
Orientasi hari pertama sudah berakhir, para pembina sudah memberikan tugas-tugas yang harus di bawa esok hari.
"Orientasi hari ini sudah selesai, saya harap semua dapat melaksanakan tugas untuk besok dengan baik dan penuh tanggung jawab tanpa ada kesalahan lagi. Di ingat dengan baik apa saja yang perlu di bawa".
"Marilah kita semua berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing sebelum kembali ke rumah masing-masing".
Semua yang ada di dalam ruangan berdoa dengan khusyuk sesuai kepercayaan masing-masing. Mereka keluar dari gedung aula dengan tertib.
"Ingat ya, jangan sampai ada yang terlupa dengan perlengkapannya" ucap Sukma sebelum melangkahkan kaki keluar aula.
"Siap, kalau ada apa-apa langsung memberikan info di grup chat saja ya" balas Bryan.
Semua anak menuju halaman depan untuk menunggu jemputan.
"Kami duluan ya, jemputan sudah datang" ucap Sukma, Roy, Mei, Frans, Hilda.
"Oke hati-hati di jalan ya" ucap Dhea pada teman-teman yang lain. Dhea kini hanya berdiri sendiri di sana hingga salah satu satpam menghampirinya.
"Belum di jemput, mbak?" tanya pak Slamet padanya.
"Belum pak, masih menunggu kakak saya yang jemput, mungkin sebentar lagi".
"Oh gitu mbak, bisa di tunggu di pos satpam mbak daripada berdiri?" tawar pak Slamet.
"Terima kasih pak, disini saja. Nanti kalau kakak saya datang Dhea tidak tahu".
"Oh nama mbak, Dhe... Dhe...." pak Slamet sulit untuk melanjutkan nama Dhea karena tadi ia kurang jelas mendengar.
"Dhea Mentari Putri pak, bisa di panggil Dhea" ucap Dhea dengan senyum manisnya sehingga membuat orang yang ada di pos satpam semakin meleleh.
"Maaf mbak Dhea, tadi bapak kurang jelas mendengar maklum faktor U".
"Bapak bisa saja", jawab Dhea tersenyum membuat orang yang sejak tadi memperhatikan menjadi semakin meleleh.
"Bapak permisi dulu, kembali ke pos ya mbak? nanti kalau mbak mau bisa menunggu di sana".
"Baik pak, terima kasih untuk tawarannya".
Tidak berapa Bryan datang dan mendekat ke arah Dhea berdiri menunggu jemputan.
"Dhe, kamu di jemput siapa?" tanya Bryan ketika hanya dia dan Dhea yang belum di jemput. Beberapa temannya sudah di jemput sebelumnya.
"Dijemput kak Ricko, katanya tadi sedikit terlambat. Kamu sudah di jemput?"
"Kak Ricko, siapa itu? jemputan ku belum datang juga"
"Kak Ricko itu kakak pertama aku. Pasti mikirnya kakak ketemu gede ya, ha...ha...ha..." jawab Dhea sambil tertawa.
Tin... tin.... tin....
Tidak berapa lama Ricko sudah sampai di depan sekolah Dhea. Ia memberikan helm kepada Dhea setelah Dhea berpamitan pada Bryan.
"Bryan, aku duluan ya. Maaf tidak bisa menemanimu"
"Hati-hati Dhe, tidak apa-apa. Bentar lagi jemputan ku datang kok, Bye..... sampai ketemu besok".
__ADS_1
________
Dua puluh menit perjalanan yang di tempuh Dhea dan Ricko. Dhea segera masuk ke dalam rumah setelah melepas helm dan sepatu miliknya. Ia merasa begitu lelah, bagaimana tidak hampir tiga jam ia dan teman-temannya yang lain di jemur di lapangan untuk melakukan baris berbaris. Sedangkan Ricko kembali melajukan motor maticnya untuk menjemput Rissa.
"Sore Bu" sapa Dhea pada ibunya yang sedang memasak sambil mencium tangan dan kedua pipinya.
"Sore sayang, capek ya. Minum dulu trus istirahat bentar baru mandi" jawab ibu mengelus rambut anaknya.
"Iya Bu, hari ini lumayan tapi senang. Dhea bantuin apa Bu?"
"Kamu istirahat saja, tadi katanya capek".
"Biar Dhea saja Bu, tadi pagi udah tidak bantu masak sekarang juga cuma mau lihat saja" jawabnya mengambil alih mengiris bawang merah serta mengiris tahu dan tempe.
"Ya sudah, tapi habis ini langsung mandi. Apa nunggu kakakmu Ricko marah".
"Siap Bu, jangan sampai Bu. Orang itu nunggu dapat hadiah, bukan nunggu di marahi".
"Kali aja dek, kamu hobinya sekarang minta di marahi".
Dhea hanya cemberut menanggapi kata Sari, sedangkan Sari hanya tersenyum melihat anaknya.
Dhea pergi ke kamar untuk mengambil baju ganti, ia harus segera mandi sebelum kakaknya pulang. Pasti Ricko akan marah jika melihat Dhea belum mandi. Keberuntungan berpihak padanya karena Ricko belum kelihatan di rumah setelah ia menyelesaikan ritual di kamar mandi.
"Untung belum pulang ya Bu, kalau sudah Dhea pasti kena pujian" ucap Dhea pada ibunya yang masih menuangkan masakan di atas mangkok.
Belum sempat ibunya menjawab sudah ada suara yang terdengar dan sangat familiar "Siapa yang belum pulang? dan pujian apa dek?" ucap Ricko tiba-tiba.
"Itu Lo nak, Dhea tadi........"
"Tumben? memang tidak capek? Bagaimana hari ini?" tanya Ricko pada Dhea.
"Kakak ini nanya kayak kereta api, satu-satu kenapa? nanti aja selesai makan Dhea akan cerita semuanya"
"Ya kan sekalian dek, biar hemat. Sekali nanya tapi jawabannya panjang".
"Sa, kamu mau mandi dulu atau nanti, kalau nanti kakak duluan" tanyanya kemudian pada Rissa yang membantu ibunya mencuci peralatan masak.
"Nanti saja kak selesai ini. Kakak mandi saja dulu. Kalau Rissa yang duluan nanti kakak kelamaan nunggu".
"Ya sudah kakak duluan" jawabnya kemudian sambil menarik tali rambut Dhea hingga rambutnya yang sudah diikat rapi jadi berantakan.
"Kak Ricko, kembalikan ikat rambut Dhea. Nih lihat rambut Dhea jadi berantakan" ucapnya mengejar kakaknya ke dalam kamar.
"Nih ambil kalau bisa" jawab Ricko sambil menarik tangannya ke atas.
"Kakak, ih gitu deh sebal Dhea. Tangannya jangan di naikkan. Dhea tidak sampai kak" ucap Dhea sambil lompat-lompat untuk mengambil ikat rambutnya tapi tidak bisa.
Puas Ricko mengerjai adiknya, ia memberikan ikat rambutnya. Sehari saja tidak menjahili Dhea sepertinya ada yang kurang. "Nih ikat rambutnya, makanya jadi anak itu yang tinggi biar bisa ambil" ucapnya mengacak rambut Dhea menjadi semakin berantakan.
"Udah tahu Dhea, tingginya masih kurang masih aja di kerjain. Gini-gini juga masih dalam masa pertumbuhan, Dhea masih bisa lebih tingginya dari kakak tahu" ucap Dhea kesal.
"Gimana caranya?" tanya Ricko lagi sambil melangkah ke kamar mandi dengan menyampirkan handuk di pundaknya.
"Gampang lah, Dhea bisa naik Enggrang yang satu meter" jawabnya asal.
__ADS_1
Ricko menghentikan langkahnya sebelum masuk ke kamar mandi "memang berani? nanti nangis?".
"Ya iya-lah, Dhea tidakak berani, takut jatuh kak" ucapnya cengengesan.
Ricko segera mandi setelah mendengar jawaban konyol Dhea. Ricko cukup tahu kalau Dhea masih takut di suruh main Enggrang karena dulu waktu kecil ia pernah jatuh sehingga menimbulkan luka yang harus di jahit.
________
Pukul tujuh malam semuanya berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Mereka semua makan dengan tenang. Seperti biasa setelah makan dan membersihkan semua perlengkapan makanan yang kotor mereka akan berkumpul di ruang keluarga. Quality time yang wajib mereka lakukan.
"Gimana tadi di sekolah?" tanya Sari membelai rambut Dhea yang bersandar manja dengannya.
"Cukup melelahkan tapi menyenangkan Bu, Dhea berkenalan dengan banyak teman dan tadi juga di buat kelompok Meraka asyik tapi......" jawab Dhea menggantung.
"Tapi apa dek?" tanya Rissa.
"Kelompok kami dapat senior pendamping ketua OSIS kak?".
"Kan lebih enak kalau seniornya ketua OSIS, berarti orang yang bertanggung jawab kan, kenapa harus tapi" tanya Ricko heran pada adiknya.
"Iya sih kak, tapi orangnya galak, keras dan cuek banget kak, gak ada senyum-senyumnya sama sekali".
"Mungkin bukan aslinya gitu dek, dia seperti itu agar kalian semua disiplin dan tuntutan tugasnya. Jangan langsung menilai orang dari hanya melihatnya sekilas" nasihat Ricko.
"Besok di suruh bawa apa saja, apa semua sudah di persiapkan" tanya Sari.
" Sudah Bu, untuk perlengkapan hampir sama dengan hari ini hanya di tambah suruh bawa lem saja. Kalau untuk bekal itu yang beda Bu, tapi tadi Dhea lihat di kulkas bahannya ada semua kok".
"Memang bawa apa dek, jangan sampai kelupaan nanti dihukum" tanya Rissa lagi.
"Nasi goreng merah, tempe lima rasa, rempenyek dengan kacang tanah 10 biji, buah pepaya dan telur mata sapi kak".
"Owh gitu, gampang lah. Kakak akan siapkan besok" ucap Rissa.
"Terima kasih kak" ucap Dhea mencium pipi Rissa.
"Hanya kak Rissa saja nih yang di cium" ibu cemburu Lo, kan ibu juga bantu menyiapkan".
"Ya tidaklah Bu, terima kasih Bu" jawab Dhea sambil mencium pipi kiri dan kanan milik ibunya dan bergantian mencium Ricko yang ada di sebelahnya sebelum protes gak di cium juga.
" Kak Ricko, jadi ketua kelompok atau wakil itu enak tidak sih kak? trus apa saja yang harus di lakukan?".
"Menjadi ketua atau wakil itu sebenarnya mempunyai tugas yang hampir sama dek, seorang wakil atau ketua harus melindungi anggota kelompoknya. Jika salah satu anggota kelompok melakukan kesalahan kita sebagai wakil atau ketua harus mampu melindungi dengan catatan kesalahannya masih dalam kata wajar. Masalah enak dan tidak nya itu tergantung bagaimana menjalani, kalau kamu terpaksa pasti jawabnya tidak enak, tapi kalau kamu menjalankan dengan penuh tanggung jawab maka semua akan enak walaupun harus mendapat hukuman. Emang kamu jadi ketua atau wakil kelompok" tanya balik Ricko.
" Dhea jadi ketua kak, awalnya Dhea mengira menjadi wakilnya tapi ternyata teman-teman nulis nama Dhea jadi ketuanya, itu saja Dhea tahunya ketika di panggil maju ke depan. Dari semua ketua kelompok hanya Dhea yang perempuan kak".
" Artinya mereka percaya sama kamu, tidak masalah siapapun itu ketuanya mau laki-laki atau perempuan yang terpenting dapat menjalankan tugasnya, inikan sudah jamannya emansipasi wanita. Lakukan tugasmu dengan baik, jangan mengecewakan mereka. Mengerti?"
"Iya kak Dhea mengerti, terima kasih kak".
"Sama-sama, sekarang kamu tidur duluan ini sudah jam sembilan. Siapkan energimu untuk besok?".
"Siap kak" jawab Dhea sambil meletakkan tangan di pelipisnya seperti orang menghormat. Dhea kembali mencium pipi ibu dan kedua kakaknya bergantian.
"Ibu, kak Ricko, kak Rissa, Dhea tidur duluan ya. Selamat malam".
__ADS_1
"Selamat malam" jawab ketiganya serentak.