
"Halo Chard, bagaimana kabarmu" ucap pak Steven setelah sambungan teleponnya terhubung.
"Halo Oom, Richard kabarnya baik. Oom sendiri bagaimana? tumben telfon jam segini om? apa ada yang penting"
"Kabar Oom baik Chard. Oom cuma mau tanya kapan pendaftaran siswa baru jalur prestasi di mulai?"
"Kemungkinan minggu-minggu ini Oom, memang kenapa Oom? Tumben Oom Steven tanya tentang kapan pendaftaran? Ada apa nich, kayaknya ada sesuatu deh" ledek Richard pada Omnya. Selama ini Steven tidak pernah menanyakan tentang apapun yang berhubungan dengan sekolah.
"Kamu itu bisa saja Chard, nanti kalau ada yang daftar jalur prestasi atas nama Dhea Mentari Putri, kamu kabari oom ya. Oom akan jelaskan kalau nama Dhea sudah mendaftar, Jadi kamu tidak perlu tanya sekarang karena Oom gak akan jawab".
"Oom Steven seperti paranormal saja. Belum juga Richard tanya sudah di jawab duluan, kecewa tahu Oom. Pokoknya nanti kalau nama De, de siapa itu sudah daftar, Richard akan beritahu Oom dan Richard akan menagih penjelasan Oom".
"Dhea Mentari Putri, Chard. Awas aja kalau sampai salah orang. Eh tadi kamu nyebut oom paranormal. Enak saja, Oom itu lebih tinggi dari paranormal tepatnya Ubnormal" Ha...ha...ha. Jawab Steven bercanda pada ponakan kesayangannya. Mereka tertawa bersama sebelum sambungan telepon di matikan.
****
Dua Minggu setelah pembicaraan via telepon yang di lakukan oleh Richard dan Steven berlangsung. Pagi ini Richard mengabari Steven dengan mengirimkan pesan via WhatsApp. Sudah berkali-kali Richard berusaha menelpon Steven, tapi tak kunjung di angkat.
"Richard sudah tanya sama kepala sekolah tentang anak yang bernama Dhea, Oom. Anak itu sudah mendaftarkan dirinya melalui jalur prestasi, semua persyaratan sudah lengkap kecuali Hasil ujian yang memang belum di umumkan. Richard sudah berusaha menghubungi Oom, tapi sepertinya Oom sedang sibuk".
Pak Steven tidak mengangkat telepon karena saat ini ia sedang mengajar dan melatih anak-anak untuk perpisahan di sekolahnya. Ia tidak pernah membawa handphone saat mengajar, jika memang ada pesan yang penting dan harus segera di sampaikan pasti akan menelpon nomor sekolah.
Selesai mengajar anak-anak, Pak Steven langsung pulang ke rumahnya tanpa mengecek pesan di handphonenya. Jam tujuh malam setelah makan malam bersama keluarganya, ia membuka handphone.
"Seharian lupa buat ngecek handphone. Banyak banget Richard menghubungi"
"Malam Chard, maaf ya baru balas pesan kamu, hari ini lumayan padat jadwal Oom. Terima kasih informasinya" Isi pesan WhatsApp untuk Richard.
"Akhirnya, anak itu sudah daftar juga".
"Siapa pah" tanya istri pak Steven yang datang dari arah dapur membawa teh untuk suaminya.
"Itu mah, kemarin waktu papa jadi guru pengawas, papa melihat ada seorang anak yang sepertinya memiliki potensi yang lebih. Dia beda dengan teman-teman yang lain. Rencananya papa akan memberikan beasiswa kepadanya. Apakah Mama tidak keberatan?"
"Oh gitu , kirain siapa. Apapun keputusan papa, mama akan setuju. Papa tidak mungkin mau memberikan beasiswa kepada orang sembarangan. Pasti papa sudah mempertimbangkan semuanya. Memang siapa namanya pah trus mau sekolah dimana?"
"Terima kasih mah atas dukungan dan pengertiannya. Nama anak itu Dhea Mentari Putri, kemarin papa tanya ke guru kelasnya katanya dia mau melanjutkan sekolah ke Mutiara Bunda. Jadinya papa tanya sama Richard, anak itu sudah daftar belum. Ternyata anak itu sudah daftar".
"Trus rencananya papa mau memberitahukan soal beasiswa itu kapan? Kan di sekolah keluarga untuk pendaftaran siswa jalur prestasi dibatasi hanya lima anak saja pah. Takutnya nanti malah jadi masalah kalau tidak segera di selesaikan"
"Benar juga ya mah, rencananya papa akan memberikan surat itu waktu pengumuman kelulusan. Apa papa besok telfon Richard saja ya ma, agar segera di buatkan suratnya?".
"Lebih cepat lebih baik pah".
******
__ADS_1
Esok paginya, Pak Steven segera menghubungi keponakannya.
"Halo, Chard. Oom minta maaf kemarin lama balas chat kamu" ucapnya langsung ketika sambungan telepon terhubung.
"Iya Oom tidak masalah. Richard sudah pastikan pada kepala sekolah kalau nama Dhea sudah mendaftar Oom. Richard masih penasaran Oom?"
"Syukurlah kalau dia sudah mendaftar. Rencananya Oom akan memberikan beasiswa penuh untuknya selama sekolah di Mutiara Bunda. Jadi Oom minta satu kuota untuk Dhea ya?"
"Oom serius mau memberikan beasiswa penuh. Selama ini anak-anak yang mendaftar melalui jalur prestasi paling banyak hanya 75% Oom".
"Oom serius Chard, kalau tidak serius Oom tidak akan tanya soal beginian. Kamu tidak perlu takut, Oom yang akan tanggung jawab semuanya. Oom yakin keputusan Oom sudah tepat".
"Baiklah Oom, akan saya berikan satu kuota untuk Dhea. Richard tahu pasti Oom punya alasan tersendiri. Untuk surat pemberitahuannya mau di buat kapan Oom?"
"Sehari sebelum pengumuman saja Chard, Oom akan datang ke rumah untuk memberikan hasil yang bisa di jadikan pertimbangan. Terima kasih sudah mau bantu Oom Chard".
"Sama-sama Oom. Richard senang Oom minta tolong karena Oom jarang sekali minta tolong" ha ha ha
" Kamu bisa saja, ya sudah Oom tutup ya telfonnya. Salam buat istri dan cucu Oom".
"Iya Oom nanti akan Richard sampaikan".
********
Sehari sebelum pengumuman Pak Steven mendapat email dari Bu Widya kepala sekolah Kasih Sejahtera. Apa yang pak Steven minta di hari terakhir pelaksanaan ujian sudah ia terima.
Setelah membaca pesan WhatsApp dari Bu Widya, Pak Steven segera membuka email miliknya. Pak Steven tersenyum melihat hasil yang tertera di laptopnya.
"Sudah ku duga, apa yang saya lihat tidak mungkin salah. Lebih baik aku segera ke rumah Richard untuk memberitahukan ini" guman pak Steven.
Pak Steven segera menghubungi Richard untuk menanyakan apakah berada di rumah atau tidak. Setelah mendapat balasan kalau Richard di rumah, Pak Steven mengajak istrinya menuju rumah Richard.
Empat puluh lima menit mereka menempuh perjalanan. Mobil yang mereka kendarai sudah memasuki kawasan elit di daerahnya, pak Steven membunyikan klakson. Dengan segera pak satpam membuka pintu gerbang karena ia tahu siapa uang datang tanpa harus menanyakan tujuannya terlebih dahulu.
"Selamat siang pak Steven dan ibu"
"Selamat siang pak, terima kasih ya. Kami masuk dulu" ucap pak Steven ramah.
Mobil yang pak Steven kendarai perlahan menuju ke parkiran di sebelah kanan rumah yang terlihat seperti istana. Disana sudah terdapat tiga mobil keluaran terbaru. Nampak sepasang suami istri berdiri di depan teras rumah untuk menyambut Oom kesayangannya.
"Akhirnya, setelah sekian lama Oom dan tante datang ke rumah Richard. Sehat-sehat saja kan Oom tante?" sapa Richard memberi salam dan memeluk Oom dan tantenya.
"Seperti yang kamu lihat, Oom dan tante baik-baik saja" jawab pak Steven memeluk bergantian keponakannya.
"Mari Oom Tante masuk ke dalam".
__ADS_1
Mereka berempat masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu khusus keluarga. Asisten rumah tangga Richard segera membawakan minum dan cemilan untuk menemani mengobrol setelah mereka duduk.
"Richard harus berterimakasih kepada Dhea, karenanya Oom mau datang ke rumah ini".
"Ya bisa di bilang seperti itu. Jangan lupa kalau ketemu harus mengucapkan terima kasih" jawab pak Steven sambil tertawa.
"Raya dan mas Richard masih penasaran Oom, seperti apa anak tersebut sampai Oom ingin memberikan beasiswa" tanya istri Richard.
"Tante juga penasaran Ra, tapi apapun keputusan Oom kamu, Tante akan dukung apalagi untuk kebaikan" ujar istri pak Steven.
"Oom juga tidak tahu mengapa. Tapi ketika Oom mendapat surat tugas untuk menjadi pengawas di sekolahnya, ada kebahagiaan tersendiri yang tanpa Oom ketahui sebabnya. Terlebih ketika pertama kali bertemu dengan anak itu, Oom seperti mendapat kebahagiaan tak terhingga.
"Oom lihat anak itu memiliki banyak potensi sehingga Oom memutuskan untuk memberikan beasiswa penuh setelah tahu ia akan sekolah di sekolah keluarga kita. Coba kalian lihat ini, ini adalah salah satu alasan Oom" jawabnya sambil memberikan kertas hasil ujian Dhea yang sudah di print.
Richard dan Istrinya melihat kertas tersebut dan membaca nilai yang tertera pada lembar tersebut. Mereka terkejut melihat hasil itu, kemudian menyerahkan kertas tersebut kepada Tantenya karena tantenya pasti belum mengetahui isinya.
"Bagaimana?".
"Richard tidak menyangka Oom nilainya segitu. Anak di sekolah kita saja yang paling pandai saja masih kalah. Benar-benar mengagumkan" ucap Richard yang di angguki istrinya.
"Pantas saja Oom kamu ingin memberikan beasiswa, memang pantas anak itu" imbuh istri pak Steven.
"Jadi, kalian setuju Oom memberikan beasiswa penuh".
"Setuju Oom, Richard akan menghubungi kepala sekolah untuk membuat surat pemberitahuan kalau Dhea mendapat beasiswa penuh agar besok bisa di kirim segera".
"Sudah siang Oom, mari makan siang dulu. Sengaja tadi Richard dan Raya menunggu Oom dan Tante".
Mereka berempat menuju meja makan untuk makan siang bersama. Sesuai dengan rencana besok surat pemberitahuan tentang beasiswa akan di kirim ke sekolah Kasih Sejahtera agar bisa segera di terima Dhea.
.
.
.
Dengan memberi atau membantu orang lain tidak akan membuat kita menjadi miskin tetapi kita akan semakin kaya. Kekayaaan bukan hanya di nilai dari materi saja.
.
.
Tolong tinggalin jejak like, command dan votenya kakak
terimakasih ๐
__ADS_1
Mohon kritik dan sarannya๐
Happy Reading ๐