
Satu persatu siswa baru masuk ke dalam aula dan duduk di tempat masing-masing. Salah satu guru pembina memberikan informasi bahwa Layanan Orientasi Siswa (LOS) akan segera di buka.
Acara demi acara sudah selesai setelah kepala sekolah memukul gong pertanda Kegiatan Orientasi telah resmi di buka. Segala urusan yang berhubungan dengan LOS sudah di serahkan kepada ketua panitia yang di bantu oleh anak-anak anggota OSIS terpilih.
Ketua OSIS memperkenalkan diri dan memanggil anak-anak yang tadi di hukum ke dalam aula. Mereka di minta untuk naik ke atas panggung satu per satu. Ketua OSIS memberikan peringatan keras kepada semuanya agar tidak mengulanginya lagi.
"Selamat pagi Semuanya. Perkenalkan saya Edo Prasetyo selaku ketua OSIS tahun ini. Di sebelah saya secara urut ada Lisa, Rere, jenny, Joe, Willy, Stanley, Louis, Jordan, Tania, Eliz, Aluna, Erika, Siska, Lusy, Ella, Ardi, Steven, Raymond, Fanny, dan Mike kami yang setiap hari selama satu minggu kedepan akan sering bertemu dengan kalian dan tidak segan-segan memberikan hukuman jika kalian melanggar aturan" ucap Edo tegas.
"Saya berharap nama-nama yang akan saya panggil adalah nama yang pertama dan terakhir dari kegiatan orientasi ini yang mendapat hukuman, bagi kalian yang saat ini duduk di depan saya, saya memberikan apresiasi atas kedisiplinan kalian dalam memenuhi segala perlengkapan kegiatan ini".
"Semua siswa baru yang berada di luar, silahkan masuk dan berdiri di atas panggung dengan rapi".
"Coba kalian perhatikan dan jangan sampai kalian mencontoh mereka. Ingat sekolah Mutiara Bunda bukanlah sekolah sembarangan, tidak semua anak bisa masuk di sini. Sekolah ini terkenal dengan kedisiplinan dalam segala hal. Jadi jika kalian semua merasa keberatan mengikuti kegiatan orientasi silahkan kalian angkat tangan dan mengundurkan diri".
Semua hening tidak ada yang berani mengeluarkan suara, bahkan untuk mengganti posisi duduk saja tidak ada yang berani.
"Ketua OSIS nya saja sudah serem begini, bagaimana dengan para guru dan senior yang lain. ****** kamu Dhea, bisa-bisa kamu pingsan jika di marahi secara langsung" batin Dhea.
Setelah memberikan peringatan kepada semua siswa baru, mereka yang tadinya berdiri di atas panggung di minta untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan. Acara selanjutnya ada materi tentang tata tertib di sekolah ini yang akan di sampaikan oleh salah satu pengajar disini.
****
Materi tentang tata tertib telah selesai di sampaikan Miss Nadia. Kini semua anak di bagi menurut menjadi beberapa kelompok dan akan di pandu oleh salah satu kakak senior di masing-masing kelompoknya. Satu kelompok maksimal berisi 15 siswa. Dhea berpisah kelompoknya dengan Mira, Ia termasuk kelompok dua yang terdiri dari 5 perempuan dan 9 laki-laki.
"Untuk semua kelompok silahkan berdiskusi untuk menentukan siapa yang akan menjadi ketua dan wakil ketua di kelompok kalian".
Dhea segera berkumpul dengan teman satu kelompoknya, ia memperkenalkan diri kepada semuanya.
"Hai....aku Dhea" sapanya kepada yang lain.
"Aku Mei, aku Roy, aku Sukma, aku Hilda, aku Nico, aku Frans, aku Bryan, aku Jodi, aku Ardi, aku Mike, aku Dio, aku Bayu" jawab mereka bergantian.
"Semoga kita kan menjadi tim yang solid ya" ucap Bryan.
"Siapa nih yang jadi ketua dan wakil dari kelompok kita" ucap Hilda kemudian.
"Bagaimana kalau Nico dan Jodi saja" usul Mei.
"Janganlah, bukannya aku tidak mau tapi tidak adil saja kalau laki-laki semua, paling tidak ada satu perempuan" ucap Jodi.
__ADS_1
"Trus siapa"? ucap Sukma.
Kakak senior kembali mengingatkan agar segera menyerahkan nama ketua dan wakil ketua tiap kelompok " Dalam waktu lima menit kalian harus menyerahkan nama ketua dan wakil kelompok kalian di depan dan mengambil kertas yang berisi pembina pendamping kalian".
"Belum juga ketemu, sudah teriak-teriak. Semoga saja kelompok kita tidak ketemu sama kak Edo" ucap Roy asal.
"Jangan bilang gitu Roy, keinginan kadang berbanding terbalik dengan kenyataan" ujar Frans kemudian.
"Matilah aku" ucap Roy menepuk dahinya dan di tertawakan oleh yang lain.
"Kamu itu Roy, badan aja besar tapi nyali kecil" ledek Hilda.
"Sudah jangan ribut, segera kita tentukan siapa ketua dan wakilnya" ucap Bryan kemudian.
Setelah banyak pertimbangan di antara mereka, akhirnya mereka memutuskan Bryan dan Dhea sebagai ketua dan wakil kelompoknya.
"Kalian yakin milih aku dan Bryan?" ucap Dhea setelah namanya diputuskan menjadi ketua dan wakil ketua.
"Kami yakin, kalian berdua bisa. Apalagi mengarahkan kami. Kamu terlihat kalem tapi jika marah kayaknya menakutkan deh Dhe" jawab Nico dan di angguki semuanya.
"Enak aja, memang aku hantu apa" ucap Dhea kesal sambil tertawa.
"Nih, segera kumpulkan ke depan dan ambil kertasnya" suruh Bryan pada Dhea.
"Ya iya-lah Dhe, masak Mei. Bisa pingsan duluan dia" ledek Frans yang dari tadi melirik ke Mei.
"Iya Dhea kedepan, tapi apapun nanti nama senior yang Dhea ambil, harus diterima dan tidak boleh menyalahkan Dhea, Setuju?"
"Siap setuju" ucap mereka serentak.
Dhea tidak pernah menduga bahwa akan mendapat kelompok dengan anggota yang lucu, urakan dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Dhea menuju anggota OSIS yang bertugas menerima nama-nama dari masing-masing kelompok tanpa membaca isinya. Bryan dan teman-temannya percaya kalau Dhea bisa memimpin kelompok mereka dengan baik sehingga Dhea di tulis sebagai ketua dan dirinya sebagai wakil sedangkan menurut Dhea justru sebaliknya bahwa Dhea yang wakil sedangkan Bryan ketuanya.
"Permisi kak, ini nama ketua, wakil ketua dan anggota kelompok dua" ucap Dhea sambil menyerahkan kertas kepada Edo dan Steven.
Edo hanya memandang Dhea sekilas sedangkan Steven dengan wajah badboynya bertanya pada Dhea.
"Siapa namamu?" tanya Steven.
"Dhea kak"
__ADS_1
"Silahkan ambil satu gulungan kertas dan jangan di buka sebelum di suruh" ucap Edo dingin.
"Ganteng iya, pintar iya, paket lengkap deh pokoknya tapi cueknya itu ampun deh"batin Dhea setelah mengambil kertas dan kembali ke kelompoknya.
"Siapa yang akan mendampingi kelompok kita" tanya Roy penasaran.
"Belum tahu, belum boleh di buka" Jawab Dhea.
Lima menit setelah pengambilan gulungan kertas yang berisi nama-nama senior pendamping, semua kelompok diminta untuk membuka gulungan kertas tersebut tanpa harus menyebutkan namanya. Semua kelompok antusias membuka gulungan kertas tersebut termasuk kelompok Dhea. Dari semua teman Dhea nampak Roy yang begitu gugup dan khawatir kalau sampai Edo yang menjadi senior pendamping.
"Nih, siapa yang mau buka" ucap Dhea meletakan kertas di tengah-tengah mereka.
Tidak ada yang berani mengambil kertas tersebut. Hening menatap gulungan kertas berwarna biru tersebut, seakan kertas tersebut berisi tagihan hutang sehingga tidak ada yang berani mengambil.
"Biar aku saja ya buka" ucap Sukma kemudian.
Sukma perlahan membuka gulungan kertas tersebut, raut wajahnya seketika berubah melihat tulisan nama di dalam kertas yang ia baca. Sukma menghela napas panjang, menepuk pundak Roy yang ada di sampingnya.
"Tabahkan hatimu Beb, keinginanmu bertolak belakang dengan nama di kertas ini".
Roy masih mencerna omongan Sukma, tiba-tiba otaknya LoLa (Loading lama), sedangkan teman yang lain sudah paham siapa yang menjadi senior pendamping mereka.
"Mampuslah aku, haduh bagaimana dong, siapa yang akan menolong aku jika aku melakukan kesalahan, aku takut" ucap Roy ketika ia sudah paham maksud Sukma.
Mendengar ucapan Roy semua langsung tepok jidat masing-masing. Hal yang tak pernah terduga harus mendapat senior pendamping ketua OSIS langsung yang baru beberapa jam melihat sikapnya sudah buat ciut nyali.
"Sudah, siapapun yang menjadi senior kita, setidaknya kita sudah tahu bagaimana kak Edo, daripada kita dapat senior yang lain kan belum tentu lebih baik dari kak Edo. Kita adalah satu kelompok jadi kesalahan kelompok juga kesalahan kita" ucap Dhea menenangkan semua.
"Benar kata Dhea, sekarang lebih baik kita fokus pada kegiatan selanjutnya. Kita harus buktikan bahwa kita adalah kelompok yang kompak" lanjut Bryan.
.
.
.
.
Adakah sesuatu antara Edo dan Roy......
__ADS_1
Tunggu saja kelanjutannya ya....
Tolong like, command dan Votenya jangan lupa ☺️