Lelaki Terhebat

Lelaki Terhebat
Penasaran tapi takut


__ADS_3

"Bu, Ricko langsung mengembalikan mobilnya dulu ya, takutnya nanti mau di pakai" ucap Ricko ketika ibu dan adiknya sudah turun dari mobil.


"Ya sudah, hati-hati. Jangan lupa yang ibu titipkan tadi, bilang makasih juga ya"


"Iya Bu"


Ricko segera melajukan kembali mobil yang ia kendarai ke rumah pemiliknya. Dhea, Rissa dan Sari masuk ke dalam rumah, dan duduk di ruang keluarga.


"Haduh capeknya? Makai high heels cuma 5cm capeknya kayak orang lari 5km" ucap Dhea sambil memijat kakinya. Ia tidak terbiasa menggunakan sepatu berhak.


"Ya ampun dek, baru beberapa jam saja pakai. Itupun di acara sering kamu lepas sudah mengeluh capek. Biasakan kamu pakai sepatu berhak karena di sekolah kamu nanti akan sering di adakan acara yang mengharuskan menggunakan pakaian formal" ucap Rissa.


"Kamu belum terbiasa saja sayang pakai sepatu berhak, benar kata kakakmu, kamu harus belajar menggunakannya. Sini duduk di bawah, ibu bantu lepaskan ikat rambutmu, pasti pusing kan. Habis itu nanti langsung mandi keramas"


Dhea segera berpindah dari sofa ke lantai dan memposisikan diri di depan ibunya. Ia meluruskan kakinya yang terasa pegal-pegal.


"Baru 5 cm yang Dhea pakai, apa kabar yang pakai sepatu 15 cm? Gak habis pikir Dhea. Kalau Dhea suruh milih lebih baik pakai sandal jepit saja daripada high heels" guman Dhea.


"Orang itu di ciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. High heels dibuat untuk membatu menyempurnakan penampilan seseorang dek".


"Iya juga sih, kak. Tapi mudah-mudahan Dhea tidak ketemu dengan acara yang mengharuskan menggunakan high heels di atas 5 cm, mau dikatain pendek, masa bodo lah. Enakan yang komentar daripada yang menjalani".


"Makanya harus kalian ketahui, "Wong Urip iku sawang sinawang" apa yang di lihat orang itu belum tentu sama dengan kenyataan. Orang lain hanya melihat hasil tanpa melihat prosesnya. Jadi jangan menghakimi seseorang karena tidak sama dengan kita".


"Jika ada yang memuji jangan sombong, tapi jika ada yang mencela juga jangan sedih. Bersikap bijaksana dalam menghadapi segala hal itu penting" nasihat Sari pada kedua putrinya.


Dhea segera mandi setelah hiasan di rambutnya di lepas oleh Sari. Kepalanya rasanya begitu ringan. Sari dan Rissa segera berganti baju setelan Dhea masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi, Dhea mengeringkan rambutnya dengan handuk di teras samping rumahnya.


"Segar banget, rasanya muka dan kepala lebih ringan. Tidak terasa sebentar lagi aku akan masuk ke sekolah impianku. Dhea akan berusaha lebih baik lagi agar tidak menyusahkan semuanya".


Dhea meneteskan air mata ketika mengingat kata-kata yang di ucapkan sang ayah "Apa Dhea salah jika mengharapkan ayah pulang. Dhea kangen yah. Tiap ayah pulang selalu saja Dhea hanya bisa ketemu di pagi hari sebelum berangkat sekolah, siangnya ayah sudah berangkat lagi. Dhea kangen ayah".


"Kenapa kamu di situ dek" tanya Ricko yang baru saja pulang membuyarkan lamunan Dhea. Ricko berjalan mendekat ke adiknya.


"Tidak apa-apa kak, ini lagi mengeringkan rambut" ucap Dhea setelah menghapus air matanya. Ia tidak mau kakaknya tahu kalau Dhea menangis.


"Kenapa nangis?"


"Siapa juga yang nangis kak" jawab Dhea mengelak.

__ADS_1


"Kamu itu gak bisa bohong sama kakak" ucap Ricko sambil memencet hidung adiknya.


"Kak, sakit tahu. Kakak itu selalu saja mencet hidung kalau tidak cubit pipi"


"Habis kamu gemesin kalau lagi cemberut" ucapnya meninggalkan Dhea. Ricko tidak bertanya lagi alasan Dhea menangis, karena ia yakin ini ada hubungannya dengan ayahnya.


Dhea kembali ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya setelah rambutnya setengah kering. Tidak menunggu lama Dhea sudah tertidur dengan pulas. Tidak biasanya Dhea tidur siang sampai lebih dari dua jam.


Jam lima sore Sari dan Rissa sudah bertempur di dapur untuk menyiapkan makan malam. Ricko yang keluar dari kamar untuk mandi menyapa ibu yang ada di dapur.


"Sore Bu, masak apa nih"


"Masak tumis kacang panjang, tadi pagi ibu tidak sempat belanja jadi masak seadanya"


"Apapun yang ibu masak pasti Ricko makan. Ricko mandi dulu ya bu?".


"Ya sudah sana, sudah sore juga"


Ricko segera menuju kamar mandi. Rissa hanya mendengar percakapan ibu dan kakaknya sambil menggoreng ayam. Hari ini yang dimasak tidak terlalu banyak.


Lima belas menit Ricko sudah keluar dari kamar mandi. Setelah menjemur handuk yang ia pakai, ia kembali duduk di meja makan. Ricko membuat teh hangat dan menyeruputnya.


"Dhea kemana? kok belum kelihatan"


"Tumben Dhea tidur siang lama banget, apa kecapekan?"


"Mungkin kak, tadi sepulang dari acara perpisahan Dhea mengeluh capek, tolong bangunkan Dhea kak?"


Ricko berjalan menuju kamar Dhea. Ia membuka pintu, menyalakan lampu dan berjalan menuju tempat tidur Dhea. Ricko melihat adiknya masih berdamai dengan mimpinya. Ia duduk di samping adiknya dan mengusap pelan rambut adiknya.


"Dek, bangun. Sudah sore, nanti lanjut lagi tidurnya setelah makan?"


Tidak ada sahutan dari Dhea. Dengan sabar Ricko membangunkan adiknya. Lima menit baru ada tanda-tanda Dhea akan bangun. Dhea menggeliat, ia perlahan membuka matanya. Ia kaget melihat kakaknya ada di sampingnya.


"Kak Ricko ngapain di kamar Dhea?" tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Dari tadi kakak bangunin kamu tapi gak bangun-bangun".


"He...he...he.... maafin Dhea kak? Dhea tidurnya kelamaan ya".


"Bangun trus cuci muka kamu, bentar lagi waktunya makan malam".

__ADS_1


Dhea segera bangun dan mengucapkan terima kasih kepada Ricko sebelum Ricko keluar dari kamarnya. Dhea berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka melewati dapur.


"Tidak perlu mandi dek, sudah malam nanti sakit. Tadi kamu juga sudah mandi kan" ucap Rissa ketika melihat Dhea membawa handuk ke kamar mandi.


"Iya kak, Dhea tidakmandi kok, ini mau cuci muka saja"


Dhea menghampiri ibunya dan memeluknya sambil berkata " Bu, maaf Dhea tidak membantu". Ibu hanya tersenyum dan mengelus rambut Dhea.


"Cepat cuci mukamu, trus makan sama-sama".


Lima menit Dhea ke kamar mandi, setelah meletakkan handuk yang ia pakai tadi, ia segera menuju meja makan untuk makan bersama. Seperti biasa mereka makan dengan hening tanpa ada suara kecuali suara sendok dan piring yang beradu. Dhea membantu ibunya mencuci piring dan gelas yang kotor setelah selesai makan. Rissa membereskan meja makan sedangkan Sari dan Ricko sudah berjalan menuju ruang keluarga.


Rissa dan Dhea menghampiri ibu dan kakaknya di ruang keluarga. Mereka semua tertawa melihat siaran di televisi. Tiga puluh menit mereka duduk di depan televisi, Ricko menatap Rissa memberikan kode yang hanya mereka berdua mengetahui artinya. Segera saja Rissa masuk ke dalam kamar dan mengambil sebuah kotak yang sudah di bungkus dengan kertas kado yang indah dan dilapisi dengan kertas warna hitam. Dhea berbaring dengan kepala berada di atas paha ibunya.


Rissa menyembunyikan kotak yang dia ambil di balik badannya. Rissa berjalan ke kamar Dhea dan menaruh kado tersebut di atas meja belajarnya. Dhea dan Sari yang fokus melihat televisi tidak mengetahui apa yang di lakukan Rissa. Setelah meletakkan hadiah yang sudah di siapkan, Rissa kembali duduk di sofa depan televisi.


"Dek, pinjam bolpen sama kertas dong" ucap Ricko agar Dhea masuk ke kamarnya.


"Ambil sendiri kak di kamar, Dhea sudah nyaman seperti ini"


"Oh gitu, sekarang tidak mau di minta tolong, ya sudah tidak jadi" ucap Ricko pura-pura marah.


"Sana ambilkan dulu, kasihan kakakmu" ucap Sari dengan mengelus rambut Dhea. Akhirnya dengan malas Dhea masuk ke dalam kamar untuk mengambil apa yang di suruh kakaknya. Saat membuka pintu kamar, mata Dhea tertuju pada sebuah kotak yang ada di dalam kamar.


"Kotak apa ya ini, perasaan tadi bangun tidur belum ada, habis dari kamar mandi tadi juga tidak ada. Apa ibu yang menaruh? tapi ibu tidak masuk ke kamar Dhea. Kak Ricko dan Kak Rissa juga tidak masuk. Trus ini dari mana? masak tiba-tiba ada disini" guman Dhea lirih.


"Penasaran isinya apa? tapi takut".


"Biarin saja-lah, tetapi ingin tahu"


.


.


.


.


.


****Ada yang tahu isi kotak itu apa?

__ADS_1


Jangan lupa like, command dan vote ya kakak


Happy reading**


__ADS_2