
Dhea beserta teman-temannya terus berlatih untuk mempersiapkan diri dalam acara perpisahan sekolah. Hari ini adalah hari terakhir sebelum acara puncak besok. Anak-anak sudah bersiap untuk gladi bersih di bantu dengan Bu Wahyu. Semua anak siap dengan posisi masing-masing. Kurang lebih satu setengah jam mereka melakukan gladi bersih, semua merasa puas dengan hasil latihan selama ini.
"Anak-anak terimabkasih untuk kerjasamanya semoga besok kita dapat menampilkan dengan baik, tetap semangat" ucap Bu Wahyu.
"Sama-sama Bu, saya mewakili teman-teman mengucapkan terima kasih karena ibu sudah bersedia meluangkan waktu membimbing kami" ucap Bima mewakili teman-temannya.
"Hanya ini yang bisa ibu lakukan sebelum kalian melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi".
"Hari ini cukup sampai disini gladi bersih kita, karena setelah ini akan ada rapat membahas kelulusan kalian. jangan lupa besok yang laki-laki memakai setelan jas atau batik, bawahan berbahan kain, tidak ada yang memakai sandal. Untuk yang perempuan harus memakai kebaya, dengan rambut diikat rapi tidak ada yang di gerai, mengerti"
"Siap, mengerti Bu" jawab mereka serempak.
Semua anak membubarkan diri setelah sebelumnya berdoa dan berpamitan kepada Bu Wahyu. Mereka pulang ke rumah masing-masing, tapi untuk Bima, Sila dan Yudha mereka menuju rumah Dhea untuk berlatih kembali seperti hari-hari sebelumnya. Mereka seharusnya berlatih dua jam setelah pulang sekolah, tetapi selalu saja mereka akan betah di sana sampai empat jam lebih. Sari ibunda Dhea selalu menyediakan makanan dan minuman untuk mereka, bahkan Rissa menyempatkan diri untuk membuat kue setelah pulang kerja. Pada awalnya mereka merasa sungkan tetapi selanjutkan sudah tidak punya malu lagi.
flashback on
"Ayo semua masuk, kita latihan di ruang tamu saja ya" ajak Dhea pada Bima, Sila dan Yudha.
"Iya, kita latihan disini saja. Tapi gak apa-apa kan Dhe kalau kita bikin berisik" tanya Bima yang baru pertama kali main ke rumah.
"Tidak apa-apa, santai aja Bim. Tanya saja pada Yudha sama Sila, mereka lumayan sering main ke sini" jawab Dhea sambil berjalan menuju dapur.
Ketika mereka sedang asyik mengobrol sambil beristirahat, Ricko datang menuju ruang tamu. Semua memberi salam, karena Ricko sudah kenal dengan Sila dan Yudha ia tidak perlu memperkenalkan diri. Bima bersalaman dan memperkenalkan diri pada Ricko.
"Siang kak, saya Bima".
"Oh, kamu yang namanya Bima?" jawab Ricko sambil memperhatikan Bima.
"Iya kak, apa ada yang salah?"
"Tidak ada, ya sudah kalian istirahat dulu sambil menunggu minuman datang, dan lagi tidak perlu sungkan anggap saja rumah sendiri".
"Wajah kamu tidak perlu tegang kayak gitu Bim, saya tidak akan memakanmu", ucap Ricko menepuk bahu Bima sebelum meninggalkan ruang tamu.
"Selamat, selamat" ucap Bima mengelus dadanya setelah Ricko pergi.
Yudha dan Sila yang memperhatikan tingkah Bima kompak tertawa, mereka merasa lucu dengan wajah Bima yang tegang karena di kerjai oleh Ricko. Padahal dulu mereka juga sama. Dhea yang berjalan membawa minuman, cemilan dan kue yang di atas nampan melihat dengan heran kedua temannya yang masih tertawa.
"Kenapa kalian tertawa seperti itu, apa ada yang terlewatkan?".
Bima hanya mengangkat bahu tak mengerti apa yang mereka tertawakan. Yudha berusaha menghentikan tawanya.
"Itu Dhe, tadi wajah Bima lucu sekali saat di kerjai kak Ricko" jawab Yudha yang di angguki Sila.
Bima sedikit cemberut karena dari tadi Sila dan Yudha menertawakannya. Ya memang ia akui sih, kalau ia takut kak Ricko tidak suka dan marah padanya.
" Sudah jangan di ambil hati sikap mereka, kalau untuk kak Ricko memang orangnya kadang usil" ucap Dhea menasehati Bima
"Ayo, ini minuman dan cemilannya di ambil. Ini kue yang buat kak Rissa".
"Asyik, akhirnya bisa makan kue buatan kan Rissa lagi" ucap Yudha.
"Kalau tiap latihan di suguhi kue buatan kan Rissa mau tiga bulan latihan disini terus aku sih Yessss" ucap Sila.
"Itu mah maunya kamu saja, Sil" ejek Yudha.
"Memang kamu tidak mau dodol" balas Sila.
"Ya mau banget lah, siapa juga yang bisa nolak kue buatan kak Rissa".
Mereka semua makan dan minum sambil tertawa. Setelah itu mereka bersiap untuk berlatih. Mereka akan menyanyikan tiga lagu yaitu terima kasihku, semua tentang kita dan kepompong.
Sekitar jam 3 sore mereka memutuskan untuk berhenti dan di lanjutkan esok hari.
Semua yang dihidangkan oleh ibunda Dhea habis tanpa sisa bahkan mereka mulai berani untuk nambah setelah latihan berjalan seminggu, berbeda saat pertama kali datang.
Keluarga Dhea tidak mempermasalahkan itu semua, justru mereka sangat senang dengan kehadiran teman-teman Dhea ke rumah. Tidak jarang Ricko juga ikut memberikan arahan ketika latihan.
Flashback off
Semua sudah sampai di rumah Dhea, tidak seperti biasa mereka akan bersenda gurau terlebih dahulu tapi kini mereka segera latihan. Mereka menyusun kata-kata yang akan di ucapkan sebelum menyanyikan lagu-lagu yang sudah mereka pilih. Satu setengah jam akhirnya mereka selesai dan terdengar suara tepukan tangan dari arah belakang. Ternyata Ricko dari tadi memperhatikan mereka semua, bahkan ia ikut tersenyum ketika mereka sedang memperdebatkan masalah kata yang akan di ucapkan. Ricko ingin membantu tapi ia urungkan, ia berpikir untuk membiarkan mereka berimajinasi sendiri. Semua menoleh ke arah suara tepukan tangan.
"Kak Ricko" ucap mereka berempat serentak.
Ricko menghampiri semuanya, ia memeluk adiknya sambil mengacak rambut panjang Dhea.
"Ternyata adik kakak pintar juga menyanyi, kakak kira cuma asal nyanyi" ledek Ricko.
"Apa-an sih kak, kalau tidak di paksa Bima, Dhea juga tidak mau"
"Jadi yang bagus cuma Dhea saja kak?" tanya Sila pura pura cemberut.
"Semuanya hebat, Sila, Yudha dan Bima adalah anak-anak yang hebat dan kreatif, kakak yakin besok pasti akan mendapat sambutan yang luar biasa".
"Terima kasih kak, kami mohon maaf jika selama latihan di sini sudah merepotkan kakak sekeluarga" ucap Bima.
"Tidak ada yang direpotkan disini nak, justru kami senang kalian latihan disini, rumah tidak sepi" ucap ibu yang datang dari dapur.
__ADS_1
"Tuh, udah di jawab sama ibu, jangan kapok main ke sini. Kapanpun kalian mau, kalian boleh kesini".
"Iya kak, kami akan sering maen kesini, apalagi kalau di kasih kue buatan kak Rissa tidak akan menolak" ucap Sila sambil tertawa.
"Kami pamit dulu ya kak, terima kasih untuk semuanya" giliran Yudha berbicara.
Mereka berpamitan kepada Ricko, ibunya dan Dhea. Hari ini mereka pulang naik mobil Bima, karena tadi mereka berempat pulang bersama naik mobil Bima.
"Nak Ricko, Bu Sari, saya pamit pulang dulu. Terima kasih sudah menerima anak saya berlatih disini. Mohon maaf jika anak saya merepotkan" sapa pak Ilham ayah Bima sebelum masuk ke dalam mobil.
"Sama-sama pak, tidak ada yang di repotkan. Hati-hati di jalan pak" ucap Ricko.
Mobil yang di kendarai pak Ilham perlahan meninggalkan halaman rumah Dhea.
*****
Jam dinding menunjukkan jam setengah empat pagi, tapi kehebohan sudah terjadi di rumah Dhea. Sari sudah berada di dapur tiga puluh menit yang lalu. Hari ini ia memasak masakan yang mudah. Rissa juga terlihat sedang membolak-balikkan ayam ke dalam tepung sebelum di goreng. Ricko sudah bangun dan membantu membersihkan rumah sedangkan Dhea masih berdamai dengan mimpi indahnya tanpa terusik dengan suara gaduh di dapur.
"Apa adikmu belum bangun, ibu belum melihatnya nak?"
"Kayaknya Dhea masih molor Bu, Rissa selesaikan ini dulu Bu nanti biar Rissa yang membangunkan".
Rissa segera mencuci tangan dan beranjak menuju kamar Dhea. Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu, dilihatnya sang adik masih berada dalam selimut tebalnya. Melihat itu timbul niat usil Rissa.
"Aduh, punya adik perempuan satu tapi tidurnya kayak kebo. Diluar begitu berisik masih tetap tidur. Rasain kamu kakak kerjain".
Rissa mengambil jam di atas meja belajar adiknya, ia memutar jam yang seharusnya jam 4 pagi menjadi jam setengah enam. Rissa yakin Dhea akan kelabakan karena jam setengah tujuh semua harus sampai di sekolah. Perlahan Rissa membangunkan adiknya.
"Dek, bangun sudah siang nanti kamu terlambat?"
Dhea menggeliat setelah mendapat sentuhan di pundaknya tapi ia belum membuka matanya.
"Jam berapa ini kak, lima menit lagi ya" jawabnya sambil memeluk guling.
"Sudah jam setengah enam, tuh lihat jam di atas meja belajar kamu"
"Oh setengah enam" jawabnya, namun seketika ia membuka mata dan menatap jam di atas meja belajar.
" Ah kakak, kenapa baru sekarang Dhea di bangunkan. Dhea bisa telat kak" teriak Dhea sambil berusaha menyiapkan apa saja yang akan di bawa.
Rissa memperhatikan Dhea yang kalang kabut mengambil apa yang harus ia bawa, terlihat Dhea begitu bingung apa yang harus di lakukannya mengingat waktu yang begitu mendesak. Rissa sudah tidak tahan untuk menahan tawanya, sedangkan Dhea sudah mulai berkaca-kaca menahan tangis.
Tanpa aba-aba Rissa segera tertawa terbahak-bahak. Dhea semakin kesal melihat kakaknya. Beberapa butiran bening sudah menetes keluar.
"Kakak apaan sih, bukannya bantuin Dhea malah tertawa".
"Ada apa? pagi-pagi sudah tertawa keras sekali"
Bukannya menjawab tapi Rissa malah semakin tertawa. Tak kunjung mendapat jawaban, Ricko bertanya pada Dhea.
"Ada apa dek, kok kamu nangis, harusnya kamu bahagia, hari ini kan pengumuman hasil ujian dan perpisahan".
Bukanya menjawab Dhea malah balik bertanya.
"Kenapa semua tega tidak ada yang membangunkan Dhea, hari ini Dhea pasti terlambat".
Ricko bingung mendengar pertanyaan Dhea. "Membangunkan, terlambat?"
"Memang kamu kumpul jam berapa? bukannya jam setengah tujuh" tanya Ricko.
"Iya kak, tapi ini sudah setengah enam lebih, Dhea belum siap-siap".
"Setengah enam?" guman Ricko menatap tajam Rissa. Ia yakin pasti ini kerjaannya Rissa.
Rissa paham akan tatapan Ricko kakaknya.
"Habis, di bangunkan dari tadi gak bangun-bangun, giliran di kasih tahu jam setengah enam langsung bangun" jelas Rissa pada kakaknya.
Dhea masih belum paham maksud Rissa, sedangkan Ricko juga tidak menyalahkan Rissa, walaupun cara Rissa salah karena dia juga tahu bagaimana susahnya kalau membangunkan Dhea.
Ricko membelai rambut Dhea perlahan sambil berkata "Sudah, tidak perlu menangis. Segera mandi dan siapkan perlahan. Ini masih jam empat pagi".
Dhea mencerna ucapan kakaknya, dan seketika Dhea berteriak "Kak Risssaaa, tega ya ngerjain Dhea"
"Sudah jangan marah, segera mandi. Makanya kalau di bangunkan segera bangun" ucap Ricko sebelum meninggalkan Dhea.
Dhea segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Walaupun ia marah pada kakaknya Rissa, tapi ia sadar kalau tadi kakaknya tidak mengerjainya pasti dia belum bangun.
Sepuluh menit Dhea berada di kamar mandi, ia segera masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan semuanya kembali. Setelah adiknya selesai mandi, Rissa segera mandi karena ia harus segera mendandani Dhea.
Ricko mandi giliran terakhir setelah ibunya. Rissa sudah siap dengan riasan tipis di wajahnya.
"Dek, cepat ke kamar kakak? kakak dandani kamu" teriak Rissa memangil Dhea.
Dhea masuk ke kamar Rissa dan duduk di tepi ranjang kakaknya.
"Masih marah sama kakak?" tanya Rissa sambil meratakan pelembab di wajah Dhea.
__ADS_1
"Siapa yang marah, cuma sebel kok" cuek Dhea ingin mengerjai kakaknya.
"Kalau tidak marah, kenapa tuh bibir manyun?"
"Kakak salah, kakak minta maaf"
Tidak ada jawaban, semuanya diam. Rissa yang melihat adiknya cuek merasa bersalah telah mengerjai adiknya. Dhea yang melihat perubahan wajah kakaknya tidak tega.
" Terima kasih kak" ucap Dhea mengecup pipi kakaknya.
Rissa kaget dengan apa yang di lakukan Dhea, tapi dia kemudian tersenyum menatap Dhea.
Dhea sudah selesai di dandani kakaknya. Rambut Dhea yang panjang di sanggul sederhana oleh Rissa. Apa yang di lakukan Rissa begitu sempurna untuk Dhea. Setelah selesai mendandani adiknya, kini giliran ibu yang di dandani. Dhea segera mengganti baju dengan baju kebaya warna peach miliknya.
Setengah enam semua sudah siap. Ricko memakai atasan batik. Rissa dan ibunya memakai kebaya dengan bawahan batik yang senada dengan atasan yang di pakai Ricko. Mereka menunggu Dhea di meja makan.
Dhea ke luar dari kamar dan menuju meja makan, semua menatap Dhea dari atas hingga bawah. Satu kata yang mereka ucapkan "Cantik".
Mereka menyantap hidangan di atas meja makan bersama. Pukul enam pagi mereka bersiap berangkat ke sekolah Dhea dengan mengendarai mobil yang di pinjam Ricko dari tetangganya agar hanya sekali jalan.
******
Dhea segera bergabung dengan teman-temannya ketika sudah sampai di sekolah, setelah berpamitan pada kakak dan ibunya.
Semua anak di kumpulkan di dalam satu ruangan khusus sedangkan orang tua dan pendamping sudah masuk ke dalam aula dengan tempat duduk yang sudah di tentukan sebelumnya.
Tepat pukul tujuh pagi acara perpisahan dan pengumuman hasil ujian dimulai dengan acara awal pembukaan dengan doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan-sambutan, pentas seni dah pengumuman yang disampaikan kepala sekolah.
Acara demi acara sudah berjalan, kini giliran acara pentas seni yang di tampilkan oleh anak-anak kelas 6 dan kelas lain yang turut berpartisipasi. Semua yang hadir bertepuk tangan setelah anak anak selesai menampilkan kreativitasnya. Bahkan mereka begitu mengapresiasi drama yang di tampilkan anak-anak.
MC sebagai pemandu acara segera melanjutkan acara setelah semua anak turun dari panggung.
"Bapak ibu guru, Wali murid serta tamu undangan yang saya hormati. Acara demi acara telah kira lewati bersama, kita telah melihat kreativitas anak-anak dalam menampilkan suatu hiburan. Ternyata anak-anak memiliki bakat terpendam ya" ucap MC yang di jawab gelak tawa dan tepuk tangan hadirin.
"Bapak ibu, sebelum ke acara puncak pengumuman kita akan kembali menyaksikan penampilan terakhir dari anak kelas 6, tapi saya juga bingung penampilan apa? hahahaha. Baiklah anak-anak silakan mempersiapkan diri di depan, saya mohon tepuk tangan untuk mereka".
Dhea, Bima, Sila dah Yudha sudah maju di atas naik ke atas panggung. Semua mata yang hadir di dalam aula tertuju pada mereka berempat. Mereka semua masih penasaran apa yang akan di tampilkan mereka berempat.
Bima mulai membuka suara "Selamat pagi, bapak ibu guru, para wali murid dan tamu undangan semua, terimaksih atas kesempatan yang diberikan kepada kami berempat. Sengaja kami tidak memberitahukan apa yang akan kami tampilkan sebelumnya, ini semua untuk kalian. Sebelum saya dan teman-teman saya memulai penampilan kami, kami akan memperkenalkan diri, saya Bima, teman disebelah saya Dhea, Sila dan yang terakhir Yudha. Kami semua berharap apa yang kami tampilkan dapat menghibur semuanya".
Bima dan Yudha segera mengambil gitar yang sudah di siapkan dan berdiri di sisi kanan dan kiri Dhea karena posisi Dhea berada di tengah sedangkan Sila berdiri di antara Yudha dan Dhea di belakang dengan keyboard di depannya.
Intro musik sudah mulai terdengar.
"Tanpa kita sadari kita telah melalui enam tahun bersama, kita terkadang membuat guru marah, kecewa bahkan jengkel. Kita juga pernah di hukum bersama ketika membuat kesalahan. Kita semua saat ini berkumpul dalam acara perpisahan, setelah ini kita akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Maafkan segala kesalahan kami dan terima kasih untuk guruku" ucap Dhea sebelum mulai menyanyi.
Musik mulai terdengar sesuai dengan judul yang akan di nyanyikan. Dhea mulai menyanyi dengan penuh penghayatan.
TERIMA KASIHKU
**Terima kasihku 'ku ucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti
Setiap hari 'ku di bimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
'Kan 'ku ingat selalu nasehat guruku
Terima kasihku, guruku
Huu... huu... huu... huu...
Huu... huu... huu...
Setiap hari 'ku di bimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
'Kan 'ku ingat selalu nasehat guruku
Terima kasihku, guruku
Huu... huu...
Terima kasihku, guruku**
Hampir semua yang hadir ikut menyanyi sampai lagu selesai di nyanyikan, beberapa yang hadir sampai meneteskan air mata. Lagu yang dinyanyikan beserta dengan musiknya begitu mengena hati mereka.
**Jangan lupa like, command dan vote ya kak
Selamat membaca**
__ADS_1