
Setelah berusaha menghapus air matanya, Dhea keluar dari kamar menuju ke meja makan untuk menunggu kedua kakaknya. Ia berusaha menguatkan hati. Ia merasa sangat beruntung ibu dan kedua kakaknya begitu menyayanginya.
Dhea segera menghampiri ibunya yang sedang menyeduh teh hangat untuk anak-anaknya. Dhea mengambil alih tugas ibunya. Sari melihat Dhea, ia heran dengan mata sembab Dhea.
"Kamu habis nangis dek?"
"Tidak Bu, tadi mata Dhea gak tahu kenapa tiba-tiba perih trus Dhea kucek malah jadinya kayak orang nangis" jawab Dhea sambil tersenyum.
"Lain kali, kalau matanya perih jangan di kucek, kalau iritasi bagaimana? lebih baik cuci pakai air mengalir"
"Siap ibu"
Dhea membawa teh hangat yang di buat ke meja makan. Disana semua sudah menunggu, Ricko dan Rissa juga sudah duduk di tempat masing-masing. Dhea memberikan teh kepada ibu dan kedua kakaknya. Ricko dan Rissa memperhatikan mata sembab Dhea. Sebelum mereka berdua bertanya, Sari sudah menjawab keingintahuan kedua anaknya.
"Mata Dhea perih trus di kucek jadinya merah kayak orang nangis"
"Lain kali jangan di kucek dek" nasihat Ricko pada Dhea.
"Jangan iya aja, biasanya kamu pasti ulangi" imbuh Rissa.
"Tidak bakal di ulangi kak, orang rasanya malah gak enak mau di ulangi".
Sari mengambilkan nasi untuk ketiga anaknya. Setelah itu mereka mengambil lauk masing-masing. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar di atas meja makan.
Selesai makan dan membersihkan perlengkapan makan yang kotor, semuanya berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar berbagi cerita dan menonton televisi.
"Ibu, kak Ricko, kak Rissa, Dhea mau minta ijin?"
"Ijin untuk apa sayang?, katakan pada kami" jawab ibu sambil mengelus rambut Dhea yang berada di sampingnya.
"Bima mengajak Dhea, Sila dan Yudha buat bikin band kecil untuk mengisi acara perpisahan sekolah akhir bulan nanti, karena ini surprise jadi latihannya tidak di sekolah. Rencana latihannya bergiliran di rumah masing-masing. Dhea boleh ikut tidak?"
"Kalau ibu tidak masalah sayang, yang penting apa yang kamu lakukan itu positif dan kamu tidak boleh sampai kelelahan, tapi semua juga tergantung kakakmu Ricko, setuju atau tidak?" jawab Sari.
"Kak, bagaimana Dhea boleh tidak?".
"Kakak tidak akan melarang kamu, selama itu positif seperti yang ibu bilang, tapi jika kamu harus latihan ke rumah teman-temanmu kakak tidak setuju. Ajak mereka latihan di sini saja, kakak tidak mau kamu kenapa-napa nanti, kalau mereka mau? kalau mereka tidak mau suruh mencari penggantimu saja".
"Iya kak, Dhea besok akan bicara sama teman-teman, terima kasih ya kak". Oh iya kak, emmm....gak jadi kak".
"Ada apa? tanyakan saja".
"Kakak sudah telfon ayah untuk datang ke acara perpisahan Dhea?".
Ricko terdiam sesaat mendengar pertanyaan adiknya, ia melhat ke arah Rissa dan ibunya. Ricko menghembuskan napas perlahan untuk menjawab pertanyaan Dhea.
"Kakak sudah berusaha telfon ayah, dek. Tapi belum di angkat sama ayah, mungkin ayah sedang sibuk".
"Maafkan kakak dek, kakak harus bohong sama kamu karena kakak tidak ingin kamu sedih" guman Ricko dalam hati.
"Oh gitu kak, tidak perlu di telfon lagi kak mungkin ayah sibuk, kasihan kalau ayah harus bolak-balik. Tapi Ibu, kak Ricko, Kak Rissa harus hadir tidak boleh ada alasan. Kalau kalian tidak datang, Dhea akan marah".
"Tanpa kamu minta, kakak pasti akan datang. Kakak sudah bicara sama pemilik toko kalau akhir bulan ijin untuk menemani adik kakak yang paling cantik" jawab Rissa.
"Terima kasih kakak, Dhea sayang kalian".
"Pendaftaran di sekolah yang kamu inginkan sudah mulai buka dek. Tadi kakak sudah tanya-tanya tentang syaratnya apa saja yang harus di persiapkan. Tapi ada kuota untuk jalur prestasi hanya sedikit dek. Kamu masih mau lanjut di sana?" tanya Ricko.
"Sampai kapan kak pendaftarannya, mudah-mudahan masih keburu ya kak? kan pengumuman masih lama".
"Kalau tidak salah penutupan pendaftaran jalur prestasi itu 3 hari setelah kamu pengumuman dek, jadi waktunya tidak banyak. Tapi kamu jangan khawatir kakak sudah daftarin kamu, dari semua syaratnya sudah sebagian besar kakak bawa. Jadi kalau kamu sudah pengumuman nanti tinggal mengantarkan berkas nilai ujian kamu saja".
Dhea begitu bahagia mendengar jawaban kakaknya. Walaupun Dhea tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, tapi dia mendapatkan perhatian lebih dari kakaknya. "Terimakasih kak, kakak memang yang terbaik" jawab Dhea memeluk kakaknya sambil menangis.
"Hei, kenapa menangis? baju kakak nanti basah? kamu mau nyuciin baju kakak?" bukannya berhenti menangis tapi Dhea semakin menangis.
Ricko berkata dalam hati "Kakak akan berusaha untuk membuat kamu bahagia dek, apapun itu akan kakak lakukan kecuali berhubungan dengan laki-laki breng*** yang tidak bertanggungjawab". Ia memeluk adiknya dan mengelus rambut Dhea penuh sayang.
Rissa ikut meneteskan air mata melihat adiknya. Ia memeluk ibunya. "Kami akan berusaha membuat kamu bahagia dek, apapun itu akan kami lakukan", guman Rissa.
"Sudah cukup nangisnya, tuh lihat kak Rissa juga ikut menangis?"
"Kenapa kak Rissa ikutan menangis?"
__ADS_1
"Siapa bilang kakak menangis, kakak tadi kelilipan saja" kilah Rissa.
"Sini peluk kakak, ibu dan kak Ricko sudah kamu peluk, emang kamu tidak bahagia, kakak sudah mau ijin buat kamu?"
Dhea segera beralih memeluk kakak perempuannya, walaupun cerewet tapi dia tahu bahwa Rissa sangat menyayanginya seperti Ricko.
Mereka semua bersenda gurau saling melempar ejekan sampai jam sembilan malam. Sari meminta kepada anak-anaknya untuk segera tidur karena besok harus kembali melakukan aktivitas. Ricko, Rissa dan Dhea bergantian mencium pipi kiri dan kanan ibunya.
"Selamat malam ibu" sapa ketiganya.
"Selamat malam kesayangan ibu".
*********
Pagi ini Dhea enggan beranjak dari tempat tidur, ia masih merasa mengantuk. Kemarin malam setelah semua masuk ke kamar Dhea tidak bisa memejamkan matanya, kata-kata sang ayah saat menjawab telfon kakaknya masih teringat jelas.
"Aku tidak sudi datang dalam acara itu, katakan padanya jangan pernah mengharapkan aku datang karena aku tidak akan pernah datang, kecuali kamu mau bayar kedatanganku sepuluh juta"
"Sebenci itukan ayah sama Dhea, apakah salah jika Dhea mengharapkan ayah datang ke acara perpisahan. Dhea juga ingin seperti teman-teman yang lain yah, mereka datang bersama dengan keluarga yang utuh" isakanDhea dalam tangisan. Ia tidak ingin ibu dan kakaknya mendengar isakan Dhea.
Dhea berusaha memejamkan matanya, sekitar jam 1 dini hari ia baru bisa tidur dengan mata yang sudah membengkak.
Biasanya jam empat pagi sudah bangun, tapi karena matanya masih enggan membuka, entah karena masih ngantuk atau efek mata yang bengkak.
Setengah lima ia bangun merapikan tempat tidur dan melipat selimut. Dhea segera mengambil ikat rambut di dekat meja riasnya, ketika ia menatap cermin Dhea begitu kaget.
"Astaga, mataku kenapa bisa seperti ini. Aku harus bagaimana ini?, kalau aku keluar pasti ditertawakan".
Dhea mondar mandir di dalam kamar mencari solusi tapi tak mendapatkan. Jalan satu-satunya ia harus keluar dan meminta bantuan ibunya untuk mencari solusi. Ia mengambil kacamata hitam dan memakainya. Dhea berjalan perlahan ke dapur karena saat ini ibunya pasti sedang memasak.
Sari dan Rissa begitu kaget melihat Dhea yang memakai kaca mata hitam, tawa Rissa pecah sedangkan ibunya hanya bisa menahan ketawa.
"Ada apa sayang, kok pagi-pagi buta gini pakai kaca mata hitam?" tanya Sari dengan lembut.
"Ehm...., ehm....tapi jangan ditertawakan ya Bu?".
"Iya, ibu tidak akan tertawa, cepat buka kacamatanya?".
Dhea sudah memegang kacamatanya dan bersiap menanggalkannya, tapi ia urungkan lagi.
"Iya sayang".
Perlahan Dhea membuka kacamatanya, Rissa yang baru saja berbalik setelah mengambil kelapa untuk di parut lebih terkejut dari sebelumnya sehingga saringan parut kelapa dan kelapa yang ia pegang dalam wadah terjatuh sedangkan Sari hanya bisa menutup mulutnya karena terlalu terkejut. Mata Dhea benar-benar bengkak seperti habis di pukul orang.
"Ya ampun sayang, kenapa mata kamu bisa seperti ini?" Sari begitu khawatir melihat mata Dhea. Cepat kamu duduk di situ ibu ambilkan handuk kecil.
"Rissa tolong ibu, ambilkan air hangat taruh dalam wadah"..
Rissa begitu khawatir dengan mata Dhea, selama ini mata Dhea tidak pernah sebengkak ini ketika habis nangis. Rissa mengambil air hangat, menuangkannya ke dalam wadah, dan membawanya ke atas meja makan dekat Dhea duduk.
"Kenapa mata kamu bisa begini, dek? sakit gak?" tanya Rissa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Dhea gak apa-apa kak, jangan khawatir, cuma perih kalau dipaksa buat melihat" jawab Dhea dengan cengiran khas-nya.
Sari yang sudah membawa handuk kecil segera menuju meja makan.
"Rissa tolong ya masaknya kamu lanjutkan, ibu mau mengompres mata Dhea dulu".
"Iya Bu, Rissa akan lanjutkan".
Handuk yang di bawa Sari langsung di masukkan ke dalam wadah air hangat kemudian ia peras airnya. Setelah itu handuknya di tempelkan ke atas mata Dhea. Sekitar lima belas menit, mata Dhea sudah berangsur membaik, ia bisa membuka matanya lebih lebar. Sari mengganti air hangatnya dan kembali mengompres mata Dhea tapi ditolak.
"Biarkan Dhea sendiri ya Bu, kasihan kak Rissa tidak ada yang membantu".
"Kamu yakin bisa melakukan sendiri?"
"Iya Bu bisa, bentar lagi Dhea mau SMP, masak masih manja".
"Baiklah ibu akan membantu kakakmu, kamu kompres terus".
"Iya Bu, maaf Dhea tidak bisa membantu dan terima kasih".
Dhea mengompres matanya sendiri, ketika ia ingin memasukkan handuk ke dalam wadah, Ricko melewati meja makan untuk ke kamar mandi. Ricko begitu kaget melihat mata Dhea yang bengkak.
__ADS_1
"Mata kamu kenapa dek? ke rumah sakit saja ya?"
"Tidak apa-apa kak, mungkin karena menangis semalam. Ini juga sudah baikkan" jawab Dhea sambil senyum.
"Kak Ricko melihat ini saja sudah kaget, bagaimana tadi kalau kakak lihat waktu Dhea bangun, pasti akan syok berat" ucap Rissa sambil meletakkan masakan yang sudah matang.
"Memang tadi lebih parah?"
"Parah pake banget kak, ini sudah setengah lebih dari bengkak pertama" jawab Rissa.
Ricko menghela napas panjang, ia tahu Dhea pasti menangis lagi semalam karena tidak mungkin kalau ia tidak nangis lagi matanya bisa bengkak parah, tapi Ricko tidak tahu alasan Dhea menangis.
"Mau kakak bantu mengompres?"
"Tidak perlu kak, Dhea bisa. Kakak mandi saja sana, nanti biar bisa gantian?"
"Iya kakak mandi, kalau matanya belum pulih hari ini ijin dulu saja, nanti kakak akan ijinkan?"
"Tidak perlu kak, sebentar lagi juga sudah normal matanya".
Ricko berjalan menuju kamar mandi, Dhea masih sibuk mengompres matanya sedangkan Rissa dan Sari masih berkutat di dapur menyiapkan sarapan.
*****
Semua sudah siap di meja makan untuk sarapan bersama, mata Dhea sudah membaik sehingga dia tidak perlu ijin. Mereka makan bersama sebelum memulai aktivitas pagi.
Setengah tujuh pagi Dhea sudah siap dengan sepeda untuk berangkat ke sekolah, Ricko dan Rissa juga sudah siap dengan motor maticnya.
Mereka berangkat bersama setelah berpamitan dengan Sari. Pagi ini Dhea akan memberitahukan keputusan tentang latihan bersama Sila,Yudha dan Bima.
***
"Pagi Yud. Mana Sila?" sapa Dhea setelah memarkirkan sepedanya.
"Pagi, Dhe. Tuh anak lari ke kamar mandi, kebelet katanya".
"Oh gitu, yuk tunggu di kelas aja".
Dhea dan Yudha berjalan menuju kelas, tapi sebelum mereka sampai, Bima sudah memanggilnya.
"Dhe, Yud, pagi, mana Sila?"
"Pagi Bim, Sila masih di kamar mandi".
Terlihat Sila menghampiri mereka bertiga dan langsung ikut bergabung.
"Pagi semuanya?"
"Pagi, Sil"
"Kalian berdua sudah diberi tahu Dhea kan?, bagaimana keputusannya? dan dimana kita harus latihan?" tanya Bima semangat.
"Aku dan Sila setuju untuk ikut, untuk latihan kami juga sudah dapat ijin orang tua" jawab Yudha di angguki Sila.
"Kalau kamu Dhe?"
"Ibu sama kakak tidak masalah, tapi tempat latihan yang jadi masalah?"
"Maksudnya gimana Dhe?" tanya mereka bertiga.
"Untuk tempat latihan kalau harus ke tempat kalian kak Ricko tidak mengijinkan tapi kalau kalian mau kak Ricko minta latihannya di rumahku. Tapi Dhea tidak memaksa kalian, kalian bisa cari penyanyi yang lain" jawab Dhea.
"Ok deal, kita latihan tiap hari di rumah kamu sepulang sekolah, mulai besok siang. Bagiamana Sil, Yud, setuju tidak?"
"Aku siap, lumayan pasti kak Rissa buat kue"jawab Sila.
"Aku juga siaplah, kalau tidak nanti kue yang kak Rissa buat dihabiskan Sila" jawab Yudha sambil tertawa.
Semuanya ikut tertawa sedangkan Sila cemberut mendengar ledekan Yudha.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, comment, dan vote ya kak