Lelaki Terhebat

Lelaki Terhebat
Alasan untuk tersenyum


__ADS_3

Dhea memasuki kelas XI IPA 1, ia mengambil napas panjang dan mengeluarkan perlahan sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangan. Terlihat seorang siswa tertidur di dalam kelas dengan tangan sebagai bantal. Tidak ada yang tahu apakah ia benar-benar tidur atau tidak, karena tidak ada yang berani untuk menganggunya.


Semua siswa yang ada di dalam kelas menatap penuh tanya pada Dhea yang berjalan mendekati salah satu meja di barisan belakang.


"Haduh, bentar lagi akan ada bencana di kelas kita. Itu anak berani sekali mendekati Dirga" ucap salah satu siswa yang melihat Dhea, dibalas anggukan kepala oleh teman di sekitarnya.


"Biarkan saja, kalau ada apa-apa, salah dia sendiri sudah berani membangunkan singa yang tidur, kita tidak perlu ikut campur".


Dhea semakin dekat dengan meja Dirga, ya nama siswa yang sedang tidur tersebut adalah Dirga. Siswa yang menjadi idola semua siswi di jenjang SMA. Dhea menggeser kursi yang ada di sebelah Dirga. Ia memutar topi yang ia pakai dan ikut meletakkan kepala di atas meja.


"Kak, memang enak ya tidur di kelas? kan mejanya keras pasti sakit?" Dhea berusaha membuka obrolan dengan Dirga, ia menekan lengan Dirga dengan jari telunjuknya tapi hasilnya nihil.


"Susah sekali sih, ini anak bener tidur atau pura-pura. Harus dengan cara yang lain nih" batin Dhea terus berbicara sedangkan pikirannya berusaha untuk mencari cara.


Dhea melipat salah satu tangan di atas meja, meletakkan dagunya dengan mata yang tertuju pada Dirga. Dhea mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya, tidak berapa lama Dirga mulai merasa terganggu, sepertinya apa yang Dhea lakukan sedikit menunjukkan hasil.


Sepuluh menit sudah Dhea melakukan itu tapi Dirga tetap saja tidak mau merubah posisinya, ia memilih untuk menutup telinganya. Dhea kini mengetuk meja bukan dengan jari telunjuk saja, tapi jari tengah dan jari manis juga ikut berperan. Ketukan yang dilakukan Dhea semakin lama semakin keras.


Dirga yang merasa terganggu, ia segera menegakkan kepala, memukul meja dengan keras "Hai, siapa sih yang berani menganggu tidurku" bentak Dirga.


Suara Dirga yang begitu keras diiringi dengan gebrakan di atas meja membuat Dhea kaget dan terjatuh dari duduknya.


"Aduh, tangan ku, tidak pakai teriak-teriak bisa tidak sih, buat kaget saja, mana jatuh lagi, sakit tahu" Dhea memegang tangan serta kemudian mengelus dadanya karena kaget dan mengomel tidak jelas.


Dhea tidak memperhatikan ekspresi orang yang ada di depannya antara marah, kaget, serta bahagia tidak begitu jelas. Dirga masih tetap diam memperhatikan Dhea yang mengelus tangan dan bergantian mengelus dadanya karena kaget, Dirga tersenyum memperhatikan tingkah Dhea.


Anak-anak yang ada di dalam kelas dan di luar sudah menduga ini akan terjadi, mereka tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Dirga marah, serta apa yang akan terjadi dengan Dhea.


Salah satu teman Nabila merasa khawatir, ia juga kaget dengan bentakan Dirga "Gawat, kasihan Dhea, pasti nanti di marahin habis-habisan sama Dirga".


"Aku juga kasihan tapi mau bagaimana lagi, Dhea sendiri yang mau, doakan saja tidak terjadi apa-apa" Nabila berusaha menenangkan diri dan teman-temannya.


"What? ini tidak bohong kan, aku tidak mimpi kan" teman di sebelah Nabila menepuk wajahnya berkali-kali untuk menyadarkan dirinya apakah mimpi atau nyata, tentu hal tersebut mendapat perhatian Nabila dan teman yang lain.


"Apa-an sih kamu, jangan rusuh deh. Yang heboh itu harusnya di dalam bukan kamu".


"Bukan gitu Bil, lihat sendiri kamu" ucapnya sambil memberikan tab pada Nabila.


Di sana terlihat dengan jelas bahwa kekhawatiran Nabila dan teman-temannya akan kemarahan Dirga tidak akan pernah terjadi. Di layar tab yang Nabila pegang terlihat dengan jelas bahwa Dirga sedang tersenyum memperhatikan Dhea yang mengelus dadanya karena kaget.


Nabila tersenyum melihat itu "Akhirnya setelah lama aku tidak melihat kamu tersenyum, kini aku bisa melihatnya lagi" guman Nabila.


"Jadi sekarang giliran kita yang bekerja, segera kita minta tanda tangan teman yang lain".


Di dalam kelas juga tak kalah hebohnya ketika melihat Dirga bukan marah tapi justru tersenyum, ini merupakan hal yang langka mereka melihat Dirga tersenyum.


"Kenapa kamu memeluk lantai" goda Dirga pada Dhea yang berusaha berdiri dari tempat ia terjatuh.


"Siapa juga yang memeluk lantai, ini jatuh tahu, J A T U H" Dhea menjawab dengan menekan kata jatuh, mengeja tiap hurufnya tanpa memperhatikan siapa yang bertanya. Ia masih sibuk mengelus tangan yang masih terasa sedikit sakit.


"Kualat itu namanya, makanya bisa jatuh".


"Siapa juga yang kualat, orang tidak berbuat sesuatu, kok bisa kualat" Dhea seakan tidak mau kalah dengan orang yang bertanya.


Dirga kembali menanggapi ucapan Dhea, ia begitu gemas melihat Dhea yang dari tadi berbicara tanpa melihat ke arahnya "Tidak ngapa-ngapain gimana? Siapa tadi yang menganggu orang tidur, pakai nyolek-nyolek trus mengetuk meja berkali-kali parahnya lagi semakin lama semakin keras, mengganggu orang tidur saja"


Dhea tersadar dan menegakkan kepalanya, ia mendongak menghadap ke sosok lelaki yang telah ia ganggu tidurnya tadi. Sosok laki-laki yang berdiri di depannya, laki-laki yang tampan dengan senyum yang begitu indah. Dhea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kali ini Dhea benar-benar mati kutu.

__ADS_1


"Tidak perlu melihat kayak gitu, aku tahu kalau wajahku itu tampan, kamu bebas kalau mau lihat aku kapan saja".


"Ih, jangan terlalu percaya diri jadi orang, siapa juga yang mau lihat orang yang dingin dan tidak bisa tersenyum kayak kamu". Dhea berucap lirih dan berharap orang yang di depannya tidak mendengar tapi harapan tinggallah harapan, karena Dirga mendengar dengan jelas ucapan Dhea.


"Apa kamu bilang, cowok dingin tidak bisa tersenyum? dasar pendek".


"Dasar tiang listrik".


"Dasar Cerewet"


"Laki-laki Bawel"


"Cewek tukang nganggu"


"Cukup, kita tidak akan berhenti kalau kayak gini terus, kalau sudah melawan perempuan sampai kapanpun pasti kalah. Aku Dirga?" ucap Dirga menyudahi perdebatan singkat dengan mengulurkan tangan. Ia tidak mau kesempatan berdua dengan Dhea akan berakhir dengan perdebatan tidak jelas.


Dhea yang sudah capek berdebat pun menerima uluran tangan Dirga "Dhea Men......."


"Mentari Putri, panggilannya Dhea. Anak terakhir dari tiga bersaudara mempunyai satu kakak laki-laki dan satu kakak perempuan" Dirga memotong ucapan Dhea.


Dhea melongo mendengar apa yang Dirga ucapkan "Kak Dirga tahu? Ih, menyebalkan deh".


Dhea memanyunkan bibirnya, memilih duduk di kursi dengan melipat kedua tangan di depan dada.


Dirga begitu gemas melihat Dhea yang cemberut, menurutnya Dhea begitu menggemaskan "Bagaimana tidak tambah suka jika cemberut saja sudah bikin meleleh hati ini" guman Dirga dalam hati. Senyum manis kini terlihat kembali di wajah Dirga yang juga sudah ikut duduk dengan kepala yang ditopang tangan kiri mengahadap ke arah Dhea.


"Sudah belum cemberutnya, itu bibir bisa di kuncir Lo, tapi sayang tidak bawa karet, masak iya di kuncir pake karet ban".


Dhea yang mendengar candaan Dirga akhirnya tersenyum " Jontor dong kalau diikat karet ban".


"Nah kalau senyum kan tambah cantik, enak di lihat juga". Dirga menggeser kursinya untuk menghadap ke arah Dhea.


"Ih percaya diri sekali jadi anak".


"Jelas Dhea percaya diri, waktu pembagian percaya diri Dhea datang lebih awal jadi dapatnya banyak".


"Sembako kali di bagi-bagi".


Dhea dan Dirga tertawa bersama sehingga semakin membuat heboh teman-teman Dirga yang ada di dalam kelas. Tapi tetap mereka tidak berani melakukan apapun.


"Teman-teman kakak pada penasaran dengan senyum kakak, katanya kakak tidak bisa tersenyum? tapi dari tadi Dhea lihat kakak tersenyum terus".


"Memang aku jarang tersenyum, bukan berarti tidak pernah tersenyum, hanya saat-saat tertentu saja. Biarkan orang lain menilai apa yang mereka lihat karena mereka tidak akan pernah mengerti alasan di balik itu semua, tapi kalau dengan kamu itu berbeda".


"Berbeda, apa......."


Dirga memotong ucapan Dhea "Tidak perlu tanya alasannya, karena tidak semuanya butuh alasan. Sekarang yang jelas kamu harus tanggung jawab karena sudah mengganggu waktu tenang aku?".


"Hah, tanggung jawab apa kak, Dhea tidak mau? tidak, Dhea tidak mau".


Dirga menyentil dahi Dhea, mengambil topi Dhea dan memakainya. "Sakit, kak Dirga?" Dhea mengelus dahinya.


"Makanya jangan mikir yang tidak-tidak, aku mau kamu nemenin aku di sini".


"Tapi kak, Dhea ha......"


Dirga memotong ucapan Dhea lagi. "Tidak ada alasan dan penolakan, mengerti". kini ucapan Dirga lebih tegas dengan wajah yang tegas dan terkesan dingin, tidak ada senyum lagi di wajahnya.

__ADS_1


Dhea menundukkan wajahnya, ia cukup takut dengan Dirga kali ini. Dirga yang menyadari kalau Dhea ketakutan segera memegang tangan Dhea "Maaf, bukan maksud aku......".


"Tidak apa-apa kak, Dhea yang salah. Kak Dirga tidak perlu minta maaf" kini Dhea yang memotong ucapan Dirga.


Hening diantara mereka, tidak ada yang berbicara. Dirga dengan perasaan menyesal sudah membentak Dhea, sedangkan Dhea merasa bersalah telah mengganggu Dirga.


"Kamu tidak marah kan sama aku?" Dirga berusaha membuka obrolan.


"Kenapa juga harus marah kak, nanti cepat tua, kan tidak ada yang salah" Dhea tersenyum menjawab pertanyaan Dirga.


"Senyummu mampu menenangkan aku Dhe, aku gak akan lepasin kamu. Kamu adalah milikku" batin Dirga.


Kini Dirga dan Dhea sudah kembali dengan obrolan yang terkadang tidak penting hingga datanglah Nabila dan teman-temannya ke arah Dhea dan Dirga.


Dirga memilih diam dan kembali memasang wajah dingin ketika Nabila dan teman-temannya datang.


"Kak, Nabila......"


"Nih, kamu cek dulu, semua sudah selesai" kini Nabila yang memotong ucapan Dhea. Nabila memberikan map yang berisi tanda tangan dari kelas yang sudah di janjikan Nabila.


Dhea membuka lembar demi lembar kertas yang ada di dalam map. Dhea mengerutkan kening karena hanya ada empat stempel kelas di sana. Nabila yang paham segera berbisik " Sudah aku bilang tadi, untuk stempel yang terakhir kamu harus minta sendiri".


Dirga merasa tidak suka ketika Nabila berbisik pada Dhea tapi ia tidak mau ikut campur, ia hanya bisa berguman dalam hati "Kenapa juga harus bisik-bisik, awas aja kalau bikin Dhea sedih".


Dhea kembali menatap Nabila tanpa berkata apa-apa, Nabila yang paham maksud dari tatapan Dhea, memberikan isyarat sebagai jawaban kepada Dhea. Nabila memainkan mata dengan melirik ke arah Dirga.


Seketika Dhea melotot mengetahui jawaban yang di berikan Nabila.


Nabila menahan senyum melihat ekspresi Dhea, ia kembali berbisik sebelum meninggalkan meja Dirga dan Dhea "Semangat ya, ini lebih mudah dari misi pertama, aku yakin kamu pasti bisa".


Dhea menarik napas panjang dan mengeluarkan perlahan. Bagaimana bisa Dhea meminta stempel pada Dirga setelah apa yang ia lakukan.


"Ada apa, ada masalah?" tanya Dirga penasaran melihat Dhea.


"Hmm anu kak, anu" Dhea ragu untuk menjawab atau memberikan map yang ia pegang secara langsung.


Tanpa banyak kata Dirga segera mengambil map yang Dhea pegang ia membuka isi map tersebut. Ia tersenyum karena tahu maksud dari apa yang Dhea ingin ucapkan "Ini kan yang kamu maksud?".


Dhea hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sedangkan Dirga sudah mengeluarkan stempel di dalam tasnya, setelah selesai ia memberikan map tersebut pada Dhea.


Dhea menerima map tersebut dari tangan Dirga dan menyimpannya dalam tas "Apa yang harus Dhea lakukan kak sebagai ucapan terimakasih".


"Tetaplah menjadi satu-satunya alasan bagiku untuk tersenyum. Aku antar ke bawah, kamu harus segera ke ruang guru kan, ini sudah hampir jam sebelas".


Dhea mengangguk dan mengikuti langkah Dirga di belakang. Dirga berjalan dengan menggenggam tangan Dhea, mereka menuruni tangga menuju lantai empat.


"Hati-hati, semoga berhasil ya" ucap Dirga sebelum benar-benar melepas genggaman tangannya. Ia mengelus rambut Dhea dan mengambil topi milik Dhea yang ia pakai.


"Lebih cantik pakai topi seperti ini daripada kayak tadi, aku tidak suka".


Dirga segera menaiki tangga untuk kembali ke dalam kelas, ia melihat Nabila dan teman-temannya yang baru saja kembali duduk di depan kelas. Dirga berhenti di depan mereka "Terima kasih untuk semuanya" ucapnya sambil tersenyum dengan tulus.


Mereka tidak menyangka Dirga mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Hal yang sungguh langka bisa melihat senyum itu, semua karena Dhea.


.


.

__ADS_1


Like comment dan Votenya jangan lupa kak


Terimakasih yang sudah mendukungšŸ¤—


__ADS_2