Lelaki Terhebat

Lelaki Terhebat
Nama yang Cantik


__ADS_3

Semua anak yang tidak terlibat dalam kepanitiaan Layanan Orientasi Siswa sudah diperbolehkan pulang sejak pukul 1 siang.


Dirga segera keluar kelas, ia sedikit berlari menuju pos satpam yang tidak jauh dari pintu gerbang. Dirga berlari bukan karena ingin segera pulang tetapi ia ingin meminjam cas handphone kepada pak Slamet.


Dirga mengatur napas ketika sampai di pos satpam. "Ada apa mas Dirga?" tanya pak Slamet yang sedang beristirahat di dalam pos satpam.


"Bentar pak, Dirga mengatur napas dulu" jawab Dirga sambil duduk di bangku panjang depan pos satpam.


Dirga mengeluarkan air minum yang ia taruh di dalam tas dah segera meminumnya. Setelah napasnya sudah stabil Dirga berdiri dan menghampiri pak Slamet.


"Pak, ada cas handphone yang tidak di pakai?".


"Ada mas, itu di laci meja. Tumben mas Dirga tidak membawanya".


"Iya pak, tadi lupa belum memasukkan ke dalam tas".


Dirga membuka laci meja dan mengeluarkan cas handphone yang ada di dalamnya. Ia segera mencarger handphone miliknya.


"Bapak sudah makan?" tanya Dirga setelah duduk di samping pak Slamet.


"Belum mas, ini tadi banyak kerjaan. Kenapa mas, mau beliin ya?" jawab pak Slamet sambil tertawa.


"Dirga nitip HP ya pak, tolong di jagain" ucap Dirga sambil berjalan menuju pintu gerbang untuk membeli nasi.


Walaupun terkesan dingin pada teman-temannya tapi Dirga termasuk anak yang baik pada semua orang. Ia tidak akan marah jika tidak ada penyebabnya.


Dirga berjalan menuju rumah makan Padang yang ada di depan sekolahnya. Ia memesan 3 bungkus nasi kepada pegawai yang bertugas melayani pembeli.


"Mas Dirga mau pesan berapa?" tanya seorang pegawai perempuan yang sedikit berlari menuju ke arah Dirga dengan menampilkan senyum manisnya, berharap Dirga akan membalas senyum dia.


Bukanya menjawab pertanyaan pegawai tersebut, Dirga justru mendekati mas Yanto yang biasa melayaninya.


"Mas Yanto, bungkus 3 ya, yang dua pakai empal dan satunya seperti biasa" ucap Dirga menepuk bahu laki-laki yang seumuran dengan kakaknya.


"Siap mas, ini mau dipisah atau langsung?".


"Langsung saja mas, sudah lapar aku".


"Makan di sini saja mas kalau sudah lapar?" tawar mas Yanto pada Dirga.


"Malas mas, kalau disini bukanya makan nasi tapi makan ati menahan jengkel mas".


Mas Yanto tertawa mendengar jawaban Dirga yang memang benar adanya. Para pegawai perempuan di sana pasti akan merecoki Dirga dengan menawarkan apa saja padanya.


"Makanya mas, jadi orang itu jangan terlalu ganteng, bagi juga dong sama yang kurang ganteng?".


"Contohnya?" tanya Dirga singkat.


"Siapa lagi mas, ya aku mas".


"Ya mau bagaimana lagi ya mas Yanto, bukannya tidak mau berbagi, tapi dari pabriknya sudah jadi begini. Sabar saja mas, mas Yanto juga ganteng kok".


"Beneran saya ganteng mas?" tanya mas Yanto sambil memasukkan nasi ke dalam kantong kresek.


"Benar mas ganteng, masak ia Dirga bilang cantik".


"Berapa total semuanya?" ucap Dirga lagi.


"Mas Dirga tidak gitu juga kali kalau mau menghibur, sakit hati Yanto mas" ucap mas Yanto lebay memegang dadanya.


"Gak usah lebay deh mas, malas Dirga beli di sini lagi. Mas Yanto jadi nyebelin kayak si onoh".


"Eh, jangan gitu mas. Jangan kapok beli disini" melas mas Yanto pada Dirga.

__ADS_1


"Dirga cuma bercanda mas. Jadi semua berapa nih?".


"Total semuanya 85 ribu mas".


Dirga mengeluarkan 5 lembar uang lima puluhan dari dompetnya. "Ini mas uangnya".


"Kog banyak mas?".


"Nanti pak Slamet dan pak Ucup saya suruh ambil nasi disini, terserah mereka mau berapa bungkus dan menu apapun, kalau uangnya kurang besok Dirga kasih lagi".


"Oke mas Dirga, terima kasih".


"Eh mas, tumben belum pulang. Harusnya hari ini sudah diperbolehkan pulang kan" teriak mas Yanto pada Dirga yang hendak keluar dari warungnya.


"Masih menunggu seseorang mas" teriak Dirga menoleh ke arah mas Yanto dengan mengembangkan senyum tanpa ia sadari.


"Semangat mas Dirga" ucap mas Yanto pada Dirga yang entah di dengar atau tidak.


"Sudah bertahun-tahun di sini, tapi baru sekarang melihatnya tersenyum. Sepertinya orang yang ditunggu mas Dirga bukan orang yang sembarangan" guman mas Yanto.


"Siapa mas yang ditunggu mas Dirga?" tanya Lusi yang mengagetkan mas Yanto.


"Kamu Lus, ngagetin saja. Mana aku tahu siapa yang di tunggu mas Dirga?".


"Kamu jangan sok genit kalau ada mas Dirga, bisa-bisa dia tidak mau beli di tempat ini lagi" imbuh Yanto meninggalkan Lusi.


"Terserah Lusi dong mas mau bagaimana?" ucap Lusi yang tidak mau kalah.


"Setidaknya aku sudah mengingatkan kamu, mas Dirga bukan orang yang mudah di rayu. Saya sudah mengenal mas Dirga lama, dan asal kamu tahu, mas Dirga dulu sering makan disini tapi karena ada beberapa perempuan yang mulai SKSD jadi dia malas".


Lusi hanya diam mendengar ceramah dari mas Yanto yang sebagian besar memang benar adanya. Tapi dia menguatkan tekad "Selama masih ada kesempatan, kenapa harus menyerah. Kalau Lusi belum melihat mas Dirga membawa perempuan makan disini, Lusi anggap masih ada kesempatan".


**


"Pak Slamet, pak Ucup, ayo makan dulu? Dirga sudah beli nasi Padang" ucap Dirga sambil mengangkat kantong kresek yang ia bawa.


"Wah beneran nih mas Dirga. Bapak tadi cuma bercanda saja, tidak tahunya benar di traktir" ucap pak Slamet tidak enak hati.


"Berarti rejeki kita Met dari mas Dirga" ucap pak Ucup.


"Aku gak enak Cup, dikira aku malak mas Dirga".


"Santai saja pak Slamet, tadi memang Dirga mau beli nasi, tidak sopan juga Dirga sudah numpang terus makan sendiri. Sekarang pak Slamet dan pak Ucup makan dulu, tidak baik menolak rejeki" santai Dirga sambil membuka nasinya.


Pak Slamet dan pak Ucup juga ikut membuka nasi miliknya, mereka saling pandang dan melihat ke arah Dirga yang sedang makan.


Mereka berdua tidak berani menyentuh makanan yang sudah ia buka. Dirga yang melihat kedua satpam di sekolahnya hanya diam memandang nasi yang sudah di buka tanpa menyentuhnya, mulai bertanya" Kenapa pak, apa lauknya tidak sesuai pak?".


"Mas Dirga, bapak bingung. Apa nasinya untuk mas Dirga ketukar dengan nasi kami. Mas Dirga hanya makan dengan telur sedangkan kami banyak sekali lauknya mas?".


"Tidak apa-apa pak, Dirga lagi ingin makan telur. Segera di makan pak, nanti keburu tidak enak?".


"Bentar mas, bapak mau ambil tempat makan dulu, biar nanti bisa di bawa pulang" ucap pak Ucup yang hendak berdiri dari duduknya tapi di cegah oleh Dirga.


"Bapak makan saja semuanya, nanti sebelum pulang bapak bisa ambil nasi di warung mas Yanto, tadi Dirga sudah bilang kalau pak Ucup dan pak Slamet akan ambil nasi di sana, dan Dirga sudah membayarnya".


"Tapi ini kan kami sudah dapat mas?" kini pak Slamet yang bertanya.


"Itu nanti untuk bapak dan keluarga bapak di rumah, pokonya nanti minta saja sama mas Yanto ya pak. Jangan sampai lupa pak" ucap Dirga sambil membuang bungkus nasi miliknya.


Pak Slamet dan pak Ucup segera memakan nasi yang di berikan oleh Dirga, sedangkan Dirga sudah kembali duduk dan menyalakan handphone miliknya.


"Lumayan sudah 50% lebih".

__ADS_1


Dirga mencoba mengirimkan pesan kepada pak Ilham supirnya agar menjemput jam satu setengah jam lagi.


"Pak, nanti jemput setelah empat ya. Dirga ada di pos satpam"


Tidak berapa lama, notifikasi handphone Dirga berbunyi "Iya mas, nanti bapak jemput" balasan pesan dari pak Ilham.


Setengah jam Dirga menunggu di depan pos satpam untuk menunggu gadis yang sudah mengambil alih pikirannya hari ini.


Terlihat beberapa siswa baru keluar menuju halaman sekolah untuk segera pulang. Mata Dirga terpaku pada sosok gadis yang ingin ia lihat sedang berbicara dengan beberapa teman-temannya.


Pak Slamet yang masuk ke dalam pos untuk mengambil peluit, ia melihat Dirga yang melamun dengan mata yang tertuju pada gadis yang berdiri tidak jauh dari pos satpam. Pak Slamet melihat ke arah gadis yang dilihat Dirga dan tersenyum melihat itu semua.


"Owalah, ini to yang ditunggu mas Dirga".


Pak Slamet segera kembali ke depan untuk mengatur keluar masuk kendaraan yang datang menjemput. Tinggal beberapa anak yang belum di jemput, termasuk gadis yang diperhatikan oleh Dirga.


Pak Slamet menghampiri gadis tersebut. "Belum di jemput, mbak?".


"Belum pak, masih menunggu kakak saya yang jemput, mungkin sebentar lagi".


"Oh gitu mbak, bisa di tunggu di pos satpam mbak daripada berdiri?" tawar pak Slamet.


"Terima kasih pak, disini saja. Nanti kalau kakak saya datang Dhea tidak tahu".


Ya gadis yang di perhatian Dirga adalah Dhea. Gadis yang sudah membuat Dirga menunggu hanya untuk melihat gadis tersebut.


"Oh nama mbak, Dhe... Dhe...." pak Slamet sulit untuk melanjutkan nama Dhea karena tadi ia kurang jelas mendengar.


"Dhea Mentari Putri pak, bisa di panggil Dhea" ucap Dhea dengan senyum manisnya sehingga membuat orang yang ada di pos satpam semakin meleleh.


"Maaf mbak Dhea, tadi bapak kurang jelas mendengar maklum faktor U".


"Bapak bisa saja" ucap Dhea kembali tersenyum


"Bapak permisi dulu ya, hati-hati kalau pulang".


Pak Slamet kembali menuju ke arah pos satpam, ia meletakkan peluit di tempat semula.


"Namanya Dhea Mentari Putri mas, biasa dipanggil Dhea" ucapnya seketika membuat Dirga menoleh dan tersenyum.


Mata Dirga menyiratkan ketidaksukaan ketika ada salah satu murid laki-laki yang berbicara dengan Dhea. Pak Slamet kembali memperhatikan dan tersenyum "Itu namanya mas Bryan, teman satu angkatan sama mbak Dhea".


Dirga masih fokus memperhatikan Dhea dan Bryan yang berbicara. Tidak berapa lama datang sebuah motor matic yang berhenti di depan gerbang. Dhea segera menghampiri pengendara tersebut dan tersenyum.


Dirga semakin marah melihat keintiman yang ia lihat antara Dhea dan si pengendara motor tanpa tahu kalau itu adalah Ricko, kakaknya Dhea.


"Dia kakaknya mbak Dhea mas, tadi mbak Dhea bilang di jemput kakaknya" kembali pak Slamet berbicara seolah tahu pikiran Dirga.


"Kalau mas Dirga suka bilang saja mas, bapak lihat mbak Dhea anak yang baik pasti banyak yang suka" kembali lagi pak Slamet berkata.


Dirga segera mengambil tas dan memasukkan handphone miliknya ke dalam saku setelah melihat mobil yang menjemputnya sudah datang.


"Makasih ya pak" ucap Dirga sebelum pergi.


"Sama-sama mas. Kalau butuh cas atau informasi tentang mbak Dhea akan bapak bantu" jawab pak Slamet tersenyum penuh arti.


Dirga hanya membalas dengan senyuman tipis menanggapi ucapan pak Slamet. Hatinya benar-benar bahagia telah mengetahui nama gadis yang ia lihat tadi.


"Dhea Mentari Putri, nama yang cantik secantik orangnya".


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, command dan vote bintang 5 ya kak


__ADS_2