Lelaki Terhebat

Lelaki Terhebat
Hari Pertama


__ADS_3

Senin pagi, hampir semua anak yang akan masuk sekolah pertama kali harus di sibukkan dengan segala perlengkapan yang di bawa.


"Kantong plastik hitam, buku catatan, bolpen merah, biru, hitam, penggaris 15 cm, penghapus lapis, pensil, Stipo kertas, kertas buffalo biru, kuning, merah, hijau dan hitam. semua sudah siap tinggal memasukkan ke dalam tas" ucap Dhea mengabsen semua perlengkapan yang harus di bawa.


Dhea keluar dari dalam kamar menuju ke dapur untuk menyiapkan bekal sesuai dengan instruksi. Ia menyapa Ibu, Rissa dan Ricko yang ada di dapur.


"Selamat pagi ibu, kakak, Maaf Dhea tidak bisa membantu"


"Selamat pagi, tidak apa-apa sayang. Kamu siapkan saja semua perlengkapan untuk hari ini" ucap Sari.


"Dek, semua yang harus kamu bawa sudah kakak taruh di meja makan. Kamu tinggal masukkan sendiri sesuai kebutuhan" ucap Rissa.


"Baik kak, terima kasih".


Dhea memasukkan sayur bayam, tahu dan tempe, sambal dan kerupuk sesuai dengan ukuran ke dalam kantong plastik bening. Ia mengambil nasi secukupnya dan membungkusnya menggunakan kertas minyak. Ia kemudian memasukkan semua yang sudah di bungkus ke dalam kantong plastik warna merah. Ricko yang duduk tidak jauh dari Dhea hanya memperhatikan tanpa mengucapkan sepatah kata. Ricko ingin memastikan apakah adiknya bisa menyiapkan semuanya sendiri. Ia tahu bahwa Dhea belum memasukkan sendok plastik berwarna biru ke dalam kantong berisi bekalnya. Sudah lima menit lebih Dhea belum juga mengingat hal itu.


"Coba di cek ulang dek, masih ada yang ketinggalan tidak" ucap Ricko setelah dari tadi diam.


"Sudah semua kak, tadi Dhea sudah cek satu persatu" jawab Dhea tidak mau kalah karena tadi sudah mengeceknya tiga kali.


"Coba di cek ulang sekali lagi, jangan sampai hari pertama masuk kamu mendapat hukuman".


Mau tidak mau akhirnya Dhea mengecek ulang bekal yang harus ia bawa. "Sayur bayam, tahu tempe, sambal, kerupuk, nasi....he he he sendoknya belum ada kak" jawab Dhea nyengir kuda merasa malu pada Ricko.


"Makanya dari tadi kakak lihat masih ada yang kurang, tapi kakak tidak akan memberitahu langsung, kamu harus belajar menyiapkan sendiri, kakak hanya akan membantu mengawasi. Segera ambil sendoknya, warna apa coba?"


"Iya kak, terima kasih. Warna biru kan sendoknya" ucap Dhea berjalan menuju lemari tempat menyimpan perlengkapan makan.


Sari dan Rissa yang hanya memperhatikan dua orang berbicara hanya bisa tersenyum melihat kepolosan Dhea. Ricko sebenarnya tidak tega melihat Dhea harus bolak balik dari tadi untuk menyiapkan perlengkapan sendiri, tapi ini harus ia lakukan agar Dhea belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Ricko tidak menyangka kalau adik yang dulu selalu merengek manja minta di gendong kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis.


"Dek, segera sarapan biar nanti kak Ricko antar kamu sehingga tidak terlambat. Ini sudah jam 6 kurang".

__ADS_1


"Iya kak. Ibu, kak Ricko, Kak Rissa Dhea sarapan duluan ya".


Selesai sarapan Dhea berpamitan kepada Sari dan Rissa. Dhea mencium tangan dan kedua pipi mereka satu persatu.


"Ibu, Kak Rissa Dhea berangkat dulu ya?"


"Hati-hati ya sayang, semoga Layanan Orientasi Siswa (LOS) lancar" ucap Sari.


"Lakukan sesuai instruksi kakak pembina dan guru di sana, kamu harus menunjukkan diri bahwa kamu pantas menerima beasiswa di sana" imbuh Rissa.


Ricko sudah menunggu Dhea di atas motor maticnya. Dhea, Sari dan Rissa berjalan menuju depan rumah untuk mengantar Dhea. Ricko segera memberikan helm kepada adiknya. Dhea sedikit kesusahan ketika harus memakai helm karena rambutnya yang harus di cepol dua kanan dan kiri. Dhea melambaikan tangan kepada ibu dan kakak perempuannya.


*******


Dua puluh menit perjalanan yang di tempuh Dhea dan Ricko, kini mereka sudah sampai di ujung jalan menuju sekolah Mutiara Bunda. Sesuai dengan aturan selama masa Orientasi, siswa baru hanya boleh di antar sampai ujung jalan masuk dan harus berjalan kurang lebih 100 meter.


Dhea melepaskan helm dan memberikannya kepada Ricko. Ia mencium tangan Ricko untuk berpamitan sebelum berjalan ke arah sekolah.


"Kak, terima kasih. Hati-hati di jalan. Dhea berangkat dulu ya?


Dhea berjalan perlahan menuju ke gedung sekolah, sedangkan Ricko masih memperhatikannya Dhea dari kejauhan. Ketika Dhea berjalan, ada seorang anak kecil yang menangis karena terjatuh. Dhea berhenti untuk menolong anak tersebut. Ia mengambil air kemasan yang ia bawa dan membersihkan luka anak tersebut. Dhea juga memberikan satu bungkus kue yang ia bawa untuk anak tersebut. Sang anak merasa bahagia dan berterima kasih kepada Dhea. Dhea segera melanjutkan langkah kakinya sedikit terburu-buru setelah memastikan anak yang di tolong sudah bersama orang tua yang mencarinya.


Sudah beberapa orang yang sengaja menunjukkan kesedihan atau penderitaan mereka di sekitar jalan menuju gedung sekolah, hal tersebut merupakan strategi sekolah untuk mengetahui karakter setiap siswa baru tanpa siapapun yang mengetahui kecuali pihak sekolah. Dari hampir dua ratus siswa yang mendaftar hanya sebagian saja yang peduli terhadap keadaan sekitar.


Kakak kelas yang memakai seragam berbeda sudah berdiri di depan pintu gerbang dengan akses jalan khusus untuk siswa baru. Semua mengecek dari seragam, sepatu dan rambut para siswa baru. Siswa baru yang sudah sesuai dengan aturan akan diminta untuk masuk ke ruang aula, sedangkan anak yang kurang sesuai di minta berdiri di lapangan.


Dhea berjalan perlahan mencari aula yang di maksud. Ini adalah hari pertama Dhea masuk ke lingkungan sekolah yang begitu besar sehingga ia belum paham ruangan apa saja di lantai satu sampai lima tersebut.


"Dimana ya ruangan aulanya, semua ruangan kayaknya sama. Haduh gimana dong, mana tidak ada orang di sekitar sini kalau nyasar bagaimana. Tidak lucu kan sampai aula telat karena nyasar. Eh kayaknya itu salah satu guru di sini, Dhea coba tanya saja" ucap Dhea bermonolog.


"Selamat pagi Miss?"

__ADS_1


"Selamat pagi, ada yang bisa Miss bantu?".


"Iya Miss, ruangan aula untuk siswa baru sebelah mana ya Miss? saya dari tadi mencari belum ketemu".


"Ruangan aula ada di gedung belakang. Kamu ini lurus, terus ada pertigaan kamu ke kanan trus lurus lagi. Nanti kamu akan ketemu gedung yang berwarna biru, nah itu aulanya".


"Jadi ini lurus terus, ke kanan lurus lagi, aulanya di dalam gedung berwana biru, ya Miss" jawab Dhea memastikan.


"Terima kasih Miss, sudah membantu. Mohon maaf jika saya menganggu aktivitas Miss. Selamat pagi" ucap Dhea berpamitan.


"Sama-sama, semoga sukses ya".


"Sepertinya anak tersebut akan menjadi anak yang perlu di perhitungkan dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah. Anak itu beda dari anak-anak yang lain. Semoga saya beruntung menjadi wali kelasnya" ucapnya berguman.


Dhea berjalan menuju Aula sesuai petunjuk yang ia dapat. Sepanjang jalan menuju aula Dhea mengamati setiap ruangan yang dilewati. Ruangan dengan nuansa biru bercampur putih serta poster-poster yang terpajang rapi di tiap dinding ruangan. Setiap ruangan memiliki ciri khas tersendiri. "Beruntungnya Dhea bisa sekolah disini, Dhea harus belajar dengan baik".


Dhea tiba di depan Gedung Aula, disana sudah ada kakak senior yang masih mendata semua perlengkapan yang di bawa. Sebelum masuk semua perlengkapan tulis dan bekal diperiksa terlebih dahulu. Jika sesuai maka akan di arahkan ke dalam aula sesuai nomor yang diberikan, tetapi jika masih ada yang kurang maka akan di minta untuk menunggu di lapangan depan aula. Dhea mendapatkan nomor urut ke 16, ia segera masuk dan mencari kursi dengan nomor tersebut. Nomor 16 termasuk nomor di barisan depan. Disebelahnya sudah ada seorang gadis yang duduk, dari sekian kursi yang sudah di duduki hanya dia yang diam tanpa menyapa di sebelahnya. Mungkin mereka beda, karena kalau di lihat dari pakaiannya, kami berdua sudah berbeda.


"Hai...aku Dhea. Kamu siapa?" sapa Dhea pada gadis di sampingnya.


"Ha...a....i, saya Mira" jawabnya gugup karena dari tadi tidak ada yang mengajaknya berbicara.


"Maaf ya, kaget tadi. Dari tadi saya disini tapi tidak ada yang mengajak berbicara. Mungkin karena aku beda dari mereka" ucap Mira lagi.


"Tidak apa-apa, kita sama kok. Sudah tidak perlu dipikirkan ya, yang penting kita disini tujuannya mau belajar. Ok".


Dhea dan Mira sudah mulai akrab, mereka banyak bercerita sampai mereka tidak menyadari kalau kursi di belakang mereka hampir penuh.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, command dan vote ya kak


__ADS_2