
Kata hati tidak akan pernah bisa berbohong
Biarkan rasa ini tersimpan hingga engkau juga merasakan (Dirga)
Hari pertama masuk di tahun ajaran baru, membuat sebagian orang malas untuk melakukan aktivitas setelah menikmati liburan panjang. Dirga yang juga enggan untuk berangkat diwajibkan wali kelas untuk masuk.
"Hmmm, kenapa juga harus masuk. Kegiatan yang membosankan hanya di dalam kelas tanpa melakukan apa-apa".
Dirga berangkat ke sekolah dengan diatar oleh pak Imam seperti biasa. Sudah hampir lima tahun Dirga hanya tinggal bersama pak Imam dan Bu Siti, orang tua Dirga lebih memilih untuk menemani proses pengobatan Abhi di luar negeri dan menitipkan Dirga pada pak Imam dan Bu Siti.
Hubungan antara Dirga dan kedua orang tuanya tidak sehangat dulu, saat ini hanya sesekali Dirga berbicara dengan orang tua serta kakaknya dan itu tidak lebih dari sepuluh menit.
Sesampainya di sekolah seperti biasa Dirga enggan untuk melakukan aktivitas, ia lebih memilih untuk langsung masuk ke dalam kelas dan tidur. Ia begitu malas dengan kesibukan yang ada saat penerimaan siswa baru.
Baru beberapa langkah Dirga berjalan memasuki halaman sekolah, ia melihat seorang gadis berjalan sendirian, yang sedang menoleh ke kanan dan ke kiri. Gadis itu terlihat kebingungan. Dirga begitu penasaran dengan gadis tersebut, entah mengapa gadis itu bisa menarik perhatian Dirga yang biasanya cuek dengan perempuan yang berusaha mendekatinya.
"Siapa itu anak? sepertinya ia sedang kebingungan" ucap Dirga yang kini mulai berjalan setelah tadi berhenti beberapa saat. Niat hati, ia ingin menanyakan kepada gadis itu, tetapi langkahnya kembali terhenti ketika dari jarak 3 meter ia melihat gadis yang dilihatnya sedang berbicara dengan Miss Cindy.
Dirga mengurungkan niatnya untuk menyapa gadis tersebut, ia kemudian berbalik arah menuju tangga untuk pergi ke kelasnya.
Di sepanjang jalan menuju kelas, banyak perempuan yang menyapanya, tetapi tidak pernah Dirga hiraukan. Kesan dingin, cuek dan jutek selalu ia tunjukkan kepada mereka, bukannya berhenti untuk mencari perhatian Dirga tapi sikap Dirga yang demikian justru membuat para pengagumnya merasa tertantang.
"Selalu saja seperti ini, lama-lama aku illfeel dengan tingkah mereka" batin Dirga.
"Siapa gadis itu sebenarnya?, sepertinya dia murid baru di sekolah ini".
__ADS_1
"Arrggg, kenapa aku jadi kepikiran sama dia. Mungkin ini hanya rasa penasaran saja" gerutu Dirga sambil berjalan menuju bangku paling belakang.
Dirga yang sudah berada di meja tempat ia biasa duduk langsung meletakkan kepala di atas tangan yang sudah ia lipat. Ia mencoba untuk menutup mata berharap bayangan gadis yang ia lihat bisa menghilang dari matanya.
"Aku harus tahu siapa dia" ucapnya setelah ia berusaha untuk memejamkan mata tapi tidak bisa.
Dirga memperhatikan jarum jam yang ada di tangan kanannya "Lebih baik aku keluar menghirup udara segar daripada di dalam kelas membuat aku kepikiran gadis itu lagi. Barangkali kalau aku keluar bisa melihat dia" guman Dirga dengan senyum tipis di bibirnya.
Dirga berjalan menuju pojokan kelas sebelah tangga lantai lima yang merupakan tempat favoritnya. Ia mengeluarkan handphone miliknya untuk bermain game. Belum sempat ia membuka aplikasi game yang ada di handphonenya, ia mendengar instruksi dari seseorang yang menyuruh semua siswa baru untuk keluar ruangan dan berbaris dengan rapi.
Dirga segera berdiri dan memperhatikan sekumpulan anak yang ada di lantai dasar. "Dia pasti ada di antara anak-anak tersebut, semoga saja dia ada di barisan anak di bawah gedung ini" ucap Dirga bermonolog dengan mengarahkan handphone miliknya ke arah bawah.
Dirga menyalakan kamera handphone dan mencoba memperbesar tampilannya. Ia mengarahkan ke kanan dan ke kiri barisan yang dapat di jangkau oleh kameranya.
Gerakan handphone Dirga berhenti pada sosok gadis yang berdiri di barisan terdepan berjarak lima anak dari barisan paling kiri. Kembali senyum tipis menghiasi wajahnya tanpa ia sadari.
Setiap mengingat kebersamaan dengan kakaknya, Dirga akan menangis karena semua tinggal kenangan baginya. Walaupun di dalam hati terkadang ada kemarahan kepada kedua orang tuanya yang lebih memilih menjaga Abhi dan menitipkan dirinya kepada pak Imam dan Bu Siti untuk menjaganya, tetapi ia sadar bahwa saat ini sang kakak lebih membutuhkan perhatian lebih dari orang tuanya.
****
Dirga masih setia melihat kegiatan baris berbaris yang dilakukan para siswa baru, terkadang dia tersenyum melihat ekspresi dari mereka yang terlihat dari layar handphone miliknya, ada rasa jengkel dan marah ketika melihat seseorang yang menarik perhatiannya dilihat oleh orang lain dengan tatapan yang berbeda.
"Sial, kenapa juga harus habis di saat seperti ini". Dirga bergitu kesal karena handphone yang ia gunakan tiba-tiba mati kehabisan daya baterai, padahal saat ini kesempatan bagi Dirga untuk melihat gadis itu dengan jelas.
Dirga berjalan ke arah kelasnya dan menuju ke meja yang biasa ia tempati, ia segera membuka tas dan mencari benda penyelamatnya tetapi tidak juga ketemu. Semua barang yang ada di dalam tas semuanya sudah di keluar tapi apa yang ia cari tetap tidak ketemu.
__ADS_1
"Breng***, kenapa juga aku bisa lupa membawanya" umpat Dirga diiringi tendangan pada meja yang tak berdosa untuk meluapkan emosinya.
Hal itu membuat semua anak yang ada di dalam kelas menoleh ke arah Dirga, tetapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sudah paham bagaimana karakter Dirga, apalagi ketika ia marah.
"Ada apa dengan Dirga?" tanya salah satu teman yang duduk di dekat pintu masuk pada teman di bangku belakangnya.
"Mungkin ada seseorang yang sudah membuat dia marah" tambah teman yang lain.
"Mungkin juga" jawabnya teman Dirga yang pertama.
"Dirga itu sebenarnya anak yang baik, tapi dia irit sekali kalau berbicara dan terkesan sombong".
"Benar apa yang kamu bilang, dulu saja waktu kelas tiga SMP, si Wahyu tidak bisa membayar uang study Tour karena orang tuanya tidak cukup uang untuk membayar, tiba-tiba Dirga pergi ke bendahara sekolah untuk membayarkan uang Study Tour Wahyu".
"Masak sih, dia seperti itu" ucap teman Dirga yang tadi hanya menyimak saja, karena selama ini ia hanya mengetahui bahwa Dirga adalah orang yang begitu dingin dan terlihat kejam.
"Sumpah, aku tidak bohong. Saat itu aku juga sedang berada di ruang bendahara sehingga tanpa sengaja aku mendengar ucapan Dirga yang ingin membayar tagihan Wahyu".
"Tapi kenapa dia bersikap seperti itu, ia seakan menjauhi kita dan lebih memilih berada pada zona nyaman dia sendiri, padahal masa SMA itu katanya adalah masa yang sangat istimewa dan penuh kenangan".
"Setiap orang pasti punya alasan untuk melakukan apapun, begitupun juga dengan Dirga. Dia pasti punya alasan khusus, yang terpenting sekarang kita tahu bahwa di balik sikap dia yang terkesan kejam menyimpan hati yang begitu mulia".
Semua yang duduk di dekat pintu masuk menganggukkan kepalanya tanda mengerti tanpa menegur apa yang di lakukan Dirga.
.
__ADS_1
.
Like command dan Votenya di tunggu ya 😉😉