Lelaki Terhebat

Lelaki Terhebat
Penasaran yang terbayarkan


__ADS_3

Dhea segera membawa bolpen dan kertas yang diminta oleh Ricko.


"Ini bolpen sama kertasnya kak"


Ricko yang melihat Dhea menjadi heran, kenapa muka Dhea seperti orang ketakutan trus kotaknya kok tidak di bawa. Apa Dhea tidak melihat kotaknya?" guman Ricko dalam hati.


"Kak Ricko, ini kertasnya, tadi minta kertas tapi sekarang melamun. Awas nanti kesambet kalau malam-malam melamun" ucap Dhea membuyarkan lamunan Ricko.


"Enak aja, siapa juga yang melamun. Terimakasih ya dek, tapi kenapa tuh muka kok kayak gitu? kayak habis lihat hantu saja"


Dhea yang sudah kembali berbaring di paha ibunya kemudian bangun dan duduk bersandar setelah mendengar ucapan mungkin ada setan atau tuyul yang menjatuhkan barangnya ya? tapi kenapa harus di kamar Dhea? Dhea takut?".


"Apa kak Ricko atau ibu yang masuk kamar Dhea dan menaruh barang itu?" Dhea beneran ketakutan saat cerita. Ia mengeratkan pegangan tangan ke lengan ibunya.


Ricko dan Rissa yang sudah tahu tentang kotak itu hanya bisa menahan tertawa sambil memainkan mata satu sama lain sedangkan Sari yang benar-benar tidak tahu menahu soal kotak itu menanggapi pertanyaan Dhea dengan serius.


"Ibu tidak sama sekali masuk ke kamar kamu nak, memang kotaknya besar atau kecil? apa memang rumah ini sudah angker ya. Ibu kok jadi merinding kayak gini".


"Tidak terlalu besar juga tidak kecil Bu. Dhea takut Bu. Nanti Dhea tidur di kamar ibu saja ya. Nanti kalau setan atau tuyulnya malam-malam waktu Dhea tidur mengambil itu barang Dhea kan takut"


Hening beberapa saat dengan pikiran masing-masing. "Apa kak Ricko tadi masuk kamar Dhea?" tanya Dhea kembali.


"Tadi kakak masuk kamar kamu ya buat membangunkan kamu saja, setelah itu gak masuk kamar kamu lagi?".


Tiba-tiba terdengar suara seperti barang jatuh tepat di kamar Dhea. Semua mendengar, Dhea semakin menempelkan badannya ke dalam pelukan ibunya. Ia semakin takut dengan pemikiran sendiri.


Ricko dan Rissa yang sudah tidak bisa menahan tawanya kini sudah tertawa dengan memegangi perut masing-masing ketika melihat wajah ketakutan adiknya.


Sari dan Dhea saling pandang melihat Ricko dan Rissa tertawa.


"Bu, apa kakak kesurupan? kok tertawa kayak gitu. Dhea takut Bu" ucap Dhea dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Ricko dan Rissa bukannya berhenti tapi semakin keras tertawanya. Akhirnya karena tidak tega melihat Dhea yang hampir menangis, Ricko berusaha menahan tawanya.


"Kamu itu dek ada-ada saja. Jaman sekarang mana ada tuyul atau hantu, apalagi menjatuhkan barangnya. Ambil sana kotaknya, itu tadi dari kakak".

__ADS_1


"Katanya tadi kak Ricko gak masuk kamar Dhea. Kak Ricko bohong ya. Menyebalkan banget sih, pasti sengaja ngerjain Dhea".


"Kakak tidak bohong dek, tadi memang kakak masuk kamar kamu waktu bangunin kamu saja kok. Sumpah" jawab Ricko yang membuat Dhea tersenyum.


"Trus siapa yang menaruh kalau bukan kakak?"


"Kakak yang menaruh ke kamar kamu buat kejutan eh malah dikira setan" jawab Rissa.


"Tadi katanya tidak?"


"Kamu kan tadi tanya sama ibu dan kak Ricko, kamu tidak tanya sama kakak. Udah sana ambil itu kotak, bawa sini kalau ingin tahu isinya apa?" jawab Rissa.


Dhea-pun beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar dengan cemberut.


"Kalian berdua, bikin ibu dan Dhea jantungan saja. Kasihan adek kalian sudah mau nangis" omel Sari pada dua anaknya setalah Dhea berjalan ke kamarnya.


Dhea berjalan ke arah ruang keluarga membawa kotak yang tadi di maksud.


"Nih kotaknya" ucap Dhea cetus.


"Awas ya kalau kak Ricko dan kak Rissa ngerjain Dhea lagi. Dhea bakalan ngambek dan marah yang lama sama kalian berdua".


"Mau ngambek kok ngomong dulu dek"


Dhea tidak menjawab ucapan Ricko. Ia langsung membuka kotak yang diberikan oleh kedua kakaknya. Perlahan Dhea membuka kotaknya tapi ternyata masih ada kotak lagi di dalamnya. Dhea sudah semakin cemberut. Dia masih membuka kotaknya lagi, tapi masih ada kertas yang harus ia buka.


"Niat mau memberi tidak sih? semangat amat membungkusnya sampai berlapis-lapis kayak iklan aja berapa lapis ratusan" ucap Dhea sewot.


Sari, Ricko dan Rissa hanya bisa tertawa. Adiknya memang benar-benar lucu. Bungkus terakhir sudah Dhea buka. Awalnya Dhea tidak menyangka kalau isinya akan sama dengan gambar di kotaknya. Ia berpikir kalau kakaknya akan ngerjain dia lagi. Tapi setelah di buka, Dhea begitu syok melihat isinya. Ia segera berdiri dan memeluk Ricko dan Rissa bergantian.


"Terima kasih kak Ricko, kak Rissa. Pasti ini harganya mahal" ucap Dhea sambil menangis.


"Ini tidak mahal untuk adik kesayangan kakak" ucap. Ricko.


"Kamu suka tidak?" tanya Rissa.

__ADS_1


"Suka kak, terima kasih".


" Kalau suka, tidak boleh nangis, senyum dong. Adik kakak yang cantik tidak boleh menangis. Sekarang kamu cas dulu sebelum di pakai, disana sudah ada kartu simnya".


Dhea mengangguk dan berjalan ke arah kamar untuk mencas Handphone baru hadiah dari kakaknya.


"Apa itu tidak terlalu berlebihan?" tanya ibu.


"Tidak ada yang berlebihan Bu, itu sudah kak Ricko dan Rissa siapkan dari awal setelah Dhea bilang mau sekolah di Mutiara Bunda" jawab Rissa pada ibunya.


"Ricko juga sudah cari informasi mengenai sekolah yang Dhea inginkan, disana pembelajarannya banyak menggunakan handphone Bu. Ricko dan Rissa juga tidak sering memberikan hadiah mahal untuk Dhea. Bahkan Dhea jarang meminta sesuatu".


"Jadi Ricko dan Rissa sengaja mencarikan kado untuk Dhea Bu".


"Kalian memang anak ibu yang paling baik dan mengerti, harusnya ini menjadi urusan ay...."


"Sudah Bu, tidak perli menyebut nama orang itu lagi. Selama ini kita juga bisa hidup tanpa meminta sepeserpun darinya" ucap Ricko memotong jawaban Sari.


Ricko tidak suka jika nama ayahnya disebut karena bukan bahagia yang di rasakan tapi justru sebaliknya. Ricko tidak mau melihat orang yang ia sayangi menderita. Sari paham kalau Ricko sudah sangat kecewa dengan ayahnya. Ia segera memeluk Ricko dan Rissa yang ada di samping kanan dan kirinya. Dhea yang berjalan dari kamar menuju ruang keluarga segera menghampiri kedua kakak dan ibunya, ia kemudian meletakkan kepalanya di atas pangkuan ibunya.


"Tuhan, dibalik rasa sakit yang aku rasakan selama ini, engkau hadirkan malaikat di tengah hidupku. Merekalah penguatku. Ijinkan mereka selalu bahagia Tuhan, jangan biarkan ada kesedihan di hati mereka" guman Sari dalam hatinya.


.


.


.


Ternyata Dhea mendapat hadiah Handphone dari kakaknya.


Amplop Misteriusnya belum kebuka, kira kira apa ya?


.


Like, command dan vote yang banyak ya kak

__ADS_1


__ADS_2