
Aku tak minta semua kasih sayangmu
Cukup sisakan perhatian sedikit untukku (Dirga)
Arkana Dirgantara Kesuma anak kedua dari keluarga Kesuma. Ia mempunyai seorang kakak laki-laki yang bernama Ardana Abhimanyu kesuma. Usia mereka hanya terpaut tiga tahun, Abhi panggilan untuk kakak Dirga sangat menyayangi adiknya.
Hari-hari mereka lalui dengan penuh kebahagiaan, Dirga sangat menyayangi kakak serta kedua orangtuanya. Walaupun orang tuanya sibuk dengan pekerjaan tapi mereka selalu meluangkan waktu untuk kedua anak mereka.
"Hai, anak-anak mommy sedang main apa?" Cecilia yang Baru saja pulang kerja menghampiri kedua anak mereka.
"Mommy sudah pulang, Dirga dan kak Abhi main robot-robottan mom".
"Mommy mandi dulu ya, terus memasak buat kalian. Kalian mau makan apa?".
"Nasi goreng spesial mom" jawab kompak mereka.
"Sini cium mommy dulu sebagai upahnya".
Dirga dan Abhi segera berdiri dan mencium pipi kanan dan kiri Cecilia secara bersamaan.
"Ingat jangan berebut mainan ya" ucap Cecil sebelum benar-benar meninggalkan kedua anaknya.
"Kak Abhi wajahnya pucat, kak Abhi sakit ya?". Dirga meletakkan telapak tangan ke dahi kakaknya, ia sangat khawatir padanya.
Senyum selalu menghiasi wajah Abhi, ia memegang tangan Dirga yang ada di atas dahinya " Kakak tidak apa-apa. Kamu jangan khawatir, lebih baik kita mandi sekarang setelah itu nanti makan. Tahu sendiri Daddy akan marah kalau kita terlambat mandi".
Dirga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, hampir setiap hari Dirga selalu di marahi Daddynya karena selalu mandi terlambat "Kakak duluan saja ya, Dirga membereskan mainan ini dulu".
"Kakak bantu supaya cepat selesai".
"Kak Abhi lupa ya?" Dirga sedikit cemberut ketika kakaknya mencoba membantu Dirga. "Ini kan memang giliran Dirga yang harus membereskan mainan. Kalau kakak bantu terus kapan Dirga bisa belajar mandiri" ucapnya lagi.
"Kakak lupa, ya sudah kakak tinggal dulu. Ingat jangan sampai ada yang kelupaan".
__ADS_1
Hari-hari mereka lalui dengan penuh kebahagiaan hingga pada suatu hari Abhi tiba-tiba pingsan di sekolah. Saat itu ia sudah kelas 6 Sekolah Dasar sedangkan Dirga kelas 3.
Cecilia dan Bramantyo yang mendapat kabar bahwa Abhi pingsan segera menuju ke sekolah. Mereka langsung pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Abhi. Dirga bisa melihat kecemasan di wajah kedua orang tuanya.
"Kak Abhi pasti baik-baik saja kan mom, Dad? Kak Abhi akan sembuh kan?".
Cecilia tersenyum dan memeluk Dirga, ia berusaha menenangkan Dirga walaupun dirinya juga sangat cemas dengan keadaan Abhi.
"Kak Abhi kan anak yang kuat, pasti kak Abhi cepat sembuh".
Bram mendekati istri yang sedang menenangkan Dirga. Ia paham benar dengan perasaan mereka. "Kamu juga harus jadi anak yang kuat seperti kak Abhi, jadi kalian bisa melindungi mommy dan Daddy nantinya".
Dokter yang memeriksa Abhi keluar dari ruang Unit Gawat Darurat (UGD) ia meminta keluarga dari Abhi untuk menemuinya di dalam ruangan. Cecilia tidak tega meninggalkan Dirga sendiri sehingga hanya Bram uang masuk.
Bram masuk ke ruangan dokter tersebut dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.
"Bagaimana keadaan Abhi anak saya dok. Ia baik-baik saja kan?" Bram yang sudah penasaran dengan keadaan Abhi langsung bertanya ketika ia baru saja duduk.
Dokter Arya sedikit menghela napas, ia takut jika diagnosanya tidak dapat di terima keluarga pasien.
"Tapi apa dok, cepat katakan dok? Soal biaya berapapun akan saya bayar yang terpenting anak saya sehat kembali" Bram yang memang tidak sabar memotong ucapan dokter Arya. Kecemasan dan kekhawatiran dalam diri Bram lebih mendominasi sehingga ia tidak lagi bisa berfikir dengan tenang.
Dokter Arya kembali memberikan jawaban kepada Bram "Begini pak, berdasarkan diagnosa saya, ada sesuatu di dalam kepala anak bapak. Jadi kami perlu melakukan tindakan selanjutnya untuk memastikan".
Bram menatap ke arah dokter Arya untuk memastikan apakah yang ada dipikirannya dengan pemikiran dokter Arya berbeda, hanya dengan anggukan kepala Bram paham jika pemikiran mereka sama.
"Tapi anak saya bisa sembuh kan dok? Saya mohon sembuhkan anak saya".
"Kami akan berusaha pak, semoga hasil pemeriksaan lanjutan masih di stadium awal sehingga kemungkinan sembuh masih besar tetapi semua tergantung bagaimana sang khalik menentukan, saya disini hanya perantara pak".
"Terima kasih dok. Lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya, kalau perlu saya akan bawa anak saya ke luar negri. Saya permisi".
Kabar yang harus saja Bram dengar bagaikan petir di siang bolong, hati Bram benar-benar hancur sehancur hancurnya. Abhi adalah anak pertama yang mereka nantikan selama hampir sepuluh tahun pernikahan, banyak desakan serta gunjingan yang mereka terima tapi mereka tetap teguh pada keyakinan mereka. Abhi bagaikan pelita yang menerangi, memberikan cahaya kebahagiaan untuk keluarganya.
__ADS_1
Bram yang terlihat sangat kacau perlahan berjalan keluar dari ruangan dokter Bram sambil bergumam lirih "Bagaimana aku harus menjelaskan pada Cecil, ia pasti akan sangat sedih. Tuhan angkatlah penyakit anakku, hanya padamu aku memohon"
*****
Cecil terus menemani segala proses pemeriksaan Abhi, masih terlihat jelas wajah sembab Cecil setelah mendengar penjelasan suaminya.
Cecil dan Bram meninggalkan Dirga di rumah karena mereka harus mengurus semua keperluan Abhi.
Abhi harus menjalani perawatan intensif, orang tuanya menyediakan ruangan khusus untuk Abhi agar bisa cepat sembuh. Hanya perawat dan dokter serta kedua orang tuanya yang diijinkan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Kedua orang tuanya kini lebih peduli dengan Abhi, segala sesuatu tentang Abhi menjadi prioritas utama. mereka benar-benar lupa kalau masih ada pelita lain dalam rumahnya.
Suatu hari Dirga menghampiri kedua orangtuanya yang sedang duduk di ruang keluarga "Mom, Dad ini ada undangan dari sekolah. Besok harus mengambil rapot kenaikan kelas".
"Maafkan mommy dan Daddy ya, besok adalah jadwal periksa kak Abhi, besok biar diambilkan pak Imam ya".
Dirga mengangguk paham dengan ucapan mommynya.
Bukan hanya sekali Dirga menerima penolakan dari kedua orang tuanya. Jawaban kedua orang tuanya tetap sama biar nanti pak Imam yang datang, pak iman yang menemani, pak imam yang menunggu dan semuanya selalu pak imam seolah pak imam adalah orang tua kandungnya yang selalu ada untuk Dirga.
"Pak Imam, apakah Dirga bukan anak kandung mommy dan Daddy?".
"Kenapa mas Dirga bilang begitu, mas Dirga anaknya tuan dan nyonya sama seperti mas Abhi".
"Sejak kak Abhi sakit, mommy dan Daddy sudah tidak perhatian lagi dengan Dirga pak. Dirga juga gak mau kak Abhi sakit. Dirga cuma pengen merasakan pelukan hangat dari mommy dan Daddy seperti dulu". Dirga yang sudah tidak bisa membendung kesedihan dalam dirinya kini menangis.
"Mas Dirga yang sabar, tuan dan nyonya sayang sama mas Dirga tapi sekarang yang lebih membutuhkan perhatian adalah mas Abhi. Apapun yang mas Dirga inginkan bapak siap membantu 24 jam".
Dirga tersenyum mendengar jawaban pak imam "UGD dong pak yang siap 24 jam".
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like command dan vote