
Jang lupa tinggalkan jejak ya Readers
*********************
Selesai di modifikasi, Diki memberitahu gadis itu untuk melihat hasilnya. Hasil modifikasi Diki sangat memuaskan gadis itu.
Setelah membayar biaya modifikasi, gadis itu lalu menghampiri Diki.
“terimakasih bang Diki, hasilnya sangat memuaskan. Nanti saya akan promosi keteman-teman…”ucap gadis itu.
Diki terkejut mengetahui gadis itu tahu namanya.
“Maaf dari mana nona tahu nama saya…?" ucap Diki heran.
“Dari temannya tadi…”ucap gadis itu sambil menunjuk kearah Dadang.
“Dasar Dadang mulut ember…”batin Diki sambil menatap tajam kearah Dadang.
Dadang yang melihat tatapan Diki langsung memalingkan muka karena takut. Gadis itu mengerti tatapan Diki dan langsung meyodorkan tangan untuk berjabat tangan.
“Tadi kita tidak sempat berkenalan…kenalkan nama saya Sisil…”ucap gadis itu.
“Diki…”ucap Diki menyambut uluran tangan Sisil.
Tampa sepengetahuan Diki, Cindy yang mampir untuk mengajak Diki makan siang melihat Diki sedang
berjabat tangan dengan seorang gadis langsung cemburu melihat kedekatan mereka berdua. Apalagi melihat tatapan Sisil ke Diki tambah membuat dia uring-uringan karena tau arti tatapan itu. Cindy langsung mendatangi Diki yang masih berjabat tangan dengan Sisil dengan wajah cemberut.
“Bang Diki…”ucap Cindy.
Diki menoleh kearah orang yang memanggil namanya. Dia kaget akan kehadiran Cindy dibengkel. Apalagi ini masih siang hari karena biasanya Cindy datang pas sore hari sehabis pulang kantor.
“Lho..kok kamu ada disini…”ucap Diki kaget.
“Aku mau mengajak bang Diki makan siang…kenapa..apa tidak boleh…? Ucap Cindy dengan tatapan tajam ke Diki.
“Boleh kok…masa tidak boleh…” ucap Diki mencairkan suasana karena mengerti tatapan Cindy yang sedang cemburu.
“Apa pekerjaannya sudah selesai…”ucap Cindy.
“Sudah kok…ini baru saja selesai…”ucap Diki.
Melihat interaksi Diki bersama seorang gadis membual Sisil jadi penasarang dengan gadis itu. Tampa malu-malu Sisil langsung bertanya ke Diki.
“Bang Diki…kalo boleh tau ini siapa ya…”ucap Sisil
“Maaf..kenalkan ini pacarku..Cindy…”ucap Diki mengenalkan Cindy ke Sisil.
__ADS_1
“Ohh...Kenalkan saya Sisil…”ucap Sisil dengan senyum kecut menyodorkan tangannya ke Cindy.
“Cindy…”ucap Cindy berjabat tangan sambil menatap tajam Sisil.
Sisil kaget mengetahui bahwa Diki sudah mempunyai pacar, apalagi melihat tatapan Cindy, Sisil pun tahu bahwa Cindy lagi cemburu. Timbul keinginan untuk menghancurkan hubungan Cindy dengan Diki.
“Tidak ada yang boleh memiliki apa yang sudah kuinginkan…”batin Sisil.
Teman-teman Sisil bisa tertawa sembunyi-sembunyi setelah mendengar pembicarang itu, Karena mereka tau Sisil sangat tertarik dengan Diki.
Setelah berkenalan, Sisil lalu meninggalkan bengkel bersama teman-temannya. Sambil berjalan naik ke mobil, teman-teman Sisil pun menggoda.
"Saingan ya neng..."ucap temannya sambil tertawa bersama.
"Dia bukan selevel kalo mau menjadi sainganku..."ucap Sisil menutup pintu mobil
"Kita liat saja nanti siapa yang jadi pemenang mendapatkan Dokter Diki..." ucap Cindy lalu membunyikan mesin mobilnya.
Teman-temannya jadi kaget mendengar Sisil menyebut Diki sebagai Dokter.
"Ohh...jadi nama Dokter mesin itu Diki ya Sil..."ucap temannya.
"Bukan cuma Dokter mesin tapi juga Dokter penyakit..."ucap Sisil.
"Maksud kamu Dokter sungguhan Sil..."ucap temannya heran.
"Wahhh...kalo tau begini, saya juga berminat Sil..."ucap Temannya dan langsung di iyakan yang lain.
"Awas saja kalo kalian menikungku dari belakang...Dokter Diki cuma milikku seorang..."ucap Sisil dengan wajah marah menatap teman-temannya lalu meninggalkan bengkel. Teman-temannya hanya bisa tertawa mendengar perkataan Sisil.
Setelah Sisil pergi, Diki mengajak Cindy makan siang di cafe sebelah bengkel. Tidak lupa mengajak serta Dadang dan Ilham. Hanya Dadang yang ikut karena Ilham sudah janji makan siang bersama karyawan yang lain.
Maka duduklah Dadang sendiri tidak jauh dari meja makan Diki dan Cindy karena tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka.
Dengan tatapan tajam, Cindy langsung menginterogasi Diki.
“Siapa gadis tadi bang…”ucap Cindy ketus.
“Kan sudah kenalan tadi…namanya Cindy, mobil dia dimodifikasi tadi…”ucap Diki sekenanya.
“Tapi saya tidak suka tatapan matanya bang…”ucap Cindy masih kesal.
“Aku kan tidak bisa melarang orang yang mau melihat wajah abang. Lagi pula Cuma kenalan kok…”ucap Diki
“Tapi aku tidak suka abang kenal dengannya…” ucap Cindy marah karena alasan Diki.
“Jangan salahkan Wajahku. Wajahku tidak bersalah…”ucap Diki menggoda
__ADS_1
Cindy tambah marah karena ucapan Diki, Cindy langsung berdiri mau meninggalkan Diki namun tangannya langsung di pegang oleh Diki.
“Jangan marah…walau wajahku milik bersama namun hatiku Cuma milikmu seorang…”ucap Diki tambah menggoda Cindy.
“Abaaaaanggg…”ucap Cindy berteriak.
Untung café lagi tidak banyak pengunjung, namun tetap membuat Dadang kaget dan tersedak makanannya.
Dadang mengambil air minum dan langsung meminumnya. Setelah minum Dadang melirik Diki dan Cindy sambil geleng-geleng kepala.
“Begitu jadinya kalo punya wajah tampan…pusing sendiri kan…Untung wajahku tidak ganteng juga tidak jelek-jelek amat…yaa paling tidak diajak kondangan tidak malu-maluin…aman dan tentram dah…”batin Dadang lalu melanjutkan makan.
Diki hanya bisa tertawa melihat kelakuan Cindy. Sambil menarik tangan Cindy untuk duduk, dia lalu mengelus tangan Cindy.
“Jangan marah sayang..cup..cup..cup….”ucap Diki sambil mencubit wajah Cindy yang cemberut.
“Gimana tidak marah kalo jawaban abang seperti itu…yang jelas semua yang ada sama abang adalah milikku saja…”ucap Cindy yang masih cemberut.
“Iya..iya..semua milik kamu kok…saya tak akan membagi ke yang lain..Ok…”ucap Diki lalu memperlihatkan jari kelingkingnya.
“Jangan melirik dan jangan tersenyum kepada gadis lain…janji…”ucap Cindy lalu melingkarkan jari kelingkingnya ke jari Diki.
“Iya janji…”ucap Diki mencairkan suasana.
“Saya tidak ingin mengalami hal yang sama dengan apa yang terjadi kepadaku dulu…”ucap Cindy cemas.
“Percaya abang…buang jauh-jauh pikiran itu…ucap Diki mengelus kedua tangan Cindy.
“Kriukkk…”bunyi suara perut Cindy.
Diki langsung tertawa terbahak-bahak mendengar suara perut Cindy.
Cindy langsung menundukkan kepala di meja karena malu. Diki lalu mengambil sendok dan mulai menyuapi Cindy.
Cindy kaget dan senang akan perlakuan Diki dan tampa menunggu langsung membuka mulut menyambut suapan Diki. Mereka pun makan sambil sesekali saling menyuapi sampai makanan habis tampa memperdulikan tatapan pengunjung cafe.
Setelah makan siang, Cindy meninggalkan Diki untuk kembali ke kantor. Sambil berjalan beriringan kembali ke bengkel, Dadang menggoda Diki.
“Begini jadinya kalo punya wajah tampan kaya abang…lebih banyak musibah daripada berkahnya…”ucap Dadang.
“Mang kenapa kalo punya wajah tampan…”ucap Diki melirik Dadang
“Berkahnya banyak yang suka…musibahnya dicemburui noh kaya tadi…”ucap Dadang sambil tertawa
Diki langsung mengapit kepala Dadang dengan kedua tangan dan menyeret masuk ke bengkel.
********************
__ADS_1
Jangan lupa Like, Coment dan Vote ya Reader