
Orang tua Sila dan Yudha merasa terharu melihat Dhea dan keluarganya berada di atas panggung. Walaupun bukan anak kandung mereka, tapi mereka sudah menganggap Dhea seperti anaknya sendiri. Mereka juga sedikit banyak tahu tentang kelakuan ayah Dhea.
Keharuan masih terasa di ruangan tersebut. Bahkan Bu Widya juga ikut merasakannya. Ketika Dhea sudah melepaskan pelukannya. Bu Widya selanjutkan memberikan sebuah piagam dan surat kelulusan dari sekolah.
"Terimakasih untuk berkah yang engkau limpahkan, engkau selalu memberikan sesuatu yang hamba butuhkan, bukan yang hamba inginkan" batin Dhea ketika berjalan menuju tempat duduk masing-masing.
"Walaupun anak-anak yang lain belum bisa menjadi seperti mereka berempat yang sudah terlebih dahulu menerima hasil kelulusan tapi bapak yakin kalian akan menjadi anak-anak yang membanggakan. Bapak ibu dan tamu undangan yang saya hormati selanjutnya saya akan panggilkan nama anak-anak satu persatu sesuai no absen untuk mengambil hasil ujian dengan di dampingi orang tuanya masing-masing" ucap MC melanjutkan acara.
Anak beserta orang tua satu persatu di panggil dan menerima hasil ujian anak-anaknya. Pukul satu siang acara sudah selesai dan semua membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing.
Banyak orang tua yang memberi selamat kepada Dhea dengan prestasi yang telah di perolehnya. Semuanya ikut bangga. Sila dan Yudha serta teman-teman yang lain mengucapkan selamat padanya.
"Selamat Dhe, akhirnya perjuangan selama ini membuahkan hasil" ucap Yudha.
"Terimakasih, Yud, ini juga berkat bantuan kalian"
"Dhe, selamat ya. Kamu makan apa sih. Kog otaknya encer kayak gitu" ucap Sila asal.
Belum juga Dhea menjawab ucapan Sila, mama Sila langsung jawab "Mau makan apapun asalkan semangat belajar ya nilainya bagus, la kamu minta makan ini itu tapi habis makan bukannya belajar malah tidur, gimana mau pintar"
Sila yang mendengar ucapan mamanya menjadi cemberut. "Mama ih, masak kejelekan anak sendiri di umbar, kan malu"
Semua yang ada di sekitar mereka tertawa mendengar ucapan Sila dan mamanya.
Sila, Yudha dan teman-teman yang lain berpamitan untuk pulang duluan. Dhea dan keluarganya juga hendak pulang tapi sebelum mereka sampai di parkiran. Pak Yanto pesuruh di sana memberitahu kalau Bu Widya memanggil Dhea.
"Dhe, di panggil Bu Widya keruangannya" ucap pak Yanto.
"Kira-kira ada apa ya pak?"
"Bapak kurang tahu Dhe, tadi bapak cuma di suruh memanggilmu saja tanpa ada pesan?
"Oh iya pak, terimaksih. Saya akan menemui Bu Widya".
"Ibu, kak Ricko, kak Rissa, Dhea ke ruangan kepala sekolah dulu ya, jangan di tinggal?"
"Lima menit gak balik, kakak tinggal" ucap Ricko
"Kak Ricko,nyebelin" ucap Dhea sambil menghentakkan kaki.
"Makanya cepetan sana, kalau kamu masih di sini bakalan tidak pulang-pulang".
Dhea berjalan menuju ruang kepala sekolah.
"Jahilin terus aja adikmu, mumpung masih bisa" ucap Sari setelah Dhea berjalan ke ruang kepala sekolah.
__ADS_1
"Hehehe, maaf Bu. Habis muka Dhea itu lucu kalau lagi marah".
"Punya anak tiga tapi jahilnya tidak ketulungan semua" guman ibu yang di dengan Rissa dan Ricko.
Dhea sudah berada di depan ruang kepala sekolah. Ia mengetuk pintu sebelum masuk.
Tok...tok...tok....
"Masuk".
"Selamat siang Bu, apa ibu manggil Dhea"
"Iya nak, sini duduk disebelah Bu Wahyu".
"Sekali lagi ibu ucapkan selamat atas prestasi kamu. Semoga segala yang kamu cita-citakan dapat terwujud ya nak".
"Terima kasih Bu, semua yang Dhea peroleh hari ini karena jasa bapak dan ibu guru di sini yang sudah mendidik dan mengajari Dhea".
"Sebenarnya ini akan ibu berikan di atas panggung tadi, tapi karena suratnya belum datang ya baru sekarang ibu kasih, untungnya kami juga belum pulang nak".
"Memangnya surat apa Bu?" tanya Dhea menatap Bu Wahyu dan Bu Widya untuk mencari jawaban tapi hanya di balas senyuman dari keduanya.
"Kamu buka saja di rumah, pasti kamu akan senang nak" jawab ibu kepala sekolah.
"Baik bu, Dhea terima suratnya. Apakah masih ada hal yang lain Bu. Kalau tidak ada Dhea permisi pulang dulu"
"Baik bu, Dhea pamit" ucap Dhea mencium tangan Bu Wahyu dan Bu Widya bergantian.
Dhea berjalan keluar dari ruangan Bu Widya ia masih menatap amplop putih polos yang ia pegang.
"Apa ya isinya? kalau uang kayaknya tidak mungkin?. Sudahlah ngapain juga mikirin isinya apaan. Biar kak Ricko saja yang buka. Kalau isinya tagihan membayar kan Dhea gak perlu buang tenaga untuk minta, hemat energi" ucapnya sambil senyum-senyum.
Ricko yang melihat Dhea berjalan menuju kearahnya merasa heran.
"Anak ini memang sulit di tebak. Tadi sewot sekarang senyum-senyum. Riss tahu kenapa adikmu senyum kayak gitu?
"Adik kita kali kak, ya mana Rissa tahu kan Rissa dari tadi sini"
"Tidak perlu tanya ibu? ibu juga tidak tahu. Nanti tanyain langsung sama anaknya" jawab ibu sebelum Ricko mulai bertanya.
"Wah...., ibu memang yang terbaik. Ricko saja belum nanya tapi udah di jawab"
"Ibu itu sudah hapal benar sifat-sifat kalian".
Ricko dan Rissa hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya, karena kenyataannya memang seperti itu.
__ADS_1
"Ngapain tadi senyam-senyum sambil jalan, mau di kira orang gila" tanya Ricko pada adiknya yang baru saja duduk di sampingnya.
"Enak aja dikatain orang gila, nih Dhea di kasih amplop sama Bu Widya. Tidak tahu isinya apa? kalau uang gak mungkin. Kali aja isinya tagihan administrasi buat kak Ricko".
"Ya kalau isinya tagihan administrasi tidak masalah, kakak akan bayar uang sekolahnya. Kan masih ada uang buat daftarin kamu ke Mutiara Bunda" balas Ricko mengerjai adiknya sambil perlahan menjalankan kendaraanya.
"Lah, kok gitu sih kak. Trus uang daftar sekolah Dhea gimana? masak iya mau ngutang".
Mendengar jawaban Dhea, Ricko, Rissa dan Sari malah tertawa.
"Tidak ada yang lucu, ngapain tertawa"
"Memang gak ada yang lucu dek, tapi lihat muka kamu yang kusut kayak baju tidak pernah di setrika yang bikin lucu" jawab Rissa.
Dhea semakin cemberut dan berusaha meminta bantuan ibunya.
"Ibuuu......."
"Sudah, gak boleh cemberut. Ini hari bahagia kamu. Harus senyum ya anak ibu yang cantik".
"Dek, mau langsung ke rumah atau kemana dulu" tanya Ricko pada Dhea
"Pulang aja kak, capek"
"Beneran langsung pulang, tidak mau mampir beli apa gitu" ucap Rissa kemudian.
"Pulang aja kak, uangnya di tabung, itung-itung buat nambahi uang daftar sekolah" hahaha jawabnya sambil tertawa.
"Mudah-mudahan amplop misterius ini, isinya bukan tagihan administrasi sekolah. Kalau iya gimana aku daftar sekolahnya? Masak iya si Emon aku pecahin" ucapnya dalam hati.
"Kamu itu dek ada-ada saja, kamu tidak perlu khawatir masalah biaya. Kami sudah siapkan semua".
"Terimabkasih Ibu, kak Ricko, kak Rissa, maaf Dhea bisanya cuma menyusahkan kalian".
" Sayang, itu sudah menjadi kewajiban kami. Tidak boleh bilang gitu ya".
"Iya Bu, maaf....."
.
.
.
Kira-kira apa isi amplop yang di berikan Bu Widya???
__ADS_1
Jangan lupa like, command dan Vote ya
Selamat membaca