Lelaki Terhebat

Lelaki Terhebat
Di hukum tapi bahagia


__ADS_3

Jam alarm telah berbunyi memecah keheningan malam di dalam sebuah kamar tapi Si empunya kamar masih saja berdamai dengan mimpi. Sepuluh menit berlalu tapi tak bisa membangunkan pemilih kamar hingga ketukan cukup keras di depan pintu kamar terdengar sehingga membuat pemilik kamar seketika membuka matanya. Nyawanya belum terkumpul sempurna sehingga ia berpikir hanya mimpi, ketukan kembali terdengar membulatkan mata pemilik kamar. Ia tersadar harus ke sekolah hari ini, segera ia turun dari ranjang dan membuka pintu.


"Baru bangun?" tanya Rissa pada Dhea. Ya benar, pemilik kamar adalah Dhea, entah apa yang terjadi jika Rissa tidak membangunkannya.


Dhea hanya menganggukkan kepala dan mengucek matanya sebagai jawaban. Sebelum Rissa berjalan sampai ke dapur, terdengar suara yang memanggilnya sehingga ia harus berhenti dan membalikkan badan.


"Makasih kak".


"Cepetan cuci muka atau mandi, siapkan semua perlengkapanmu jangan ada yang ketinggalan".


"Siap kak".


Dhea kembali masuk ke kamar, merapikan tempat tidur kemudian mengambil handuk serta baju ganti. Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


Lima belas menit ia melakukan ritual di kamar mandi. Ia segera ke dapur untuk membantu ibu serta kakaknya setelah meletakkan handuk miliknya.


"Mau ngapain?" tanya Rissa tanpa menoleh pada Dhea karena ia sedang membuat bumbu nasi goreng yang akan Dhea bawa.


"Mau bantuin kakak sama ibu, kemarin sudah tidak membantu" sendu Dhea merasa bersalah.


"Tidak usah sayang, kamu siapkan perlengkapanmu saja. Masih banyak hari untuk membantu ibu dan kakak. Saat ini kamu fokus dengan orientasi dulu" kini Sari yang memberi nasihat. Dari awal Dhea akan mengikuti orientasi yang berbeda dari sekolah yang lain, ia dan Rissa sepakat untuk pekerjaan rumah yang biasa Dhea lakukan akan mereka kerjakan berdua. Biasanya orientasi di lakukan selama tiga hari, tetapi Dhea harus menjalani orientasi selama satu minggu.


"Tapi...."


"Tidak ada tapi-tapian juga tidak ada bantahan. Ok" potong Sari sebelum Dhea melanjutkan protesnya.


Dhea mempersiapkan semua yang harus ia bawa. Semua ia cek satu per satu kemudian di masukkan ke dalam tas, setelah itu ia harus mengikat rambutnya, hari ini ia harus mengikat rambutnya sesuai jumlah huruf di namanya.


"Kemarin di cepol dua kayak bapau, sekarang harus di ikat sesuai jumlah huruf di nama. Untung aku cuma sembilan" gerutu Dhea sambil mengikat rambut di depan kaca. Ia lebih dulu mengikatnya karena itu hal yang paling lama di lakukan.


Jam sudah menunjukkan pukul 05.15, Dhea keluar dari kamar dengan rambut yang sudah diikat tapi masih menggunakan baju tidur.


"Kurang banyak dek kunciran rambutnya" ledek Ricko yang duduk menikmati kopi di meja makan.


"Pengennya Dhea ikat per 50 helai rambut kak" ucap asal Dhea yang di ledek Ricko.


"Ide bagus itu dek, kakak akan usul ke pihak panitia" tambah Ricko gak mau kalah.


"Kak Ricko menyebalkan " teriak Dhea sambil cemberut.


"Ha...ha...ha...., akhirnya sukses juga pagi-pagi bikin kamu cemberut. Cepatan bekalnya di tata, awas ntar di hukum".


"Ricko..,....! tegur Sari.


"Iya ibu, Ricko udah diam nih". Ricko menahan senyum agar tidak tertawa keras karena Sari sudah memberikan tatapan tajam.


Selesai menyiapkan bekal, Dhea kembali ke kamar untuk mengganti pakaian dan kembali lagi ke meja makan. Ia sebenarnya enggan untuk sarapan karena tidak terbiasa sarapan sendiri tapi ia tidak mau membuat ibu dan kakaknya kecewa.


---------------


Dhea turun dari motor kakaknya setelah berhenti di ujung jalan seperti kemarin. Ia berjalan perlahan setelah berpamitan kepada Ricko.


Di tengah jalan Dhea melihat seorang kakek yang menjadi petugas kebersihan di jalan tersebut sedikit kesusahan ketika mengangkat karung berisi daun kering dan sampah yang ada di sekitar jalan. Tanpa di minta Dhea segera membantu kakek tersebut, kakek itupun sedikit kaget tetapi kemudian tersenyum karena bantuan yang tidak ia duga. Dari tadi sudah banyak anak yang berjalan tapi tidak ada satupun yang mau membantunya.


"Terima kasih ya nak atas bantuannya. Kakek tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada yang membantu, tapi tangan kamu jadi kotor nak. Ini lap dulu dengan baju kakek saja ya" ucapnya seraya memberikan kaos yang masih bersih.


"Tidak apa-apa kek, nanti Dhea bisa cuci tangan di sekolah. Kaosnya di simpan saja nanti kotor kek. Masih ada yang mau di pindahkan kek?".


"Sudah tidak ada nak, ini sudah yang terakhir" jawabnya sambil tertawa.


Dhea mengeluarkan dua bungkus kue yang tadi ia bawa dari rumah dan memberikannya kepada kakek tersebut.


"Kakek sudah sarapan?".

__ADS_1


"Belum nak, ini mau pulang langsung beli sarapan".


"Ini buat kakek, buat cemilan. Dhea berangkat dulu ya kek, hati-hati di jalan".


----------------------


Dhea sudah melewati tahapan untuk bisa masuk ke dalam aula. Ia segera duduk di kursi sesuai dengan kelompoknya. Di sana sudah ada Hilda dan Mei, terlihat Mei sedang berusaha menghibur Hilda yang menundukkan wajahnya.


"Pagi Mei, Pagi Da?"


"Pagi Dhe", jawab Mei sedangkan Hilda masih diam saja.


Dhea memberikan isyarat mata pada Mei, sebenarnya apa yang terjadi dengan Hilda. Mei hanya menjawab dengan gelengan kepala, karena saat ia datang Hilda sudah ada di dalam ruangan.


Dhea mendekati Hilda, ia memegang kedua tangan Hilda untuk memberikan kepercayaan padanya.


"Hai, ada apa? bisa cerita pada kami?".


Berkali-kali Dhea berusaha untuk bertanya tapi belum ada jawaban. Sampai pada akhirnya Hilda mengangkat kepala ketika Dhea selesai berbicara.


"Kalau kamu hanya diam, tidak akan ada penyelesaian dari masalah kamu. Tapi itu juga hak kamu, mungkin aku bukan orang yang tepat untuk kamu ajak bicara" ucap Dhea pasrah karena dari tadi tidak di jawab.


"Aku tadi datang sebelum ada pemeriksaan dari senior, karena ayahku harus pergi keluar kota pagi ini".


"Trus masalahnya?" tanya Mei yang menatap serius ke Hilda.


"Karena tadi terburu-buru, rempeyek yang sudah aku siapkan jatuh dan tidak sengaja diinjak ayah, aku takut di hukum Dhe, Mei. Aku tahu aku yang tidak hati-hati tapi aku tidak mau membuat ayahku sedih, jika ia tahu aku di hukum karena kesalahannya yang tidak di sengaja" ucap Hilda jujur, dia hanya memiliki ayah di dunia ini. Ibunya sudah meninggal sejak ia kelas 5 Sekolah Dasar.


Dhea tersenyum kepada Hilda, sedangkan Mei tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak membawa lebih. Dhea membuka tas dan mengeluarkan rempeyek miliknya.


"Ini kamu simpan saja, sudah tidak boleh sedih. Kasihan ayahmu nanti kalau lihat putrinya kayak panda" ucap Dhea mengejek Hilda agar tertawa.


"Enak aja ngatain panda?"


"La iya panda kan Mei, tu tanya saja sama Mei keran airnya sudah hampir meledak, kalau sudah meledak nanti kan jadi panda".


"Trus kamu gimana Dhe, kalau ini kamu kasih ke aku" tanya Hilda tidak enak jika Dhea harus di hukum karenanya.


"Aku mah gampang, santai saja" ucap Dhea menaik turunkan alisnya.


Tanpa Hilda dan Mei ketahui, rempeyek yang Dhea bawa adalah rempeyek satu-satunya karena ia tidak membawa lebih. Dhea berpikir, hukuman bisa menyusul tapi membuat seseorang tersenyum harus segera di lakukan. Paling tidak ia sudah bisa mempersiapkan diri dari sekarang untuk menerima hukuman.


Para siswa baru sudah berada di aula bersama dengan kelompoknya masing-masing. Kegiatan hari ini di isi dengan dua materi dan tiga kegiatan di lapangan bersama dengan para senior pendamping.


Tiga jam materi pertama dan kedua sudah selesai di sampaikan para pengajar disana yang mendapatkan tugas. Jam dinding di ruangan aula sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB, itu tandanya anak-anak harus mengeluarkan bekal yang ia bawa.


Dhea mengeluarkan bekal yang ia bawa, semua bekal lengkap kecuali punya Dhea. Hilda yang melihat ia merasa tidak enak hati dan ingin mengembalikan rempeyek yang Dhea berikan, tapi Dhea menatapnya dengan tersenyum dan menggelengkan kepada sebagai tanda penolakan. Teman-teman yang lain merasa heran melihat Dhea dan Hilda sedangkan Mei hanya diam karena sudah tahu permasalahan.


"Kenapa punya Dhea tidak ada rempeyeknya, tidak mungkinkan Dhea lupa bawa. Sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan" guman Bryan dalam hati.


Kak Steven selaku wakil ketua OSIS memberikan instruksi kepada para siswa baru untuk mengecek semua bekal yang mereka bawa. "Silahkan cek bekal yang kalian bawa, jika ada yang kurang silahkan maju ke depan".


Dua siswa maju ke depan karena masih ada yang kurang, Dhea kemudian berdiri, Hilda semakin merasa bersalah. Teman-teman satu kelompok Dhea juga heran kenapa anak itu berdiri.


"Apa kesalahanmu, kenapa kamu maju" tanya Steven yang mengernyitkan dahi karena ia tahu betul tadi Dhea sudah membawa dengan lengkap.


"Maaf kak, bekal saya ada yang kurang" jawab tegas Dhea.


Edo baru saja masuk, ia kaget melihat Dhea berdiri di depan. Sedangkan teman satu kelompok Dhea menjadi semakin bingung.


"Ada apa sih, kenapa Dhea maju? tanya Ryo.


Diam tidak ada yang menjawab.

__ADS_1


"Baiklah untuk kalian bertiga silahkan lari keliling lapangan sepuluh kali" Tegas Edo. Kalian semua yang ada di sini jangan mencontoh mereka bertiga, dan kamu Dhea, kamu adalah ketua kelompok harusnya kamu memberikan contoh yang baik. Apakah kamu pantas menjadi ketua jika kamu memberikan contoh yang kurang baik" tambah Edo lagi.


Dhea diam, sedangkan di meja kelompoknya, Hilda mengatakan yang sebenarnya.


"Aku yang salah, harusnya aku yang di hukum. Rempeyek milik Dhea tadi di berikan padaku" ucapnya benar-benar merasa bersalah.


Mei berusaha menenangkan Hilda "Sudah, Da. Kamu tahu kan tadi Dhea jawab apa. Kamu jangan merasa bersalah. Kita adalah satu kelompok Dhea melakukan itu karena dia sayang sama kita".


Frans menatap Mei meminta penjelasan " Punya Hilda jatuh gak sengaja di injak ayahnya tadi, Ia tidak mau melihat ayahnya bersedih kalau Hilda di hukum karena kesalahannya. Oleh sebab itu punya Dhea di kasih ke Hilda.


Di depan Dhea masih di cerca dengan kata-kata yang membuat telinganya panas dan mungkin bisa menangis.


"Untung tadi aku sudah menyiapkan hati untuk dimarahi. Itu mulut atau cabe sih kok pedas sekali, mengalahkan cabe setan" guman Dhea dalam hati.


Bryan, Frans dan Mei saling memandang dan tersenyum, sepertinya pemikirannya sama. Mereka bertiga segera mengambil rempeyek dan mengambil satu kacang yang harusnya berisi 10. Teman-teman yang lain melakukan hal yang sama, karena mereka paham. Hilda yang tadi sedih sekarang tersenyum kenapa ide seperti itu tidak dari tadi.


Bryan, Frans dan Mei maju ke depan sesaat setelah Dhea keluar. "Kenapa kalian bertiga" tanya Edo.


"Maaf kak, bekal kami ada yang kurang karena kurang teliti mengecek" jawab Bryan.


Belum sempat Edo bertanya kembali, sepuluh teman yang ada di belakang ikut berbaris menyesuaikan barisan Bryan dan yang lain. Kini hanya meja dan kursi yang tersisa di kelompok dua. Tidak ada penghuninya sama sekali.


"Kalian juga sama" tanya Steven.


"Iya kak, bekal kami ada yang kurang".


"Roy, apa kekurangan bekal kamu?" tanya Edo karena ia yakin Roy hanya ikut-ikutan temannya.


Roy yang kemarin begitu takut dengan Edo, hari ini entah mendapat keberanian dari mana bisa menjawab pertanyaan Edo dengan santai bahkan terkesan bercanda.


"Rempeyek aku kacangnya sudah tidak setia kak, ada yang sudah melarikan diri". Sontak jawaban yang Roy berikan membuat heboh seisi ruang aula.


"Kalian bisa diam tidak, atau kalian semua mau saya hukum" teriak Steven yang sebenarnya juga ingin tertawa.


Dhea yang berlari satu putaran merasa heran kenapa yang di dalam aula pada tertawa. Ia tidak tahu kalau teman satu kelompoknya juga menunggu untuk di hukum.


Edo dan Steven memberikan hukuman seperti Dhea dan dua anak yang lain "Karena kesalahan kalian semua, silahkan lari keliling lapangan sepuluh kali".


" Siap kak, Yessssss" jawab mereka serentak.


Mereka segera berlari mengejar Dhea yang sudah menyelesaikan satu putaran.


"Kenapa kalian semua keluar dan ikutan lari" tanya Dhea.


" Kita kan satu kelompok, susah senang di jalani bersama. Iya tidak teman-teman" Jawab Frans.


"Yoiiii" jawab mereka serentak.


Di dalam ruang aula, Steven dan Edo serta teman-teman yang lain merasa ada sesuatu yang mencurigakan sepertinya mereka sengaja untuk minta di hukum.


"Eh, aku heran sama mereka. Tadi aku cek satu persatu bekal mereka komplit kok tidak ada yang kurang sama sekali" ucap Sinta.


"Kamu saja kaget, apalagi aku. Mereka yang aku dampingi, aku sudah mencatat semua perlengkapan yang mereka bawa dan tidak ada yang kurang, kecuali ada satu anak karena tadi datang duluan dan sudah ijin jadi tidak aku cek" jawab Edo.


"Eh beneran Lo, ada yang kacangnya hilang entah kemana, ada yang tidak bawa, ada yang tempenya tinggal satu rasa".


"Ada apa ini, kenapa meja kelompok dua kosong?" tanya Mr Danu yang tiba-tiba masuk ke dalam aula.


.


.


.

__ADS_1


**Di tunggu like command dan Votenya kak


Terimakasih**


__ADS_2