
Dhea kembali menuruni anak tangga, ia harus segera ke ruang meeting staf dan tenaga pengajar. Di lantai tiga ia bertemu dengan Bryan. Dhea berteriak memanggil Bryan yang berjalan ke arah berlawanan dengan Dhea.
"Bryan, tunggu sebentar?".
Bryan membalikkan badan dan melihat Dhea di dekat tangga, ia berjalan menghampiri Dhea. "Dhe, ada apa? kamu sudah dapat berapa? Kamu harusnya ke ruang meeting kan?" tanya Bryan setelah melihat jam di pergelangan tangan kanannya.
"Iya ini baru mau ke sana. Aku udah lumayan dapat banyak, tapi waktunya sudah mepet jadinya tidak aku lanjutkan. Kamu sudah dapat berapa?".
"Lumayan Dhe, dapat 100 lebih, buruan sana kamu ke bawah dulu. Nanti aku rekap semuanya. Semoga sukses ya, semangat".
"Terima kasih, Bryan. Kamu juga semangat".
Dhea kembali berjalan menuju ruang meeting. Dari kejauhan tampak beberapa ketua kelompok seangkatan Dhea sudah menunggu di sana.
"Hai Max, Hay semua. Sudah lama nunggu di sini. Maaf, Dhea terlambat?".
"Hai Dhe. Santai saja, kami juga barusan datang".
"Dhe, bagaimana tadi, dapat banyak tidak. Sumpah ya, kakak kelas pada ngerjain semua cuma untuk minta tanda tangan, kalau bukan karena tugas malas aku Dhe" Max yang duduk di sebelah Dhea mulai curhat nasibnya ketika mencari tanda tangan.
"Ye, memang aku juga mau kayak gitu. Malas aku, tapi ya mau bagaimana lagi, ini bagian dari tugas. Tapi lumayan banyak sih dapatnya walaupun harus memeluk lantai segala karena ada singa yang mengamuk".
"Apa....!!"
"Singa mengamuk, dimana Dhe? kamu tidak apa-apa kan?".
Dhea beneran tepok jidat gara-gara pertanyaan Max yang menganggap ucapan Dhea benar "Ampun deh Max, ya bukan singa beneran. Tapi kakak tingkat yang lagi tidur aku gangguin, cuma buat lihat senyum dia. La tidak tahunya dia menggebrak meja. Aku yang kaget langsung jatuh, nih siku aku sedikit lebam" Dhea menunjukkan sikunya yang sedikit lebam karena terbentur lantai.
"Ya kamu juga Dhe, orang tidur digangguin. Bentar-bentar, jangan bilang kamu di kelas XI IPA" Max mencari tahu karena tadi pertama kali Max ke kelas itu dan sudah dapat tatapan tajam dari Dirga.
"Aku tadi di kelas itu, memang kamu sudah ke sana?".
"Ya ampun Dhe, baru aku mau kasih tahu, kalau bisa jangan ke kelas itu. Kapok aku Dhe, baru dilihatin saja sudah gemetaran, tatapannya serem banget Dhe. Tidak jadi minta tadi aku".
Dhea tertawa melihat melihat ekspresi ketakutan yang masih terlihat di wajah Max. Dhea berusaha menenangkan Max, "Sudah tidak perlu dipikirkan, sekarang kita harus mempersiapkan diri untuk menjawab semua pertanyaan nanti".
"Selamat siang semua. Sudah siap kan hari ini" Mr Danu yang baru saja datang menyapa anak-anak yang ada di sana.
"Siang, Mr Danu. Kami sudah siap Mr".
"Ya sudah, tunggu sebentar, nanti akan Mr panggil satu persatu secara acak. Good luck".
Mr Danu masuk ke dalam ruangan meeting yang cukup luas karena bisa menampung kurang lebih 100 orang. Semua anak yang ada di luar, terlihat sangat gugup, begitupun dengan Dhea. Walaupun Dhea sudah mempersiapkan diri tapi ia masih grogi dan takut tidak bisa menjawab segala pertanyaan yang di ajukan.
__ADS_1
Satu jam Dhea sudah menunggu di luar ruangan meeting, baru saja Max masuk ke dalam, yang tersisa hanya lima anak termasuk Dhea. Dhea menarik napas dan mengeluarkan perlahan untuk mengurangi rasa gugupnya, dan ternyata itu sungguh efektif.
Pintu masuk ruang meeting terbuka, Mr Danu dan Max terlihat keluar dari pintu itu.
"Dhea, silahkan masuk?" Mr Danu meminta kepada Dhea untuk masuk setelah mengantar keluar Max.
"Semangat Dhe, saya yakin kamu pasti bisa" Max yang berpapasan dengan Dhea memberikan semangat. Dhea hanya membalas dengan senyuman pada Max.
Dhea berdiri di depan para staf dan pengurus yayasan yang Dhea tidak ketahui yang mana, karena mereka semua duduk di tempat yang sama. Jantung Dhea benar-benar berpacu dengan cepat.
Mr Danu yang duduk di kursi paling depan memberikan arahan kepada Dhea.
"Dhea, silahkan perkenalkan diri kamu secara singkat kepada semua yang ada di sini".
"Perkenalkan nama saya Dhea Mentari Putri biasa di panggil Dhea. Saya disini mewakili kelompok dua. Terima kasih".
Salah satu orang yang duduk di antara para staf segera mengangkat kepala melihat ke arah depan ketika mendengar Dhea memperkenalkan diri. Nama inilah yang ia ditunggu, tapi tidak menyangka kalau Dhea adalah salah satu ketua kelompok yang akan ia beri pertanyaan. Dari ketua kelompok pertama yang di panggil ia hanya fokus pada tab yang ia bawa. Tapi mendengar nama itu, ia menghentikan aktivitas dan fokus ke depan. Ia ingin melihat secara langsung seperti apa anak yang telah di rekomendasikan oleh Omnya tersebut.
Richard sebagai pengelola yayasan keluarga yang sedang memperhatikan Dhea dengan seksama, penilaian saat pertama kali melihat juga sama dengan omnya, Steven.
"Dhea Mentari Putri, mengapa kamu bersedia menjadi ketua kelompok padahal dari semua ketua kelompok hanya kamu yang perempuan? Apa alasanmu?" Salah satu guru memberikan pertanyaan pada Dhea.
"Kalau boleh jujur sebenarnya saya tidak tahu kalau saya adalah ketua dari kelompok dua, karena ketika pemilihan hanya ada dua nama saya dan Bryan. Awal ketika saya menyerahkan kertas, saya berpikir nama Bryan yang ada di posisi ketua tetapi pada kenyataannya justru sebaliknya. Saya menerima karena mereka percaya dengan kemampuan yang saya miliki dan saya akan berusaha menjaga kepercayaan yang mereka berikan walaupun saya perempuan".
"Secara pastinya saya belum tahu mendapat berapa tetapi saya yakin kelompok kami bisa mendapatkan lebih dari 500 tanda tangan".
"Apa yang menyebabkan kamu begitu yakin bisa mendapatkan jumlah yang lumayan banyak?".
"Sebelum kami menjalankan tugas, kami membagi menjadi empat area yang wajib dilaksanakan terlebih dahulu secara kelompok atau individu. Oleh karena itulah saya yakin bahwa kelompok kami akan mendapatkan jumlah yang banyak".
Mr Richard tersenyum mendengar jawaban dan kepercayaan diri Dhea. Ia berharap nanti dia yang akan memberikan pertanyaan terakhir.
Mr Danu kembali memberikan arahan pada Dhea.
"Baiklah Dhe, sekarang kamu ambil satu gulungan kertas yang ada di kotak tersebut, kamu buka dan sebutkan namanya. Orang yang namanya kamu sebut akan memberikan satu pertanyaan, jika kamu beruntung kamu bisa memperoleh tanda tangan orang penting di tempat ini".
Dhea segera mengambil satu gulungan kertas yang menurutnya berisi salah satu nama staf di ruangan tersebut. Dhea membaca nama yang ada dalam gulungan tersebut.
"Siapa nama yang tertulis di kertas tersebut Dhe?"
"Nama yang akan memberikan pertanyaan pada saya adalah Mr Richard.
"Apa harapan yang ingin kamu sampaikan pada Mr Richard?" Mr Danu berusaha memecah keheningan setelah Dhea menyebutkan nama yang tertulis. Banyak pemikiran di benak mereka masing-masing.
__ADS_1
"Saya berharap Mr Richard memberikan pertanyaan yang mudah bagi saya sehingga saya bisa menjawab pertanyaannya" jawab Dhea dengan tersenyum.
Kecemasan yang terlihat di dalam benak masing-masing staf justru berbanding terbalik dengan Mr Richard sendiri. Ia justru tersenyum mendengar namanya di sebutkan.
Mr Danu mempersilahkan Mr Richard untuk memulai memberikan pertanyaan.
"Mr Richard silahkan!".
"Selamat siang Dhea, apa kabar hari ini?".
"Siang Mr, kabar Dhea luar biasa".
"Luar biasa nervous ya".
Dhea hanya menganggukkan kepalanya. Ia benar-benar mati kutu. Aura yang dipancarkan Mr Richard terlihat berbeda dari beberapa staf yang sudah bertanya padanya.
"Apa yang kamu ketahui tentang sekolah Mutiara Bunda? Bagaimana pendapatmu mengenai kebijakan yang di ambil di sekolah ini sehubungan dengan penerimaan peserta didik baru?".
"Sebelum saya menjawab, saya meminta maaf jika kata-kata saya kurang berkenan".
"Sekolah Mutiara Bunda adalah sekolah keluarga yang didirikan atas permintaan ibu Cristine. Bagi generasi sekarang yang mengelola sekolah ini, ibu Cristine adalah nenek buyutnya".
"Awal mendirikan sekolah ini tentu di tentang keluarga yang biasanya menjalankan bisnis, dengan banyak pertimbangan sekolah ini didirikan hanya untuk kalangan atas".
"Seiring berjalannya waktu, sekolah ini semakin besar dan keluarga menyadari betapa pentingnya pendidikan yang memadai, sehingga mulai sepuluh tahun yang lalu sekolah ini menerima peserta didik dari keluarga biasa dan menengah dengan jalur prestasi".
"Saya pribadi sangat berterima kasih di beri kesempatan untuk belajar di tempat ini, karena walaupun para siswanya banyak dari keluarga terpandang tapi kedisiplinan, kejujuran dan tanggung jawab menjadi ciri khas sekolah ini. Siapa yang salah, pasti akan mendapat hukuman tanpa melihat status orang tuanya".
"Semoga kedepannya, kuota untuk jalur prestasi lebih banyak dari tahun ini, sehingga banyak generasi muda yang hebat dan mempunyai potensi mendapatkan pendidikan yang memadai. Terimakasih".
Semua guru tersenyum menjawab pertanyaan Dhea, mereka semua bertepuk tangan sebagai apresiasi atas jawaban Dhea.
"Bagaimana Mr Richard, apakah jawaban Dhea sudah sesuai dengan pertanyaan yang di ajukan atau masih ada pertanyaan yang lain" tanya Mr Danu untuk memastikan jawaban Dhea.
"Sudah cukup Mr Danu, jawaban Dhea sudah mewakili semuanya. Saya hanya berharap untuk kedepannya Dhea bisa menjadi lebih baik lagi dan dapat memberikan kontribusi nyata bagi sekolah ini".
"Memang benar, Om Steven tidak salah memilih Dhea" guman Mr Richard dalam hati.
"Para staf yang ada di sini saya harap untuk memasukkan tanda tangan yang sudah di buat dalam map yang sudah di sediakan".
Mr Danu mengambil map tersebut dan memberikan kepada Dhea.
"Ini hasil kerja kamu hari ini, ingat jangan di buka".
__ADS_1
"Baik Mr, terima kasih".