
"Ijasahnya kapan bisa di ambil dek?"
"Besok kalau bisa kita harus ke Mutiara Bunda untuk memberikan surat keterangan dan nilai sementara sebelum Ijasah keluar".
"Belum ada info kak, nanti kalau sudah jadi pasti akan di infokan Bu Wahyu". Oh iya kak, tadi Dhea kan di kasih amplop sama Bu Widya. Dhea ambil dulu ya kak?"
Dhea kembali berjalan menuju kamarnya, malam ini Dhea seperti setrikaan, belum ada satu jam tapi sudah bolak-balik dari ruang tamu ke kamarnya. Ricko dan Rissa masih bersandar di pundak ibunya.
"Ini kak amplopnya, kakak aja yang buka"
"Buka aja lah dek, kenapa juga harus kakak?" jawab Ricko karena ia masih ingin bermanja dengan ibunya.
"Kak Rissa aja yang buka, kalau kak Ricko tidak mau buka" usul Dhea.
"Kakak juga tidak mau buka dek, nanti kalau isinya tagihan bisa pingsan kakak" ucap asal Rissa yang sebenarnya juga masih ingin bermanja dengan ibunya.
"Sudah sini biarkan ibu saja yang buka kalau kakakmu tidak mau membukanya? ucap Sari menengahi.
Emosi Dhea dua jam terakhir ini memang benar-benar sedang di uji, mulai dari disuruh ambil kertas dan bolpen sampai masalah amplop.
"Kak Ricko dan kak Rissa nyebelin deh!" Merasa di cuekin kedua kakaknya Dhea bernyanyi entah lagu apa gak nyambung banget "Inginku teriak tapi takut dimarahi, inginku menangis ntar di kira cengeng (tapi emang faktanya gitu)".
"Ya sudah, ibu aja yang baca".
"Kalau isinya hadiah nanti di bagi dua aja Bu, kakak tidak usah di kasih".
Sari menerima amplop yang diberikan Dhea. Ketika akan membuka amplopnya, Ricko segera mengambil amplop itu.
"Ricko saja Bu yang buka" jawabnya sambil menegakkan duduknya. Ia tidak mau ibunya membuka karena takut isinya akan membuatnya sedih.
Perlahan Ricko membuka amplop tersebut. Ia membuka lipatan dalam kertas dan membacanya perlahan. Ricko membaca perlahan tulisan tersebut, matanya sedikit melebar dan raut mukanya seketika berubah saat mengetahui isinya. Dhea, Rissa dan Sari yang memperhatikan mimik wajah Ricko juga penasaran terhadap isi dari surat tersebut.
Selesai membaca surat tersebut, Ricko langsung memeluk Dhea, mengelus rambut panjang adiknya perlahan. Saat ini mata Ricko sudah berkaca-kaca, ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya saat ini. Dhea yang tadi langsung dipeluk kakaknya hanya bisa diam seperti patung. Ia tidak mau berpikir macam-macam mengenai isi surat tersebut.
__ADS_1
Rissa yang memperhatikan kakaknya dengan seksama "Kak Ricko tidak pernah seperti ini, sebenarnya apa isi surat tersebut" batinnya.
Rissa langsung mengambil amplop dan mengeluarkan kertas yang sudah di kembalikan Ricko, Ia begitu penasaran dan membaca setiap kata yang ada di dalam surat tersebut. Mata Rissa memanas, butiran air sudah menggenang di matanya. Seakan tahu arti dari tatapan ibunya, Rissa memperlihatkan tulisan yang di cetak tebal kepada ibunya.
Kini tidak hanya Ricko yang memeluk Dhea, Sari dan Rissa juga memeluknya. Mereka bertiga tidak bisa mengekspresikan perasaannya kali ini. Dhea semakin bingung dengan keadaan sekarang.
"Kenapa kak Ricko langsung memelukku, ibu dan kak Rissa juga memelukku. Sebenarnya apa isi amplop tersebut? apakah memang isinya sesuatu yang sangat menyedihkan" batin Dhea.
Dadanya semakin sesak saat ia merasakan bahwa kakaknya Ricko menangis memeluknya. Selama ini Dhea tahu, kakaknya tidak akan mudah menangis, apakah isi surat itu sudah melukai perasaan mereka.
Lima menit lebih mereka memeluk Dhea. Ketika pelukan terlepas, Dhea menatap ketiganya samar karena kini mata Dhea juga sudah mengeluarkan kristal bening tanpa minta persetujuan. Hati Dhea begitu tersayat melihat orang-orang yang ia sayangi kini menangis di depannya.
"Kak Ricko, apa isi surat itu? Kenapa kalian menangis? maafin Dhea jika surat isi surat itu mengecewakan kalian" tanya Dhea sesenggukan.
"Dhea siap dihukum kak asal kalian tidak menangis, Dhea tidak bisa melihat kalian seperti ini kak" lanjut Dhea semakin terisak.
Sari menangkup wajah Dhea dengan kedua tangannya "Semuanya baik-baik saja sayang, tidak ada yang perlu di khawatirkan" ucapnya menenangkan Dhea.
Dhea perlahan membaca isi surat tersebut, ia membulatkan matanya ketika membaca tulisan yang tercetak tebal.
"Dhea tidak lagi mimpi kan ini?"
"Ibu, kakak tolong cubit Dhea" ucapnya sambil menepuk nepuk pipinya.
"Ini tidak lagi mimpi dek, ini kenyataan" jawab Ricko.
"kyaaaaaaaaaaa"
"Beneran Dhea tidak lagi mimpi kak" teriaknya.
"Tidur saja belum dek, masak udah mimpi" jawab Rissa.
Ruangan yang tadinya begitu hening dan penuh haru kini berubah ricuh dengan gelak tawa karena melihat Dhea yang berteriak sambil goyang-goyang tidak jelas.
__ADS_1
"Jangan terlalu senang dek, sudah baca semua belum?. Kamu sanggup tidak dengan segala tuntutan yang ada. Kakak gak akan memaksakan kamu".
"Memang apa kak? apa ada yang Dhea lewatkan bacanya" jawab Dhea menanggapi ucapan Ricko. Dhea segera membuka kertas tadi dan membaca ulang.
"Oh, gitu. Dhea akan usahakan kak?" ucap Dhea ketika sudah memahami isi surat tersebut.
"Jangan sampai over, nanti sakit" sela Rissa beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil minum di dapur.
"Kamu harus bersyukur dengan segala karunia dari Tuhan sayang, semua yang kamu peroleh sekarang jangan sampai membuat kamu menjadi sombong, harus lebih berusaha lagi. Jangan membuat orang yang sudah membantu kamu memperoleh beasiswa tersebut menjadi kecewa" ujar Sari menasihati Dhea.
Dhea mendapat beasiswa penuh di sekolah yang ia tuju "Mutiara Bunda" tanpa mengikuti seleksi yang semestinya dilakukan. Ricko yang sudah membaca semua prosedur dalam memperoleh beasiswa merasa semua seperti mimpi tapi melihat cap dan nama kepala sekolah serta kepala yayasan yang tertera itu adalah asli, sehingga membuatnya menangis. Ricko sedikit tahu tentang bagaimana proses yang harus di lewati untuk dapat memperoleh beasiswa yang hanya setengahnya saja banyak yang harus di lakukan. Tetapi ini tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba di beri surat yang isinya bahwa Dhea akan menerima beasiswa penuh dari sekolah selama ia belajar di Yayasan Mutiara Bunda.
"Sebenarnya siapa yang telah membantu Dhea mendapatkan beasiswa ini, aku kapan hari hanya menyerahkan hasil nilai rapot semester sebelumnya sebagai bahan pertimbangan sebelum nilai ujian nasional keluar. Siapapun itu, aku akan berterima kasih padanya kalau aku ketemu dengan orang sebaik itu, semoga orang yang berbaik hati tersebut diberi kesehatan, keberuntungan dan keberkahan. Ternyata banyak orang yang menyayangi Dhea" guman Ricko dalam hati.
.
.
.
.
Dhea mendapat beasiswa penuh. Tapi siapa yang merekomendasikannya. Ada yang tahu?
.
Jangan lupa like, command dan vote ya kak.
Tinggalin jejak kalian di komentar nanti pasti aku balas.
.
Happy Reading 😊
__ADS_1