Lelaki Terhebat

Lelaki Terhebat
Di hukum tapi bahagia (2)


__ADS_3

"Ada apa ini, kenapa meja kelompok dua kosong?" tanya Mr Danu yang tiba-tiba masuk ke dalam aula.


Edo, Steven, Sinta menoleh ke sumber suara yang kini berjalan mendekati mereka. "Edo, Bisa jelaskan alasannya?" ulang Mr Danu.


"Anak-anak kelompok dua semuanya melanggar aturan dengan tidak melengkapi bekal sesuai dengan instruksi Mr."


"Semuanya??"


"Iya Mr, kami bertiga juga heran mereka bisa melanggar bersama-sama, kami merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Mr karena saya sendiri sebagai senior pendamping sudah mengecek dan membuat catatan yang mereka bawa".


"Cari tahu, ingat sekolah ini tidak akan mentolerir sesuatu yang tidak baik dan sengaja dilakukan, mengerti......!!!.


"Siap Mr".


Mr Danu kembali berucap sebelum meninggalkan aula, "ketua kelompoknya suruh menghadap saya nanti. Awasi mereka".


Dhea dan teman-temannya masih berlari di bawah terik matahari yang begitu menyengat. Mereka terlihat mengobrol dan tertawa di sepanjang lapangan.


"Kalian capek tidak, kalau capek pelan-pelan saja jangan di paksakan" tanya Dhea.


"Kita masih semangat Dhe, ini justru sangat menyenangkan. Kita pasti akan mengingat moment ini ketika sudah tua" Jawab Bayu.


Tanpa mereka ketahui, di sebuah sudut ruangan ada seorang pemuda yang mengawasi mereka lebih tepatnya mengawasi Dhea.


"Gadis yang unik, manis, penuh kejutan. Aku harus tahu siapa namanya?" gumannya mengarahkan kamera ke arah Dhea.


Dhea sudah menyelesaikan hukumannya, ia menuju ke arah Edo yang mengawasi.


"Saya sudah menyelesaikan hukuman kak".


"Istirahatlah, kakinya di luruskan sambil menunggu teman yang lain".


Lima menit teman-teman yang lain segera menuju ke arah Dhea dan Edo. Mereka melaporkan seperti yang Dhea ucapkan.


" Hukuman kalian masih belum selesai. Masih ada satu hukuman lagi". Frans dan Ardi ambil semua bekal teman kalian bawa ke sini.


Frans dan Ardi mengambil semua bekal yang ada di atas meja ke tempat mereka duduk setelah berlari keliling lapangan.


"Kak Edo, ini semua bekal yang ada di meja" ucap frans meletakkan beberapa kantong plastik di depan Edo.


"Hukuman kedua yang harus kalian jalani, kalian harus makan bekal kalian di halaman ini sampai habis, tidak ada nasi atau apapun yang tersisa. Satu lagi Dhea, selesai makan temui kakak".


Tanpa banyak bicara mereka mengeluarkan bekal masing-masing.


"Dhe, maaf ya gara-gara aku kamu jadi kena hukum" ucap Hilda.


" Apa-an sih, tidak ada yang salah. Aku sendiri yang mau. Kamu jangan pikirkan. Toh ini menyenangkan, kapan lagi siang-siang berlari di lapangan" jawab Dhea tertawa.


"Benar itu Dhe, baru kali ini aku di hukum tapi malah bahagia" Ryo menimpali ucapan Dhea.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita jadikan satu semua makanan. Kalau sendiri-sendiri tidak seru. Kita anggap ini sedang tamasya" Bayu memberikan usul.


"Lanjuutt" jawab mereka serempak.


Mereka saling mendekatkan bungkus nasi punya masing-masing dan meletakan nasi di tengah-tengah, di lanjutkan dengan lauk yang sudah di bawa. Merek makan sambil tertawa, hawa panas serta keringat di badan tidak mereka hiraukan.


"Lihat tuh, anak buahmu. Gokil habis mereka, dihukum tapi malah ketawa seperti itu" ucap Steven pada Edo.


"Aku juga heran sama mereka semua, apalagi dengan Ryo. Kamu tahu sendiri bagaimana Ryo, aku pelototin saja sudah takut".


"Semua atau itu ituh....."ledek Steven. Karena dari tadi Edo mencuri pandang untuk memperhatikan Dhea.


"Itu siapa? Ryo?".


"Sebelahnya, kamu tidak perlu malu, dari awal masuk sudah aku perhatikan sikap kamu".


"Sudahlah tidak perlu asal bicara kamu ya, sok tahu kamu".


"Ya sudah kalau kamu tidak mau, biar aku deketin saja".


"Steven, jangan macam-macam kamu atau kamu akan berurusan dengan ku".


Steven tertawa mendengar jawaban Edo, secara tidak langsung Edo sudah mengakuinya.


"Santai bro, aku juga tidak mau ngambil gebetan teman. Kamu harus berjuang keras, banyak yang suka tuh anak".


"Nanti kamu handel kegiatan di dalam aula, aku akan ngantar Dhea ke ruangan Mr Danu. Minta bantuan anak-anak untuk menanyakan alasan mereka bisa melakukan kesalahan yang sama".


___________________


Edo memikirkan semua ucapan Steven, ia tersenyum mengingat apa yang dikatakan sahabatnya tidak semuanya salah. Dhea telah sedikit banyak mencuri perhatiannya.


"Permisi kak, Dhea sudah selesai makan. Ada apa lagi kak?.


"Kak?"


"Kak?"


"Ya ampun, perlu di bawa ke dokter THT nih kakak kelas, dari tadi memanggil tidak di jawab" batin Dhea. "Awas saja ya".


"Kaaak, Edo" ucap Dhea sedikit keras mengagetkan Edo membuatnya tersadar dari lamunan.


"Apa? Bisa tidak bicaranya tidak pake ngegas" ucap Edo dingin.


"Maaf kak, dari tadi Dhea tanya tapi kak Edo tidak menanggapi. Ya Dhea keraskan suaranya. Kak Edo tadi menyuruh saya nemuin kakak, ada apa kak?".


"Ikut saya dan tidak perlu banyak tanya" ucapnya ketus.


Dhea berjalan di belakang Edo menuju ruangan Mr Danu. Mereka sampai di depan ruangan yang bertuliskan Ruang BK. Dhea mengernyitkan dahinya. "Hah, ruang BK. Baru masuk dua hari sudah di bawa ke ruang BK. Kak Ricko, Dhea takut" batin Dhea ingin menangis.

__ADS_1


Edo mengetuk pintu, sebelum masuk ke dalam ruangan. Tidak berapa lama, terdengar dari dalam menyuruhnya masuk.


Tok...tok...tok...


"Masuk".


"Selamat siang Mr Danu, ini ketua kelompok dua yang tadi di hukum".


"Selamat siang, silahkan duduk". Mr Danu baru tahu kalau ketua kelompok dua adalah seorang perempuan.


"Siapa namamu, kamu tahu kan alasan kamu di panggil ke sini" tanya Mr Danu langsung kepada Dhea.


"Saya Dhea Mentari Putri, Mr Danu. Maaf saya belum tahu Mr apa kesalahan saya".


"Info yang saya dapat, kamu sudah membawa semua perlengkapan dan bekal dengan lengkap dan tadi kenapa kamu bilang bekal kamu ada yang kurang. Anggota kelompok kamu 14 anak termasuk kamu kan. Satu lagi, hanya satu orang yang tidak di cek perlengkapannya". Apa itu benar?


"Iya Mr, semua itu benar" jawab Dhea karena ia tidak mungkin berbohong.


"Lalu, apa alasan kamu?. Kesalahan kamu dengan menutupi kesalahan orang lain bisa merugikan kamu sendiri, dan sekolah tidak akan bisa mentolerir itu semua".


"Maaf Mr Danu, saya paham maksud Mr Danu. Saya akan menjawab alasan sebenarnya kenapa saya melakukan ini semua. Yang pertama saya adalah ketua kelompok, sebisa mungkin saya harus memberikan rasa aman kepada kelompok saya dan berusaha untuk membantu mereka, karena mereka sudah percaya dengan saya. Yang kedua saya tidak ingin melihat orang lain kecewa dan merasa bersalah terhadap ketidaksengajaan yang di lakukan" jawab Dhea dengan lancar tanpa ada yang ditambahi atau di kurangi. Memang itu kenyataannya.


"Kecewa dan merasa bersalah? Siapa?".


"Ayah Hilda Mr. Bekal yang Hilda bawa sudah lengkap tapi karena ketidaksengajaan ayahnya ketika memarkirkan kendaraan sehingga ke injak oleh ayahnya, Hilda tidak ingin melihat ayahnya kecewa, karena ayahnya pasti akan merasa bersalah". Itu alasan saya Mr, saya akui saya salah dan saya siap dengan segala konsekuensinya".


"Kenapa semua teman kamu ikutan di hukum?".


"Saya kurang tahu alasan dan kesalahan mereka apa Mr, karena saya sudah berada di lapangan".


Mr Danu melihat ke arah Edo untuk mencari kebenarannya.


"Benar Mr, teman-teman kelompoknya maju ke depan ketika Dhea sudah keluar untuk menjalankan hukuman.


"Lalu untuk teman yang lain?"


"Untuk teman-temannya yang lain, baru saja saya mendapat info bahwa mereka melakukan itu semua atas kemauan sendiri tidak ada yang mengajak, mereka beranggapan susah dan senang masing-masing anggota kelompok harus di hadapi bersama".


"Setia kawan itu alasan mereka. Baiklah, silahkan kembali mengikuti kegiatan. Saya belum bisa memberikan keputusan. Untuk kamu Dhea, jangan mengulangi lagi. Mengerti?".


"Siap mengerti Mr".


"Kami pamit Mr, terima kasih" ucap keduanya.


.


.


.

__ADS_1


Apa kabar semua? Semoga masih kuat ya puasanya, sebentar lagi kita akan sama-sama menyongsong Hari Kemenangan. Untuk kamu yang #TakPulangUntukMenang dan masih berjuang setiap hari, semangat ya! Hati-hati dan tetap jaga kesehatan.


Jangan lupa like command dan Votenya


__ADS_2