
Tidak lama menunggu…….
Tampak tiga orang berjalan dari belakang bengkel.
Senyum terukir diwajah Cindy saat melihat wajah pria yang begitu dikaguminya.
Entah mengapa rasa gugup langsung menghampiri jika berdekatan dengan pria itu.
Cindy tak bisa mengendalikan tubuh dan pikirannya disaat pria itu berdiri dihadapannya.
“Maaf sedikit lama….kami tadi obrol sedikit di belakang” ucap Diki
“ehh..ahh..ti..tidak apa” ucap Cindy yang belum bisa sepenuhnya mengendalikan kegugupannya.
“Baik non…klo begitu saya selesaiakan administrasinya dulu” ucap mang Ujang.
“Silahkan mang” Ucap Cindy
“Dari tadi kita berbincang tapi belum kenalan” ucap Diki
“Ahhh…iya..kenalkan nama saya Cindy” ucap Cindy mengulurkan tangannya.
“Diki” ucap Diki sambil mencabat tangan Cindy.
Mang Ujang masuk keruangan bersama Dadang untuk membayar biaya perbaikan.
Di luar Cindy mencoba untuk bertanya tentang masalah klinik.
Diki agak sedikit heran dari mana Cindy tau tentang klinik sedangkan dia baru saja kenalan dengan gadis itu.
“Dari mana nona tau saya buka klinik” ucap Diki heran.
“Dari Dadang….tadi kami sedikit berbincang setelah kau pergi” ucap Cindy
“Dasar si Dadang…mulut ember” ucap Diki batinnya.
“Saya ingin bertanya tentang masalah donatur untuk klinik….gimana caranya” ucap
Cindy.
“ Tidak ribet kok…tinggal tranfer saja ke rekening milik klinik” ucap Diki
“kalo saya jadi donatur tetap di klinikmu apa kamu keberatan” ucap Cindy penuh harap.
“Mana mungkin aku keberatan…ada yang mau bantu masa mau dilarang…malah saya bersyukur nona Cindy” ucap Diki dengan senyum diwajahnya.
“Syukurlah kalo begitu dan tolong panggil Cindy saja” ucap Cindy lega.
“Kalo non...maaf Cindy memang serius mau menjadi donatur tetap, tinggal masukkan ke nomor rekening milik klinik. Punya no Tlp, nanti saya kirim nomor rekeningnya ?” ucap Diki
“Ini nomornya” ucap Cindy sambil menyodorka Hp nya
“kalo sudah tolong hubungi saya kembali” ucap Diki
“Ok” ucap Cindy dengan menunjukkan jempolnya, membuat keduanya tertawa riang.
Suasana akrab yang tiba-tiba terjalin diantara mereka harus terhenti takkala mang ujang keluar dari ruangan setelah selesai membayar biaya perbaikan.
“Sudah selesai non…kita sudah bisa berangkat” ucap man Ujang ke Cindy
“ baik mang” ucap Cindy singkat.
“Ok Dokter Diki…terimakasih semuanya” ucap Cindy sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Diki saja” ucap Diki membalas sambil tersenyum.
Cindy lalu naik kemobil diiringi mang ujang yang duduk dikursi supir. Matanya masih sempat melirik ke Diki sambil berlalu dan pergi dari bengkel dengan hati yang berbunga-bunga
Didalam mobil Cindy masih tersenyum-senyum sendiri. Mang ujang yang memperhatikan dari kaca spion pun jadi heran
Mang Ujang ingin bertanya, namun takut merusak suasana senang sang majikan.
******************
Sesampainya dikantor, Cindy langsung masuk kekantor dengan senyum yang masih terukir di wajahnya.
Semua karyawan yang berpapan dengannya menjadi heran. Karena tidak biasanya sang wakil direktur perusaaan menampilkan senyum diwajahnya.
Biasanya dia menampilkan sikap tegas dan berwibawa kepada bahannya. Rasa khawatir dan takut langsung menyelimuti hati para karyawan yang berpapasan dengannya.
Cindy acuh dengan semua tatapan para karyawan yang melihatnya.
Cindy langsung masuk ke lift khusus direktur dan naik kelantai 20 tempat ruangannya berkantor.
Sampai diruangannya Cindy langsung duduk dikursi kebesarannya sambil menatap langit-langit ruangannya.
Cindy sangat senang dengan kajadian hari ini….sambil memutar- mutar kursi, ingatannya melayan-layang mengingat wajah Diki.
Tiba-tiba lamunannya buyar karena pintu terbuka tampa diketuk terlebih dahulu.
Terlihat lelaki tua berdiri sambil bersandar dipintu sambil menyilangkan kedua tangan didadanya.
Siapa lagi kalo bukan pak Wiliam Atmaja sang Presiden Direktur sekaligus ayah Cindy.
Dengan alis yang berkerut, pak wiliam melihat anaknya dengan perasaan heran. Tatapan matanya tajam menyelidik kearan Cindy.
Cindy yang mendapat tatapan tajam dari ayahnya hanya senyum-senyum sambil menutup wajah dengan kedua tangannya sambil merebahkan kepala di pinggir meja.
“Tadi kau terlambat masuk kantor apa singgah dulu bertemu calon menantuku” ucap pak Wiliam selidik.
“ihhh….ayah kepo deh” ucap Cindy dengan wajah menggerutu.
“Lantas Kau dari mana. Kok baru jam segini tiba dikantor” ucap Pak Wiliam
“Tadi mobil sedikit bermasalah paa..jadi masuk bengkel dulu untuk perbaikan” ucap Cindy
“Lantas itu wajah kok senyum-senyum sendiri” ucap pak Wiliam selidik.
“ahh..tadi liat badut dijalan…lucu deh” ucap Cindy berbohong.
“Ohh…saya kira ada berita gembira gitu” ucap pak Wiliam.
“Berita gembira yang gimana maksud papa” ucap Cindy
“yaaaa….berita tentang calon menantuku mungkin” ucap pak Wiliam sambil mengangkat kedua bahunya lalu keluar dari ruangan Cindy sambil tertawa riang .
“ihhhh.. papa” ucap Cindi sambil menyembunyikan kedua wajah yang merah merona kaya kepiting rebus.
**********************
Sore harinya Cindy berjalan keluar dari kantor untuk pulang. Tiba-tiba Cindy berhenti dan memanggil Deni sang sekertaris
“Deni..tolong kau tranfer uang ke rekening ini 100 juta secepatnya” ucap Cindy.
“ Baik nona” ucap Deni langsung bergerak sesuai perintah atasannya
Tidak lama Deni pun datang.
__ADS_1
“gimana” ucap Cindy singkat.
“Sudah nona” ucap Deni yang masih heran dengan nama pemilik rekening.
Cindy hanya mengangguk kan kepala lalu langsung membuka pintu samping mobil dan langsung berangkat pulang kerumah.
Didalam mobil, Cindy lalu menghubungi nomor Diki untuk memberitahu soal tranferan.
“assalamualikum Cindy…apa kabar” ucap Diki
“waalaikum salam dokter Diki….saya Cuma mau menyampaikan soal transferan” ucap Cindy
“panggil bang Diki saja…lebih enak kedengarannya. Lagi pula usiamu lebih muda dari saya kan ? ucap Diki.
“Baik.. ba..bang Diki” ucap Cindy gugup.
“Informasinya lewat SMS sdh ada. Tapi apa tidak kebanyakan tuh ?” ucap Diki heran.
“Tidak kok…pake saja untuk keperluan klinik” ucap Cindy
Diki masih heran ada seorang gadis menggelontorkan uangnya tampa beban seperti Cindy
Walaupun dia tahu Cindy adalah gadis dari keluarga kaya hanya dengan melihat pakaian
yang dikenakannya saat datang ke bengkel. Pakaian branded yang hanya bisa dibeli oleh orang kaya karena harganya yang mahal.
“Ok…terimakasih ya atas kebaikan hatimu” ucap Diki
“ Uang itu sangat berguna untuk masyarakat. Apalagi pasien miskin yang membutuhkan” ucap Diki
“Sama-sama bang, saya juga bersyukur jika apa yang kulakukan bisa berguna untuk masyarakat” ucap Cindy malu karena baru kali ini dia secara pribadi memberikan sumbangan kepada masyarakat. Karena biasanya selama ini hal tersebut hanya dilakukan oleh ayah dan ibunya dengan menjadi donatur ke panti asuhan.
Sebenarnya Cindy sedikit merasa bersalah kerena melakukan semua itu hanya karena rasa kagum kepada seorang pria. Namun Cindy berfikir jika itu jalannya, maka dia hanya berdoa mudah-mudahan tuhan bisa memaafkannya.
“apa abang lagi sibuk” ucap Cindy tiba-tiba.
“iya, banyak pasien di klinik” ucap Diki
“Apa saya boleh ke klinik” ucap Cindy dengn penuh harap.
"Kenapa...kamu sakit ?" ucap Diki
"Tidak kok, Cuma Mau melihat suasana klinik saja...bolehkan ?" ucap Cindy
“bolehhh…itu klo kamu juga tidak sibuk” ucap Diki
“Tidak kok…ini juga lagi dijalan pulang kerumah” ucap Cindy akrab.
“klo begitu saya tunggu di klinik…assalamualaikum” ucap Diki. Sambil menutup panggilan tlp
“Ok…waalaikum salam” ucap Cindy sambil menoleh ke mang Ujang.
“mang kita singgah ke klinik ya” ucap Cindy
“Oh yang disamping bengkel tadi non” ucap mang Ujang
“Iya” ucap Cindy
“Baik non” ucap mang ujang sambil membelokkan mobil karena berbeda arah rumah Cindy.
******************
Jangan Lupa Like, Coment dan Vote ya Readers
__ADS_1
Thorr tunggu Jejak Kalian....