Lelaki Terhebat

Lelaki Terhebat
Tarik Menarik


__ADS_3

Hari-hari dilalui Dhea dan teman-teman dengan baik. Dua hari terakhir masa Orientasi diisi dengan kegiatan yang lebih menyenangkan dan menantang. Kegiatan yang biasanya hanya bertemu dengan senior dan guru pendamping kini harus melibatkan hampir seluruh anggota sekolah baik di jenjang yang sama maupun yang lebih tinggi.


Pagi ini Dhea sudah rapi dengan celana jeans warna hitam, kaos berkerah berwarna biru, sneaker berwarna putih, tak lupa Topi dengan warna putih. Rambut panjangnya ia ikat ekor kuda. Penampilan yang berbeda dengan hari-hari yang lain.


"Pagi ibu, Kak Ricko, Kak Rissa".


Rissa yang selesai meletakkan masakan di atas meja penasaran dengan tampilan Dhea "Waw.....mau kemana dek, cantik benar. Memang tidak sekolah hari ini?".


Ricko terus memperhatikan penampilan Dhea. Walaupun Ricko tidak selalu membelikan baju atau apapun tapi dia tahu mana yang punya Dhea dan bukan. "Biasa saja kak, sekolah kak cuma hari ini sama besok kegiatannya beda dari hari-hari kemarin".


"Itu kaos dari mana? Siapa yang membelikan? Perasaan kakak tidak pernah lihat kamu pakai itu kaos. Jangan bilang kamu beli sendiri?"


"Ya tidak mungkin beli sendiri kak, Dhea kapok beli sendiri" Dhea mengangkat tangan dengan jari telunjuk dan tengah yang berdiri memberi tanda damai pada Ricko. "Ini dari orang tua salah satu kelompok Dhea kak, katanya untuk seragam kelompok baru kemarin di berikan kak".


"Kakak kira kamu beli sendiri, ingat dek bukan kakak melarang tapi saat ini kamu belum waktunya untuk beli sendiri".


"Iya kak, Dhea paham".


"Kamu ini Rick, baru Dhea memakai baju bukan dari kamu, Rissa atau ibu sudah seperti itu. Bagaimana kalau Rissa dan Dhea ada yang mendapatkan baju dari pacarnya, masak mau marah?".


"Ya bukan gitu Bu, kalaupun mereka punya pacar harus aku seleksi terlebih dahulu mana yang pantas dan tidak untuk mereka Bu".


"Memang mau lomba harus di seleksi dulu, masalah hati tidak bisa di seleksi Rick. Kapan kamu mengenalkan calon kamu sama ibu dan adik-adik kamu".


"Kenapa larinya ke pacar sih Bu, tadi kan bahasnya kaos. Ibu mah gitu, selalu memberikan pertanyaan yang belum tentu bisa Ricko jawab sekarang".


Sari, Dhea dan Rissa tertawa melihat ekspresi Ricko jika ditanya tentang calon istri. Pagi ini Ricko kalah telak sehingga tidak bisa mengerjai Dhea seperti hari hari yang lain.


****


pukul 06.45 Dhea sudah tiba di sekolah, hari ini Ricko mengantar sampai depan gerbang sekolah, tidak seperti hari-hari yang lalu ketika ia hanya mengantar sampai ujung jalan.


Suasana di sekolah juga berbeda dari hari kemarin, tidak ada lagi pemeriksa perlengkapan, seragam dan bekal. Semua anak antusias menyambut hari ini dan esok.


Dhea segera berpamitan dengan Ricko. "Kak, Dhea masuk dulu ya. Terima kasih, hati-hati di jalan".

__ADS_1


"Iya dek, ingat tetap patuhi peraturan".


Dhea sedikit menjauh dari kakaknya, ia ingin mengerjai Ricko sebelum masuk ke dalam sekolah "Siap kak, jangan lupa segera cari pacar, biar ibu tidak menanyakan lagi".


"Awas kamu ya dek, lihat nanti di rumah". Ricko memang belum mempunyai pacar, tapi hatinya sudah menjadi milik seorang gadis teman SMAnya dulu. Tapi karena suatu hal Ricko sampai sekarang belum berani mengungkapkan perasaannya.


Dhea membalikkan badan setelah melihat kakaknya pergi, baru lima langkah Dhea berjalan ada yang menepuk bahu Dhea dari belakang.


"Hai, selamat pagi".


"Pagi, kamu mengagetkan saja Mei. Kalau aku jantungan bagaimana? mau tanggung jawab?".


"Kalau jalan jangan hanya fokus pada jalan. Lihatlah kanan kiri depan belakang kita banyak cowok cakep Dhe. Untungnya kamu tidak jantungan kan Dhe, bisa gawat kalau kamu jantungan, mana di sini tidak ada pohon pisang buat menggantikan jantung kamu".


"Enak aja kamu, jantung aku lebih mahal tahu".


"Eh.....bentar-bentar" Mei memegang pundak Dhea dan memutarnya, memperhatikan dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Apa-an sih Mei. Pusing tahu".


"Tahu lagunya Andra and the BackBone yang liriknya Kau begitu sempurna Dimataku kau begitu indah


Dhea mengangguk tanda mengerti.


"Sempurna kan judulnya".


"Betul sekali, seratus buat kamu".


"Trus apa hubungannya"


"Ya penampilan kamu hari ini itu perfect alias sempurna".


Dhea masih belum paham maksud dari Mei. Menurutnya penampilan hari ini biasa saja.


"Ayolah, cepat kita ke aula, Jangan sampai terlambat. Malas aku harus lari-larian lagi". Mei menarik tangan Dhea dan berjalan cepat menuju aula.

__ADS_1


Dari kejauhan tampak Edo dan Steven mengawasi jalan masuk menuju aula. Edo tampak sesekali melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. "Sepuluh menit lagi sudah mau masuk, kenapa dia belum kelihatan juga. Apa dia sakit?". "Tidak.....tidak.... kemarin dia sehat-sehat saja atau ada sesuatu di jalan, aarrggggggg......" batin Edo bergejolak sudah hampir 30 menit ia menunggu di sana, tapi orang yang di tunggu belum juga kelihat.


Steven menepuk bahu Edo yang dari tadi begitu khawatir "Tuh lihat, bidadari kamu sudah datang". Edo segera melihat ke arah yang di tunjuk oleh Steven, ia tersenyum melihat dari kejauhan seorang gadis yang di tarik temannya walaupun tidak begitu jelas terlihat. Wajah yang tadi kusut seperti baju tidak di setrika kini sudah berubah. Ia berusaha menguasai hatinya, mempersiapkan diri ketika orang yang spesial lewat di depannya.


Mei yang melihat di depannya sudah ada seniornya segera memperlambat jalannya, sedangkan Dhea yang tidak memperhatikan, tidak bisa memelankan jalannya sehingga Dhea menabrak punggung Mei. "Haduh Mei, apa-an sih, tadi narik-narik sekarang berhenti mendadak, sakit tahu nih hidung" Dhea mengelus-elus hidungnya yang sakit dan terus berbicara tanpa memperhatikan di depannya.


"Ssstttt diam dulu kenapa Dhe, lihat itu di depan ada kak Edo dan kak Steven" ucap Mei berbisik pada Dhea.


"Selamat pagi kak Steven, kak Edo, kami duluan ya" sapa Dhea yang kini gantian menarik Mei untuk mengikuti jalannya.


"Aku tidak menyangka sama sekali Do, Dhea hari ini beda banget tidak seperti biasanya. Kali ini lebih cantik, kita saingan secara sehat saja ya" seketika jahilnya Steven kumat dan ingin menggoda Edo ketika melihat Edo yang masih bengong memperhatikan Dhea sampai menghilang di balik pintu aula.


"Kalau aku tidak masalah kita bersaing secara sehat tapi apa Dhea mau sama kamu yang suka kentut sembarangan, mana bau lagi" gantian Edo yang menjahili Steven.


"Kamu cantik sekali hari ini Dhe, hari biasa saja kamu sudah cantik apalagi hari ini, meleleh hati Abang dek" ucap Edo dalam hati.


"Kamu sih Mei, tidak bilang-bilang kalau di depan ada kak Steven dan kak Edo, aku kan jadi malu ketahuan ngomel-ngomel tidak jelas".


"Salah kamu sendiri Dhe, kenapa malu ya di depan kak Edo" goda Mei sambil tertawa.


Tawa Mei yang lumayan keras menjadi pusat perhatian teman-teman serta kakak pendamping yang sudah ada di dalam aula. Dhea segera menutup mulut Mei dengan telapak tangannya.


"Hei, bisa pelankan suaramu tidak, tuh dilihatin semua orang".


Mei segera melihat ke sekeliling aula, dan benar saja semua orang tertuju padanya. Kini giliran Mei yang malu sendiri. Ia segera berlari menuju meja kelompoknya yang kemudian di susul oleh Dhea.


.


.


Selamat hari raya idul Fitri 1441 H


Mohon maaf lahir batin


.

__ADS_1


.


Sebelum atau sesudah baca tolong Like, Command dan Votenya


__ADS_2