Lelaki Pilihanku

Lelaki Pilihanku
Bab 5


__ADS_3

Sepasang mata sedang menatap seorang gadis yang turun dari mobil dan langsung masuk ke klinik.


"Apa yang sedang dia lakukan di klinik ini" ucap pria paruh baya itu didalam mobil.


"Apa dia datang berobat. Jika dia sakit, seharusnya dia kerumah sakitnya saja...diakan pemilik salah satu rumah sakit terbesar dikota ini " ucap pria paruh baya itu batinnya.


"Ahhh....sepertinya hari ini saya harus Absen ke klinik" ucap pria paruh baya itu sambil menyalakan mobilnya dan langsung meninggalkan tempat itu..........


Didalam klinik,  Cindy sedikit takjub dengan suasana yang ada klinik kecil itu. Walaupun perawat hanya ada 2, tapi suasan keakraban bersama  pasien sunggung terasa....


Lamunannya sirna karena ada seorang wanita baru datang, setelah mengambil nomor antrian lalu duduk disampingnya


"Sakit apa non ? ucap wanita itu. bersikap akrab


"Saya tidak sakit bu....saya hanya berkunjung kesini" ucap Cindy.


"Oh...maaf non, saya kira non pasien disini" ucap wanita itu merasa bersalah.


"Tidak apa-apa bu" ucap Cindy


Tiba-tiba pintu ruang periksa terbuka dan terlihan seorang nenek keluar bersama Diki yang memakai baju dokternya. Cindy menatap kagum tampa berkedip kearah Diki. Diki tampak begitu gagah dengan pakaian dokternya.


Diki melayangkan pandangan pasien, Matanya menangkap seseorang yang sedang duduk tidak jauh darinya. Diki sambil tersenyum langsung mendekati Cindy yang tampak gugup karena mencuri pandang kearah Diki.


“Sudah lama menunggu” ucap Diki


“Tidak lama kok…saya baru tiba barusan” ucap Cindy bohong.


“Ayo” ucap Diki mengajak.


Diki membawa Cindy ketengan ruangan tunggu dan memperkenalkan kepada semua pasien yang ada di klinik.


“Maaf ibu-ibu bapak-bapak, kita kedatangan tamu kehormatan” ucap Diki


“Ini nona Cindy, salah satu donatur di klinik ini” ucap Diki memperkenalkan.


Cindy menundukkan kepala karena malu. Mereka langsung menghampiri untuk menyalami Cindy. Ada juga ibu-ibu yang langsung memeluk Cindy. Mendapat perlakuan hangat seperti itu tampa terasa air matanya menetes.


Dadang muncul dari belakang dan langsung melongo melihat situasi itu. Dadang kaget Cindy ada di klinik.


Setelah memperkenalkan Cindy, Diki membawa Cindy kebelakang Klinik yang ternyata sebuah rumah yang terhubung dengan bengkel di samping. Rumah itu tampak sangat tertata rapi, mencerminkan yang tinggal dirumah ini sangat suka kebersihan.


“Tunggu sebentar disini ya…saya mau merawat pasien dulu, tidak lama kok” ucap Diki sambil membawa Cindi ke ruang tamu.


“Tidak apa-apa, silahkan” ucap Cindy


Diki meninggalkan Cindy dan kembali kedepan untuk mengurus pasien.


Cindy berjalan memutari ruang tamu yang tampak rapi itu. Tidak lama kemudian  Dadang datang membawa minuman. Kemudian menaruhnya dimeja.


“Silahkan diminum non” ucap Dadang


“Terima kasih Dang….” Ucap Cindy

__ADS_1


“Sama-sama non” ucap Dadang.


“Pak Ujang dimana non ?” ucap Dadang lanjut bertanya.


“Ada didepan, tadi saya menyuruhnya sekalian masuk tapi tidak mau” ucap Cindy


“Ohh” ucap Dadang singkat.


“Dang….apa boleh saya bertanya hal yang bersifat pribadi ?” ucap Cindy memberanikan diri.


“Silahkan non” ucap Dadang.


“Yang tinggal disini siapa saja ?” ucap Cindy


“Hanya ber 2, saya dan bang Diki non” ucap Dadang tampa ragu.


“Apa bang Diki sudah berkeluarga ?” ucap Cindy penasaran


“Belum non “ ucap Dadang sambil tersenyum karena mengerti arah pembicaraan Cindy.


“Pacar ?” ucap Cindy


“Saya tidak pernah melihat bang Diki bersama wanita, apalagi membawa ke rumah ini, kalo bersama ibu-ibu sering, setiap hari malah” ucap Dadang sambil tertawa.


Cindy tertawa sambil menunduk karena wajah yang merah merona .


“Bang Diki tidak punya waktu untuk hal semacam itu non, waktunya habis untuk merawat pasien dan kami-kami ini” ucap Dadang


Tiba-tiba pembicaraan terhenti karena Diki muncul dari depan. Cindy dan Dadang langsung berdiri sambil gugup.


“Lho, kok pada diam. Tadi saya dengan dari depan kalian asik sekali berbicara” ucap Diki sambil membuka baju dokter dan menyimpannya di kursi.


“Saya kedepan dulu bang, temani mang Ujang” ucap Dadang mencairkan suasana dan langsung kedepan mencari mang Ujang, meninggalkan Diki dan Cindy berdua. Suasana tiba-tiba menjadi canggung.


“Maaf ya agak lama” ucap Diki


“Tidak apa-apa,  gimana pasiennya ?” ucap Cindy


“Pemeriksaan sudah selesai….Pasiennya sudah pada pulang” ucap Diki


“Sudah Makan belum ?” ucap Diki


“Belum…kenapa” ucap Cindy


“Saya lapar sekalian mau mengajakmu makan…itung-itung sebagai tanda terimaksih karena sudah menjadi donatur di klinik ini” ucap Diki.


"Ok...saya juga belum makan..” ucap Cindy sambil siap-siap berangkat.


Diki dan Cindy keluar  sambil mengajak Dadang dan mang Ujang yang sedang duduk depan klinik untuk makan bersama. Namun karena tidak inging mengganggu mereka kompak menolak dengan alasan masih kenyang.


Akhirnya Diki dan Cindy duduk berdua di warung pinggir jalan dekat klinik.


“Tidak apa-apa kan saya mengajakmu makan disini ?” ucap Diki khawatir.

__ADS_1


“Iya…semua makanan sama kok” ucap Cindy sambil memesan nasi campur dan sate.


“Aku takut kau tidak suka makan disini” ucap Diki juga memesan makanan yang sama.


“Kenapa mesti takut, klo sakit kan ada kamu” ucap Cindy mulai menyuap makanannya.


Diki hanya bisa memandang wajah Cindy sambil tersenyum. Mereka saling curi pandang tampa ada yang bersuara. Hanya suara bunyi sendok yang menemani mereka berdua.


Habis makan mereka kembali ke klinik dan Cindy pun pamit untuk pulang. Diki mengantar kepergian Cindy sambil menatap mobil yang membawanya hilang dari pandangan. Ada rasa kagum dan senang dihatinya. Dan tampa dia sadari Senyum mengembang di wajahnya.


Dadang yang melihat pun jadi senyum-senyum sendiri...“Gimana makan malamnya bang ?” ucap Dadang menggoda.


“Maksudmu” ucap Diki dengan tatapan tajam.


“Saya Cuma bertanya” ucap Dadang ketawa sambil lari kebelakang karena takut akan tatapan Diki.


“Dasar” ucap Diki sambil geleng-geleng kapala, lalu masuk ke klinik.


******************


Jam 9 mobil yang ditumpangi Cindy tiba dirumah. Tampak rumah megah dengan pagar menjulang tinggi bak istana. Penjaga langsung membukakan pintu pagar karena tau itu mobil majikannya.


Setelah turun dari mobil, Cindy langsung masuk kerumah dan mendapati tatapan tanda tanya kedua orang tuanya.


“Dari mana saja nak, kok baru pulang jam segini ?” ucap nyonya serly


“Tadi singgah dirumah Lili sebentar maa” ucap Cindy berbohong.


“Sudah makan belum ?” ucap nyonya Serly.


“Sudah tadi maa” ucap Cindy


“Saya kekamar dulu maa…capek dan gerah belum mandi” ucap Cindy langsung naik ke kamarnya dilantai 2 sambil senyum-senyum.


Melihat perilaku anaknya, kedua orang tua Cindy saling menatap dengan heran. Tidak biasanya Cindy telat pulang. Walaupun telat kadang Cindy memberitau sebelumnya. Tuan Wiliam langsung memanggil mang Ujang untuk ditanya.


“Mang…tadi kemana saja dengan Cindy ?” ucap Tuan Wiliam selidik


“Tadi sebelum pulang singgah di klinik dulu tuan” ucap mang Ujang takut berbohong.


“Klinik…apa Cindy sakit ?” ucap tuan Wiliam takut.


“Tidak tuan, tadi nona besar ketemu sama dokter yang bekerja di klinik itu” ucap mang Ujang


Tuan Wiliam dan nyonya Serly saling memandang heran. Tidak biasanya Cindy berbohong jika ingin bertemu seseorang. Siapa sebenarnya dokter itu. Dan apa hubungannya dengan Cindy.


Kedua orang tuanya tau Cindy sangat selektif dalam memilih teman. Karena Cindy takut, mereka hanya ingin berteman karena Cindy kaya, bukan karena ketulusan.


****************************


**Jangan lupa Like\, Coment dan Vote ya Readers **


Thorr tunggu jejak kalian......

__ADS_1


__ADS_2