Lelaki Terhebat

Lelaki Terhebat
Steven Tanujaya


__ADS_3

Steven Tanujaya atau biasa di panggil pak Steven adalah anak kedua dari keluarga Tanujaya. Keluarga Tanujaya bukanlah orang sembarangan karena merupakan salah satu nama keluarga kelas atas yang memiliki banyak usaha sehingga termasuk keluarga terpandang.


Banyak jenis usaha yang di jalani oleh keluarganya. Salah satunya adalah di bidang pendidikan. Keluarga Tanujaya mendirikan sekolah Mutiara Bunda dari tingkat Play group sampai sekolah atas. Sekolah itu merupakan sekolah untuk orang-orang kalangan menengah atas. Sekolah Mutiara Bunda yang didirikan, juga memberikan beasiswa kepada anak-anak yang berprestasi.


Walaupun terlahir di keluarga yang terpandang dan kaya, Steven Tanujaya lebih memilih mengabdikan dirinya untuk mengajar di sekolah biasa walaupun tanpa di bayar karena menurutnya ilmu yang telah ia pelajari akan lebih bermanfaat apabila di sebarkan kepada orang lain. Ia tidak mau mengurus sekolah keluarganya secara langsung, ia mempercayakan kepengurusan sekolah kepada anak pertama dari kakaknya sedangkan dirinya hanya memantau dari jauh.


Di tempat kerja beliau hanya menggunakan nama Steven tanpa ada nama belakangnya. Hal tersebut ia lakukan karena ia tidak mau ada orang-orang yang mendekatinya atau menjauhinya karena status sosialnya.


Setiap tahun Steven selalu mendapatkan tugas untuk menjadi guru pengawas ujian di sekolah lain. Selain menjalankan tugas-tugasnya menjadi pengawas, ia juga akan melihat potensi yang dimiliki anak-anak di tempat tugasnya sehingga ia akan lebih mudah membantu mereka.


Seminggu sebelum pelaksanaan ujian nasional, pak Steven mendapatkan surat tugas untuk menjadi pengawas ujian di sekolah Kasih Sejahtera. Setelah membaca Surat tugas yang di berikan dan membaca tempat dimana ia akan bertugas, ada sedikit bahagia dalam hatinya walaupun ia tidak tahu apa yang menjadi penyebab.


"Kenapa aku bisa bahagia seperti ini mendapat tugas di tempat ini, padahal sudah hampir lima kali aku mendapat tugas di tempat ini. Apakah ada hal istimewa di tahun ini? Ah.... aku jadi tidak sabar untuk segera kesana".


*****


Seminggu berlalu. Saat ini Steven sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah tempat ia bertugas, ia mengeluarkan sepeda tuanya. Walaupun memiliki banyak mobil tapi ia lebih memilih sepeda motor tuanya.


Tiga puluh menit Steven menempuh perjalanan. Sekolah Kasih Sejahtera merupakan tempat Dhea menuntut ilmu. Sesaat setelah memarkirkan sepeda motornya, map yang ia bawa terjatuh dan ada beberapa kertas yang tertiup angin tanpa sepengetahuannya. Ia segera mengambil barang yang terjatuh tanpa mengeceknya kembali.


Steven melangkahkan kaki menuju ruang sekretariat yang menjadi tempat untuk para pengawas ujian sebelum masuk ke ruang ujian. Saat ia berjalan, sepertinya ada yang memanggilnya dari arah belakang sehingga ia akhirnya berhenti dan menengok ke belakang. Ia melihat seorang gadis yang berseragam merah putih berjalan setelah lari menuju kearahnya.


"Pak.... pak.... pak...." ucap gadis tersebut.


"Iya, ada apa nak?" jawab pak Steven tersenyum ramah.


Gadis tersebut memberikan beberapa lembar kertas "Maaf pak, apakah kertas ini milih bapak? tadi saya menemukan tidak jauh dari tempat bapak. Kemungkinan terbawa angin"


Pak Steven menerima kertas tersebut dan melihatnya. Ternyata memang itu kertas miliknya dan termasuk kertas yang juga penting.


"Terima kasih nak, ini memang punya bapak. Kalau sampai hilang, bapak tidak tahu harus bagaimana" ucapnya begitu tulus sambil mengelus rambut Dhea.

__ADS_1


"Siapa namamu?" ucapnya lagi.


"Saya Dhea pak, saya senang bisa membantu".


Benar saja gadis yang telah mengembalikan kertas yang di temukan adalah Dhea.


"Kalau begitu saya permisi ke kelas ya pak. Selamat pagi"


"Selamat pagi dan sekali lagi terimakasih"


Dhea hanya membalas ucapan terakhir pak Steven dengan senyuman dan sedikit menundukkan badan. Pak Steven masih mengulum senyum di bibirnya menyaksikan punggung Dhea yang kian menjauh menghilang di hadapannya. Ia melanjutkan langkah kakinya menuju ke ruang sekertariat.


Di dalam ruangan sudah ada beberapa guru dari sekolah lain dan juga kepala sekolah Kasih Sejahtera.


"Selamat pagi bapak ibu semua" ucapnya menjabat tangan satu persatu orang yang ada di dalam ruangan.


"Selamat pagi pak"


"Silahkan duduk pak" ucap Bu Widyawati.


Dari dalam terdengar suara bel yang menandakan bahwa pengawas harus memasuki ruang ujian. Kali ini Pak Steven mendapat jadwal jaga di ruang satu bersama dengan guru dari sekolah lain. Ia berjalan memasuki ruangan. Kemudian berdiri untuk menyambut kedatangan anak-anak yang akan mengikuti ujian.


Dari barisan anak-anak tersebut, pak Steven melihat Dhea termasuk di dalamnya. Melihat itu ia kembali tersenyum. Setelah memberi salam, anak-anak menempati tempat duduknya sesuai dengan nomor yang tertera di kartu ujian. Hening di dalam ruangan.


"Selamat pagi anak-anak, sudah siap mengikuti ujian hari ini"


"Pagi pak, Siap sudah" ucap serentak anak-anak.


Para pengawas membagikan Lembar Jawab Siswa (LJK) agar diisi terlebih dahulu dengan identitas mereka. Para pengawas di ruangan mendekati satu per satu anak-anak untuk mengecek Lembar Jawab Siswa yang sudah diisi agar tidak ada kesalahan.


Pukul delapan soal sudah di bagikan dan anak-anak mulai mengerjakan dengan tertib. Dari awal masuk pandangan pak Steven tidak pernah lepas dari Dhea. "Anak ini memiliki keistimewaan tersendiri, saya harus tahu tentang anak ini" batin pak Steven.

__ADS_1


****


Hari hari berlalu dengan situasi yang sama, Pak Steven hanya dua kali menjaga di ruangan yang Dhea tempati. Pada hari terakhir pelaksanaan ujian pak Steven bertanya tentang Dhea kepada Bu Widya. Rasa penasaran terhadap anak itu sebenarnya sudah dari awal, tapi pak Steven tidak mau menanyakan langsung, ia berpikir untuk menanyakan di hari terakhir saja. Hari ini pak Steven melihat anak-anak yang masih berada di lingkungan sekolah walaupun ujian sudah selesai tiga puluh menit yang lalu, anak-anak saling membantu merapikan tempat ujian yang tadi di gunakan untuk meringankan pekerjaan panjaga sekolah.


"Anak yang bernama Dhea itu yang mana Bu?" tanya pak Steven pada ibu kepala sekolah. Seolah-olah ia tidak tahu tentang Dhea.


"Maksud bapak, Dhea Mentari Putri. Anak yang rambutnya di kuncir kuda itu pak" jawab Bu Widya sambil menunjuk Dhea yang sedang beristirahat bersama temannya untuk memastikan orang yang di tanyakan pak Steven.


"Iya Bu, anak itu yang saya maksud".


"Ada apa ya pak, apakah Dhea melakukan kesalahan?


"Tidak Bu, Saya cuma ingin tahu dimana dia akan melanjutkan sekolah".


Bu Widya tidak mengetahui pasti kemana Dhea akan melanjutkan sekolah sehingga ia memutuskan untuk memanggil Bu Wahyu selaku wali kelas Dhea. Ternyata Dhea akan melanjutkan ke sekolah Mutiara Bunda melalu jalur prestasi sesuai dengan informasi yang diperoleh dari Bu Wahyu.


Pak Steven meminta kepada Bu Widya untuk memberitahukan hasil ujian Dhea kepadanya jika nilai sudah di ketahui. Setelah mendapatkan jawaban, pak Steven dan guru-guru pengawas yang lain berpamitan untuk pulang.


****


"Kenapa bisa kebetulan seperti ini? apakah memang ini sudah menjadi takdir Tuhan" ucap pak Steven ketika sudah berada di dalam rumah.


"Lebih baik aku tanya Richard saja mengenai kapan pastinya pendaftaran siswa baru jalur prestasi akan di buka".


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, command dan Votenya ya kak


terima kasih 🙏


__ADS_2