter Diki”


ucap dadang melanjutkan penjelasan


Cindy dan mang Ujang terdiam mendengar penjelasan Dadang. Dalam pikiran mereka kok ada dokter yang mau kerja sambilan jadi montir.


“tapi kok dokter Diki mau jadi montir ya ?” Ucap Cindy yang masih penasaran.


“Sebenarnya, walaupun dia seorang dokter, dia juga mengerti mesin. Makanya dokter Diki membuka bengkel ini dengan bos ilham temannya” ucap Dadang


“Jadi sebenarnya bengkel ini  milik bang Diki juga” ucap Dadang sambungnya.

__ADS_1


“Katanya membuka bengkel ini juga bagus buat lapangan kerja untuk anak-anak muda yang putus sekolah seperti saya ini. bang Diki juga yang mengajarkan kami cara memperbaiki mesin. Dibengkel ini karyawannya ada 10 orang. Semua adalah anak-anak muda yang putus sekolah seperti saya. Jika mengingat masa lalu, kami sangat


bersyukur bertemu dengan bang Diki” ucap Dadang sambil membuang nafas panjang mengingat masa lalunya.


“Selain membuka klinik dan bengkel ini apa dia juga bekerja di rumah sakit ?” ucap Cindy


“Setau saya saat ini tidak, tapi entahlah sebelumnya, karena saya baru mengenal bang Diki 5 tahun yang lalu” ucap Dadang


“Kok seorang dokter tidak kerja dirumah sakit ya…seingat saya dokter itu pekerjaan yang elit lho ?” ucap Cindy


“Apa dia pernah melakukan malpraktek  sampai tidak ingin bekerja di rumah sakit ?” ucap Cindy yang masih bingung


“Tidak non….Dokter Diki tidak pernah melakukan hal yang non sampaikan itu. Bang Diki cuma ingin membantu masyarakat yang kurang mampu. Itu yang pernah dia sampaikan ke kami” ucap Dadang


“Bang Diki bukan hanya pintar tapi juga baik non. Dia selalu membantu orang miskin yang sakit dan tidak punya biaya untuk berobat ke rumah sakit. Karena itu dia buka klinik disamping bengkel ini” ucap Dadang menjelaskan.


“Membuka klinik dan menjalankannya pasti butuh biaya besar kan ?” ucap Cindy penasaran.


“Untuk menutupi biaya operasional klinik itu, biayanya diambil dari pemasukan dari bengkel dan beberapa toko minimarket serta Donatur dan sumbangan dari masyarakat di wilayah ini non” ucap Dadang


“ohh…dia juga punya minimarket ?” ucap Cindy


“iya non…sama halnya dengan bengkel ini, minimarket juga karyawannya sama seperti saya. Malah ada juga yang sudah yatim piatu” ucap Dadang


“Lantas soal donatur dan sumbangan itu gimana ?” ucap Cindy lanjut bertanya.


“Ohh..jadi kejadian dijalan tadi itu karena mereka sudah mengenal baik dokter Diki ya” ucap mang ujang


“Kejadian yang bagaiman yang bapak maksud ?” ucap Dadang penasaran


“Tadi ada beberapa pria yang mengganggu nona majikan saya. Dokter Diki mencoba membantu tapi kewalahan. Tapi tiba-tiba ada beberapa orang yang berpakaian jas hitam datang membantu dokter Diki” ucap mang Ujang


“Ohh..jadi itu kenapa mukanya jadi merah” Ucap Dadang


“Apa orang yang membantu itu masyarakat disini juga. Soalnya mukanya menyeramkan


kaya pengawal gitu. Saya jadi takut klo mengingatnya” ucap mang Ujang


“Tidak apa-apa..bapak tidak usah khawatir soal itu” ucap Dadang walaupun tau tapi tidak ingin menjelaskan siapa mereka sebenarnya.


Cindy yang mendengan semua penjelasan Dadang tentang Dokter Diki hanya duduk diam dan melamun. Ada rasa senang dan kagum dihatinya setelang mendengar semua hal tentang Dokter Diki.


Tiba-tiba lamunannya sirna setelah mendengar suara azan berkomandang.


Dadang bangkit dari duduknya dan permisi kebelakang untuk melaksanakan sholat.


“Maaf sebelumnya …saya kebelakang dulu mau sholat. Dokter Diki kadang marah kalo tau kami terlambat sholat” ucap Dadang sambil tersenyum

__ADS_1


“Apa Non Cindy tidak lanjut kekantor ?” ucap mang Ujang bertanya.


“Apa mobilnya sudah diperbaiki ?” Ucap Cindy balik bertanya


“Sudah Non…mobilnya sudah bisa dibawa” ucap Dadang menjawab.


“Ya sudah…saya ikut mang Ujang saja dengan mobil itu” ucap Cindy sambil berdiri memanggil sopir pengganti yang menunggu diluar bengkel.


“kamu berangkat saja kekantor…saya ikut mang Ujang nanti” ucap Cindy karena masih penasaran sampai rela tidak ikut berangkat pulang kekantor.


“Baik non” ucap supir pengganti itu sambil menunduk lalu berjalan keluar dan langsung berangkat meninggalkan bengkel kembali kekantor.


“Klo begitu tunggu sebentar non…saya sholat dulu dibelakang sama Dadang” ucap mang Ujang


“Silahkan Mang, saya tunggu” ucap Cindy


“Terimakasih non” ucap mang Ujang walau mau mengingatkan Cindy soal waktu sholat tapi takut untuk bertanya.


Sambil menunggu. Cindy kembali mengingat tentang penjelasan Dadang soal Dokter Diki. Ada rasa senang dan bangga dihatinya mendengar semua hal tentang Dokter Diki. Tampa disadari dia tersenyum sendiri jika mengingat semua itu.


Tiba-tiba Cindy bangkit dari duduknya saat seseorang muncul dan mengucapkan salam


“Assalamualaiku…maaf lama menunggu ya ?” ucap Diki


“Ahh…ti..tidak lama kok” ucap Cindy gugup dan lupa menjawab salam


Cindy merasa gugup dan kikuk dihadapan Diki. Diki yang tau hal itu mencoba mencairkan suasana. Sambil tersenyum Diki izin kebelakang untuk sholat.


“Sebentar…saya sholat dulu dibelakang. Silahkan diminum minumannya” ucap Diki mencairkan suasana


“Ehhh…iya” ucap Cindy yang masih berdiri dengan gugup.


“Maaf... apa tidak ikut sholat sekalian ?” ucap Diki bertanya


“ehhh….ma..maaf saya lagi berhalangan” ucap Cindy tambah gugup karena pertanyaan Diki.


“ohh maaf..kalo begitu saya kebelakang sebentar” ucap Diki


“silahkan” ucap Cindy


Setelah Diki menghilang kebelakang, langsung saja Cindy menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Sambil menutup mukanya yang merah dengan kedua tangannya.


Untung saja dia bisa langsung menjawab pertanyaan Diki. Jika tidak mau ditaruh dimana mukanya karena sangat malu akan kebohongannya.


***************


Jangan Lupa Like, Coment dan Vote ya Readers

__ADS_1


Thorr tunggu Jejak Kalian....


__ADS_2