Lelaki Terhebat

Lelaki Terhebat
Kejujuran


__ADS_3

Dhea dan Edo kembali ke aula untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Awalnya Mereka menyusuri jalan menuju aula dengan diam tanpa kata. Tapi hal yang tidak terduga justru terjadi di sini. Edo yang biasanya dingin, cuek, jutek dan jarang berbicara lembut, berkata pada Dhea.


"Lain kali kalau ada apa-apa jangan langsung mengambil keputusan sendiri, kamu bilang dulu sama saya".


"Iya kak" jawab Dhea yang begitu terkejut mendengar ucapan dari Edo.


____________________________________________________


Pukul 15.00 WIB semua anak sudah di ijinkan untuk pulang. Sebelum pulang Dhea dan teman-teman sudah sepakat untuk jujur kepada orang tua masing-masing mengenai kejadian hari ini, tetapi untuk Hilda mereka meminta agar ia tidak menyinggung kesalahan ayahnya.


Semua berpamitan satu sama lain ketika jemputan sudah datang. Perkenalan yang baru dua hari tapi sudah membuat mereka seperti sahabat yang sudah lama kenal.


Dhea, Mei dan Roy masih menunggu jemputan sedangkan teman yang lain sudah di jemput.


"Mei, Ryo tuh jemputan kamu sudah datang, buruan pulang sana?.


"Nanti Dhe, kalau kamu sudah di jemput kami pulang. Toh kami juga masih menunggu orang kok" jawab Ryo. Hari ini Ryo harus menunggu kakaknya agar pulang bersama.


Dhea melihat ke arah Mei berharap ia pulang dulu, tetapi Mei justru duduk dengan santai.


"Tidak perlu menyuruh aku pulang duluan, kamu mau menyuruh bagaimanapun kalau kamu belum di jemput aku tidak akan pulang Dhe".


"Ya sudahlah, aku tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Tapi nanti kalau aku sudah di jemput kalian juga harus segera pulang. Ingat perlengkapan yang harus kita bawa besok".


Sepuluh menit kemudian Ricko sampai di depan sekolah. Seperti biasa Ricko memarkirkan sepedanya terlebih dahulu.


Mei yang terlebih dahulu melihat kakak Dhea datang segera menyuruh Dhea untuk pulang "Dhe, tuh dah di jemput. Buruan pulang sana, pasti kamu capek".


"Oh, iya. Makasih ya. Emang kamu tidak capek apa? Roy, Mei aku duluan ya? Bye sampai jumpa besok pagi".


Dhea menghampiri kakaknya, seperti biasa Ricko selalu menunjukkan kasih sayang pada Dhea di manapun sehingga siapapun yang tidak tahu kalau Ricko adalah kakaknya akan menganggap Ricko adalah pacar Dhea.


Mei dan Ryo segera menuju mobil jemputkan setelah Dhea pulang bersama kakaknya. Roy dan Edo hanya diam di dalam mobil, Roy lebih suka menghabiskan waktu untuk bermain game di dalam mobil daripada harus bicara dengan Edo.


*******


Rumah Dhea


"Ibu, Kak Ricko, Kak Rissa, Maafkan Dhea sudah melakukan hal yang mengecewakan di sekolah" ucap Dhea ketika semua berkumpul di ruang keluarga.


"Apa yang sudah kamu perbuat nak" tanya ibu.


"Tadi siang Dhea, di hukum lari keliling lapangan karena bekal yang Dhea bawa, Dhea berikan kepada teman Dhea. Rempeyek teman Dhea jatuh dan tidak sengaja di injak oleh ayahnya, ia tidak mau ayahnya akan sedih jika tahu ketidaksengajaannya membuat anaknya di hukum".


"Lalu....? tanya Ricko karena ia yakin masih ada hal lain yang belum di sampaikan.

__ADS_1


"Ketika Dhea sudah sekali putaran berlari, teman-teman satu kelompok Dhea juga ikutan berlari, kata mereka susah senang harus di jalani bersama".


"Dan itu pasti membuat senior dan juga pengajar di sana merasa ada sesuatu yang mencurigakan" benar tidak tanya Rissa


"Iya kak, Dhea di panggil Mr Danu selaku guru BK. Beliau tanya tentang alasan Dhea membantu teman Dhea. Mr Danu bilang kalau apa yang Dhea lakukan akan merugikan Dhea sendiri dan pihak sekolah tidak akan bisa mentolerir jika memang terbukti ada kesengajaan". Dhea beneran takut kalau membuat keluarganya kecewa. Ia menundukkan wajahnya tanpa berani melihat ke arah keluarganya.


Ricko menggeser duduknya mendekati Dhea, ia merangkul pundak Dhea " Kakak bangga sama kamu, kamu rela di hukum demi menolong teman kamu serta kakak bahagia karena kamu mempunyai teman yang setia kawan. Apapun resiko yang kamu dapat nantinya kakak tidak akan menyalahkan kamu. Senyum dong jangan nunduk begitu".


"Terima kasih kak".


"Kakinya pegel tidak, kalau pegel sini biar kakak pijitin" ucap Ricko lagi.


"Tidak perlu kak, Dhea istirahat saja duluan biar besok bisa melakukan aktifitas lagi. Selamat malam ibu, kak Ricko, kak Rissa" ucap Dhea mencium pipi bergantian sebelum beranjak dari ruang keluarga menuju kamar tidur.


*****


Rumah Roy


Roy duduk di sebelah Mamanya, sedangkan Edo memilih untuk memainkan PS di ruang keluarga. Ya... Edo dan Roy adalah kakak adik tapi jarang akur keduanya, mungkin karena umur yang hanya beda 2 tahun sehingga ego mereka sama-sama tinggi.


Edo yang ingin Roy menjadi pribadi yang disiplin terkadang memaksakan kehendaknya sehingga membuat Roy takut menghadapi kakaknya.


"Ma.... Roy minta maaf ya. Roy mau jujur sama Mama?".


Roy menggelengkan kepala. "Tidak Ma, tadi di sekolah Roy melakukan kesalahan yang memang Roy sengaja Ma dan Roy juga di hukum di sekolahan".


Mama Roy meletakkan majalah yang ia baca. "Coba jelaskan pada Mama dan jangan ada yang di tutupi".


"Roy sengaja memakan bekal sebelum di suruh dan mengaku pada senior kalau bekal Roy tidak lengkap. Roy melakukan ini karena selama Roy sekolah Roy tidak pernah melihat ketulusan di hati teman-teman Roy. Mereka mendekati Roy karena ada maunya, tapi dua hari Roy menjalani orientasi Roy melihat ketulusan di hati mereka Ma. Bahkan teman Roy rela menutupi kekurangan temannya agar tidak di hukum dan ia yang di hukum. Roy sangat beruntung mempunyai mereka sehingga Roy juga melakukan hal yang sama. Maafkan Roy ya Ma sudah buat Mama kecewa".


Mama Roy tidak menyangka kalau selama ini ia tidak pernah mendapatkan teman yang tulus di sekolah. Mama Roy cuma berfikir untuk menyekolahkan anaknya di sekolah yang terbaik tanpa memperhatikan keinginan dan apa yang di rasakan anaknya. Mama Roy memeluk Roy dari samping dan mengelus rambut Roy "Maafkan mama juga ya nak, Mama tidak tahu kalau selama ini kamu tidak menemukan sahabat yang baik di sekolah, Mama terlalu egois. Semua sudah terjadi, Mama juga sudah tahu alasannya. Harusnya Mama berterima kasih pada teman-temanmu".


"Memang siapa teman kamu yang rela di hukum untuk menutupi kesalahan teman kamu? Laki atau perempuan?".


"Ketua kelompok Roy Ma, namanya Dhea. Dia baik pokoknya Ma" Jawab Roy sambil melirik Edo. Roy juga tahu kalau selama dua hari ini Edo selalu sembunyi-sembunyi melihat Dhea apalagi ketika kegiatan PBB di lapangan.


"Jadi ketua kelompoknya perempuan, cantik tidakak?".


"Iya Ma, dia ketua kelompok perempuan satu-satunya di angkatan tahun ini ma. Dia itu cantik, manis dan pokoknya idaman deh. Roy saja mau jadi pacarnya" Roy sengaja menjawab demikian untuk mengerjai kakaknya. Roy sekarang punya senjata untuk membalas Edo.


Edo yang tadinya main PS konsentrasinya teralihkan ketika mendengar nama Dhea. Seketika ia membanting stick PS saat Roy bilang mau jadi pacarnya. Hatinya tiba-tiba panas mendengar itu.


"Edo, ke kamar Ma. Mau tidur sudah mengantuk" ucap Edo tiba-tiba. "Tidak akan aku biarkan kamu dekat sama Dhea" batin Edo dalam hati.


Sedangkan Roy yang melihat sikap kakaknya mencoba menahan tawa dan berguman dalam hati " kena juga kamu kak, sekarang Roy tahu cara membalas kakak".

__ADS_1


"Roy juga ke kamar ya Ma, mau istirahat. Besok masih harus ketemu Kak Edo yang galak. Selamat malam Ma".


"Selamat malam, kamu itu ada-ada saja Roy".


*******


Rumah Hilda


Hilda menyiapkan makan malam untuknya serta ayah dan kakak laki-lakinya. Hari ini kakaknya pulang setelah enam bulan bekerja. Ketika semua sudah siap, Hilda memanggil kakak dan ayahnya yang ada di ruang keluarga.


"Ayah, Mas Dika makan dulu. Semua sudah Hilda siapkan".


"Iya Dek, ini mas sama ayah ke sana".


Mereka bertiga makan dengan tenang. Lima belas menit mereka makan malam dan di lanjutkan mengobrol di meja makan.


"Bagaimana tadi sekolahnya dek?" tanya Dika


Hilda menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan untuk menghilangkan kegugupannya.


"Tadi Hilda di hukum Mas, Bekal yang Hilda bawa ada yang kurang" jawabnya dengan tertawa.


"Apakah yang ayah injak tadi yang jadi penyebabnya?" tanya sang Ayah kemudian.


"Tidak yah, tempe yang Hilda bawa ada yang jatuh. Tidak mungkin Hilda ambil makanya di hukum. Tapi seru yah, satu kelompok di hukum semua padahal yang salah hanya beberapa" jawab Hilda tertawa.


"Kok bisa dek?".


"Yang lain sengaja membuat bekal yang di bawa tidak lengkap kak, karena kami sudah sepakat susah senang di jalani bersama. Ya sudah di hukum lari keliling lapangan sama-sama".


"Kalian itu, baru dua hari masuk sudah kena hukum. Lain kali jangan di ulangi lagi ya. Maaf tadi ayah tidak sengaja menginjaknya".


"Tidak apa-apa ayah, bukan itu kok masalahnya. Hilda harus berusaha lebih baik lagi agar tidak ada yang keliru. Hilda bereskan alat makan dulu ya yah, Mas".


Begitulah Dhea, Roy dan Hilda serta teman-teman yang lain mengakui kesalahan mereka walaupun Hilda harus menyembunyikan fakta yang sebenarnya.


.


.


**Persahabatan terjalin bukan karena apa yang kita punya tapi bagaimana kita saling melengkapi


Like command dan Votenya jangan lupa kak


Terimakasih**

__ADS_1


__ADS_2